Share

Gagal Lagi

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2025-10-22 22:34:33

Sudah satu jam Iman menunggu di kamar, tanda-tanda istrinya muncul belum ada. Ah, terpaksa Iman menyusul kalau begini. Jangan sampai dia kalah lagi dari anak-anaknya.

Nasib memiliki dua anak laki-laki, Iman harus rela jika Bening di sabotase kedua anaknya. Sampai iman merasa perhatian Bening terfokus pada anak-anaknya saja. Apalagi Raka dan Riki ini posesif sekali kepada bundanya. Iman saja sering dipukul kalau terlalu dekat dengan bundanya.

Iman mengintip dari sela pintu. Ya, Tuhan! Iman sampai mengelus dada. Ditunggu dari tadi di kamar tak kira Bening sudah selesai menyusuinya. Rupanya, Bening malah tidur.

Dengan mengendap-endap, Iman masuk. Jangan sampai langkah kaki ini membangunkan dua jagoan, terutama Riki yang level rewelnya sempurna.

"Ning.. Bening.." panggil Iman menggoyangkan sedikit kaki istrinya.

Bukannya bangun, suara dengkuran Bening makin terdengar. Terpaksa Iman memilih untuk memencet jempol kaki istrinya sampai Bening menjerit.

Iman melotot! Riki sampai bangun dan menangis karena Bening main menjerit di telinga anaknya.

Alamat gagal lagi. Iman memilih menyingkir, malam ini Bening milik anak-anaknya.

Seperti biasa, hampir setiap hari kecuali libur Bening akan bangun pukul 4 subuh. Mengurus rumah, memasak sarapan, bekal makan dan juga makan siang si kecil.

Iman bangun dengan wajah mengkerut. Matanya sembab karena mengantuk. Melihat body istrinya yang masih aduhai setelah melahirkan, naluri Iman bangkit lagi.

Dia lalu mendekatkan dirinya dan memeluk Bening dari belakang.

"Eh!" Bening sampai terkejut. "Mandi dulu sana!"

"Pengen, sayang! Tega banget kamu ninggalin aku semalam."

"Bukan salahku, mas. Anak-anakmu tahu sendiri gimana, kan?"

Iman mencium bahu hingga leher istrinya. Tak lupa tangannya yang lincah meraba-raba tubuh bagian depan.

Bening menurunkan tangan suaminya.

"Mas.. aku lagi masak!" Masalahnya Bening sedang menggoreng ayam kentucky permintaan Raka.

"Sebentar aja.." pinta Iman begitu memohon.

Bening tampak berpikir. Sebenarnya dia ingin juga, tapi sering kali kalah akan rasa lelahnya.

"Ya sudah bentar aja!" Bening mematikan kompor dan ikut suaminya ke kamar.

Tak perduli aroma tubuh yang asam karena baru bangun tidur, Iman pokoknya harus menuntaskan hasratnya segera.

"Jangan lama-lama!" Bening mengingatkan.

Kalau sudah begitu, Iman main cepat saja. Mumpung masih subuh, sinyal ini begitu kuat. Apalagi aroma tubuh istrinya seperti candu.

Daster Bening kembali dibuka. Ia dibaringkan perlahan, Iman langsung masuk ke leher istrinya yang berkeringat karena pagi-pagi harus berkutat di dapur.

Tak lupa, Iman menyentuh dua pabrik susu milik Raka. Minta sedikit saja untuk melepaskan dahaganya.

Bening yang tak sabaran menyuruh suaminya langsung masuk ke permainan inti saja. Iman pun manut dan memulai permainan.

Sedang enak berayun bersama istrinya, suara tangisan Riki terdengar. Heran! Riki ini selalu bisa mengendus bau kemesraan orang tuanya.

"Mas.. Riki nangis!" Tepuk Bening menyadarkan suaminya yang sedang asik berayun.

"Biarin aja!" Ayolah, sedang nikmat ini. Iman mana mau melepasnya.

