Share

4- RPTH

Author: Elarys T
last update publish date: 2026-08-13 10:39:39

Bab 4 PRTH

----

Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.

Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.

Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?

"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya.

"Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.

Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan.

"Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata suka mabuk-mabukan. Kamu juga belum menikah, kan? Tapi sudah tidak perawan," ejek Gilbert.

Mendengar ejekan itu, Allena langsung berdiri menantang Gilbert dengan berani. Allena benar-benar marah, dia tak rela harga dirinya diinjak-injak seperti ini oleh orang yang menurut Allena lebih buruk darinya.

Allena mabuk hanya karena dia sedang kalut dan ingin sejenak melupakan segala permasalahan yang menimpa Mark sebab selama proses hukum berlangsung, dia adalah orang yang paling bekerja keras.

Dan ketika menghadapi sidang yang menampilkan para saksi, Allena mengalami tekanan yang berkali lipat. Mark terus mendesaknya begitu juga para pengacara lain yang terlanjur mengandalkannya.

"Aku lelah kemarin, makanya aku mabuk. Gak semua yang dilakukan seseorang mencerminkan kebiasaannya. Jangan mudah men-judge orang lain!" kata Allena lantang.

"Oh, begitu, ya? Okay, aku percaya. Lagi pula hal itu bukan urusanku juga. Yang menjadi urusanku sekarang adalah kasus kekasihmu. Nasibnya ada di tanganku," sahut Gilbert.

Dari ucapannya, Allena dapat melihat jika Gilbert tengah memainkan mentalnya. Gilbert penjilat dan bisa menikamnya kapan saja dari belakang.

"Ya sudah, tangani dengan profesional dan aku pun akan bersikap profesional. Sudah, selesai. Lagi pula, kejadian semalam hanya kamu yang tahu, kan? Aku sendiri sama sekali tak mengingatnya. Bisa saja kalau kamu hanya mengada-ada.

Allena berbalik untuk pergi meninggalkan Gilbert di ruang sidang itu. Namun, Gilbert tak mau menyerah, dia sangat berharap Allena mau menjadi teman tidurnya dan tak akan kehabisan cara untuk mencapai keinginannya.

Lelaki itu merogoh ponsel di sakunya lalu membuka sebuah file video yang menunjukkan aktifitas Gilbert dan Allena semalam yang sengaja dia rekam. Gilbert akan menggunakannya sebagai umpan.

"Kamu tak akan mengelaknya lagi jika sudah melihat video ini, Allena," ucap Gilbert.

Allena seketika berbalik lagi dan langsung terkejut ketika melihat videonya bersama Gilbert yang tengah bercinta semalam. Allena gelagapan, dia ingin mengelak tapi bukti yang dipegang Gilbert amat nyata.

"Itu pasti editan!" tuduh Allena.

"Kita bisa panggil ahli untuk membuktikan apakah ini asli atau sekedar editan," sahut Gilbert.

Allena mengepalkan tangannya, dia benar-benar marah sekarang. Dengan cepat, Allena bergerak hendak mengambil ponsel milik Gilbert.

"Hapus video itu!" pintanya.

"Ini videoku, terserah mau kuhapus atau tidak," jawab Gilbert enteng.

"Argh! Kamu ini benar-benar Hakim bukan, sih? Dasar m*sum, otak penjahat, menyebalkan!" 

Allena terus berusaha merebut ponsel itu sementara Gilbert pun terus melangkah mundur untuk menghindari Allena. Keduanya sama-sama tangkas dan tak mau kalah.

Suara di video itu pelan karena volumenya yamg rendah, tapi Allena dapat mendengarnya sebab posisi mereka yang dekat membuat wanita itu merasa geli sendiri mendengarnya.

"Lihatlah, permainanmu bagus sekali malam tadi, aku suka dan ingin mengulangnya. Bisakah kamu menjadi teman tidurku, Allena? Aku janji kalau kamu mau, video ini akan aman."

Allena berhenti merebut ponsel itu lalu menatap Gilbert dengan tajam. Perlahan, air matanya menetes begitu saja.

"Tadi kamu berusaha memerasku dan sekarang kamu mengancamku. Kamu tahu, kan, kalau masalah video seperti ini juga ada undang-undangnya? Kamu Hakim, seharusnya kamu tak melakukan ini padaku, kejadian semalam adalah ketidaksengajaan."

Allena menangis seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan saking frustasinya. Dia tak menyangka, berawal dari dirinya yang ingin melupakan masalah dengan  minum minuman keras nyatanya hal itu malah menambah masalahnya.

Bahkan masalah ini lebih pelik di mana kasus kekasihnya terancam berakhir dengan kekalahan, atau kalau tidak maka dirinya yang akan kalah. Jika video itu tersebar, maka karirnya akan hancur dan Allena pun pasti putus dari Mark.

