MasukBab 2 RPTH
----
"Oke, Allena, mari kita mulai."
Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah.
Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya.
"Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.
Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.
Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya.
"Sayang, kamu mulus sekali."
Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Allena.Allena yang dalam keadaan mabuk sama sekali tak memberi penolakan. Wanita itu justru meminta Gilbert melakukannya lebih dari apa yang dilakukan lelaki itu sekarang.
"Ah, terus, Sayang. Aku suka ...." rintih Allena.
"Ya, nikmatilah ini semua, Sayang. Hmmm ...." sahut Gilbert.
Dia melanjutkan kegiatan itu tanpa banyak bicara, berbeda dengan Allena yang tak henti meracau mengungkapkan rasa nikmat yang dia rasakan.
Setelah Gilbert merasa pemanasan ini sudah cukup, dia membuka celananya memperlihatkan sesuatu yang sudah menegang sejak tadi.
Allena menatap dengan takjub, dia lalu memohon pada Gilbert untuk segera memasukkan benda itu ke dalam miliknya. Allena benar-benar nampak kehausan. Haus akan belaian.
"Cepat masuki aku, Sayang, aku sudah tak tahan sejak tadi," pinta Allena.
"Dengan senang hati," jawab Gilbert.
"Ah, Sayang, jangan pelan-pelan. Lakukan lebih cepat!" Allena memohon disertai desahan.
"Begini, Sayang?" Allena mengangguk.
"Ya, benar. Kamu pintar sekali, Mark. Kamu yang terhebat. Uh, jangan berhenti. Lebih cepat lagi!"
Gilbert merasa puas ketika melihat bagaimana raut wajah Allena yang sangat menikmati permainannya. Hal itu membuatnya semakin bersemangat, memacu Allena dengan cepat.
Keduanya berpeluh desah, suara yang sarat akan kenikmatan saling bersahutan menggema di kamar hotel yang baru beberapa jam ditempati oleh Gilbert.
Setelah beberapa saat, Gilbert meminta Allena untuk berganti posisi, kali ini Gilbert yang ingin ditunggangi. Dengan sigap, Allena segera menaiki Gilbert, memacu lelaki itu seperti sedang menunggangi seekor kuda.
"Oh, malam ini terasa berbeda, rasanya jauh lebih nikmat, Mark," racau Allena.
'Ya, itu karena aku adalah orang yang berbeda,' batin Gilbert.
Gilbert hanya tersenyum mengingat dia sama sekali tak mengenal Allena juga tak ada transaksi jual beli di antara keduanya. Malam ini, Gilbert bagai mendapat rezeki nomplok.
"Sayang, aku ... aku sudah tak tahan. Bantu aku, pacu aku!" Allena berteriak.
Melihat Allena yang akan mencapai puncaknya, Gilbert pun membantu wanita itu dengan menggerakkan pinggulnya naik turun. Allena memekik dengan mata yang melotot hingga di detik berikutnya, dia mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.
Napas Allena terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas di atas tubuh Gilbert yang menyeringai. Tanpa mau memberi ampun dan jeda pada Allena, lelaki itu membalikkan tubuh Allena lalu mulai memacu kembali dengan gerakan sangat cepat.
"Oh, Mark! Apa ini? Enak sekali! Mark, Mark ...." Allena tak henti memanggil nama kekasihnya.
"Diamlah, Sayang, aku akan keluar!" titah Gilbert.
Gilbert mempercepat gerakannya hingga tak lama kemudian, cairan kenikmatan itu menyembur di atas perut Allena membuat dua orang yang tak saling kenal itu terkulai lemas dengan tubuh yang saling memeluk.
Malam itu terasa sangat melelahkan setelah pergulatan panjang di antara Gilbert dan Allena. Hingga keesokan harinya, tepatnya jam 6 pagi ketika suara ramai orang di luar mulai terdengar, Allena bangun dari tidurnya.
"Ah, tubuhku terasa remuk. Jam berapa ini?" ucap Allena seraya menggeliat. "Mana tas dan ponselku?"
Allena terkejut mendapati dirinya tak berpakaian, lalu bergegas mencari bajunya yang berserakan di lantai, tapi yang dia temukan malah tas berwarna hitam juga kemeja dan celana laki-laki khas laki-laki.
Allena mengira bahwa itu mungkin adalah milik Mark sehingga dia refleks menoleh pada lelaki yang tidur di sampingnya.
"Mark?" panggil Allena. "Eh, bukan Mark. Siapa dia?"
Allena terkejut ketika mendapati kalau lelaki itu bukanlah Mark. Dengan cepat, Allena memakai pakaiannya sebab merasa panik sekaligus takut.
Suara grasak-grusuk dari Allena membuat Gilbert akhirnya terbangun, dia pun lekas bangkit lalu tersenyum pada Allena yang justru malah menatapnya tajam.
