Compartilhar

Ranjang Panas Suamiku
Ranjang Panas Suamiku
Autor: D.N.A

Bab 01

Autor: D.N.A
last update Data de publicação: 2026-04-15 21:13:40

"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"

Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air.

Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. 

"Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya baca," ucap pria itu, tenang.

Agnira mengangguk pelan. Ia kembali fokus pada makanannya, enggan memperpanjang percakapan.

Sambara melirik kecil ke arah wanita di depannya. Wanita yang tiga tahun ia nikahi, yang hanya memiliki gelar sebagai istri, tanpa benar-benar menjalankan perannya.

"Kau yakin ingin bercerai?" tanya Sambara hati-hati.

Agnira terdiam sejenak sebelum menjawab. "Yakin. Kita sudah sepakat sebelumnya."

"Kau benar-benar sudah membaca setiap syarat yang saya ajukan?" tanya Sambara lagi.

Agnira semakin diam. Alisnya menukik tajam, pertanyaan itu menimbulkan keraguan tipis yang mengusik. Ia mendongak, menatap pria berwajah tenang di seberangnya.

"Maksudmu apa?" tanya Agnira, memastikan.

"Tidak ada ... Saya selesai." Sambara mendorong pelan piring kotor di depannya. Ia kembali meraih gelas dan meneguk air hingga habis.

Kursi terdorong pelan saat pria itu berdiri. Posturnya tegap, menjulang angkuh di hadapan Agnira.

"Saya pamit dulu."

Agnira tetap diam. Tatapannya mengikuti punggung lebar suaminya yang semakin menjauh. Ucapan Sambara terasa mengganjal di benaknya. Ia yakin tidak melewatkan apa pun saat membaca persyaratan pernikahan dulu.

"Apa yang aku lewatkan?" gumam Agnira lirih.

Hening, tak ada jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan. Terserah dan percuma.

Ruang kerja bernuansa hitam itu terasa pekat, dipenuhi tekanan dari sorot tajam di balik meja. Salah satu pengacara duduk dengan wajah tegang, jemarinya saling meremas, sesekali melirik takut pada Sambara.

"Cetak ulang kontraknya. Tambahkan syarat baru, dan kirimkan hari ini." Perintah itu terdengar dingin dan tegas.

"Baik, Bos," jawab anak buah Sambara sambil menunduk hormat. Ia melirik sekilas pada rekannya sebelum keduanya keluar dari ruangan.

Sambara menatap ke luar jendela. Sorot tajam itu perlahan meredup, tergantikan senyum miring di sudut bibirnya. Tatapan Sambara kemudian jatuh pada sebuah foto kecil di sudut meja. Pandangan itu beralih pada map di atas meja, wajahnya kembali tak menunjukkan minat. "Kita belum selesai, Agnira," lanjutnya lirih.

Agnira menarik napas dalam saat melangkah masuk ke ruang kerja Sambara. Pria itu sudah duduk tenang di balik meja, dengan postur tegap dan wajah rupawan yang entah mengapa selalu mampu mengacaukan fokusnya.

Namun kali ini, ia tidak sendiri. Dua pria lain dengan pakaian formal turut berada di ruangan itu.

"Duduk," perintah Sambara singkat, menunjuk kursi dengan dagunya.

Agnira mengedarkan pandangan. Ruangan ini terasa pengap dengan dominasi warna hitam. Tirai yang tertutup rapat semakin memperkuat kesan misterius yang menekan.

"Saya sudah membaca isi surat cerai yang kamu ajukan," ujar Sambara, memecah kesunyian.

Agnira duduk tegap, menatap lurus ke depan, bersiap mendengar.

"Kau benar-benar tidak menuntut harta gono-gini?" tanya Sambara memastikan.

"Iya. Tidak ada alasan untuk menuntut itu," jawab Agnira tenang.

Ia hanya ingin bebas dari kekangan pria itu. Tidak lebih. Sambara mengangguk pelan. Jemarinya mengusap dagu, lalu melirik ke arah pengacaranya.

"Maaf, Nyonya. Namun, ada satu persyaratan yang mungkin Anda lewatkan," sela sang pengacara sambil mengeluarkan berkas dari tasnya.

Agnira mengernyit. "Syarat apa?"

"Silakan Anda baca kembali."

