INICIAR SESIÓNBab 7 RPTH
----
Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.
Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.
Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.
Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan.
"Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya.
"Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.
Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.
Gilbert tertawa terkekeh, suara tawa yang sangat renyah namun terdengar amat menjengkelkan di telinga Allena.
Dia meneguk minumannya sendiri hingga kandas, lalu meletakkan gelas kosong itu di atas meja kecil dengan denting pelan.
Langkah Gilbert yang lambat dan penuh perhitungan mulai mengikis jarak di antara mereka.
Sepasang mata tajam milik hakim itu menatap Allena dari ujung kepala hingga ujung kaki, layaknya seorang predator yang sedang mengamati mangsa yang sudah tak punya jalan keluar.
Intimidasi itu begitu pekat hingga Allena harus berjuang keras agar lututnya tak menyerah dan ambruk ke lantai.
"Kalau begitu, langsung saja. Lakukan apa yang mau kamu lakukan. Sentuh aku sekarang juga biar semua ini cepat selesai!" cetus Allena dengan nada ketus, berusaha menyembunyikan getar ketakutan yang merayapi suaranya.
Gilbert justru menghentikan langkahnya persis beberapa senti di depan Allena. Senyum miring yang sarat akan ejekan terkembang sempurna di wajah tampannya.
"Cepat sekali kamu meminta disentuh, Allena? Padahal aku baru saja mau mengajakmu mengobrol," bisik Gilbert dengan suara berat yang bernada menggoda. "Atau jangan-jangan ... diam-diam kamu memang merindukan sentuhanku dan menginginkan tubuhku lagi seperti malam itu?"
Mendengar tuduhan bernada melecehkan itu, raut wajah Allena seketika berubah masam.
Matanya mendelik tajam, memancarkan amarah yang meluap-luap atas percaya diri Gilbert yang kelewat batas.
"Jangan bermimpi!" sembur Allena penuh penekanan. "Aku melakukan ini cuma karena terpaksa! Jangan bertingkah seolah-olah kamu itu pria yang paling diinginkan di dunia ini, Gilbert!"
Bukannya marah atas bentakan kasar itu, Gilbert justru terlihat makin terhibur. Tantangan dari Allena bagai bensin yang menyiram kobaran api di dalam dadanya.
Dengan gerakan yang amat cepat, jemari Gilbert meluncur naik, mengepit dagu Allena dengan tegas, cukup kuat untuk menahan wajah wanita itu agar tak bisa berpaling, namun cukup lembut hingga tak menimbulkan lebam.
"Ingat posisimu, Allena," peringat Gilbert. Suaranya berubah dingin, sarat akan ancaman terselubung yang menusuk hingga ke tulang hitam.
"Di ruang sidang, aku bisa menghancurkan masa depan kekasihmu hanya dengan satu ketukan palu. Dan di kamar ini, aku memegang kendali penuh atas dirimu. Jadi, jaga bicaramu kalau kamu masih mau pria itu menghirup udara bebas."
Allena menahan napasnya. Ancaman itu telak menghantam kesadarannya. Tatapan Gilbert begitu pekat, mengurungnya dalam dominasi mutlak yang tak memberi celah untuk melawan.
Perlahan, ibu jari Gilbert mengelus bibir bawah Allena yang gemetar, sebelum akhirnya tangannya meluncur turun melewati leher, bahu, dan hinggap di pinggang Allena.
Cengkeraman jemari Gilbert di pinggangnya meremas keras, menarik tubuh molek itu hingga menempel rapat tanpa jarak pada dada bidangnya yang tegap.
Allena bisa merasakan kehangatan tubuh Gilbert yang membakar kain pakaiannya.
Napasnya memburu, detak jantungnya berpacu gila-gilaan akibat perpaduan antara amarah, gairah yang dipaksa bangun, dan rasa tertekan yang membuncah.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku, Gilbert?!" desis Allena frustrasi.
Tangannya mengepal di atas dada Gilbert, mencoba mendorong dada tegap itu meski usahanya sia-sia belaka.
"Uang? Kekuasaan? Kamu punya semuanya! Kenapa harus menghancurkanku seperti ini?!"
Gilbert tak langsung menjawab.
