Share

7- RPTH

Penulis: Elarys T
last update Tanggal publikasi: 2026-09-02 16:37:43

Bab 7 RPTH

----

Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.

Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.

Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.

Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan.

"Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya.

"Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.

Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.

Gilbert tertawa terkekeh, suara tawa yang sangat renyah namun terdengar amat menjengkelkan di telinga Allena.

Dia meneguk minumannya sendiri hingga kandas, lalu meletakkan gelas kosong itu di atas meja kecil dengan denting pelan.

Langkah Gilbert yang lambat dan penuh perhitungan mulai mengikis jarak di antara mereka.

Sepasang mata tajam milik hakim itu menatap Allena dari ujung kepala hingga ujung kaki, layaknya seorang predator yang sedang mengamati mangsa yang sudah tak punya jalan keluar.

Intimidasi itu begitu pekat hingga Allena harus berjuang keras agar lututnya tak menyerah dan ambruk ke lantai.

"Kalau begitu, langsung saja. Lakukan apa yang mau kamu lakukan. Sentuh aku sekarang juga biar semua ini cepat selesai!" cetus Allena dengan nada ketus, berusaha menyembunyikan getar ketakutan yang merayapi suaranya.

Gilbert justru menghentikan langkahnya persis beberapa senti di depan Allena. Senyum miring yang sarat akan ejekan terkembang sempurna di wajah tampannya.

"Cepat sekali kamu meminta disentuh, Allena? Padahal aku baru saja mau mengajakmu mengobrol," bisik Gilbert dengan suara berat yang bernada menggoda. "Atau jangan-jangan ... diam-diam kamu memang merindukan sentuhanku dan menginginkan tubuhku lagi seperti malam itu?"

Mendengar tuduhan bernada melecehkan itu, raut wajah Allena seketika berubah masam.

Matanya mendelik tajam, memancarkan amarah yang meluap-luap atas percaya diri Gilbert yang kelewat batas.

"Jangan bermimpi!" sembur Allena penuh penekanan. "Aku melakukan ini cuma karena terpaksa! Jangan bertingkah seolah-olah kamu itu pria yang paling diinginkan di dunia ini, Gilbert!"

Bukannya marah atas bentakan kasar itu, Gilbert justru terlihat makin terhibur. Tantangan dari Allena bagai bensin yang menyiram kobaran api di dalam dadanya.

Dengan gerakan yang amat cepat, jemari Gilbert meluncur naik, mengepit dagu Allena dengan tegas, cukup kuat untuk menahan wajah wanita itu agar tak bisa berpaling, namun cukup lembut hingga tak menimbulkan lebam.

"Ingat posisimu, Allena," peringat Gilbert. Suaranya berubah dingin, sarat akan ancaman terselubung yang menusuk hingga ke tulang hitam.

"Di ruang sidang, aku bisa menghancurkan masa depan kekasihmu hanya dengan satu ketukan palu. Dan di kamar ini, aku memegang kendali penuh atas dirimu. Jadi, jaga bicaramu kalau kamu masih mau pria itu menghirup udara bebas."

Allena menahan napasnya. Ancaman itu telak menghantam kesadarannya. Tatapan Gilbert begitu pekat, mengurungnya dalam dominasi mutlak yang tak memberi celah untuk melawan.

Perlahan, ibu jari Gilbert mengelus bibir bawah Allena yang gemetar, sebelum akhirnya tangannya meluncur turun melewati leher, bahu, dan hinggap di pinggang Allena.

Cengkeraman jemari Gilbert di pinggangnya meremas keras, menarik tubuh molek itu hingga menempel rapat tanpa jarak pada dada bidangnya yang tegap.

Allena bisa merasakan kehangatan tubuh Gilbert yang membakar kain pakaiannya.

Napasnya memburu, detak jantungnya berpacu gila-gilaan akibat perpaduan antara amarah, gairah yang dipaksa bangun, dan rasa tertekan yang membuncah.

"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku, Gilbert?!" desis Allena frustrasi.

Tangannya mengepal di atas dada Gilbert, mencoba mendorong dada tegap itu meski usahanya sia-sia belaka.

"Uang? Kekuasaan? Kamu punya semuanya! Kenapa harus menghancurkanku seperti ini?!"

Gilbert tak langsung menjawab.

Dia hanya menyeringai lebar, sebuah seringaian iblis yang amat memikat sekaligus mengerikan, membuat Allena makin tertekan dan merasa benar-benar tak berdaya di dalam pelukannya.

Gilbert memajukan wajahnya slowly, memangkas tiap milimeter udara yang memisahkan mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan.

