Share

6- RPTH

Author: Elarys T
last update publish date: 2026-09-02 16:28:24

Bab 6 RPTH

----

Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.

Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya.

"Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.

Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya.

"Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."

Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama ini apa, hah?!" bentaknya pelan namun sarat akan kekecewaan mendalam.

Napas Mark memburu, urat-urat di lehernya menegang menahan murka agar tak mengundang perhatian para sipir yang berjaga di luar ruangan.

"Dengar dulu, Mark!" potong Allena cepat, jemarinya meremas kain roknya sendiri hingga kusut.

"Aku tidak bilang kita menyerah. Ada ... ada celah yang bisa kuupayakan di luar jalur formal. Aku bisa mengusahakan agar vonismu nanti dipotong habis, lalu dilanjutkan dengan pembebasan bersyarat. Kamu tidak akan mendekam belasan tahun di sini. Percaya padaku."

Mark terkekeh sumbang, sebuah tawa cynic yang menusuk ulu hati Allena. Lelaki itu memajukan tubuhnya, menatap Allena dengan tatapan menusuk.

"Celah apa, Allena? Kamu mau menyogok siapa? Pakai uang dari mana? Uangku sudah disita, rekeningku dibekukan! Atau kamu mau menjual dirimu demi menyelamatkanku, begitu?!"

Deg!

Jantung Allena serasa berhenti berdetak saat mendengar celetukan acak dari bibir Mark. Lidahnya mendadak kelu, matanya membelalak ketakutan.

Apakah Mark tahu? Tidak, tidak mungkin. Itu hanya luapan amarah acak dari Mark.

Namun, sindiran halus yang secara tidak sengaja amat tepat sasaran itu berhasil meremukkan sisa-sisa ketahanan mental Allena.

"Kenapa kamu bicara seperti itu, Mark?" bisik Allena dengan suara bergetar. "Aku berjuang mati-matian di luar sana untukmu. Aku mencari segala cara agar kamu bisa bebas dan kita bisa menikah!"

Mark mengepalkan tangannya di atas meja besi, menimbulkan dentang nyaring yang membuat sipir di pojok ruangan menoleh sekilas.

Lelaki itu memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napasnya yang tidak beraturan.

Dia tahu dia tidak boleh kehilangan Allena sekarang. Hanya Allena satu-satunya tumpuan hidupnya di luar sana.

"Maaf ..." gumam Mark seraya memijit pangkal hidungnya. Suaranya kembali memelan, penuh frustrasi yang tertahan.

"Maafkan aku, Allena. Aku hanya tertekan. Pikiran bahwa aku akan membusuk di sel ini membuat hatiku panas. Aku hanya tidak ingin kehilangan masa depanku ... tidak ingin kehilangan kamu."

Allena menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang hendak pecah. Rasa bersalah yang teramat sangat menyusup ke seluruh sel tubuhnya.

Mark sangat mencintainya, Mark melakukan tindak pidana itu karena ingin menghidupinya dan menggelar pernikahan mewah untuk mereka. Lantas, pantaskah Allena menyalahkan Mark jika lelaki itu emosi?

Tiba-tiba, mata Allena melirik ke arah jam dinding yang tergantung di sudut ruangan tahanan. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore lewat empat puluh lima menit.

Hari sudah mulai remang. Waktu terus berjalan tanpa kompromi, mengikis sisa menit menuju takdir kelam yang menunggunya malam ini.

Teringat janji laknatnya dengan Gilbert di hotel pukul delapan malam nanti, tubuh Allena seketika mendingin.

Rasa cemas dan jijik membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam langsung menguasai benak Allena.

Dia harus menyiapkan diri, harus pulang untuk membersihkan diri sebelum melangkah menuju sarang serigala berbulu domba itu.

"Mark ... aku harus pergi sekarang," kata Allena seraya berdiri dari kursinya dengan tergesa-gesa.

Mark menengadah, mengernyit heran melihat kepanikan di wajah kekasihnya. "Secepat ini? Hari belum terlalu malam, Allena. Kenapa terburu-buru sekali?"

