LOGINTangan Sambara terkepal erat. Tanpa peringatan, pria itu bangkit dari duduknya dan menatap Panji dengan sorot tajam. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih kerah Panji dan mengangkat pria itu dengan mudah.Brak!"Sambara!" teriak Agnira kencang.Pria itu hanya melirik istrinya sekilas sebelum mengalihkan pandangan ke arah Nana, gadis itu menatapnya dengan sorot penuh keterkejutan. Kepala Sambara berdenyut hebat, melihat Nana dan Panji berada dalam situasi seperti ini hanya membuat amarahnya semakin sulit dikendalikan.Tatapannya kembali beralih pada Panji yang sedang berusaha bangkit dari tanah. Rahangnya mengeras. Kemarahan yang selama ini ia tahan terasa semakin membuncah.Tepat di saat itu, Nayara yang baru sampai untuk mengantarkan mobil Agnira segera melangkah mendekat. Wanita itu menatap Sambara sambil menggelengkan kepalanya pelan, seolah memberi isyarat pada tuannya agar tidak bertindak bodoh di depan Agnira dan Nana.Pria itu berjalan lebih dekat lagi dan menatap Panji dengan ta
"Dapat enam!" pekik Agnira bersemangat.Wanita itu segera menggerakkan bidaknya satu per satu sesuai jumlah mata dadu yang ia peroleh. Kini, mereka berempat duduk melingkar di bawah pondok. Di tengah-tengah mereka terbentang papan monopoli yang terbuat dari kayu jati. Permukaannya tampak indah dengan ukiran yang detail dan rapi. Permainan itu sengaja dibawa Panji ke taman sebagai sarana hiburan sekaligus media belajar yang cukup efektif untuk Nana. Setelah giliran Agnira berakhir, kini Sambara yang memegang dadu.Pria itu menatap benda kecil di tangannya beberapa saat, lalu mengalihkan pandangan ke arah tiga orang yang duduk bersamanya. Dengan enggan, ia melempar dadu ke tengah papan."Tiga," gumam Agnira sambil menghitung.Sambara menggerakkan bidaknya sesuai jumlah yang didapat. Sepanjang permainan, wajahnya tetap terlihat datar. Tidak ada senyum, tidak ada antusiasme. Ia hanya mengikuti permainan karena terpaksa."Bagaimana kalau kita membuat permainan ini sedikit lebih menarik?"
Agnira menarik napas dalam sebelum berdiri dari duduknya. Dengan lembut, ia menangkup wajah Nana menggunakan kedua tangannya, berusaha menarik perhatian gadis itu."Kenapa Nana bicara seperti itu, hmmm?" tanya Agnira pelan.Agnira kemudian berlutut di hadapan Nana, menyamakan tinggi pandangan mereka agar gadis itu merasa lebih nyaman. Nana tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala dan memilih diam.Melihat reaksi itu, Agnira mengembuskan napas panjang. Ia tahu ada banyak hal yang sedang dipendam Nana, tetapi gadis itu belum siap untuk mengungkapkannya.Beberapa saat kemudian, senyum hangat kembali terukir di wajah Agnira."Kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain saja?" ajak Agnira dengan nada ceria, berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi terasa berat."Ke mana?" tanya Nana sambil memiringkan kepala."Sesuai rencana awal. Bedanya, kali ini kita ajak Sambara juga," jawab Agnira sambil tersenyum. "Biar pria itu ti
Satu hal yang tidak pernah Sambara duga, teriakan yang sempat Agnira lakukan hanya kamuflase saja. Wanita itu malah tersenyum menyeringai, dengan tangan yang meremas miliknya dengan kuat."Kau ... aaahh," pekik Sambara tertahan, saat remasan itu berubah menjadi lembut."Katanya ingin di kulum," ucap Agnira dengan santai.Wanita itu tersenyum dengan penuh maksud, lalu mulai duduk tepat di atas milik Sambara. Menekan miliknya cukup kuat dan menggoyangkan panggulnya perlahan, Sambara memejamkan mata, menikmati sensasi yang Agnira berikan padanya.Jemari lentik Agnira melepas tali kimono secara perlahan, gundukan kenyal itu segera terpampang di depan mata Sambara. Begitu sintal, dengan bagian depan yang sedikit mencuat keluar."Ssttt ..." Mata Agnira terpejam, menikmati setiap gesekan yang sedang ia lakukan."Aaahhh ... Milikmu besar sekali," bisik Agnira sambil terus mendesah pelan.Sambara ikut terhanyut dalam buaian yang Agnira lakukan. Jemarinya mulai meraba gundukan kenyal di depanny
Panji melangkah mendekat sambil tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Dari penampilannya, pria itu terlihat baru saja selesai joging. Sebuah botol minum masih tergenggam di tangannya, pakaian olahraga yang sedikit basah oleh keringat, serta sepatu lari yang pria itu kenakan semakin memperjelas aktivitas yang baru saja dilakukannya."Maaf, Pak. Mulut saya terkadang sulit dikendalikan," ucap Panji sambil mempertahankan senyum tipis di wajahnya.Sambara tidak menunjukkan reaksi apa pun. Pria itu tetap menatap Panji dengan sorot mata tajam yang sulit ditebak."Saya mempekerjakan Anda di rumah ini untuk menjaga adik saya," ucap Sambara dingin. "Artinya, posisi Anda tidak berbeda dengan para karyawan lainnya."Ia menyipitkan mata, tatapannya semakin menekan. "Jadi, kenapa Anda merasa bisa keluar masuk rumah saya sesuka hati?"Panji terdiam. Untuk sesaat, senyum di wajahnya memudar. Pertanyaan Sambara terdengar sederhana, tetapi cukup membuatnya kehilangan jawaban.Pria itu mengemb
Sepanjang perjalanan pulang, Agnira tampak begitu bahagia. Wanita itu bersenandung pelan sambil mengunyah tahu bulat yang baru saja dibelinya. Sesekali ia melirik ke arah Sambara yang sejak tadi terlihat memperhatikannya."Kau mau?" tawar Agnira sambil menusuk sebutir tahu bulat dengan tusuk sate, lalu menyodorkannya ke depan mulut Sambara.Sambara mendorong tangan itu pelan. Pria itu sama sekali tidak tertarik mencicipi makanan berbentuk bulat itu. Selain bentuknya yang menurutnya aneh, minyak yang membekas di bungkus kertasnya saja sudah cukup membuat kepalanya berdenyut. Belum lagi taburan bumbu, penyedap rasa, dan kantong plastik yang digunakan sebagai wadah."Jangan terlalu sering memakan makanan aneh seperti itu," tegur Sambara serius."Aneh dari mana? Ini enak, tahu," bantah Agnira sambil mendengus pelan. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini."Kau sedang memakan makanan yang tidak sehat," lanjut Sambara sambil menunju







