Compartir

2- RPTH

Autor: Elarys T
last update Fecha de publicación: 2026-08-13 10:38:35

Bab 2 RPTH

----

"Oke, Allena, mari kita mulai." 

Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah. 

Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya.

"Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.

Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.

Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya.

"Sayang, kamu mulus sekali."

 

Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Allena.

Allena yang dalam keadaan mabuk sama sekali tak memberi penolakan. Wanita itu justru meminta Gilbert melakukannya lebih dari apa yang dilakukan lelaki itu sekarang.

"Ah, terus, Sayang. Aku suka ...." rintih Allena.

"Ya, nikmatilah ini semua, Sayang. Hmmm ...." sahut Gilbert.

Dia melanjutkan kegiatan itu tanpa banyak bicara, berbeda dengan Allena yang tak henti meracau mengungkapkan rasa nikmat yang dia rasakan.

Setelah Gilbert merasa pemanasan ini sudah cukup, dia membuka celananya memperlihatkan sesuatu yang sudah menegang sejak tadi.

Allena menatap dengan takjub, dia lalu memohon pada Gilbert untuk segera memasukkan benda itu ke dalam miliknya. Allena benar-benar nampak kehausan. Haus akan belaian.

"Cepat masuki aku, Sayang, aku sudah tak tahan sejak tadi," pinta Allena.

"Dengan senang hati," jawab Gilbert.

"Ah, Sayang, jangan pelan-pelan. Lakukan lebih cepat!" Allena memohon disertai desahan.

"Begini, Sayang?" Allena mengangguk.

"Ya, benar. Kamu pintar sekali, Mark. Kamu yang terhebat. Uh, jangan berhenti. Lebih cepat lagi!"

Gilbert merasa puas ketika melihat bagaimana raut wajah Allena yang sangat menikmati permainannya. Hal itu membuatnya semakin bersemangat, memacu Allena dengan cepat.

Keduanya berpeluh desah, suara yang sarat akan kenikmatan saling bersahutan menggema di kamar hotel yang baru beberapa jam ditempati oleh Gilbert.

Setelah beberapa saat, Gilbert meminta Allena untuk berganti posisi, kali ini Gilbert yang ingin ditunggangi. Dengan sigap, Allena segera menaiki Gilbert, memacu lelaki itu seperti sedang menunggangi seekor kuda.

"Oh, malam ini terasa berbeda, rasanya jauh lebih nikmat, Mark," racau Allena.

'Ya, itu karena aku adalah orang yang berbeda,' batin Gilbert.

Gilbert hanya tersenyum mengingat dia sama sekali tak mengenal Allena juga tak ada transaksi jual beli di antara keduanya. Malam ini, Gilbert bagai mendapat rezeki nomplok.

"Sayang, aku ... aku sudah tak tahan. Bantu aku, pacu aku!" Allena berteriak.

Melihat Allena yang akan mencapai puncaknya, Gilbert pun membantu wanita itu dengan menggerakkan pinggulnya naik turun. Allena memekik dengan mata yang melotot hingga di detik berikutnya, dia mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.

Napas Allena terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas di atas tubuh Gilbert yang menyeringai. Tanpa mau memberi ampun dan jeda pada Allena, lelaki itu membalikkan tubuh Allena lalu mulai memacu kembali dengan gerakan sangat cepat.

"Oh, Mark! Apa ini? Enak sekali! Mark, Mark ...." Allena tak henti memanggil nama kekasihnya.

"Diamlah, Sayang, aku akan keluar!" titah Gilbert.

Gilbert mempercepat gerakannya hingga tak lama kemudian, cairan kenikmatan itu menyembur di atas perut Allena membuat dua orang yang tak saling kenal itu terkulai lemas dengan tubuh yang saling memeluk.

Malam itu terasa sangat melelahkan setelah pergulatan panjang di antara Gilbert dan Allena. Hingga keesokan harinya, tepatnya jam 6 pagi ketika suara ramai orang di luar mulai terdengar, Allena bangun dari tidurnya.

"Ah, tubuhku terasa remuk. Jam berapa ini?" ucap Allena seraya menggeliat. "Mana tas dan ponselku?"

Allena terkejut mendapati dirinya tak berpakaian, lalu bergegas mencari bajunya yang berserakan di lantai, tapi yang dia temukan malah tas berwarna hitam juga kemeja dan celana laki-laki khas laki-laki.

Allena mengira bahwa itu mungkin adalah milik Mark sehingga dia refleks menoleh pada lelaki yang tidur di sampingnya.

"Mark?" panggil Allena. "Eh, bukan Mark. Siapa dia?" 

Allena terkejut ketika mendapati kalau lelaki itu bukanlah Mark. Dengan cepat, Allena memakai pakaiannya sebab merasa panik sekaligus takut.