"Siapa kamu?!" tanya Allena.
"Aku adalah lelaki tertampan di dunia." Gilbert tertawa terbahak-bahak.
Dia menirukan jawaban Allena saat ditanya olehnya semalam.
"Hey, jangan bercanda. Kamu berada di kamarku, tidur di sampingku, dan bangun dengan raut wajah tak berdosa seperti itu. Apa yang telah kamu lakukan padaku, hah?!"
Mendengar pertanyaan Allena, Gilbert tentu tertawa. "Apa maksudmu, ini kamarmu? Hey, ini adalah kamarku, kamu masuk ke sini semalam dalam keadaan mabuk memangnya kamu tidak ingat?"
Allena terdiam, mengingat-ingat kejadian semalam tapi tak mengingat apa-apa.
"A-Aku tidak ingat, kamu pasti hanya mengada-ada. Ini kamarku, kamar nomor 6 yang kusewa sejak kemarin. Kamu yang salah masuk kamar!"
"Kalau tidak percaya, cek saja sendiri. Lihatlah, kamar nomor berapa ini!" titah Gilbert.
Allena langsung membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia saat melihat bahwa kamar nomor 6 miliknya adalah kamar yang berada di depan kamar ini.
Dengan dada yang mulai bergemuruh hebat, Allena membalikkan tubuhnya, menatap Gilbert dengan raut penuh kepanikan.
"Jadi, aku salah masuk kamar?" Allena bertanya lirih.
"Benar, aku sudah mengusirmu tapi kamu sama sekali tak mau pergi dan malah menggodaku sampai akhirnya kita ...."
Gilbert menggantung ucapannya membuat Allena semakin sengit menatap lelaki di hadapannya. Dengan satu kali gerakan, Allena berhasil memukul Gilbert.
"Apa maksudmu, hah? Apa yang kita lakukan? Jangan mengada-ada, aku tahu kamu hanya sedang menjebakku, kan? Kamu pasti mau memerasku," ujar Allena dengan berteriak.
"Untuk apa aku menjebak dan memerasmu? Sungguh semua itu takkan ada untungnya bagiku. Kamu yang datang ke sini sendiri dan menggodaku, sebagai lelaki normal tentu aku takkan bisa menolak," jelas Gilbert.
Allena semakin frustasi, dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Sedikit pun dia tak percaya akan apa yang Gilbert katakan.
Oleh karena itu, Allena tak mau membuang waktu, dia segera mengambil tas dan ponselnya lalu pergi keluar dari kamar itu dengan penuh amarah.
"Hey, kamu mau ke mana?" tanya Gilbert.
"Diam!" Allena membentak seraya berbalik sebelum akhirnya benar-benar pergi. "Aku bersumpah kalau kita tidak akan bertemu lagi. Aku membencimu!"
Bab 18 -RPTH---Cahaya matahari pagi menyusup tajam melalui celah gorden tebal, menusuk langsung ke pelupuk mata Allena.Nyeri hebat bagai dihantam ribuan jarum seketika meledak di dalam kepalanya saat dia mencoba menggerakkan leher. Denyut pening yang menggelayut berat membuat pandangannya kabur dan buram untuk beberapa detik.Allena meringis, memegangi dahinya seraya meregangkan tubuh. Namun, sapuan kain sutra yang teramat asing di telapak tangannya mendadak menghentikan pergerakannya.Sensasi dingin dan halus dari kasur tempatnya berbaring terasa sangat berbeda dengan tempat tidur di kamarnya sendiri.Allena mendadak membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya langsung tertarik penuh.Dia menoleh ke sekeliling ruangan—dinding bernuansa abu-abu gelap, lampu gantung minimalis yang mewah, serta kemeja pria yang tergantung kaku di sudut kamar. Ini bukan kamarnya!Rasa panik menyengat Allena dengan hebat. Dia buru-buru menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan seketika itu pul
Bab 17 -RPTH------Mobil sedan mewah milik Gilbert berhenti mulus di area parkir privat penthouse sebuah apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.Pintu lift terbuka langsung menyambung ke dalam ruang tamu luas berdinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu kota.Suasana apartemen itu teramat hening, dingin, dan tertata terlampau presisi, sangat mencerminkan karakter pemiliknya yang gila kontrol.Namun, ketenangan itu seketika pecah saat Gilbert mencoba memapah Allena keluar dari lift.Allena benar-benar hilang kendali.Langkah kakinya menyilang tak berarah, matanya terpejam sebagian, dan bibirnya terus menggumamkan tawa-tawa kecil yang tak jelas artinya."Awas, jalanmu benar sedikit, Allena," bisik Gilbert, suaranya dipenuhi rasa gusar yang ditahan seraya merengkuh pinggang wanita itu agar tidak ambruk ke lantai granit."Hihi... lantai apartemenmu goyang, Gilbert..." Allena terkekeh konyol, jarinya menunjuk-nunjuk udara dengan lemah. "Kamu ... kamu hakim sok keren yang jahat