Dokumen itu didorong ke arahnya. Agnira meraihnya dan mulai membaca dengan teliti.

Awalnya tidak ada yang janggal. Semuanya tampak biasa. Hingga bagian terakhir. Alisnya menukik tajam. Ia mengangkat wajah, menatap Sambara dengan sorot penuh tuntutan. Sementara pria itu tetap tenang, seolah telah menunggu momen ini.

"Kita belum resmi berpisah," ucap Sambara santai. "Karena kau belum menunaikan tugas sebagai seorang istri."

Tatapannya mengunci Agnira, diiringi senyum samar yang sulit diartikan. "Kau harus menjadi istriku yang sesungguhnya selama tiga puluh hari. Setelah itu terpenuhi, maka kita resmi berpisah."

Tangan Agnira terkepal kuat. Amarah yang sejak tadi tertahan kini menggelegak, siap meledak saat syarat itu bukan hanya terucap, tetapi juga tertulis jelas di atas kertas.

"Aku menolak."

“Kalau begitu semua yang kamu miliki … akan menghilang.” Sambara berdiri, mendekat perlahan. “Kau memiliki satu hari untuk memutuskan.”

Agnira menatapnya lamat sementara tangannya terkepal.

Pria ini...

“Kita belum selesai, Agnira. Kamu harus menemaniku sebagai istri, di ranjang, sebelum kita resmi berpisah.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (4)
goodnovel comment avatar
Ady Aksa
nama tokohnya SAMBARA aneh!!!
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
ini novel baru ya ??
goodnovel comment avatar
Jakarta Ponsel
baca dulu semoga bagus ceritanya
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 254

    Aroma masakan menguar di atas meja makan. Beberapa hidangan terjadi dengan rapi dan tertata baik. Agnira sudah duduk dengan nyama, walaupun matanya terus menatap takut pada pria yang duduk di depannya.Leonard, pria itu terlihat jauh lebih dingin dari Sambara. Auranya menekan, sorot mata birunya menusuk begitu tajam."Jangan terus menatap istriku, Leon," tegur Sambara dingin.Leonard melirik ke arah sahabatnya dengan sinis, tetapi pandangan tetap mengarah pada Agnira. Iris biru itu terus memperhatikan setiap gerak yang Agnira lakukan, dari cara Agnira duduk, makan, dan bahkan minum. Semua sama, seperti Leana.Agnira yang merasa tidak tahan dengan tatapan itu, menaruh sendoknya di atas meja dan menatap tajam pada Leonard. "Kenapa kamu melihatku terus?"Leonard tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil gelas di samping piringnya, meneguk sedikit air, kemudian meletakkannya kembali dengan gerakan tenang."Kau mirip dengannya."Alis Agnira berkerut. "Dengan siapa?""Adikku."Jawaban si

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 253

    Aroma harum dari arah dapur membuat langkah Agnira berbelok. Wanita itu berjalan pelan dan melihat punggung lebar suaminya yang entah sedang membuat apa. Beberapa pekerja dapur pun terlihat berderet rapi sambil menatap cemas pada Sambara.Bahkan salah satu koki terlihat panik saat Sambara mulai menyalakan kompor. Pria paruh baya itu mendekat dan berusaha membantu sebisa mungkin, tetapi tatapan Sambara yang seperti akan menelan orang membuat koki itu merasa takut dan mengurungkan niatnya.Agnira menahan senyum. Pemandangan di hadapannya benar-benar aneh. Sambara Lakeswara, pria yang biasanya membuat orang-orang gemetar hanya dengan satu tatapan, kini berdiri di depan kompor dengan celemek hitam yang terikat seadanya di pinggang.Tangannya sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan. Membuat Agnira penasaran dan mendekat dengan langkah pelan."Masak apa?" tanya Agnira akhirnya.Gerakan tangan Sambara langsung berhenti. Pria itu menoleh, lalu tatapannya berubah seketika ketika mendapati istrin