Tak tertahan, suara tangisan Riki berubah menjadi jerit histeris hingga Raka ikut terbangun dan memanggil ayah bundanya.

"Anak-anak, mas!" Sudah, Bening tidak tahan kalau begini. Yang tadinya nikmat jadi sakit karena ada gangguan.

Bening segera memakai dasternya, menggendong Riki yang menangis sembari ke kamar mandi membersihkan pabrik susunya. Baru setelah itu, Bening menyusui putranya.

"Selalu begini!" Gerutu Iman kesal. Padahal ia belum mengeluarkan sesuatu, tapi karena gangguan ini terpaksa ia harus memutusnya.

"Gagal lagi!" Desah Iman. Lebih baik dia menyegarkan diri saja mumpung adzan belum berkumandang.

Pukul 7 pagi, Bening merasa biasa saja. Sementara, Iman kesal. Ditegur oleh anaknya sedikit dia malah naik darah.

"Kenapa ayah marah-marah?" Tanya Bening keheranan.

"Anakmu itu! Ayahnya lagi sarapan malah sibuk bertanya!"

"Kak Raka cuma tanya apa yang ia nggak ngerti, yah."

Raka tadi bertanya pada Iman mengenai kartun yang ada di televisi. Tapi, Iman malah menghardiknya.

Suara tangis Riki terdengar, Iman sampai memegang telinganya menahan kesal.

"Riki itu kenapa sih? Nangis aja terus!"

"Kurang tidur dia. Makanya rewel." Jawab Bening sabar.

"Tapi sepanjang waktu dia rewel!"

Bening menghela nafas sambil menatap suaminya. Dirinya juga masih berkutat mengurus Riki sambil menyiapkan bekal makanan.

"Nih, pegang dulu!" Bening menyerahkan Riki ke pangkuan ayahnya.

"Aku mau ngajar, Bening!"

"Sebentar aja. Aku kebelet.. nanti dia nangis kalau nggak di gendong."

Iman pasrah lagi kalau begini. Sementara, Bening langsung ke kamar mandi untuk mengeluarkan hajatnya.

Riki sendiri langsung diam dalam gendongan ayahnya. Bahkan ia tertawa sambil menepuk-nepuk tangannya.

"Nah.. kalau begini kan enak ngeliatnya.." ucap Iman sambil mengecup pipi anaknya. "Kamu lebih ganteng kalau senyum daripada nangis nggak jelas."

Melihat adiknya yang tertawa dalam gendongan Iman, Raka mendekat dan ikut bermain. Ketiganya lalu bermain dan tertawa bersama.

Suara salam terdengar, rupanya Inah sudah datang.

"Pagi sekali, tumben!" Seru Iman.

"Iya. Kemarin mbak Bening minta aku datang lebih cepat."

"Nih! Ambil Riki. Aku mau kerja!"

Inah mengambil Riki dalam gendongan Iman hingga jari keduanya saling bersentuhan. Mau tak mau, Iman menoleh pada gadis remaja ini. Ibarat mangga, Inah ini sedang ranum-ranumnya. Apalagi setelan pakaian Inah hanya kaos dan celana pendek selutut saja. Jadi menonjolkan bagian-bagian yang tak seharusnya.

Astaga! Apa yang barusan Iman pikirkan? Dia sampai menggeleng. Oleh karena sudah lama tak mendapat jatah, mata Iman melihat kemana-mana.

"Aku pergi dulu. Kasih tahu sama mbakmu." Iman langsung mengambil tas kerja dan menuju pintu keluar. Hari ini, Iman akan mengajar lagi sampai sore.

Seperti itu setiap hari, Iman dan Bening kembali bertemu di sore hari. Itupun Bening yang tak langsung istirahat karena harus menyelesaikan urusan rumah.

Sebagai catatan, Inah hanya bertugas sebagai pengasuh. Jadi dia tak mau ikut campur jika rumah ini babak belur seperti kapal pecah. Jadilah, Bening yang mengurusnya setelah pulang mengajar.

