INICIAR SESIÓNBab 5 PRTH
----
Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.
Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.
Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu.
"Aku takut kamu menipuku," ucap Allena.
"Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng.
"Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya.
"Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."
Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.
Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-satunya cara menyelamatkan Mark.
"Jika aku bersedia, apa yang bisa kamu janjikan padaku?" Allena menatap Gilbert tajam.
"Pembebasan bersyarat, tapi takkan langsung minggu depan dinyatakan karena hal itu akan sangat mencurigakan. Aku akan menjatuhkan hukuman beberapa tahun pada Mark baru setelah kasusnya mulai reda, aku akan berlakukan pembebasan bersyarat."
Allena kembali terdiam, menimbang-nimbang tawaran serta income yang bisa dia dapatkan. Tak sebanding memang, apalagi ini menyangkut harga diri.
Namun, demi sang pujaan hati, Allena rela mengorbankan tubuhnya demi Mark. Dia percaya kalau setelah melewati badai ini, akan datang kebahagiaan yang terang benderang.
"Bagaimana? Aku beri kamu waktu sampai hitungan 5. Satu, dua, tiga, empat, li-"
"Okay, aku setuju," jawab Allena pada akhirnya.
Seketika itu juga, senyum manis terkembang di bibir Gilbert yang merasa amat puas dengan jawaban Allena, jawaban yang dia tunggu sejak tadi.
"Baiklah, kalau begitu datang ke hotelku yang semalam jam 8 malam. Ingat, hotel nomor 9, ya, jangan sampai salah!"
Gilbert tersenyum nakal lalu pergi begitu saja meninggalkan Allena yang merasakan lemas di lututnya. Bahkan sebelum pergi, Allena duduk kembali demi menetralkan perasaan serta kondisi tubuhnya.
Saat ini, perasaannya benar-benar campur aduk, Allena merasa menjadi p*lacur yang dipakai secara gratisan. Namun, Allena langsung mengingat Mark. Ini adalah demi Mark.
Allena percaya jika kekasihnya itu sudah benar-benar bebas, Mark akan langsung menikahinya dan Allena pun akan bisa lepas dari jerat Gilbert nantinya.
"Ini hanya sementara, Allena. Seiring berjalannya waktu, Gilbert pasti akan bosan bahkan mendapatkan pasangan. Dia tak mungkin terus menerus memanfaatkanku untuk nafsu bejadnya," monolog Allena.
Setelah semuanya terasa lebih baik, Allena pergi menuju ke rumah tahanan di mana Mark ditahan hingga sidang putusan. Sebagai pengacara sekaligus kekasih Mark, dia memiliki akses lebih lama untuk bertemu dengan Mark.
Saat sampai, dia melihat Mark sedang duduk termenung di balik jeruji besi. Allena sangat sedih, dia merasa tak berguna sebagai calon istri. Rasanya, Allena ingin sekali memberi penghiburan pada Mark.
"Sayang, maafkan aku," ucap Allena.
"Untuk apa kamu ke sini? Pergilah, tak ada gunanya juga kamu ke mari," sahut Mark.
Tak lama, sipir datang dan membukakan kunci pagar besi itu. Mark keluar dari sana dan dua sejoli itu duduk berhadapan.
Dalam beberapa saat, tak ada yang berbicara di antara keduanya. Baik Allena maupun Mark sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga Allena sudah tak tahan didiamkan, dia memulai pembicaraan. Dia akan mengatakan banyak hal pada Mark tapi merasa perlu untuk berbasa-basi terlebih dahulu.
"Mark, kamu di sini hanya satu minggu, setelah itu akan kupastikan kamu bebas, Sayang, dan kita akan menikah. Bahagia bersama. Kamu percaya, kan?" Allena menatap Mark dengan seksama.
"Apa yang bisa menjamin hal itu jika di sidang tadi saja kamu bungkam, Allena? Jujur, aku sangat kecewa sama kamu, kamu seperti sengaja menjatuhkanku setelah memberiku banyak harapan," papar Mark.
Wajahnya nampak kesal sekaligus sedih.
"Tidak seperti itu, Sayang. Aku berani bersumpah. Tapi ... ada hal yang membuatku dilema, aku telah mengalami hal berat semalam," jelas Allena.
"Hal berat apa? Kamu selalu saja beralasan, mengatakan kalau kamu tertekan, dan lain sebagainya. Aku lelah, Allena.
"Sepertinya kita memang tak ditakdirkan bersama, biarlah penjara ini menjadi saksi bisu perjuanganku yang ingin menikahi kamu."
Ucapan Mark membuat Allena sontak menangis, Mark seolah ingin mengakhiri hubungan mereka dan tentu saja Allena tak mau, dia sangat mencintai Mark.
Allena menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat, menciumnya lama sebagai tanda cinta dan sayang. Namun, Mark malah menepisnya.