"Hey, kenapa kamu menangis? Cup, cup, cup ... kalau kamu menangis cantiknya jadi berkurang, lho. Sudah, ya. Masalah ini sebenarnya mudah kok, kamu hanya tinggal manut saja padaku," rayu Gilbert.

"Kamu pikir mudah menjadi pemuas napsu seorang lelaki yang bahkan gak aku kenal? Aku tak mau, aku punya pacar dan kami akan segera menikah!" tegas Allena.

"Tapi kalian tak akan bisa menikah jika pacarmu itu dipenjara. 15 tahun gugatannya, lho, dan aku sebagai Hakim Ketua bisa mengabulkannya minggu depan. Hal itu sangat mudah bagiku."

Perkataan Gilbert barusan membuat dada Allena bergemuruh hebat.

"Kamu jahat!" ucap Allena.

"Memang, aku memang jahat. Aku bahkan berniat mengadukan semua ini pada pacarmu dan mengatakan kalau kamu yang pertama kali menggodaku. Aku juga punya buktinya," jawab Gilbert.

"Dasar Hakim gila!" Allena hampir saja meludahi Gilbert saking kesalnya.

"Ya, aku gila. Lebih tepatnya tergila-gila padamu, pada permainanmu semalam yang membuatku kecanduan. Oh, Allena, kamu sangat menawan. Ayolah, tentukan pilihanmu sekarang!" desak Gilbert.

Lelaki itu nampak tak sabar, kalau saja mereka berdua bukan sedang berada di ruang sidang maka sudah pasti Gilbert telah menerkam Allena dengan penuh gairah.

Namun, semua itu tak mungkin. Bahkan obrolan mereka pun pasti akan menjadi permasalahan kalau ada hakim atau petugas Pengadilan yang melihat.

Oleh karenanya, Gilbert terus menahan diri, berusaha sabar dengan merayu Allena hanya melalui perkataan. Gilbert yakin, perlahan tapi pasti Allena akan luluh padanya.

"Aku gak akan menuruti keinginanmu. Silakan lakukan apa pun yang kamu kehendaki, Gilbert. Menyebarkan video, foto, memberitahu pacarku, terserah. Aku tak peduli.

"Aku akan tetap pada pendirianku dengan menjalani sidang ini sampai selesai dan akan kubuktikan kalau timku akan menang. Aku pengacara handal, aku bisa atasi masalah ini tanpa melibatkanmu!" tegas Allena.

Gilbert lantas tertawa. "Sombong sekali kamu, Allena. Baiklah, kalau memang begitu selamat berjuang menuju kekalahan. Ingat, penggugat menginginkan Mark dihukum berat karena kerugiannya juga banyak. 

"Kalaupun minggu depan kamu menang, mereka akan mengajukan banding karena mau jungkir balik bagaimana pun juga yang salah adalah Mark. Mau jungkir balik bagaima pun juga, tim kamu akan kalah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   18- RPTH

    Bab 18 -RPTH---Cahaya matahari pagi menyusup tajam melalui celah gorden tebal, menusuk langsung ke pelupuk mata Allena.Nyeri hebat bagai dihantam ribuan jarum seketika meledak di dalam kepalanya saat dia mencoba menggerakkan leher. Denyut pening yang menggelayut berat membuat pandangannya kabur dan buram untuk beberapa detik.Allena meringis, memegangi dahinya seraya meregangkan tubuh. Namun, sapuan kain sutra yang teramat asing di telapak tangannya mendadak menghentikan pergerakannya.Sensasi dingin dan halus dari kasur tempatnya berbaring terasa sangat berbeda dengan tempat tidur di kamarnya sendiri.Allena mendadak membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya langsung tertarik penuh.Dia menoleh ke sekeliling ruangan—dinding bernuansa abu-abu gelap, lampu gantung minimalis yang mewah, serta kemeja pria yang tergantung kaku di sudut kamar. Ini bukan kamarnya!Rasa panik menyengat Allena dengan hebat. Dia buru-buru menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan seketika itu pul

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   17- RPTH

    Bab 17 -RPTH------Mobil sedan mewah milik Gilbert berhenti mulus di area parkir privat penthouse sebuah apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.Pintu lift terbuka langsung menyambung ke dalam ruang tamu luas berdinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu kota.Suasana apartemen itu teramat hening, dingin, dan tertata terlampau presisi, sangat mencerminkan karakter pemiliknya yang gila kontrol.Namun, ketenangan itu seketika pecah saat Gilbert mencoba memapah Allena keluar dari lift.Allena benar-benar hilang kendali.Langkah kakinya menyilang tak berarah, matanya terpejam sebagian, dan bibirnya terus menggumamkan tawa-tawa kecil yang tak jelas artinya."Awas, jalanmu benar sedikit, Allena," bisik Gilbert, suaranya dipenuhi rasa gusar yang ditahan seraya merengkuh pinggang wanita itu agar tidak ambruk ke lantai granit."Hihi... lantai apartemenmu goyang, Gilbert..." Allena terkekeh konyol, jarinya menunjuk-nunjuk udara dengan lemah. "Kamu ... kamu hakim sok keren yang jahat