"Aku ... aku harus menemui relasiku. Pihak yang kubilang bisa membantu menangani kasusmu di luar jalur persidangan," kebohongan meluncur begitu saja dari bibir Allena.

Rasanya begitu pahit di lidah. "Aku harus menemui mereka malam ini juga untuk mengurus dokumen dan kepastian pembebasan bersyaratmu."

Mark menatap Allena dalam-dalam, mencoba mencari celah kebohongan di mata wanita itu. Namun yang dia lihat hanyalah pancaran ketakutan dan kelelahan yang luar biasa.

Mengira ketakutan itu murni karena mengkhawatirkan nasibnya, Mark pun mengangguk perlahan.

Lelaki itu ikut berdiri, meraih jemari Allena lalu mengecupnya lembut—tindakan kontras dari emosi meledak-ledak beberapa menit yang lalu.

"Berjuanglah untukku, Allena. Aku mempercayakan seluruh hidupku di tanganmu. Ingat, setelah semua ini selesai, kita akan langsung menikah."

Tenggorokan Allena serasa tersumbat batu besar. Dia hanya mampu mengangguk kaku tanpa berani membalas tatapan Mark. "Aku pergi dulu, Mark. Jaga dirimu di dalam."

Allena membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan terburu-buru. Setiap langkah kakinya terasa amat berat, seolah dipasangi rantai besi berton-ton.

Lampu-lampu jalanan Kota Jakarta mulai menyala terang, membelah kegelapan malam yang kian pekat.

Di dalam taksi yang membawanya menuju hotel, Allena hanya bisa memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Hujan gerimis mulai membasahi kaca mobil, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi.

Pikirannya melayang pada kehidupannya yang berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam hitungan hari.

Dari seorang pengacara muda berbakat dengan masa depan cerah, kini dia bertransformasi menjadi seorang wanita yang merelakan kehormatannya demi sebuah kebebasan semu untuk kekasihnya.

Kamar nomor 9.

Angka itu terus berputar-putar di kepalanya bagai mimpi buruk yang tak ada ujungnya. Gilbert William Grace—seorang hakim ketua yang terhormat di mata publik, namun tak ubahnya iblis berwujud manusia di matanya.

Bagaimana bisa seorang penegak hukum yang berdiri di puncak keadilan memanfaatkan kelemahan seorang wanita secara begitu picik dan tak bermoral?

Namun Allena sadar, bersungut-sungut pun tak akan mengubah apa pun. Kartu as ada di tangan Gilbert.

Video laknat itu, pengaruh lelaki itu di pengadilan, serta kekuasaannya untuk menentukan nasib Mark; semua itu membuat Allena tak memiliki jalan keluar lain.

Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit malam.

Taksi yang ditumpangi Allena akhirnya berhenti di depan lobi hotel berbintang yang sama dengan kejadian malam naas itu.

Jantung Allena berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Kakinya bergetar hebat saat melangkah keluar dari taksi dan memasuki area lobi yang megah.

Pelayan hotel yang kemarin memapahnya sempat membungkuk sopan saat Allena berjalan melewatinya. Allena hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang sangat dipaksakan.

Rasa malu kembali menyeruak, mengingat di tempat inilah awal mula kehancurannya bermula.

Allena berjalan menyusuri lorong hotel lantai satu yang sepi. Karpet tebal yang melapisi lantai meredam suara langkah kakinya, membuat suasana semakin terasa mencekam.

Langkah Allena melambat saat matanya menatap daun pintu bernomor 9 di ujung lorong. Angka sembilan berwarna emas itu seolah tertawa mengejek kebodohannya.

Allena berdiri terpaku di depan pintu tersebut. Tangan kanan diangkatnya perlahan, melayang di udara, ragu untuk mengetuk. Napasnya memburu, peluh dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya.

"Ini demi Mark ... ini demi masa depan kita," bisik Allena berulang kali pada dirinya sendiri, mencoba memompa keberanian yang tersisa.