Napas hangat Gilbert yang beraroma alkohol mahal membelai kulit pipi Allena, memicu desir aneh yang dibenci Allena setengah mati.

"Apa yang kuinginkan?" gumam Gilbert tepat di depan bibir Allena. Suaranya serak, rendah, dan penuh kepemilikan.

"Aku ingin menyentuhmu ... meremasmu ... menyiksamu dengan kenikmatan ... sampai kamu benar-benar lupa pada pria perengsek yang tidak berguna itu."

"Ng--mph!"

Belum sempat Allena membalas atau memaki kata-kata pongah itu, Gilbert sudah menyambar bibirnya tanpa ampun.

Ciuman itu tidak lembut sama sekali. Itu adalah sebuah pencerobohan yang ganas, penuh tuntutan, dan sarat akan dominasi.

Gilbert melumat bibir Allena dengan begitu agresif, menyapu bersih seluruh pertahanan diri yang dibangun Allena sepanjang hari.

Lidahnya menembus masuk, membelit lidah Allena dengan cara yang menguasai dan menuntut balasan.

Allena mencengkeram kemeja putih Gilbert, berniat mendorong pria itu menjauh.

Namun, remasan Gilbert di pinggangnya justru makin menguat, memaku tubuh Allena agar makin menyatu dengannya.

Setiap kali Allena mencoba memalingkan wajah, jemari Gilbert yang lain bergerak ke belakang kepala Allena, menahannya rapat-rapat, memaksa wanita itu menelan seluruh gairah liar yang dia tumpahkan.

Sentuhan brutal namun penuh keahlian itu bertabrakan dengan akal sehat Allena.

Sensasi panas menjalar cepat ke seluruh sendi tubuhnya, membuat lututnya makin lemas.

Suara lenguhan teredam keluar dari tenggorokan Allena di sela-sela ciuman panas itu, menandakan betapa pertahanannya mulai runtuh digelus gairah yang Gilbert sulut tanpa permisi.

Gilbert tersenyum di sela-sela ciumannya saat merasakan tubuh Allena yang tadinya kaku perlahan mulai pasrah dalam terkaman gairahnya.

Pria itu menyapu bibir Allena sekali lagi dengan tekanan yang makin dalam, “Mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya, hanya akulah satu-satunya pria yang berkuasa atas tubuh dan napasmu!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   18- RPTH

    Bab 18 -RPTH---Cahaya matahari pagi menyusup tajam melalui celah gorden tebal, menusuk langsung ke pelupuk mata Allena.Nyeri hebat bagai dihantam ribuan jarum seketika meledak di dalam kepalanya saat dia mencoba menggerakkan leher. Denyut pening yang menggelayut berat membuat pandangannya kabur dan buram untuk beberapa detik.Allena meringis, memegangi dahinya seraya meregangkan tubuh. Namun, sapuan kain sutra yang teramat asing di telapak tangannya mendadak menghentikan pergerakannya.Sensasi dingin dan halus dari kasur tempatnya berbaring terasa sangat berbeda dengan tempat tidur di kamarnya sendiri.Allena mendadak membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya langsung tertarik penuh.Dia menoleh ke sekeliling ruangan—dinding bernuansa abu-abu gelap, lampu gantung minimalis yang mewah, serta kemeja pria yang tergantung kaku di sudut kamar. Ini bukan kamarnya!Rasa panik menyengat Allena dengan hebat. Dia buru-buru menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan seketika itu pul

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   17- RPTH

    Bab 17 -RPTH------Mobil sedan mewah milik Gilbert berhenti mulus di area parkir privat penthouse sebuah apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.Pintu lift terbuka langsung menyambung ke dalam ruang tamu luas berdinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu kota.Suasana apartemen itu teramat hening, dingin, dan tertata terlampau presisi, sangat mencerminkan karakter pemiliknya yang gila kontrol.Namun, ketenangan itu seketika pecah saat Gilbert mencoba memapah Allena keluar dari lift.Allena benar-benar hilang kendali.Langkah kakinya menyilang tak berarah, matanya terpejam sebagian, dan bibirnya terus menggumamkan tawa-tawa kecil yang tak jelas artinya."Awas, jalanmu benar sedikit, Allena," bisik Gilbert, suaranya dipenuhi rasa gusar yang ditahan seraya merengkuh pinggang wanita itu agar tidak ambruk ke lantai granit."Hihi... lantai apartemenmu goyang, Gilbert..." Allena terkekeh konyol, jarinya menunjuk-nunjuk udara dengan lemah. "Kamu ... kamu hakim sok keren yang jahat