"Lepas, Allena, kebersamaan kita sudah tak ada artinya. Takdirku mungkin memang di sini, jangan datang lagi dan lupakan mimpimu menikah denganku!" kata Mark.
"Jadi, pernikahan itu hanya mimpiku, bukan mimpi kita?" tanya Allena.
"Kalau memang hanya mimpimu, aku tak akan korupsi demi biaya pernikahan kita, Allena. Pikirkan itu baik-baik!" Mark berucap dengan penuh rasa muak.
Allena pun bungkam dan kini air matanya yang berbicara. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Sungguh, Allena tak mau berpisah dengan Mark yang sudah bertahun-tahun menjalani hubungan dengannya.
Tangisan itu membuat Mark merasa iba serta merasa bersalah, dia sadar sudah terlalu keras pada Allena. Dengan cepat, Mark menghampiri Allena dan memeluknya.
"Maafkan aku, Allena, aku hanya kalut tadi. Aku sama sekali tak berniat membuatmu menangis seperti ini," ucap Mark.
"Aku yang salah karena tak bisa memberimu yang terbaik, Mark. Tapi bukan berarti aku tak berusaha. Beri aku kesempatan, Mark, aku tak mau pisah denganmu."
Mark mengangguk pelan, dia pun tak mau berpisah dengan Allena apalagi selama ini Allena lah yang selalu memahami dirinya dan memberikan apa saja yang Mark mau, termasuk keperawanan.
Dengan lembut, Mark mengelus rambut Allena yang perlahan reda tangisnya. Dalam situasi itu, Allena berniat mengutarakan apa yang menjadi hasil komprominya dengan Gilbert.
"Mark, ada yang ingin kusampaikan padamu sebenarnya dan ini menyangkut dengan masa depanmu dalam kasus ini," ucap Allena.
Dia melepas pelukannya dari Mark seraya menyeka air matanya. Rasanya berat mengatakan hal ini, tapi Allena tak punya pilihan lain.
"Apa? Katakanlah, jangan kamu pendam, Sayang," titah Mark.
"Tapi kamu jangan terkejut, ya, aku sudah putuskan tapi jika kamu tak setuju, aku akan batalkan," kata Allena dengan sangat hati-hati.
"Apa itu? Sepertinya serius sekali."
Mark seketika penasaran dengan apa yang akan kekasihnya katakan. Dan karena raut wajah penasaran itu juga, jantung Allena berdegup semakin kencang.
Namun, siap tak siap Allena harus mengatakannya apa pun resikonya. Ini semua demi cinta dan masa depannya bersama Mark.
"Aku punya cara untuk mengurangi masa tahananmu bahkan membebaskanmu secara bersyarat, Mark. Tapi kamu jangan terkejut dan jangan marah, ya."
Bab 18 -RPTH---Cahaya matahari pagi menyusup tajam melalui celah gorden tebal, menusuk langsung ke pelupuk mata Allena.Nyeri hebat bagai dihantam ribuan jarum seketika meledak di dalam kepalanya saat dia mencoba menggerakkan leher. Denyut pening yang menggelayut berat membuat pandangannya kabur dan buram untuk beberapa detik.Allena meringis, memegangi dahinya seraya meregangkan tubuh. Namun, sapuan kain sutra yang teramat asing di telapak tangannya mendadak menghentikan pergerakannya.Sensasi dingin dan halus dari kasur tempatnya berbaring terasa sangat berbeda dengan tempat tidur di kamarnya sendiri.Allena mendadak membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya langsung tertarik penuh.Dia menoleh ke sekeliling ruangan—dinding bernuansa abu-abu gelap, lampu gantung minimalis yang mewah, serta kemeja pria yang tergantung kaku di sudut kamar. Ini bukan kamarnya!Rasa panik menyengat Allena dengan hebat. Dia buru-buru menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan seketika itu pul
Bab 17 -RPTH------Mobil sedan mewah milik Gilbert berhenti mulus di area parkir privat penthouse sebuah apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.Pintu lift terbuka langsung menyambung ke dalam ruang tamu luas berdinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu kota.Suasana apartemen itu teramat hening, dingin, dan tertata terlampau presisi, sangat mencerminkan karakter pemiliknya yang gila kontrol.Namun, ketenangan itu seketika pecah saat Gilbert mencoba memapah Allena keluar dari lift.Allena benar-benar hilang kendali.Langkah kakinya menyilang tak berarah, matanya terpejam sebagian, dan bibirnya terus menggumamkan tawa-tawa kecil yang tak jelas artinya."Awas, jalanmu benar sedikit, Allena," bisik Gilbert, suaranya dipenuhi rasa gusar yang ditahan seraya merengkuh pinggang wanita itu agar tidak ambruk ke lantai granit."Hihi... lantai apartemenmu goyang, Gilbert..." Allena terkekeh konyol, jarinya menunjuk-nunjuk udara dengan lemah. "Kamu ... kamu hakim sok keren yang jahat