Bab 16 -RPTH-----Penolakan dingin yang keluar dari bibir Gilbert mendarat tepat di atas luka Allena yang paling menganga.Rasa hancur, harga diri yang remuk, serta keputusasaan yang meluap-luap seketika berubah menjadi gelombang kekesalan yang amat pekat.Air mata yang sempat menggantung di pelupuk matanya tersapu oleh luapan amarah yang tak lagi memiliki arah."Cukup, Allena. Pakai akal sehatmu," tegur Gilbert tajam.Tangannya terulur, mencoba menjauhkan gelas kristal dari jangkauan jemari Allena."Kamu sudah terlalu banyak minum. Jangan bertindak bodoh di tempat umum."Namun, Allena tidak lagi sudi menurut.Dengan tatapan menantang dan napas yang terengah-engah, Allena justru menyambar dua gelas cocktail bertakar alkohol tinggi yang baru saja diantarkan bartender ke meja bar."Jangan atur-atur aku!" desis Allena penuh penolakan.Tanpa ragu, Allena menengadahkan kepalanya dan meneguk habis gelas pertama dalam sekali teguk.Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar dari tenggor
Bab 15 – RPTH----Dentuman bass dari musik house yang menghentak pelan bergetar di lantai kayu lounge eksklusif di kawasan Senopati. Pencahayaan temaram bernuansa amber dan tembaga membingkai deretan botol kristal di belakang meja bar.Di sudut yang agak terpencil, Allena duduk sendirian di atas kursi tinggi. Blus kerjanya sudah terlepas kancing atasnya, lengan baju tergulung kaku, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh berantakan mengitari bahu.Di depannya, gelas kristal berisi negroni ketiga sudah hampir kosong.Arus alkohol yang membakar tenggorokan menjadi satu-satunya cara untuk mematikan kebas di dadanya, membakar sisa-sisa rasa dipermalukan di ruang sidang serta amarah akibat manipulasi murah Mark."Satu gelas tequila shot lagi," panggil Allena pada bartender, suaranya agak serak dengan jeda yang mulai melambat."Aku sarankan kamu berhenti di gelas ketiga itu, Pengacara Allena."Sebuah suara bas yang familier, dingin, dan sarat akan dominasi mendadak memotong riuh m
Bab 14 - RPTHBau lembap khas sel tahanan sementara Pengadilan Negeri berbaur dengan aroma samar antiseptik murah.Allena duduk di kursi besi dingin yang memisahkan dirinya dengan Mark.Toga hukumnya sudah dia lepas dan tersampir kaku di atas pangkuan, menyisakan blus putih bersiluet tegas yang kini terasa mencekik lehernya.Di seberang meja kayu kusam, Mark duduk memeluk dirinya sendiri. Wajah pria itu kusut, matanya merah dipenuhi panik yang tak lagi bisa disembunyikan."Na, gimana?" sergap Mark tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav saat polisi pamong yang menjaga di sudut ruangan melangkah sedikit menjauh."Kenapa hakimnya dingin banget begitu? Kamu tadi kenapa gak ngelawan lebih keras sih?!"Allena memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menekan denyut nyeri yang mulai menjalar di pelipisnya.Rasa dipermalukan oleh Gilbert di ruang sidang masih membakar pipinya."Aku sudah berusaha, Mark," sahut Allena, suaranya sengaja ditahan agar tetap rendah dan stabil."Tapi
Bab 13 - RPTH----Atmosfer Ruang Sidang Utama Pengadilan itu terasa begitu membeku.Di sebelah kirinya, Mark duduk di kursi terdakwa dengan wajah pucat dan bahu merosot, tampak begitu merana di bawah sorotan lampu ruang sidang.Namun, fokus Allena sama sekali tak tertuju pada kekasihan di sampingnya. Pandangannya terpaku lurus ke depan, ke arah meja majelis hakim yang tinggi menjulang.Di sana, di kursi hijau kebesarannya, Gilbert William Grace duduk memimpin sebagai Hakim Ketua.Toga hakim bercorak merah-hitam melekat sempurna di tubuh tegapnya.Wajahnya yang rupawan tampak dingin bagai pahatan marmer, memancarkan wibawa dan otoritas mutlak yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas."Persidangan perkara pidana nomor 402/Pid.B/2026/PN.Jkt.Pst atas nama Terdakwa Mark Christopher dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Gilbert.Tok! Tok! Tok!Suara ketukan palu kayu bergaung nyaring, membelah keheningan. Allena meremas ujung toga hitamnya.Suara bas yang berat