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   16- RPTH

    Bab 16 -RPTH-----Penolakan dingin yang keluar dari bibir Gilbert mendarat tepat di atas luka Allena yang paling menganga.Rasa hancur, harga diri yang remuk, serta keputusasaan yang meluap-luap seketika berubah menjadi gelombang kekesalan yang amat pekat.Air mata yang sempat menggantung di pelupuk matanya tersapu oleh luapan amarah yang tak lagi memiliki arah."Cukup, Allena. Pakai akal sehatmu," tegur Gilbert tajam.Tangannya terulur, mencoba menjauhkan gelas kristal dari jangkauan jemari Allena."Kamu sudah terlalu banyak minum. Jangan bertindak bodoh di tempat umum."Namun, Allena tidak lagi sudi menurut.Dengan tatapan menantang dan napas yang terengah-engah, Allena justru menyambar dua gelas cocktail bertakar alkohol tinggi yang baru saja diantarkan bartender ke meja bar."Jangan atur-atur aku!" desis Allena penuh penolakan.Tanpa ragu, Allena menengadahkan kepalanya dan meneguk habis gelas pertama dalam sekali teguk.Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar dari tenggor

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   15- RPTH

    Bab 15 – RPTH----Dentuman bass dari musik house yang menghentak pelan bergetar di lantai kayu lounge eksklusif di kawasan Senopati. Pencahayaan temaram bernuansa amber dan tembaga membingkai deretan botol kristal di belakang meja bar.Di sudut yang agak terpencil, Allena duduk sendirian di atas kursi tinggi. Blus kerjanya sudah terlepas kancing atasnya, lengan baju tergulung kaku, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh berantakan mengitari bahu.Di depannya, gelas kristal berisi negroni ketiga sudah hampir kosong.Arus alkohol yang membakar tenggorokan menjadi satu-satunya cara untuk mematikan kebas di dadanya, membakar sisa-sisa rasa dipermalukan di ruang sidang serta amarah akibat manipulasi murah Mark."Satu gelas tequila shot lagi," panggil Allena pada bartender, suaranya agak serak dengan jeda yang mulai melambat."Aku sarankan kamu berhenti di gelas ketiga itu, Pengacara Allena."Sebuah suara bas yang familier, dingin, dan sarat akan dominasi mendadak memotong riuh m

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   14- RPTH

    Bab 14 - RPTHBau lembap khas sel tahanan sementara Pengadilan Negeri berbaur dengan aroma samar antiseptik murah.Allena duduk di kursi besi dingin yang memisahkan dirinya dengan Mark.Toga hukumnya sudah dia lepas dan tersampir kaku di atas pangkuan, menyisakan blus putih bersiluet tegas yang kini terasa mencekik lehernya.Di seberang meja kayu kusam, Mark duduk memeluk dirinya sendiri. Wajah pria itu kusut, matanya merah dipenuhi panik yang tak lagi bisa disembunyikan."Na, gimana?" sergap Mark tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav saat polisi pamong yang menjaga di sudut ruangan melangkah sedikit menjauh."Kenapa hakimnya dingin banget begitu? Kamu tadi kenapa gak ngelawan lebih keras sih?!"Allena memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menekan denyut nyeri yang mulai menjalar di pelipisnya.Rasa dipermalukan oleh Gilbert di ruang sidang masih membakar pipinya."Aku sudah berusaha, Mark," sahut Allena, suaranya sengaja ditahan agar tetap rendah dan stabil."Tapi

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   13- RPTH

    Bab 13 - RPTH----Atmosfer Ruang Sidang Utama Pengadilan itu terasa begitu membeku.Di sebelah kirinya, Mark duduk di kursi terdakwa dengan wajah pucat dan bahu merosot, tampak begitu merana di bawah sorotan lampu ruang sidang.Namun, fokus Allena sama sekali tak tertuju pada kekasihan di sampingnya. Pandangannya terpaku lurus ke depan, ke arah meja majelis hakim yang tinggi menjulang.Di sana, di kursi hijau kebesarannya, Gilbert William Grace duduk memimpin sebagai Hakim Ketua.Toga hakim bercorak merah-hitam melekat sempurna di tubuh tegapnya.Wajahnya yang rupawan tampak dingin bagai pahatan marmer, memancarkan wibawa dan otoritas mutlak yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas."Persidangan perkara pidana nomor 402/Pid.B/2026/PN.Jkt.Pst atas nama Terdakwa Mark Christopher dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Gilbert.Tok! Tok! Tok!Suara ketukan palu kayu bergaung nyaring, membelah keheningan. Allena meremas ujung toga hitamnya.Suara bas yang berat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status