INICIAR SESIÓNBab 4 PRTH
----
Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.
Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.
Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?
"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya.
"Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.
Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan.
"Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata suka mabuk-mabukan. Kamu juga belum menikah, kan? Tapi sudah tidak perawan," ejek Gilbert.
Mendengar ejekan itu, Allena langsung berdiri menantang Gilbert dengan berani. Allena benar-benar marah, dia tak rela harga dirinya diinjak-injak seperti ini oleh orang yang menurut Allena lebih buruk darinya.
Allena mabuk hanya karena dia sedang kalut dan ingin sejenak melupakan segala permasalahan yang menimpa Mark sebab selama proses hukum berlangsung, dia adalah orang yang paling bekerja keras.
Dan ketika menghadapi sidang yang menampilkan para saksi, Allena mengalami tekanan yang berkali lipat. Mark terus mendesaknya begitu juga para pengacara lain yang terlanjur mengandalkannya.
"Aku lelah kemarin, makanya aku mabuk. Gak semua yang dilakukan seseorang mencerminkan kebiasaannya. Jangan mudah men-judge orang lain!" kata Allena lantang.
"Oh, begitu, ya? Okay, aku percaya. Lagi pula hal itu bukan urusanku juga. Yang menjadi urusanku sekarang adalah kasus kekasihmu. Nasibnya ada di tanganku," sahut Gilbert.
Dari ucapannya, Allena dapat melihat jika Gilbert tengah memainkan mentalnya. Gilbert penjilat dan bisa menikamnya kapan saja dari belakang.
"Ya sudah, tangani dengan profesional dan aku pun akan bersikap profesional. Sudah, selesai. Lagi pula, kejadian semalam hanya kamu yang tahu, kan? Aku sendiri sama sekali tak mengingatnya. Bisa saja kalau kamu hanya mengada-ada.
Allena berbalik untuk pergi meninggalkan Gilbert di ruang sidang itu. Namun, Gilbert tak mau menyerah, dia sangat berharap Allena mau menjadi teman tidurnya dan tak akan kehabisan cara untuk mencapai keinginannya.
Lelaki itu merogoh ponsel di sakunya lalu membuka sebuah file video yang menunjukkan aktifitas Gilbert dan Allena semalam yang sengaja dia rekam. Gilbert akan menggunakannya sebagai umpan.
"Kamu tak akan mengelaknya lagi jika sudah melihat video ini, Allena," ucap Gilbert.
Allena seketika berbalik lagi dan langsung terkejut ketika melihat videonya bersama Gilbert yang tengah bercinta semalam. Allena gelagapan, dia ingin mengelak tapi bukti yang dipegang Gilbert amat nyata.
"Itu pasti editan!" tuduh Allena.
"Kita bisa panggil ahli untuk membuktikan apakah ini asli atau sekedar editan," sahut Gilbert.
Allena mengepalkan tangannya, dia benar-benar marah sekarang. Dengan cepat, Allena bergerak hendak mengambil ponsel milik Gilbert.
"Hapus video itu!" pintanya.
"Ini videoku, terserah mau kuhapus atau tidak," jawab Gilbert enteng.
"Argh! Kamu ini benar-benar Hakim bukan, sih? Dasar m*sum, otak penjahat, menyebalkan!"
Allena terus berusaha merebut ponsel itu sementara Gilbert pun terus melangkah mundur untuk menghindari Allena. Keduanya sama-sama tangkas dan tak mau kalah.
Suara di video itu pelan karena volumenya yamg rendah, tapi Allena dapat mendengarnya sebab posisi mereka yang dekat membuat wanita itu merasa geli sendiri mendengarnya.
"Lihatlah, permainanmu bagus sekali malam tadi, aku suka dan ingin mengulangnya. Bisakah kamu menjadi teman tidurku, Allena? Aku janji kalau kamu mau, video ini akan aman."
Allena berhenti merebut ponsel itu lalu menatap Gilbert dengan tajam. Perlahan, air matanya menetes begitu saja.
"Tadi kamu berusaha memerasku dan sekarang kamu mengancamku. Kamu tahu, kan, kalau masalah video seperti ini juga ada undang-undangnya? Kamu Hakim, seharusnya kamu tak melakukan ini padaku, kejadian semalam adalah ketidaksengajaan."
Allena menangis seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan saking frustasinya. Dia tak menyangka, berawal dari dirinya yang ingin melupakan masalah dengan minum minuman keras nyatanya hal itu malah menambah masalahnya.
Bahkan masalah ini lebih pelik di mana kasus kekasihnya terancam berakhir dengan kekalahan, atau kalau tidak maka dirinya yang akan kalah. Jika video itu tersebar, maka karirnya akan hancur dan Allena pun pasti putus dari Mark.
"Hey, kenapa kamu menangis? Cup, cup, cup ... kalau kamu menangis cantiknya jadi berkurang, lho. Sudah, ya. Masalah ini sebenarnya mudah kok, kamu hanya tinggal manut saja padaku," rayu Gilbert.
"Kamu pikir mudah menjadi pemuas napsu seorang lelaki yang bahkan gak aku kenal? Aku tak mau, aku punya pacar dan kami akan segera menikah!" tegas Allena.