Malam yang harusnya hangat karena diisi oleh mengobrol dan canda tawa anak-anak seringkali teralih oleh kesibukan masing-masing. Iman yang tenggelam di ponselnya juga Bening yang sibuk di urusan dapur.

"Mulai bulan depan, aku nggak ngajar lagi hari sabtu." Ucap Iman sambil menunggu Bening menyiapkan makan malam.

"Kenapa, mas?"

"Perkuliahan sekarang sampai jum'at aja. Tapi dipadatkan sampai malam."

"Begitu rupanya." Bening memberikan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauknya. "Berarti bagus dong, mas. Hari sabtu kamu bisa mengasuh anak-anak.."

"Terus kerjaanmu apa Ning kalau aku yang mengasuh anak-anak?"

"Aku kan mengajar mas hari Sabtu." Jawab Bening tak habis pikir.

"Suruh Inah aja, lah! Buat apa dia dibayar kalau nggak bisa ngasuh."

Bening mendengkus. "Ya. Tapi kamu liat-liatin pekerjaannya.."

"Aduh, Bening! Merepotin banget pake mau diliatin segala. Aku juga mau istirahat."

"Ya sudah kalau begitu.," Bening hendak pergi dari dapur namun langkahnya tertahan. "Kenapa?"

"Jangan lupa malam ini. Kasian barangku nanti berkarat kalau dia lama nggak disentuh."

Bening sampai tertawa mendengarnya.

"Aku tidurin anak-anak dulu."

Untunglah Raka dan Riki bisa diajak kerjasama, keduanya tidur lebih cepat dan terlihat pulas.

"Coba dari dulu begini, bunda juga bisa istirahat cepet, nak.." Bening tersenyum melihat anak-anaknya yang sudah tertidur. "Ya ampun.. aku lupa kalau ada bayi besar satu lagi yang harus diurus."

Anak mertua itu memang bayi yang paling cerewet. Dia bilang Riki itu rewel padahal sebenarnya dialah yang paling rewel.

Sebelum ke kamar suaminya, Bening membersihkan miliknya dulu. Sampai disana, Iman sudah siap berperang.

"Anak-anak udah tidur?" Tanya Iman.

"Kalau belum tidur nggak mungkin aku datang kesini."

Bening masuk ke pelukan suaminya dan Iman yang mulai mengecupi seluruh wajah istrinya. Kecupan itu makin turun ke bagian bawah ke tempat dimana ia akan menanamkan saham disana.

"Sayang.. kamu bau banget!"

"Bau apa sih?"

"Ikan asin!"

"Males, ah!" Bening jadi tersinggung lalu terduduk, segera saja Iman menahan tangannya.

"Jangan marah, sayang.."

"Abisnya mas gitu. Punyaku dihina-hina. Baulah, hitamlah!" Ucap Bening merajuk.

"Ya memang kenyataannya begitu jadi gimana? Tapi kan tetapku pakai, sayang.." bujuk Iman. Jangan sampai gagal lagi malam ini.

"Nggak ah! Buat insecure aja!"

"Jangan coba lari lagi dong! Mumpung anak-anak tidur." Pinta Iman memelas.

"Ya kamu, sih! Kalau mau punyaku nggak bau dan hitam, makanya kamu kasih uang biar aku bisa ke salon buat perawatan!" Kini Bening jadi mengomel.

"Ya ampun jadi melebar kemana-mana. Udah lah.." Iman mendorong lagi tubuh istrinya hingga terlentang dan hendak menaikinya.

Namun baru saja tangan Bening melingkar di leher suaminya, suara ketukan pintu terdengar keras.

"Siapa itu yang bertamu malam-malam?" Tanya Bening keheranan.

"Astaga! Ada aja gangguan.."

Iman lalu bangkit dan memakai pakaiannya. Begitu juga Bening yang langsung masuk ke kamar anak-anaknya. Masalahnya ketukan itu begitu kuat, pasti bisa mengganggu dua jagoan yang tengah tertidur lelap.