Suara grasak-grusuk dari Allena membuat Gilbert akhirnya terbangun, dia pun lekas bangkit lalu tersenyum pada Allena yang justru malah menatapnya tajam.

"Siapa kamu?!" tanya Allena.

"Aku adalah lelaki tertampan di dunia." Gilbert tertawa terbahak-bahak.

Dia menirukan jawaban Allena saat ditanya olehnya semalam.

"Hey, jangan bercanda. Kamu berada di kamarku, tidur di sampingku, dan bangun dengan raut wajah tak berdosa seperti itu. Apa yang telah kamu lakukan padaku, hah?!"

Mendengar pertanyaan Allena, Gilbert tentu tertawa. "Apa maksudmu, ini kamarmu? Hey, ini adalah kamarku, kamu masuk ke sini semalam dalam keadaan mabuk memangnya kamu tidak ingat?"

Allena terdiam, mengingat-ingat kejadian semalam tapi tak mengingat apa-apa.

"A-Aku tidak ingat, kamu pasti hanya mengada-ada. Ini kamarku, kamar nomor 6 yang kusewa sejak kemarin. Kamu yang salah masuk kamar!"

"Kalau tidak percaya, cek saja sendiri. Lihatlah, kamar nomor berapa ini!" titah Gilbert.

Allena langsung membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia saat melihat bahwa kamar nomor 6 miliknya adalah kamar yang berada di depan kamar ini.

Dengan dada yang mulai bergemuruh hebat, Allena membalikkan tubuhnya, menatap Gilbert dengan raut penuh kepanikan.

"Jadi, aku salah masuk kamar?" Allena bertanya lirih.

"Benar, aku sudah mengusirmu tapi kamu sama sekali tak mau pergi dan malah menggodaku sampai akhirnya kita ...." 

Gilbert menggantung ucapannya membuat Allena semakin sengit menatap lelaki di hadapannya. Dengan satu kali gerakan, Allena berhasil memukul Gilbert.

"Apa maksudmu, hah? Apa yang kita lakukan? Jangan mengada-ada, aku tahu kamu hanya sedang menjebakku, kan? Kamu pasti mau memerasku," ujar Allena dengan berteriak.

"Untuk apa aku menjebak dan memerasmu? Sungguh semua itu takkan ada untungnya bagiku. Kamu yang datang ke sini sendiri dan menggodaku, sebagai lelaki normal tentu aku takkan bisa menolak," jelas Gilbert.

Allena semakin frustasi, dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Sedikit pun dia tak percaya akan apa yang Gilbert katakan. 

Oleh karena itu, Allena tak mau membuang waktu, dia segera mengambil tas dan ponselnya lalu pergi keluar dari kamar itu dengan penuh amarah.

"Hey, kamu mau ke mana?" tanya Gilbert.

"Diam!" Allena membentak seraya berbalik sebelum akhirnya benar-benar pergi. "Aku bersumpah kalau kita tidak akan bertemu lagi. Aku membencimu!"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   7- RPTH

    Bab 7 RPTH----Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan."Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya."Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.Gilbert tertawa terkeke

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   6- RPTH

    Bab 6 RPTH----Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya."Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya."Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama in

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   5- RPTH

    Bab 5 PRTH----Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu."Aku takut kamu menipuku," ucap Allena."Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng."Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya."Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-s

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   4- RPTH

    Bab 4 PRTH----Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya."Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan."Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata s

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   3-RPTH

    Bab 3 RPTH----Pagi ini terlampau kacau bagi Allena yang harus menjadi kuasa hukum bagi Mark, kekasihnya. Semangat untuk membela Mark seketika lenyap, berganti dengan perasaan kesal dan marah.Bukan hanya pada lelaki yang telah tidur bersamanya semalam, tapi juga pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri di saat situasi genting seperti ini. Kini, Allena ragu untuk pergi, dia merasa malu menampakkan diri pada siapa pun.Namun, ponselnya berbunyi, Mark menghubunginya untuk mengingatkan bahwa sidang akan dimulai jam 9 pagi. Dengan cepat, Allena pun membersihkan diri dan segera bersiap menuju Pengadilan."Kamu hampir saja terlambat, Allena. Kamu ke mana dulu?" tanya Mark.Allena baru sampai di Pengadilan pada jam 09.40 menit."Aku kesiangan tadi karena ada masalah sedikit. Yang penting tidak terlambat, kan. Kamu sudah sarapan?" "Sudah, cepat masuk, aku gak mau masuk ke sana tanpa kamu," pinta Mark dengan wajah kesal."Padahal pengacaramu bukan aku saja, manja sekali. Ayo!" sahut A

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   2- RPTH

    Bab 2 RPTH----"Oke, Allena, mari kita mulai." Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah. Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya."Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya."Sayang, kamu mulus sekali."Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Al

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status