Share

Bab 11

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-04-18 18:34:02

"Cepatlah, saya ada urusan penting," ujar Sambara, mulai tidak sabar.

Agnira mendengus. Ia berbalik sepenuhnya pada Sambara dan menatap sengit pria itu, "Kalau begitu, terima uang lima puluh jutaku. Sisanya akan aku transfer."

Sambara menggeleng pelan, "Tidak."

"Kau..." Tangan Agnira menunjuk tepat ke bola mata Sambara, "Benar-benar menyebalkan."

"Itu nama tengahku," jawab Sambara santai.

Agnira semakin naik pitam. Tangannya terkepal erat, giginya gemertak pelan. Ia memejamkan mata, berusaha me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 25

    Agnira menyingkirkan lembar kertas di depannya, lalu menatap pada pria di depannya. "Jika aku menolak untuk pergi? Bagaimana?" Sambara tidak bereaksi, tetapi tatapan matanya sudah menyiratkan, jika ia tidak masalah dengan apapun keputusan yang Agnira ambil. Namun ia juga tidak ingin mengambil resiko saat pulang sendirian tanpa Agnira di sisinya."Sebenarnya tidak masalah, tapi apa kau sudah lupa kenapa saya menikahimu?" suara Sambara terdengar tenang, namun tatapan matanya menyimpan banyak hal.Wanita itu terdiam, Agnira hanya mampu menarik napas dalam, lalu dengan cepat tangannya bergerak, menyusun beberapa berkas dan merapihkan segalanya. Mulutnya diam, tetapi gestur tubuhnya jelas menunjukkan rasa enggan, Agnira terlalu malas untuk bertemu dengan orang tua Sambara, bukan tidak menghormati, tetapi cara mereka memperlakukan Agnira cukup menguras emosi."Kapan berangkatnya?" tanya Agnira sambil terus memungut kertas-kertas di atas lantai.

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 24

    "Kenapa kau menyiramku juga?" tanya Sambara heran. Agnira melirik kecil, tatapannya terlihat jengah dan lelah. Wanita itu menarik napas dalam, sebelum menghampiri Sambara, tangannya terlipat di depan dada sambil menatap tajam pria tampan di depannya. Sambara terlihat berantakan, baju basah serta rambut lepek karena air pel yang ia siramkan. "Siapa suruh bakterinya menempel di tubuhmu," jawab Agnira santai, bibirnya terlihat menahan senyum puas. Mata Sambara menyipit tajam, menuduh lebih tepatnya. "Kau sengaja." Agnira mendelik pelan. "Tentu saja tidak, untuk apa saya sengaja. Kan sudah saya katakan ada bakteri di tubuhmu." Sambara masih terus menatap dingin, ia lebih memilih tidak melanjutkan percakapan karena pasti akan menimbulkan keributan. Agnira tipe wanita yang tidak ingin kalah dari apapun juga, hanya perusahaan kecil itu yang membuat wanita itu kalah. Sambara kembali melanjutkan langkahnya, namun tepat saat tangan itu meraih gagang pintu, suara Agnira kembali terd

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 23

    Tangan itu terbuka lebar dengan wajah ceria yang tidak memudar. Namun alih-alih pelukannya tersambut mesra, Sambara justru menghindar begitu saja. Wanita itu akhirnya hanya mendekap angin pagi yang berhembus pelan, membelai wajah cantiknya.Dia mengerjap singkat, lalu berbalik pelan dengan tubuh kaku. Malu, jelas sekali. Nyatanya, Sambara tidak semudah itu disentuh sembarang orang, walaupun orang itu adalah adiknya sendiri."Kakak kok gitu sih," ucap wanita itu dengan wajah cemberut.Sambara hanya menatap dingin, sedangkan Agnira terlihat mulai jengah. Ia menarik napas dalam dan memilih masuk lebih dulu ke dalam. Bukan karena tidak ingin terlibat percakapan, melainkan karena tidak suka dengan kehadiran Kirana.Sambara menatap sengit pada adik tirinya itu. "Mau apa kau kemari?""Ih Kakak, kamu kok bicara begitu sih? Aku datang karena kangen, tahu," jawab Kirana manja. Ia kembali melangkah mendekat, hendak meraih lengan Sambara.Pr

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 22

    Hening menggantung di antara mereka. Tidak ada yang kembali membuka suara, seolah percakapan tadi tidak pernah benar-benar terjadi. Namun, diam itu justru terasa lebih berat dari kata-kata apa pun.Sambara sempat melirik sekilas ke arah Agnira. Wanita itu tampak biasa saja dengan wajah datar yang justru terasa seperti tembok.Sambara berdeham pelan. "Mau ikut joging?"Agnira menghentikan kunyahannya. Tatapannya beralih, singkat, lalu ia menggeleng pelan."Aku tidak suka berkeringat," ucapnya pelan.Jawaban itu terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang tertahan di baliknya. Seolah Agnira menolak secara halus ajakan Sambara."Kenapa?" tanya Sambara lagi, seolah butuh lebih dari sekadar penolakan.Agnira mengangkat bahu. "Tidak suka saja."Sambara mengangguk pelan. Tidak memaksa dan tidak bertanya lagi. Ia mendorong piringnya menjauh, meneguk air hingga tandas, lalu bangkit tanpa banyak kata. Langkahnya tenang sep

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 21

    Fajar mulai menyingsing ketika Agnira sudah selesai dengan semua pekerjaannya, wanita itu tampak santai, mondar-mandir untuk menyiapkan sarapan. Rambutnya tercepol berantakan, baju kaos kebesaran dengan celana pendek sebatas paha, dia benar-benar menikmati akhir pekan dengan perasaan sedikit lega."Nyonya, apa sebaiknya Anda duduk diam saja. Biar kami yang bekerja," ucap salah satu pelayan, merasa tidak enak hati.Agnira berhenti melangkah, "Memang kenapa? Bukankah ini pekerjaan wanita?"Pelayan itu menggaruk pelan rambutnya. Memang pekerjaan wanita, tetapi tidak untuk di kerjakan nyonya mereka, lantas untuk apa mereka bekerja? Pelayan itu terlihat memejamkan mata, dengan napas yang tertarik dalam."Saya senang mengerjakan semuanya." Agnira melempar senyum, lalu kembali melangkah dengan satu piring ayam goreng di tangan.Suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga, terdengar tenang, pelan, dan santai. Sambara terlihat sudah rapi de

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 20

    Sinar senja meredup perlahan, terbenam bersama kehangatan yang mulai memudar. Kaki jenjang itu melangkah pelan, menyusuri taman sepi yang tidak pernah terinjak orang. Hanya di sini Agnira bisa meluapkan segalanya.Tubuhnya mulai luruh perlahan, duduk diam dikursi kayu yang berada di tengah-tengah taman. Tempat ini hening, gelap, dan terasa hampa, sama seperti dirinya. Nyatanya hidup yang Agnira jalani sungguh berat, dia tidak memiliki tempat untuk bernaung ataupun bersandar, pilar hidupnya pergi dan kini dia sendiri.Ctak ...Pematik api itu menyala, cahaya membias membingkai wajah cantik Agnira, ditangan wanita itu terlihat sebatang rokok yang siap ia hisap dengan nikmat malam ini. Namun sebelum rokok itu terselip di bibir ranumnya, benda kecil itu dengan cepat berpindah tangan begitu saja.Sambara menunduk, rokok yang baru saja ia rampas paksa segera ia selipkan di bibirnya. "Terima kasih," ucapnya santai. Pria itu duduk santai di samping Agnira, menghisap rokok di tangan dengan ni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status