Dengan memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, Allena akhirnya mengayunkan bukunya, mengetuk pintu kamar nomor 9 itu perlahan.

Knock, knock, knock.

Suara ketukan itu bergema pelan di lorong yang sepi. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai terdengar suara kunci diputar dari dalam.

Pintu terbuka secara perlahan, menampakkan sosok Gilbert yang berdiri tegap di balik pintu.

Lelaki itu hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya dibuka kelam, serta celana bahan hitam tanpa jas kebesarannya.

Senyum miring yang sarat akan kemenangan terkembang di bibirnya saat menatap Allena yang berdiri mematung di hadapannya.

"Tepat waktu. Aku suka wanita yang tepat janji," bisik Gilbert dengan suara beratnya yang penuh intimidasi.

Lelaki itu kemudian mundur satu langkah dan membuka pintu lebih lebar, memberi akses masuk bagi mangsanya. "Masuklah, Allena. Malam kita yang panjang baru saja dimulai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   18- RPTH

    Bab 18 -RPTH---Cahaya matahari pagi menyusup tajam melalui celah gorden tebal, menusuk langsung ke pelupuk mata Allena.Nyeri hebat bagai dihantam ribuan jarum seketika meledak di dalam kepalanya saat dia mencoba menggerakkan leher. Denyut pening yang menggelayut berat membuat pandangannya kabur dan buram untuk beberapa detik.Allena meringis, memegangi dahinya seraya meregangkan tubuh. Namun, sapuan kain sutra yang teramat asing di telapak tangannya mendadak menghentikan pergerakannya.Sensasi dingin dan halus dari kasur tempatnya berbaring terasa sangat berbeda dengan tempat tidur di kamarnya sendiri.Allena mendadak membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya langsung tertarik penuh.Dia menoleh ke sekeliling ruangan—dinding bernuansa abu-abu gelap, lampu gantung minimalis yang mewah, serta kemeja pria yang tergantung kaku di sudut kamar. Ini bukan kamarnya!Rasa panik menyengat Allena dengan hebat. Dia buru-buru menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan seketika itu pul

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   17- RPTH

    Bab 17 -RPTH------Mobil sedan mewah milik Gilbert berhenti mulus di area parkir privat penthouse sebuah apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.Pintu lift terbuka langsung menyambung ke dalam ruang tamu luas berdinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu kota.Suasana apartemen itu teramat hening, dingin, dan tertata terlampau presisi, sangat mencerminkan karakter pemiliknya yang gila kontrol.Namun, ketenangan itu seketika pecah saat Gilbert mencoba memapah Allena keluar dari lift.Allena benar-benar hilang kendali.Langkah kakinya menyilang tak berarah, matanya terpejam sebagian, dan bibirnya terus menggumamkan tawa-tawa kecil yang tak jelas artinya."Awas, jalanmu benar sedikit, Allena," bisik Gilbert, suaranya dipenuhi rasa gusar yang ditahan seraya merengkuh pinggang wanita itu agar tidak ambruk ke lantai granit."Hihi... lantai apartemenmu goyang, Gilbert..." Allena terkekeh konyol, jarinya menunjuk-nunjuk udara dengan lemah. "Kamu ... kamu hakim sok keren yang jahat

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   16- RPTH

    Bab 16 -RPTH-----Penolakan dingin yang keluar dari bibir Gilbert mendarat tepat di atas luka Allena yang paling menganga.Rasa hancur, harga diri yang remuk, serta keputusasaan yang meluap-luap seketika berubah menjadi gelombang kekesalan yang amat pekat.Air mata yang sempat menggantung di pelupuk matanya tersapu oleh luapan amarah yang tak lagi memiliki arah."Cukup, Allena. Pakai akal sehatmu," tegur Gilbert tajam.Tangannya terulur, mencoba menjauhkan gelas kristal dari jangkauan jemari Allena."Kamu sudah terlalu banyak minum. Jangan bertindak bodoh di tempat umum."Namun, Allena tidak lagi sudi menurut.Dengan tatapan menantang dan napas yang terengah-engah, Allena justru menyambar dua gelas cocktail bertakar alkohol tinggi yang baru saja diantarkan bartender ke meja bar."Jangan atur-atur aku!" desis Allena penuh penolakan.Tanpa ragu, Allena menengadahkan kepalanya dan meneguk habis gelas pertama dalam sekali teguk.Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar dari tenggor

