INICIAR SESIÓNBab 6 RPTH
----
Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.
Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya.
"Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.
Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya.
"Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."
Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama ini apa, hah?!" bentaknya pelan namun sarat akan kekecewaan mendalam.
Napas Mark memburu, urat-urat di lehernya menegang menahan murka agar tak mengundang perhatian para sipir yang berjaga di luar ruangan.
"Dengar dulu, Mark!" potong Allena cepat, jemarinya meremas kain roknya sendiri hingga kusut.
"Aku tidak bilang kita menyerah. Ada ... ada celah yang bisa kuupayakan di luar jalur formal. Aku bisa mengusahakan agar vonismu nanti dipotong habis, lalu dilanjutkan dengan pembebasan bersyarat. Kamu tidak akan mendekam belasan tahun di sini. Percaya padaku."
Mark terkekeh sumbang, sebuah tawa cynic yang menusuk ulu hati Allena. Lelaki itu memajukan tubuhnya, menatap Allena dengan tatapan menusuk.
"Celah apa, Allena? Kamu mau menyogok siapa? Pakai uang dari mana? Uangku sudah disita, rekeningku dibekukan! Atau kamu mau menjual dirimu demi menyelamatkanku, begitu?!"
Deg!
Jantung Allena serasa berhenti berdetak saat mendengar celetukan acak dari bibir Mark. Lidahnya mendadak kelu, matanya membelalak ketakutan.
Apakah Mark tahu? Tidak, tidak mungkin. Itu hanya luapan amarah acak dari Mark.
Namun, sindiran halus yang secara tidak sengaja amat tepat sasaran itu berhasil meremukkan sisa-sisa ketahanan mental Allena.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Mark?" bisik Allena dengan suara bergetar. "Aku berjuang mati-matian di luar sana untukmu. Aku mencari segala cara agar kamu bisa bebas dan kita bisa menikah!"
Mark mengepalkan tangannya di atas meja besi, menimbulkan dentang nyaring yang membuat sipir di pojok ruangan menoleh sekilas.
Lelaki itu memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napasnya yang tidak beraturan.
Dia tahu dia tidak boleh kehilangan Allena sekarang. Hanya Allena satu-satunya tumpuan hidupnya di luar sana.
"Maaf ..." gumam Mark seraya memijit pangkal hidungnya. Suaranya kembali memelan, penuh frustrasi yang tertahan.
"Maafkan aku, Allena. Aku hanya tertekan. Pikiran bahwa aku akan membusuk di sel ini membuat hatiku panas. Aku hanya tidak ingin kehilangan masa depanku ... tidak ingin kehilangan kamu."
Allena menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang hendak pecah. Rasa bersalah yang teramat sangat menyusup ke seluruh sel tubuhnya.
Mark sangat mencintainya, Mark melakukan tindak pidana itu karena ingin menghidupinya dan menggelar pernikahan mewah untuk mereka. Lantas, pantaskah Allena menyalahkan Mark jika lelaki itu emosi?
Tiba-tiba, mata Allena melirik ke arah jam dinding yang tergantung di sudut ruangan tahanan. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore lewat empat puluh lima menit.
Hari sudah mulai remang. Waktu terus berjalan tanpa kompromi, mengikis sisa menit menuju takdir kelam yang menunggunya malam ini.
Teringat janji laknatnya dengan Gilbert di hotel pukul delapan malam nanti, tubuh Allena seketika mendingin.
Rasa cemas dan jijik membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam langsung menguasai benak Allena.
Dia harus menyiapkan diri, harus pulang untuk membersihkan diri sebelum melangkah menuju sarang serigala berbulu domba itu.
"Mark ... aku harus pergi sekarang," kata Allena seraya berdiri dari kursinya dengan tergesa-gesa.
Mark menengadah, mengernyit heran melihat kepanikan di wajah kekasihnya. "Secepat ini? Hari belum terlalu malam, Allena. Kenapa terburu-buru sekali?"
"Aku ... aku harus menemui relasiku. Pihak yang kubilang bisa membantu menangani kasusmu di luar jalur persidangan," kebohongan meluncur begitu saja dari bibir Allena.
Rasanya begitu pahit di lidah. "Aku harus menemui mereka malam ini juga untuk mengurus dokumen dan kepastian pembebasan bersyaratmu."
Mark menatap Allena dalam-dalam, mencoba mencari celah kebohongan di mata wanita itu. Namun yang dia lihat hanyalah pancaran ketakutan dan kelelahan yang luar biasa.
Mengira ketakutan itu murni karena mengkhawatirkan nasibnya, Mark pun mengangguk perlahan.
Lelaki itu ikut berdiri, meraih jemari Allena lalu mengecupnya lembut—tindakan kontras dari emosi meledak-ledak beberapa menit yang lalu.
"Berjuanglah untukku, Allena. Aku mempercayakan seluruh hidupku di tanganmu. Ingat, setelah semua ini selesai, kita akan langsung menikah."
Tenggorokan Allena serasa tersumbat batu besar. Dia hanya mampu mengangguk kaku tanpa berani membalas tatapan Mark. "Aku pergi dulu, Mark. Jaga dirimu di dalam."
Allena membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan terburu-buru. Setiap langkah kakinya terasa amat berat, seolah dipasangi rantai besi berton-ton.