Bab 16 -RPTH-----Penolakan dingin yang keluar dari bibir Gilbert mendarat tepat di atas luka Allena yang paling menganga.Rasa hancur, harga diri yang remuk, serta keputusasaan yang meluap-luap seketika berubah menjadi gelombang kekesalan yang amat pekat.Air mata yang sempat menggantung di pelupuk matanya tersapu oleh luapan amarah yang tak lagi memiliki arah."Cukup, Allena. Pakai akal sehatmu," tegur Gilbert tajam.Tangannya terulur, mencoba menjauhkan gelas kristal dari jangkauan jemari Allena."Kamu sudah terlalu banyak minum. Jangan bertindak bodoh di tempat umum."Namun, Allena tidak lagi sudi menurut.Dengan tatapan menantang dan napas yang terengah-engah, Allena justru menyambar dua gelas cocktail bertakar alkohol tinggi yang baru saja diantarkan bartender ke meja bar."Jangan atur-atur aku!" desis Allena penuh penolakan.Tanpa ragu, Allena menengadahkan kepalanya dan meneguk habis gelas pertama dalam sekali teguk.Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar dari tenggor
Bab 15 – RPTH----Dentuman bass dari musik house yang menghentak pelan bergetar di lantai kayu lounge eksklusif di kawasan Senopati. Pencahayaan temaram bernuansa amber dan tembaga membingkai deretan botol kristal di belakang meja bar.Di sudut yang agak terpencil, Allena duduk sendirian di atas kursi tinggi. Blus kerjanya sudah terlepas kancing atasnya, lengan baju tergulung kaku, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh berantakan mengitari bahu.Di depannya, gelas kristal berisi negroni ketiga sudah hampir kosong.Arus alkohol yang membakar tenggorokan menjadi satu-satunya cara untuk mematikan kebas di dadanya, membakar sisa-sisa rasa dipermalukan di ruang sidang serta amarah akibat manipulasi murah Mark."Satu gelas tequila shot lagi," panggil Allena pada bartender, suaranya agak serak dengan jeda yang mulai melambat."Aku sarankan kamu berhenti di gelas ketiga itu, Pengacara Allena."Sebuah suara bas yang familier, dingin, dan sarat akan dominasi mendadak memotong riuh m
Bab 14 - RPTHBau lembap khas sel tahanan sementara Pengadilan Negeri berbaur dengan aroma samar antiseptik murah.Allena duduk di kursi besi dingin yang memisahkan dirinya dengan Mark.Toga hukumnya sudah dia lepas dan tersampir kaku di atas pangkuan, menyisakan blus putih bersiluet tegas yang kini terasa mencekik lehernya.Di seberang meja kayu kusam, Mark duduk memeluk dirinya sendiri. Wajah pria itu kusut, matanya merah dipenuhi panik yang tak lagi bisa disembunyikan."Na, gimana?" sergap Mark tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav saat polisi pamong yang menjaga di sudut ruangan melangkah sedikit menjauh."Kenapa hakimnya dingin banget begitu? Kamu tadi kenapa gak ngelawan lebih keras sih?!"Allena memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menekan denyut nyeri yang mulai menjalar di pelipisnya.Rasa dipermalukan oleh Gilbert di ruang sidang masih membakar pipinya."Aku sudah berusaha, Mark," sahut Allena, suaranya sengaja ditahan agar tetap rendah dan stabil."Tapi
Bab 13 - RPTH----Atmosfer Ruang Sidang Utama Pengadilan itu terasa begitu membeku.Di sebelah kirinya, Mark duduk di kursi terdakwa dengan wajah pucat dan bahu merosot, tampak begitu merana di bawah sorotan lampu ruang sidang.Namun, fokus Allena sama sekali tak tertuju pada kekasihan di sampingnya. Pandangannya terpaku lurus ke depan, ke arah meja majelis hakim yang tinggi menjulang.Di sana, di kursi hijau kebesarannya, Gilbert William Grace duduk memimpin sebagai Hakim Ketua.Toga hakim bercorak merah-hitam melekat sempurna di tubuh tegapnya.Wajahnya yang rupawan tampak dingin bagai pahatan marmer, memancarkan wibawa dan otoritas mutlak yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas."Persidangan perkara pidana nomor 402/Pid.B/2026/PN.Jkt.Pst atas nama Terdakwa Mark Christopher dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Gilbert.Tok! Tok! Tok!Suara ketukan palu kayu bergaung nyaring, membelah keheningan. Allena meremas ujung toga hitamnya.Suara bas yang berat







