Compartilhar

5- RPTH

Autor: Elarys T
last update Data de publicação: 2026-08-13 10:40:09

Bab 5 PRTH

----

Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.

Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.

Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu.

"Aku takut kamu menipuku," ucap Allena.

"Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng.

"Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya.

"Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."

Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.

Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-satunya cara menyelamatkan Mark.

"Jika aku bersedia, apa yang bisa kamu janjikan padaku?" Allena menatap Gilbert tajam.

"Pembebasan bersyarat, tapi takkan langsung minggu depan dinyatakan karena hal itu akan sangat mencurigakan. Aku akan menjatuhkan hukuman beberapa tahun pada Mark baru setelah kasusnya mulai reda, aku akan berlakukan pembebasan bersyarat."

Allena kembali terdiam, menimbang-nimbang tawaran serta income yang bisa dia dapatkan. Tak sebanding memang, apalagi ini menyangkut harga diri.

Namun, demi sang pujaan hati, Allena rela mengorbankan tubuhnya demi Mark. Dia percaya kalau setelah melewati badai ini, akan datang kebahagiaan yang terang benderang.

"Bagaimana? Aku beri kamu waktu sampai hitungan 5. Satu, dua, tiga, empat, li-"

"Okay, aku setuju," jawab Allena pada akhirnya.

Seketika itu juga, senyum manis terkembang di bibir Gilbert yang merasa amat puas dengan jawaban Allena, jawaban yang dia tunggu sejak tadi.

"Baiklah, kalau begitu datang ke hotelku yang semalam jam 8 malam. Ingat, hotel nomor 9, ya, jangan sampai salah!" 

Gilbert tersenyum nakal lalu pergi begitu saja meninggalkan Allena yang merasakan lemas di lututnya. Bahkan sebelum pergi, Allena duduk kembali demi menetralkan perasaan serta kondisi tubuhnya.

Saat ini, perasaannya benar-benar campur aduk, Allena merasa menjadi p*lacur yang dipakai secara gratisan. Namun, Allena langsung mengingat Mark. Ini adalah demi Mark.

Allena percaya jika kekasihnya itu sudah benar-benar bebas, Mark akan langsung menikahinya dan Allena pun akan bisa lepas dari jerat Gilbert nantinya.

"Ini hanya sementara, Allena. Seiring berjalannya waktu, Gilbert pasti akan bosan bahkan mendapatkan pasangan. Dia tak mungkin terus menerus memanfaatkanku untuk nafsu bejadnya," monolog Allena.

Setelah semuanya terasa lebih baik, Allena pergi menuju ke rumah tahanan di mana Mark ditahan hingga sidang putusan. Sebagai pengacara sekaligus kekasih Mark, dia memiliki akses lebih lama untuk bertemu dengan Mark.

Saat sampai, dia melihat Mark sedang duduk termenung di balik jeruji besi. Allena sangat sedih, dia merasa tak berguna sebagai calon istri. Rasanya, Allena ingin sekali memberi penghiburan pada Mark.

"Sayang, maafkan aku," ucap Allena.

"Untuk apa kamu ke sini? Pergilah, tak ada gunanya juga kamu ke mari," sahut Mark.

Tak lama, sipir datang dan membukakan kunci pagar besi itu. Mark keluar dari sana dan dua sejoli itu duduk berhadapan.

Dalam beberapa saat, tak ada yang berbicara di antara keduanya. Baik Allena maupun Mark sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.

Hingga Allena sudah tak tahan didiamkan, dia memulai pembicaraan. Dia akan mengatakan banyak hal pada Mark tapi merasa perlu untuk berbasa-basi terlebih dahulu.

"Mark, kamu di sini hanya satu minggu, setelah itu akan kupastikan kamu bebas, Sayang, dan kita akan menikah. Bahagia bersama. Kamu percaya, kan?" Allena menatap Mark dengan seksama.

"Apa yang bisa menjamin hal itu jika di sidang tadi saja kamu bungkam, Allena? Jujur, aku sangat kecewa sama kamu, kamu seperti sengaja menjatuhkanku setelah memberiku banyak harapan," papar Mark.

Wajahnya nampak kesal sekaligus sedih.

"Tidak seperti itu, Sayang. Aku berani bersumpah. Tapi ... ada hal yang membuatku dilema, aku telah mengalami hal berat semalam," jelas Allena.

"Hal berat apa? Kamu selalu saja beralasan, mengatakan kalau kamu tertekan, dan lain sebagainya. Aku lelah, Allena. 

"Sepertinya kita memang tak ditakdirkan bersama, biarlah penjara ini menjadi saksi bisu perjuanganku yang ingin menikahi kamu."

Ucapan Mark membuat Allena sontak menangis, Mark seolah ingin mengakhiri hubungan mereka dan tentu saja Allena tak mau, dia sangat mencintai Mark.