"Awas aja kalau nggak penting!" Iman menggerutu sambil membuka pintu. Namun, ia terkejut mendapati dua wanita yang berada di depannya. "Ibu?? Irma?"

"Iman.." lirih ibunda dengan beruraian air mata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Perkawinan   Lembaran Baru (Ending)

    Setelah beberapa hari tinggal di kota, Bening kembali bekerja di kantor arsitektur milik Reyhan dan Fandi sekaligus mengurus pendaftaran sekolah anak semata wayangnya.Dalam kurun waktu 2 bulan, Raka akan bersekolah di TK Aisyah. Merajut mimpi yang sebelumnya sempat berhenti karena musibah yang mereka alami."Selamat datang kembali, Bening.." ucap Sintia tersenyum manis."Terima kasih. Mudah-mudahan kamu tidak bosan mengajariku soal pekerjaan disini." Balas Bening sama manisnya."Ah.. itu! Siap-siap saja kamu akan sibuk.""Kenapa begitu?""Sekarang banyak klien yang mengambil jasa desain dari sini. Yang terbaru pemerintah daerah mengajak kerja sama dengan kita.""Dalam hal apa?""Mendesain perpustakaan. Kamu tahu kan kalau perpustakaan daerah kita sedang di renovasi?"Bening menggeleng. Dia sungguh tak tahu kabar."Rencananya perpustakaan itu akan dijadikan perpustakaan akbar. Jadi, bang Reyhan dan bang Fandi yang akan mendesainnya.""Wah, hebat sekali.." Bening jadi takjub. Dalam sat

  • Ranjang Perkawinan   Awal Yang Baru

    Satu tahun kemudian...Selepas kepergian Iman, kehidupan Wati dan keluarganya banyak sekali mengalami perubahan. Dimas yang pemalas dan hanya mengharapkan harta orang tuanya kini bekerja sebagai ojek online. Begitu juga dengan Irma yang ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan manisan di depan rumahnya. Sementara Ifa, terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena keterbatasan biaya.Dulu ketika Iman hidup, Iman lah yang bertugas memberikan nahkah kepada keluarga ini. Tapi setelah Iman sudah tidak ada lagi, mereka berjuang untuk bertahan hidup. Mengais rupiah demi rupiah untuk menyambung kehidupan mereka.Di penjara, Cahaya juga menebus dosa-dosanya. Ternyata wajah cantik itu tak menjamin hati seseorang. Ia didakwa karena terbukti melakukan penganiayaan pada anak kecil. Tak hanya di penjara, Cahaya juga resmi kehilangan pekerjaan serta izin prakteknya. Kakak Cahaya yang terlibat dalam pelenyapan Iman juga sudah mendapatkan masing-masing hukuman.Namun satu kejutan yang

  • Ranjang Perkawinan   Yang Bersalah Dihukum

    Iman memang ke kantor polisi. Tapi bukan untuk menyelamatkan istrinya. Melainkan memberi keterangan yang selama ini ia pendam sendiri. Mulai dari memar yang waktu itu ada di pelipis kanan anaknya, lalu Raka yang tak terurus dengan baik dimana Raka selalu mengadu tidak pernah dikasih makan.Bodohnya Iman yang selalu mengabaikan keluhan anaknya. Dia yang sibuk mencari nafkah diluar, mengaku jika kurang memberikan perhatian pada putranya. Ia juga tak bermaksud menyalahkan Cahaya, karena Iman sebenarnya sama saja.Keterangan dikantongi, para kakak Cahaya meradang setelah mendengar pengakuan Iman. Setelah itu, Cahaya dimintai keterangan lagi. Namun, wanita licik ini tetap tak mengaku dan meraung-raung minta dilepaskan.Sementara, Iman menuju rumah sakit dimana Raka dirawat. Sesampainya disana, dia bertemu dengan Bening dan dua mantan mertuanya."Mau apa lagi kamu kesini, mas?" Tanya Bening dingin."Aku hanya ingin melihat Raka. Apa kabarnya?""Buruk sekali. Anakku bahkan harus menjalani te

