INICIAR SESIÓNBab 3 RPTH
----
Pagi ini terlampau kacau bagi Allena yang harus menjadi kuasa hukum bagi Mark, kekasihnya. Semangat untuk membela Mark seketika lenyap, berganti dengan perasaan kesal dan marah.
Bukan hanya pada lelaki yang telah tidur bersamanya semalam, tapi juga pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri di saat situasi genting seperti ini. Kini, Allena ragu untuk pergi, dia merasa malu menampakkan diri pada siapa pun.
Namun, ponselnya berbunyi, Mark menghubunginya untuk mengingatkan bahwa sidang akan dimulai jam 9 pagi. Dengan cepat, Allena pun membersihkan diri dan segera bersiap menuju Pengadilan.
"Kamu hampir saja terlambat, Allena. Kamu ke mana dulu?" tanya Mark.
Allena baru sampai di Pengadilan pada jam 09.40 menit.
"Aku kesiangan tadi karena ada masalah sedikit. Yang penting tidak terlambat, kan. Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, cepat masuk, aku gak mau masuk ke sana tanpa kamu," pinta Mark dengan wajah kesal.
"Padahal pengacaramu bukan aku saja, manja sekali. Ayo!" sahut Allena.
Dia mendahului Mark yang hari ini akan menjalani sidang pembuktian dari para saksi sekaligus mendengar gugatan yang akan diajukan oleh jaksa penuntut umum.
Mark terkena kasus penggelapan dana perusahaan di tempatnya bekerja sebesar 1,5 milyar dan ketahuan ketika direktur keuangan menemukan hal janggal dalam laporan yang dibuat Mark.
Akhirnya, kejanggalan itu diusut tuntas hingga Mark diduga telah menggelapkan uang tersebut dan dilaporkan kepada Polisi karena kerugian yang dibuat tidak sedikit.
"Sidang akan dimulai dalam lima menit ke depan." Suara peringatan terdengar keras.
"Ayo duduk, kamu hanya perlu mengikuti persidangan ini dengan bersikap baik dan kooperatif, Sayang. Aku dan rekanku yang lain akan berusaha membuat hukumanmu ringan," kata Allena.
Mark membuang napas berat. "Ya, lakukanlah apa pun jika mau kita segera menikah."
Allena mengangguk, dia sangat mencintai Mark apalagi dana yang digelapkan itu konon akan Mark jadikan biaya pernikahan mereka yang akan diselenggarakan beberapa bulan ke depan.
Wajah semua orang yang ada di sana nampak tegang, pelapor, penuntut, terdakwa, semuanya memiliki kepentingan yang sama dan sama-sama ingin menang.
Tak lama, tiga Hakim datang, berjalan menuju meja dengan jubah kebesaran mereka membhat suasana semakin tegang. Namun, ada yang membuat Allena lebih tegang sekarang ketika dia melihat salah satu Hakim yang duduk di tengah.
"Lelaki itu ...."
'Aku adalah lelaki tertampan di dunia.'
'Ini adalah kamarku, kamu masuk ke sini semalam dalam keadaan mabuk memangnya kamu tidak ingat?'
'Aku sudah mengusirmu tapi kamu sama sekali tak mau pergi dan malah menggodaku sampai akhirnya kita ....'
Perkataan-perkataan itu terngiang di telinganya tatkala melihat orang yang melontarkan semua perkataan itu berada di hadapannya sebagai Hakim yang akan mengadili kasus kekasihnya.
"Ini tidak mungkin, apa aku salah lihat, ya?" Allena mengucek matanya.
"Allena, kamu kenapa aneh banget, sih? Yang serius dong, posisiku di ujung tanduk sekarang!" tegur Mark.
"A-Aku hanya gugup, Sayang. Stop dong, jangan marah-marah terus," keluh Allena.
"Makanya jangan bikin aku marah!" balas Mark.
Allena hanya bisa terdiam melihat sikap Mark yang kekanak-kanakkan sekaligus menyebalkan. Dia tak bisa melawan dengan dalih cinta. Ya, Allena sangat mencintai kekasihnya.
Dari mejanya, Gilbert dapat melihat Allena yang nampak salah tingkah. Bayangan aktifitas intim mereka semalam melintas di kepala membuat Gilbert senang karena ternyaya dugaannya benar.
Allena adalah kekasih dari terdakwa yang kasusnya ditangani oleh Gilbert. Hal itu membuat Gilbert memiliki pikiran jahat, dia akan memanfaatkan Allena untuk kepentingannya sendiri.
"Baik, silakan kepada penggugat untuk menunjukkan bukti-bukti dari kejahatan terdakwa bernama Mark Christopher," ucap Gilbert mempersilakan.
Seorang lelaki yang merupakan direktur utama perusahaan tempat Mark bekerja maju ke depan dengan membawa direktur keuangan.
"Saya akan membeberkan bukti di mana terdakwa memberikan sebuah laporan kepada saya yang berisi lampiran pengeluaran sejumlah 1,5 milyar, tapi barangnya tidak ada."
"Tunjukkan laporannya di layar monitor!" titah Gilbert.
"Baik, Yang Mulia."