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 252

    Siulan pelan terdengar dari mulut tipis Arsen, memecah kesunyian yang menyelimuti lorong bangunan tua itu. Langkahnya santai, seolah tempat tersebut bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Kedua tangannya bahkan terselip di saku celana, sementara matanya menyapu setiap sudut lorong yang remang-remang. Beberapa lampu di atas kepalanya berkedip tidak beraturan. Cahaya yang datang dan pergi membuat bayangan Arsen memanjang di lantai, kemudian menghilang, lalu muncul kembali."Sudah lama sekali," gumamnya pelan.Ia berhenti di depan sebuah pintu besi tua. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan pintu yang dingin dan berdebu. Dari balik pintu itu terdengar suara samar.Arsen tersenyum tipis, ia menghirup udara lembap di sekitarnya yang terasa sesak. "Aroma ini, sudah lama sekali."Begitu pintu terbuka, suara Aurelie langsung menusuk telinganya. Membuat pria manis berwajah polos itu melirik dengan sinis."Lepaskan aku ..." Suara Aurelie nyaris tidak terdengar.Tubuhnya terasa lemas setelah

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 251

    Basah. Hangat, dan nyaris membuat gila. Itulah yang Sambara rasakan di waktu pagi. Ia terbangun dengan keadaan memalukan.Bagian bawahnya basah, miliknya menegang karena memimpikan hal gila. Ia melirik malu pada Agnira yang menatapnya sambil menahan senyuman."Mas, kamu ngompol?" tanya Agnira polos. Matanya bergerak menatap bagian bawah Sambara yang basah.Pria itu mendesah pelan, lalu melirik sang istri dengan pandangan heran. Bagaimana bisa Agnira terlihat menggairahkan di pagi ini? Apa ini efek mimpi semalam? "Mas, malah bengong," tegur Agnira mengguncang pelan bahu suaminya.Sambara mendesah lelah, lalu menatap kembali pada celananya yang basah. "Tidak, mana ada mengompol tapi tidak basah ke kasur." "Lalu? Kenapa dengan celanamu?" tanya Agnira lagi.Sambara menarik napas dalam-dalam. Jika ia menginginkan istrinya pagi ini, apakah Agnira akan marah? Ia tidak tahu jawabannya sebelum mencoba, dan Sambara terlalu takut untuk mencoba bertanya. Pria itu kembali melirik sang istri, lal

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 250

    Mobil Arsen berhenti tepat di sebuah bangunan tua yang berdiri terpencil di ujung kawasan yang nyaris tidak berpenghuni. Bangunan itu tampak seperti gudang lama yang telah bertahun-tahun ditinggalkan.Dinding luarnya dipenuhi lumut dan noda hitam akibat hujan, sementara beberapa bagian cat berwarna kelabu telah mengelupas hingga memperlihatkan permukaan semen yang kasar. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit, sebagian ditutup papan kayu lapuk yang warnanya sudah memudar.Pagar besi yang mengelilingi bangunan itu dipenuhi karat. Beberapa bagiannya bahkan telah bengkok, seolah pernah dipaksa dibuka. Di atas gerbang, sebuah lampu tua menggantung dengan cahaya kekuningan yang berkedip-kedip, membuat suasana di sekitarnya terasa semakin mencekam.Tidak ada rumah di sekitar tempat itu. Hanya tanah kosong, semak liar yang tumbuh tidak beraturan, serta pepohonan besar yang rantingnya bergerak pelan diterpa angin malam.Arsen mematikan mesin mobil. Suara me

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 249

    "Lepaskan! Lepaskan aku!"Teriakan itu terus menggaung kencang. Aurelie berteriak histeris sambil terus memukul jeruji besi penjara. Telapak tangannya memerah, bahkan beberapa bagian kulitnya mulai lecet, tetapi wanita itu seolah tidak merasakan apa pun. "Aku tidak bersalah!" teriaknya lagi. "Kalian semua salah! Kalian tidak tahu apa-apa!"Suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Langkah itu semakin mendekat, tenang dan teratur, berbanding terbalik dengan kegilaan yang memenuhi sel tahanan.Aurelie perlahan menghentikan pukulannya. Napasnya masih memburu. Rambut panjang yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat sosok yang berjalan mendekat di balik cahaya redup."Siapa?" tanyanya serak.Sosok itu berhenti tepat di depan sel. Arsen. Pria itu berdiri dengan satu tangan menyeret kursi besi yang entah di dapat dari mana. Wajahnya terlihat santai, seolah kedatangannya bukan untuk menemui seorang tahanan yang baru saja mengamuk.Aurelie langsun

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status