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   16- RPTH

    Bab 16 -RPTH-----Penolakan dingin yang keluar dari bibir Gilbert mendarat tepat di atas luka Allena yang paling menganga.Rasa hancur, harga diri yang remuk, serta keputusasaan yang meluap-luap seketika berubah menjadi gelombang kekesalan yang amat pekat.Air mata yang sempat menggantung di pelupuk matanya tersapu oleh luapan amarah yang tak lagi memiliki arah."Cukup, Allena. Pakai akal sehatmu," tegur Gilbert tajam.Tangannya terulur, mencoba menjauhkan gelas kristal dari jangkauan jemari Allena."Kamu sudah terlalu banyak minum. Jangan bertindak bodoh di tempat umum."Namun, Allena tidak lagi sudi menurut.Dengan tatapan menantang dan napas yang terengah-engah, Allena justru menyambar dua gelas cocktail bertakar alkohol tinggi yang baru saja diantarkan bartender ke meja bar."Jangan atur-atur aku!" desis Allena penuh penolakan.Tanpa ragu, Allena menengadahkan kepalanya dan meneguk habis gelas pertama dalam sekali teguk.Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar dari tenggor

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   15- RPTH

    Bab 15 – RPTH----Dentuman bass dari musik house yang menghentak pelan bergetar di lantai kayu lounge eksklusif di kawasan Senopati. Pencahayaan temaram bernuansa amber dan tembaga membingkai deretan botol kristal di belakang meja bar.Di sudut yang agak terpencil, Allena duduk sendirian di atas kursi tinggi. Blus kerjanya sudah terlepas kancing atasnya, lengan baju tergulung kaku, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh berantakan mengitari bahu.Di depannya, gelas kristal berisi negroni ketiga sudah hampir kosong.Arus alkohol yang membakar tenggorokan menjadi satu-satunya cara untuk mematikan kebas di dadanya, membakar sisa-sisa rasa dipermalukan di ruang sidang serta amarah akibat manipulasi murah Mark."Satu gelas tequila shot lagi," panggil Allena pada bartender, suaranya agak serak dengan jeda yang mulai melambat."Aku sarankan kamu berhenti di gelas ketiga itu, Pengacara Allena."Sebuah suara bas yang familier, dingin, dan sarat akan dominasi mendadak memotong riuh m

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   14- RPTH

    Bab 14 - RPTHBau lembap khas sel tahanan sementara Pengadilan Negeri berbaur dengan aroma samar antiseptik murah.Allena duduk di kursi besi dingin yang memisahkan dirinya dengan Mark.Toga hukumnya sudah dia lepas dan tersampir kaku di atas pangkuan, menyisakan blus putih bersiluet tegas yang kini terasa mencekik lehernya.Di seberang meja kayu kusam, Mark duduk memeluk dirinya sendiri. Wajah pria itu kusut, matanya merah dipenuhi panik yang tak lagi bisa disembunyikan."Na, gimana?" sergap Mark tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav saat polisi pamong yang menjaga di sudut ruangan melangkah sedikit menjauh."Kenapa hakimnya dingin banget begitu? Kamu tadi kenapa gak ngelawan lebih keras sih?!"Allena memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menekan denyut nyeri yang mulai menjalar di pelipisnya.Rasa dipermalukan oleh Gilbert di ruang sidang masih membakar pipinya."Aku sudah berusaha, Mark," sahut Allena, suaranya sengaja ditahan agar tetap rendah dan stabil."Tapi

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   13- RPTH

    Bab 13 - RPTH----Atmosfer Ruang Sidang Utama Pengadilan itu terasa begitu membeku.Di sebelah kirinya, Mark duduk di kursi terdakwa dengan wajah pucat dan bahu merosot, tampak begitu merana di bawah sorotan lampu ruang sidang.Namun, fokus Allena sama sekali tak tertuju pada kekasihan di sampingnya. Pandangannya terpaku lurus ke depan, ke arah meja majelis hakim yang tinggi menjulang.Di sana, di kursi hijau kebesarannya, Gilbert William Grace duduk memimpin sebagai Hakim Ketua.Toga hakim bercorak merah-hitam melekat sempurna di tubuh tegapnya.Wajahnya yang rupawan tampak dingin bagai pahatan marmer, memancarkan wibawa dan otoritas mutlak yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas."Persidangan perkara pidana nomor 402/Pid.B/2026/PN.Jkt.Pst atas nama Terdakwa Mark Christopher dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Gilbert.Tok! Tok! Tok!Suara ketukan palu kayu bergaung nyaring, membelah keheningan. Allena meremas ujung toga hitamnya.Suara bas yang berat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status