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   15- RPTH

    Bab 15 – RPTH----Dentuman bass dari musik house yang menghentak pelan bergetar di lantai kayu lounge eksklusif di kawasan Senopati. Pencahayaan temaram bernuansa amber dan tembaga membingkai deretan botol kristal di belakang meja bar.Di sudut yang agak terpencil, Allena duduk sendirian di atas kursi tinggi. Blus kerjanya sudah terlepas kancing atasnya, lengan baju tergulung kaku, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh berantakan mengitari bahu.Di depannya, gelas kristal berisi negroni ketiga sudah hampir kosong.Arus alkohol yang membakar tenggorokan menjadi satu-satunya cara untuk mematikan kebas di dadanya, membakar sisa-sisa rasa dipermalukan di ruang sidang serta amarah akibat manipulasi murah Mark."Satu gelas tequila shot lagi," panggil Allena pada bartender, suaranya agak serak dengan jeda yang mulai melambat."Aku sarankan kamu berhenti di gelas ketiga itu, Pengacara Allena."Sebuah suara bas yang familier, dingin, dan sarat akan dominasi mendadak memotong riuh m

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   14- RPTH

    Bab 14 - RPTHBau lembap khas sel tahanan sementara Pengadilan Negeri berbaur dengan aroma samar antiseptik murah.Allena duduk di kursi besi dingin yang memisahkan dirinya dengan Mark.Toga hukumnya sudah dia lepas dan tersampir kaku di atas pangkuan, menyisakan blus putih bersiluet tegas yang kini terasa mencekik lehernya.Di seberang meja kayu kusam, Mark duduk memeluk dirinya sendiri. Wajah pria itu kusut, matanya merah dipenuhi panik yang tak lagi bisa disembunyikan."Na, gimana?" sergap Mark tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav saat polisi pamong yang menjaga di sudut ruangan melangkah sedikit menjauh."Kenapa hakimnya dingin banget begitu? Kamu tadi kenapa gak ngelawan lebih keras sih?!"Allena memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menekan denyut nyeri yang mulai menjalar di pelipisnya.Rasa dipermalukan oleh Gilbert di ruang sidang masih membakar pipinya."Aku sudah berusaha, Mark," sahut Allena, suaranya sengaja ditahan agar tetap rendah dan stabil."Tapi

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   13- RPTH

    Bab 13 - RPTH----Atmosfer Ruang Sidang Utama Pengadilan itu terasa begitu membeku.Di sebelah kirinya, Mark duduk di kursi terdakwa dengan wajah pucat dan bahu merosot, tampak begitu merana di bawah sorotan lampu ruang sidang.Namun, fokus Allena sama sekali tak tertuju pada kekasihan di sampingnya. Pandangannya terpaku lurus ke depan, ke arah meja majelis hakim yang tinggi menjulang.Di sana, di kursi hijau kebesarannya, Gilbert William Grace duduk memimpin sebagai Hakim Ketua.Toga hakim bercorak merah-hitam melekat sempurna di tubuh tegapnya.Wajahnya yang rupawan tampak dingin bagai pahatan marmer, memancarkan wibawa dan otoritas mutlak yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas."Persidangan perkara pidana nomor 402/Pid.B/2026/PN.Jkt.Pst atas nama Terdakwa Mark Christopher dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Gilbert.Tok! Tok! Tok!Suara ketukan palu kayu bergaung nyaring, membelah keheningan. Allena meremas ujung toga hitamnya.Suara bas yang berat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status