Lampu-lampu jalanan Kota Jakarta mulai menyala terang, membelah kegelapan malam yang kian pekat.
Di dalam taksi yang membawanya menuju hotel, Allena hanya bisa memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Hujan gerimis mulai membasahi kaca mobil, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi.
Pikirannya melayang pada kehidupannya yang berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam hitungan hari.
Dari seorang pengacara muda berbakat dengan masa depan cerah, kini dia bertransformasi menjadi seorang wanita yang merelakan kehormatannya demi sebuah kebebasan semu untuk kekasihnya.
Kamar nomor 9.
Angka itu terus berputar-putar di kepalanya bagai mimpi buruk yang tak ada ujungnya. Gilbert William Grace—seorang hakim ketua yang terhormat di mata publik, namun tak ubahnya iblis berwujud manusia di matanya.
Bagaimana bisa seorang penegak hukum yang berdiri di puncak keadilan memanfaatkan kelemahan seorang wanita secara begitu picik dan tak bermoral?
Namun Allena sadar, bersungut-sungut pun tak akan mengubah apa pun. Kartu as ada di tangan Gilbert.
Video laknat itu, pengaruh lelaki itu di pengadilan, serta kekuasaannya untuk menentukan nasib Mark; semua itu membuat Allena tak memiliki jalan keluar lain.
Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit malam.
Taksi yang ditumpangi Allena akhirnya berhenti di depan lobi hotel berbintang yang sama dengan kejadian malam naas itu.
Jantung Allena berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Kakinya bergetar hebat saat melangkah keluar dari taksi dan memasuki area lobi yang megah.
Pelayan hotel yang kemarin memapahnya sempat membungkuk sopan saat Allena berjalan melewatinya. Allena hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang sangat dipaksakan.
Rasa malu kembali menyeruak, mengingat di tempat inilah awal mula kehancurannya bermula.
Allena berjalan menyusuri lorong hotel lantai satu yang sepi. Karpet tebal yang melapisi lantai meredam suara langkah kakinya, membuat suasana semakin terasa mencekam.
Langkah Allena melambat saat matanya menatap daun pintu bernomor 9 di ujung lorong. Angka sembilan berwarna emas itu seolah tertawa mengejek kebodohannya.
Allena berdiri terpaku di depan pintu tersebut. Tangan kanan diangkatnya perlahan, melayang di udara, ragu untuk mengetuk. Napasnya memburu, peluh dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya.
"Ini demi Mark ... ini demi masa depan kita," bisik Allena berulang kali pada dirinya sendiri, mencoba memompa keberanian yang tersisa.
Dengan memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, Allena akhirnya mengayunkan bukunya, mengetuk pintu kamar nomor 9 itu perlahan.
Knock, knock, knock.
Suara ketukan itu bergema pelan di lorong yang sepi. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai terdengar suara kunci diputar dari dalam.
Pintu terbuka secara perlahan, menampakkan sosok Gilbert yang berdiri tegap di balik pintu.
Lelaki itu hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya dibuka kelam, serta celana bahan hitam tanpa jas kebesarannya.
Senyum miring yang sarat akan kemenangan terkembang di bibirnya saat menatap Allena yang berdiri mematung di hadapannya.
"Tepat waktu. Aku suka wanita yang tepat janji," bisik Gilbert dengan suara beratnya yang penuh intimidasi.
Lelaki itu kemudian mundur satu langkah dan membuka pintu lebih lebar, memberi akses masuk bagi mangsanya. "Masuklah, Allena. Malam kita yang panjang baru saja dimulai."
Bab 7 RPTH----Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan."Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya."Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.Gilbert tertawa terkeke
Bab 6 RPTH----Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya."Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya."Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama in
Bab 5 PRTH----Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu."Aku takut kamu menipuku," ucap Allena."Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng."Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya."Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-s
Bab 4 PRTH----Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya."Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan."Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata s
Bab 3 RPTH----Pagi ini terlampau kacau bagi Allena yang harus menjadi kuasa hukum bagi Mark, kekasihnya. Semangat untuk membela Mark seketika lenyap, berganti dengan perasaan kesal dan marah.Bukan hanya pada lelaki yang telah tidur bersamanya semalam, tapi juga pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri di saat situasi genting seperti ini. Kini, Allena ragu untuk pergi, dia merasa malu menampakkan diri pada siapa pun.Namun, ponselnya berbunyi, Mark menghubunginya untuk mengingatkan bahwa sidang akan dimulai jam 9 pagi. Dengan cepat, Allena pun membersihkan diri dan segera bersiap menuju Pengadilan."Kamu hampir saja terlambat, Allena. Kamu ke mana dulu?" tanya Mark.Allena baru sampai di Pengadilan pada jam 09.40 menit."Aku kesiangan tadi karena ada masalah sedikit. Yang penting tidak terlambat, kan. Kamu sudah sarapan?" "Sudah, cepat masuk, aku gak mau masuk ke sana tanpa kamu," pinta Mark dengan wajah kesal."Padahal pengacaramu bukan aku saja, manja sekali. Ayo!" sahut A
Bab 2 RPTH----"Oke, Allena, mari kita mulai." Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah. Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya."Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya."Sayang, kamu mulus sekali."Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Al