Dia hanya menyeringai lebar, sebuah seringaian iblis yang amat memikat sekaligus mengerikan, membuat Allena makin tertekan dan merasa benar-benar tak berdaya di dalam pelukannya.
Gilbert memajukan wajahnya slowly, memangkas tiap milimeter udara yang memisahkan mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
Napas hangat Gilbert yang beraroma alkohol mahal membelai kulit pipi Allena, memicu desir aneh yang dibenci Allena setengah mati.
"Apa yang kuinginkan?" gumam Gilbert tepat di depan bibir Allena. Suaranya serak, rendah, dan penuh kepemilikan.
"Aku ingin menyentuhmu ... meremasmu ... menyiksamu dengan kenikmatan ... sampai kamu benar-benar lupa pada pria perengsek yang tidak berguna itu."
"Ng--mph!"
Belum sempat Allena membalas atau memaki kata-kata pongah itu, Gilbert sudah menyambar bibirnya tanpa ampun.
Ciuman itu tidak lembut sama sekali. Itu adalah sebuah pencerobohan yang ganas, penuh tuntutan, dan sarat akan dominasi.
Gilbert melumat bibir Allena dengan begitu agresif, menyapu bersih seluruh pertahanan diri yang dibangun Allena sepanjang hari.
Lidahnya menembus masuk, membelit lidah Allena dengan cara yang menguasai dan menuntut balasan.
Allena mencengkeram kemeja putih Gilbert, berniat mendorong pria itu menjauh.
Namun, remasan Gilbert di pinggangnya justru makin menguat, memaku tubuh Allena agar makin menyatu dengannya.
Setiap kali Allena mencoba memalingkan wajah, jemari Gilbert yang lain bergerak ke belakang kepala Allena, menahannya rapat-rapat, memaksa wanita itu menelan seluruh gairah liar yang dia tumpahkan.
Sentuhan brutal namun penuh keahlian itu bertabrakan dengan akal sehat Allena.
Sensasi panas menjalar cepat ke seluruh sendi tubuhnya, membuat lututnya makin lemas.
Suara lenguhan teredam keluar dari tenggorokan Allena di sela-sela ciuman panas itu, menandakan betapa pertahanannya mulai runtuh digelus gairah yang Gilbert sulut tanpa permisi.
Gilbert tersenyum di sela-sela ciumannya saat merasakan tubuh Allena yang tadinya kaku perlahan mulai pasrah dalam terkaman gairahnya.
Pria itu menyapu bibir Allena sekali lagi dengan tekanan yang makin dalam, “Mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya, hanya akulah satu-satunya pria yang berkuasa atas tubuh dan napasmu!”
Bab 7 RPTH----Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan."Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya."Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.Gilbert tertawa terkeke
Bab 6 RPTH----Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya."Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya."Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama in
Bab 5 PRTH----Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu."Aku takut kamu menipuku," ucap Allena."Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng."Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya."Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-s
Bab 4 PRTH----Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya."Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan."Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata s
Bab 3 RPTH----Pagi ini terlampau kacau bagi Allena yang harus menjadi kuasa hukum bagi Mark, kekasihnya. Semangat untuk membela Mark seketika lenyap, berganti dengan perasaan kesal dan marah.Bukan hanya pada lelaki yang telah tidur bersamanya semalam, tapi juga pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri di saat situasi genting seperti ini. Kini, Allena ragu untuk pergi, dia merasa malu menampakkan diri pada siapa pun.Namun, ponselnya berbunyi, Mark menghubunginya untuk mengingatkan bahwa sidang akan dimulai jam 9 pagi. Dengan cepat, Allena pun membersihkan diri dan segera bersiap menuju Pengadilan."Kamu hampir saja terlambat, Allena. Kamu ke mana dulu?" tanya Mark.Allena baru sampai di Pengadilan pada jam 09.40 menit."Aku kesiangan tadi karena ada masalah sedikit. Yang penting tidak terlambat, kan. Kamu sudah sarapan?" "Sudah, cepat masuk, aku gak mau masuk ke sana tanpa kamu," pinta Mark dengan wajah kesal."Padahal pengacaramu bukan aku saja, manja sekali. Ayo!" sahut A
Bab 2 RPTH----"Oke, Allena, mari kita mulai." Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah. Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya."Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya."Sayang, kamu mulus sekali."Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Al