Allena menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat, menciumnya lama sebagai tanda cinta dan sayang. Namun, Mark malah menepisnya.

"Lepas, Allena, kebersamaan kita sudah tak ada artinya. Takdirku mungkin memang di sini, jangan datang lagi dan lupakan mimpimu menikah denganku!" kata Mark.

"Jadi, pernikahan itu hanya mimpiku, bukan mimpi kita?" tanya Allena.

"Kalau memang hanya mimpimu, aku tak akan korupsi demi biaya pernikahan kita, Allena. Pikirkan itu baik-baik!" Mark berucap dengan penuh rasa muak.

Allena pun bungkam dan kini air matanya yang berbicara. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Sungguh, Allena tak mau berpisah dengan Mark yang sudah bertahun-tahun menjalani hubungan dengannya.

Tangisan itu membuat Mark merasa iba serta merasa bersalah, dia sadar sudah terlalu keras pada Allena. Dengan cepat, Mark menghampiri Allena dan memeluknya.

"Maafkan aku, Allena, aku hanya kalut tadi. Aku sama sekali tak berniat membuatmu menangis seperti ini," ucap Mark.

"Aku yang salah karena tak bisa memberimu yang terbaik, Mark. Tapi bukan berarti aku tak berusaha. Beri aku kesempatan, Mark, aku tak mau pisah denganmu."

Mark mengangguk pelan, dia pun tak mau berpisah dengan Allena apalagi selama ini Allena lah yang selalu memahami dirinya dan memberikan apa saja yang Mark mau, termasuk keperawanan.

Dengan lembut, Mark mengelus rambut Allena yang perlahan reda tangisnya. Dalam situasi itu, Allena berniat mengutarakan apa yang menjadi hasil komprominya dengan Gilbert.

"Mark, ada yang ingin kusampaikan padamu sebenarnya dan ini menyangkut dengan masa depanmu dalam kasus ini," ucap Allena.

Dia melepas pelukannya dari Mark seraya menyeka air matanya. Rasanya berat mengatakan hal ini, tapi Allena tak punya pilihan lain. 

"Apa? Katakanlah, jangan kamu pendam, Sayang," titah Mark.

"Tapi kamu jangan terkejut, ya, aku sudah putuskan tapi jika kamu tak setuju, aku akan batalkan," kata Allena dengan sangat hati-hati.

"Apa itu? Sepertinya serius sekali." 

Mark seketika penasaran dengan apa yang akan kekasihnya katakan. Dan karena raut wajah penasaran itu juga, jantung Allena berdegup semakin kencang.

Namun, siap tak siap Allena harus mengatakannya apa pun resikonya. Ini semua demi cinta dan masa depannya bersama Mark.

"Aku punya cara untuk mengurangi masa tahananmu bahkan membebaskanmu secara bersyarat, Mark. Tapi kamu jangan terkejut dan jangan marah, ya."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   7- RPTH

    Bab 7 RPTH----Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan."Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya."Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.Gilbert tertawa terkeke

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   6- RPTH

    Bab 6 RPTH----Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya."Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya."Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama in

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   5- RPTH

    Bab 5 PRTH----Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu."Aku takut kamu menipuku," ucap Allena."Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng."Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya."Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-s

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   4- RPTH

    Bab 4 PRTH----Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya."Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan."Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata s

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   3-RPTH

    Bab 3 RPTH----Pagi ini terlampau kacau bagi Allena yang harus menjadi kuasa hukum bagi Mark, kekasihnya. Semangat untuk membela Mark seketika lenyap, berganti dengan perasaan kesal dan marah.Bukan hanya pada lelaki yang telah tidur bersamanya semalam, tapi juga pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri di saat situasi genting seperti ini. Kini, Allena ragu untuk pergi, dia merasa malu menampakkan diri pada siapa pun.Namun, ponselnya berbunyi, Mark menghubunginya untuk mengingatkan bahwa sidang akan dimulai jam 9 pagi. Dengan cepat, Allena pun membersihkan diri dan segera bersiap menuju Pengadilan."Kamu hampir saja terlambat, Allena. Kamu ke mana dulu?" tanya Mark.Allena baru sampai di Pengadilan pada jam 09.40 menit."Aku kesiangan tadi karena ada masalah sedikit. Yang penting tidak terlambat, kan. Kamu sudah sarapan?" "Sudah, cepat masuk, aku gak mau masuk ke sana tanpa kamu," pinta Mark dengan wajah kesal."Padahal pengacaramu bukan aku saja, manja sekali. Ayo!" sahut A

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   2- RPTH

    Bab 2 RPTH----"Oke, Allena, mari kita mulai." Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah. Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya."Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya."Sayang, kamu mulus sekali."Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Al

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status