"Tapi kalian tak akan bisa menikah jika pacarmu itu dipenjara. 15 tahun gugatannya, lho, dan aku sebagai Hakim Ketua bisa mengabulkannya minggu depan. Hal itu sangat mudah bagiku."
Perkataan Gilbert barusan membuat dada Allena bergemuruh hebat.
"Kamu jahat!" ucap Allena.
"Memang, aku memang jahat. Aku bahkan berniat mengadukan semua ini pada pacarmu dan mengatakan kalau kamu yang pertama kali menggodaku. Aku juga punya buktinya," jawab Gilbert.
"Dasar Hakim gila!" Allena hampir saja meludahi Gilbert saking kesalnya.
"Ya, aku gila. Lebih tepatnya tergila-gila padamu, pada permainanmu semalam yang membuatku kecanduan. Oh, Allena, kamu sangat menawan. Ayolah, tentukan pilihanmu sekarang!" desak Gilbert.
Lelaki itu nampak tak sabar, kalau saja mereka berdua bukan sedang berada di ruang sidang maka sudah pasti Gilbert telah menerkam Allena dengan penuh gairah.
Namun, semua itu tak mungkin. Bahkan obrolan mereka pun pasti akan menjadi permasalahan kalau ada hakim atau petugas Pengadilan yang melihat.
Oleh karenanya, Gilbert terus menahan diri, berusaha sabar dengan merayu Allena hanya melalui perkataan. Gilbert yakin, perlahan tapi pasti Allena akan luluh padanya.
"Aku gak akan menuruti keinginanmu. Silakan lakukan apa pun yang kamu kehendaki, Gilbert. Menyebarkan video, foto, memberitahu pacarku, terserah. Aku tak peduli.
"Aku akan tetap pada pendirianku dengan menjalani sidang ini sampai selesai dan akan kubuktikan kalau timku akan menang. Aku pengacara handal, aku bisa atasi masalah ini tanpa melibatkanmu!" tegas Allena.
Gilbert lantas tertawa. "Sombong sekali kamu, Allena. Baiklah, kalau memang begitu selamat berjuang menuju kekalahan. Ingat, penggugat menginginkan Mark dihukum berat karena kerugiannya juga banyak.
"Kalaupun minggu depan kamu menang, mereka akan mengajukan banding karena mau jungkir balik bagaimana pun juga yang salah adalah Mark. Mau jungkir balik bagaima pun juga, tim kamu akan kalah."
Bab 7 RPTH----Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan."Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya."Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.Gilbert tertawa terkeke
Bab 6 RPTH----Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya."Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya."Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama in
Bab 5 PRTH----Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu."Aku takut kamu menipuku," ucap Allena."Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng."Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya."Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-s
Bab 4 PRTH----Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya."Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan."Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata s
Bab 3 RPTH----Pagi ini terlampau kacau bagi Allena yang harus menjadi kuasa hukum bagi Mark, kekasihnya. Semangat untuk membela Mark seketika lenyap, berganti dengan perasaan kesal dan marah.Bukan hanya pada lelaki yang telah tidur bersamanya semalam, tapi juga pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri di saat situasi genting seperti ini. Kini, Allena ragu untuk pergi, dia merasa malu menampakkan diri pada siapa pun.Namun, ponselnya berbunyi, Mark menghubunginya untuk mengingatkan bahwa sidang akan dimulai jam 9 pagi. Dengan cepat, Allena pun membersihkan diri dan segera bersiap menuju Pengadilan."Kamu hampir saja terlambat, Allena. Kamu ke mana dulu?" tanya Mark.Allena baru sampai di Pengadilan pada jam 09.40 menit."Aku kesiangan tadi karena ada masalah sedikit. Yang penting tidak terlambat, kan. Kamu sudah sarapan?" "Sudah, cepat masuk, aku gak mau masuk ke sana tanpa kamu," pinta Mark dengan wajah kesal."Padahal pengacaramu bukan aku saja, manja sekali. Ayo!" sahut A
Bab 2 RPTH----"Oke, Allena, mari kita mulai." Gilbert mulai menyentuh Allena yang tiba-tiba menghindar membuat Golbert terkejut sebab sikap Allena yang tiba-tiba berubah. Namun, ketika Allena menjawab, rasa terkejut itu berganti dengan perasaan tak habis pikir sebab ternyata Allena hanya merasa tak cocok dengan panggilan yang disematkan Gilbert padanya."Aku gak mau dipanggil nama, Mark. Panggil aku sayang atau honey, nyebelin ih," rengek Allena.Gilbert menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, dia mengangguk setuju, memanggil Allena dengan panggilan sayang seraya mengelus lengan Allena yang putih dan mulus.Tak cukup sampai di sana, Gilbert juga menyapu seluruh tubuh Allena dengan penuh gairah sebab tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dan lebih bagusnya lagi, Allena nampak menikmatinya."Sayang, kamu mulus sekali."Gilbert berbisik di telinga Allena. Kini lelaki itu sudah berada di atas Allena, menindih wanita itu lalu memainkan bibirnya di dua gunung kembar Al