Saksi tersebut menunjukkan lampiran pengeluaran dan lampiran pengadaan barang di mana tak menunjukkan barang-barang yang terlampir di pengeluaran.
Dalam hal ini, Mark sudah pasti memalsukan laporan dan menggelapkan dana tersebut untuk kepentingan pribadinya dan itu termasuk ke dalam tindak korupsi.
"Apa ada pembelaan dari terdakwa?" tanya Gilbert.
Dia menatap Mark yang kikuk, tak bisa membela diri sebab semua itu memang benar. Mark tak bisa lari lagi, dia memang membawa uang itu untuk dipindahkan ke rekening pribadinya.
"Saya ... mengakui kesalahan saya. Tapi uangnya masih ada sebab niatnya akan saya pakai untuk biaya pernikahan, saya akan kembalikan," jawab Mark.
"Kami bersedia mengembalikan uangnya sekaligus mengganti kerugian asalkan klien kami bebas. Tak apa dia dipecat tapi bebaskan dia," ucap pengacara Mark.
Sementara pengacara itu memohon pada hakim dan penggugat, Allena hanya bisa terdiam dengan perasaan resah karena harus berhadapan dengan Gilbert.
Gilbert dapat merasakan sikap salah tingkah Allena, begitu juga dengan Mark yang akhirnya kesal sebab Allena sama sekali tak melakukan pembelaan terhadapnya.
"Mana bisa begitu, masalah ini bukan hanya soal uang tapi juga masalah kepercayaan. Mark sudah kami angkat dan menduduki jabatan tinggi, tapi dia menyia-nyiakan semua itu dengan melakukan korupsi.
"Jadi, mohon maaf sekali, kami menutup pintu damai dalam masalah ini dan berharap Jaksa Penuntut Umum serta Hakim dapat mengabulkan permintaan kami. Terdakwa harus dihukum seberat mungkin!"
Ucapan atasan Mark di kantornya membuat Mark semakin gelagapan apalagi Hakim juga malah menghentikan sidang saat itu juga.
Allena dan timnya panik dan mereka semakin terpukul ketika Hakim mengatakan bahwa sidang akan dilanjut minggu depan dengan agenda sidang putusan.
"Allena ... kamu sungguh hanya bisa diam saja, hah?" Mark menatap Allena dengan tajam.
"Maaf, Sayang, aku sangat kacau sekarang. Aku janji akan berusaha lebih keras lagi minggu depan. Kalau hukumannya berat, kita akan ajukan banding."
Mark menggeleng. "Argh, omong kosong. Semuanya terlambat, aku kecewa padamu!".
Jantung Allena serasa dihujam ketika Mark akhirnya ditahan. Semua orang di sana satu per satu meninggalkan ruang sidang, kecuali dirinya yang masih termenung di sana. Melihat hal itu, Gilbert menghampiri Allena sekejap.
"Kasus kekasihmu sangat rumit, Allena, kemungkinan dia akan dihukum selama 15 tahun penjara," ucap Gilbert. "Apa kamu akan menunggunya selama itu?"
Allena terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Selain itu, Allena juga tak berselera untuk berbincang apalagi dengan Gilbert yang mengaku sudah tidur bersamanya semalam.
"Aku bisa saja meringankan hukuman kekasihmu bahkan membuatnya bebas bersyarat jika kamu mau menerima tawaranku," imbuh Gilbert.
Allena menoleh dan bertanya, "Tawaran apa?"
"Jadilah teman tidurku!"
Bab 7 RPTH----Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan."Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya."Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.Gilbert tertawa terkeke
Bab 6 RPTH----Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya."Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya."Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama in
Bab 5 PRTH----Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu."Aku takut kamu menipuku," ucap Allena."Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng."Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya."Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-s
Bab 4 PRTH----Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya."Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan."Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata s
Bab 3 RPTH----Pagi ini terlampau kacau bagi Allena yang harus menjadi kuasa hukum bagi Mark, kekasihnya. Semangat untuk membela Mark seketika lenyap, berganti dengan perasaan kesal dan marah.Bukan hanya pada lelaki yang telah tidur bersamanya semalam, tapi juga pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri di saat situasi genting seperti ini. Kini, Allena ragu untuk pergi, dia merasa malu menampakkan diri pada siapa pun.Namun, ponselnya berbunyi, Mark menghubunginya untuk mengingatkan bahwa sidang akan dimulai jam 9 pagi. Dengan cepat, Allena pun membersihkan diri dan segera bersiap menuju Pengadilan."Kamu hampir saja terlambat, Allena. Kamu ke mana dulu?" tanya Mark.Allena baru sampai di Pengadilan pada jam 09.40 menit."Aku kesiangan tadi karena ada masalah sedikit. Yang penting tidak terlambat, kan. Kamu sudah sarapan?" "Sudah, cepat masuk, aku gak mau masuk ke sana tanpa kamu," pinta Mark dengan wajah kesal."Padahal pengacaramu bukan aku saja, manja sekali. Ayo!" sahut A
Bab 2 RPTH----"Oke, Allena, mari kita mulai." Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah. Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya."Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya."Sayang, kamu mulus sekali."Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Al