  • Ranjang Perkawinan   Murka Bening

    "Kenapa kamu kembali lagi, Ning?" Tanya Wati gugup bukan main. Oleh karena emosi, dia jadi mengeluarkan ucapan yang harusnya sampai mati disimpannya."Aku minta kalian mengatakan semuanya dengan jujur. Apa hubungan Ifa dengan kematian Riki?" Tanya Bening bergetar memandang tiga orang yang memiliki hubungan darah ini."Bukan apa-apa. Kamu salah dengar." Jawab Iman sembari memandang ke arah lain."Aku tidak salah dengar, mas. Kalian bilang jika Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh! Sekarang jawab semuanya!" Teriak Bening histeris. Raka sendiri memanggil bundanya ketika Bening menangis."Mbak Bening.." panggil Irma. "Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh.""Apa?"Sekarang semua mata tertuju pada Irma. Wati bahkan tak tahan untuk menegurnya."Mau sampai kapan kita menyembunyikan semuanya, bu?" Tanya Irma hampir terisak. "Mbak Bening nggak bersalah tapi dia menerima hukumannya. Begitu juga dengan mas Iman yang membiarkan rahasia ini terjaga untuk melindungi Ifa dari jerat hukum.""Irma, jelaska

  • Ranjang Perkawinan   Terbongkar

    "Raka!" Teriak Bening histeris ketika melihat Raka terjatuh tak sadarkan diri.Dia lalu meraih tubuh anaknya yang melemah. Sebelum Raka menutup mata, Raka sempat menatap bundanya dan mengaduh lemah."Sayang.."panggil Bening sambil menangis.Reyhan yang menyaksikan adegan mengerikan itu ikut turun dari mobil dan memburu keduanya."Kita bawa anakmu ke rumah sakit sekarang." Seru Reyhan. Dia lalu membawa Raka masuk ke dalam mobilnya.Sementara, Cahaya terdiam dengan tubuh menegang. Setan apa yang tadi memasukinya sampai ia begitu marah kepada anak tirinya."Bening!" Panggil Iman yang baru tiba. Dia bergegas turun dari motor dan menghampiri Bening yang membukakan pintu mobil kepada seorang pria yang tengah menggendong anaknya. "Raka mau dibawa kemana??!"Bening menutup pintu tersebut dan beralih membuka pintu bagian depan. Namun lengannya ditahan oleh Iman."Mau kemana, Bening?" Teriak Iman kesal."Tanya pada istrimu itu!" Bentak Bening sama kesalnya. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan Reyh

  • Ranjang Perkawinan   Kejahatan Ibu Tiri

    Bening bersyukur karena Raina mengizinkannya untuk mengundurkan diri dari toko Amara florist. Padahal, Bening belum ada satu bulan bekerja di toko ini."Nanti gajimu akan ku transfer.""Aduh, nggak usah, mbak. Aku kan belum sebulan juga kerja disini." Jawab Bening tak enak hati."Terus aku nggak perlu membayar tenagamu?" Raina tersenyum tulus. "Tenang saja. Aku nggak perhitungan, kok."Bening ikut membalas Raina dengan senyuman. Syukurlah di dunia ini, Bening masih bertemu dengan orang-orang baik.Selesai berpamitan dan bekerja untuk terakhir kalinya di toko bunga ini. Besoknya Bening bekerja di kantor milik Reyhan. Ada seorang wanita yang bernama Sintia yang mengajarkan mengenai pekerjaan Bening disini.Untunglah, Sintia, Fandi dan pegawai lainnya ramah kepadanya hingga membuat Bening merasa nyaman."Bagaimana hari pertama bekerja, Bening? Apa ada masalah?" Tanya Reyhan baru datang siang itu."Alhamdulillah nggak ada. Semua orang disini mengajariku dengan baik.""Baguslah kalau begit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status