LOGIN"Ibu??" Iman keheranan. "Irma? Lah kok malam-malam kemari? Terus kenapa ini pada menangis?"
Iman memundurkan sedikit tubuhnya hingga kedua wanita ini bisa masuk. "Duduk dulu. Ada apa ini? Terus dimana Ifa?" "Ifa tinggal di rumah." Jawab Irma. "Ayo cerita. Kenapa ibu menangis begitu?" Wati dan Irma saling melirik, seperti kebingungan siapa yang akan memulai terlebih dahulu. Bening juga keluar dari kamar anaknya. Untunglah Riki tertidur lagi setelah disusui. "Ibu, Irma.." sapa Bening dan menyalimi mertua dan adik iparnya. "Apa kabar?" "Begitulah, nak." Sahut Wati sedih. "Aku buatkan minum dulu." Bening lalu ke dapur untuk membuat minuman, sementara Iman mendesak ibunya untuk bercerita. "Ada masalah apa ini? Kenapa ibu sampai menangis begini?" Kalau tidak penting, tak mungkin Wati dan Irma ke rumah Iman malam-malam begini. "Suami adikmu ketahuan mencuri." "Hah?" Iman lalu menatap Irma. "Ini beneran? Mencuri dimana?" "Mencuri di toko, mas. Kak Cecep ngambil minuman sampai 50 dus terus dijual pakai nama pribadi." Cecep sendiri suami Irma yang berkerja di toko minuman perisa. "Ya ampun.. kenapa bisa begitu sih? Sekarang Cecep dimana?" "Kabur nggak tahu kemana.." Irma menangis tersedu. "Dan sekarang pihak toko meminta Irma untuk membayar kerugian." Sambung Wati. "Memang berapa kerugiannya?" Tanya Iman lagi. "Sekitar 5 juta." "Tahan dulu jangan dibayar!" Ucap Iman bertepatan dengan istrinya yang menaruh minuman. "Tunggu Cecep aja!" "Cecep aja nggak tahu dimana. Nomor ponselnya nggak aktif." Wati jadi susah hati. "Ya suruh aja orang tua Cecep yang membayarnya! Kenapa harus dibebankan pada kita?" "Orang tuanya lepas tangan, Man! Rupanya kejadian begini sering kali terjadi. Kata ibunya dulu, Cecep pernah melarikan uang dari pemilik toko buah." "Astaga!" Iman tak habis pikir. Padahal Cecep itu bentukannya bak pria alim. "Kejebak berarti kita. Kalau begini mas nyesel nikahin kamu sama dia!" Mendengar itu, Irma hanya tertunduk sambil menangis. "Sebenarnya ada alasan apa Cecep kok bisa kepikiran begitu? Apa dia ada terjerat hutang?" Kini Bening ikut bertanya pada adik iparnya. "Kak Cecep itu sebenarnya suka main judi online." "Apa?" Kedua pasutri ini kompak terkejut. "Sudah pernah kusehati, mas. Katanya mau berhenti. Tapi rupanya malah makin menjadi-jadi." Iman sampai memijit kepalanya yang pusing. "Nah! Ini orang toko menelpon lagi!" Seru Irma ketika ponselnya berbunyi. Sambungan di angkat, ternyata orang toko yang meminta uang tersebut dibayar malam ini. Atau mereka akan melaporkan Cecep ke polisi. "Nah, gimana ini, mas?" Irma jadi panik. "Biarin aja mereka lapor polisi!" "Mas!" Irma mencebik. "Cecep itu suamiku!" "Terus? Mau kamu bayar begitu? Dimana otakmu itu, Irma? Cinta boleh tapi jangan bodoh." "Jangan begitu, Man. Kalau misalkan Cecep di penjara lalu bagaimana dia bisa menghidupi istri dan anaknya. Kamu tahu sendiri anak mereka masih kecil." Ucap Wati. "Terus kalau kita yang bayar itu artinya keenakan di Cecepnya! Ibu saja bilang tadi Cecep menghilang, gimana sih?" Iman jadi kesal. "Tolonglah, mas.." pinta Irma memelas. "Bantu pinjamkan kami uang.. aku berjanji akan membayarnya." "Kamu aja nggak bekerja! Mau darimana kamu membayar hutangmu!" "Mas.." tegur Bening. Dia takut Iman kelewatan jika bicara. Walau sebenarnya dia sependapat. "Jual saja mas kawinmu. Gampang, kan?" Iman memberi solusi. "Sudah dijual untuk biaya lahiran kemarin." Sahut Wati. Nah, kalau sudah begini mau bagaimana lagi? "Iman.. kamu adalah anak ibu satu-satunya yang bisa ibu harapkan. Tolonglah satu kali ini saja.. ibu janji Irma akan membayarnya." Pinta Wati. "Ibu.." Iman sudah bingung bagaimana cara menjelaskannya. "Aku kurang apa lagi dengan keluarga kita? Aku memberi ibu separuh gajiku, membiayai Ifa yang masih SMA, lalu aku juga ngasih ke keponakanku. Aku nggak sampe nabung loh untuk gajiku itu." Wati juga paham akan itu. Dirinya janda beranak tiga. Sejak dulu, Iman adalah tumpuan keluarga. Dia sendiri masih punya anak yang masih SMA dan semuanya dibiayai oleh Iman. "Bening.." Wati kini beralih pada Bening. "Tolong bantu adik iparmu, nak.." "Sebenarnya aku ada uang, bu. Besok kan gajian. Tapi kalau dipakai untuk membayar hutang Cecep, itu sama aja nggak bisa bayar cicilan rumah." Ujar Bening. Mendengar ucapan hampa dari anak dan menantunya, Wati menjadi sedih. "Begini saja.. biarkanlah kalau mereka memang mau melaporkan Cecep ke polisi." "Tapi, bu.." sanggah Irma. "Kita nggak punya uang, nak. Nggak mungkin juga kita merepotkan mas mu yang sudah berkeluarga." Wati lalu bangkit dari duduknya dan berpamitan. Kasihan juga Ifa jika ditinggal terlalu lama. Sementara, Iman jadi pusing sendiri. Setelah menghabiskan dua batang rokoknya, ia memanggil Bening yang sudah beristirahat. "Kamu bantu setengah gimana?" "Jadi mas beneran mau bayarin hutang Cecep?" Tanya Bening heran. Padahal tadi suaminya seperti ngotot sekali. "Yang dibilang Ibu bener juga. Kalau Cecep dipenjara, nanti bagaimana Irma dan anaknya bisa makan." "Aku nggak punya uang, mas. Jujur aja.." "Masa kamu nggak punya uang? Gajimu kan besar!" "Besar dari mana?" Bening sampai melotot. "Aku ini pegawai negeri, mas. Tahu sendiri gaji guru S1 itu nggak sampe sekian. Belum lagi dipotong cicilan rumah, bayar Inah, beli diapers dan susu anak-anak, terus sama beli perlengkapan dapur. Semuanya pakai uangku!" Ucap Bening. "Ini aja aku mau minta ke kamu." "Memang kurang?" Tanya Iman tak percaya. "Kurang! Aku bahkan nggak bisa menikmati gajiku sendiri, mas. Aku kan juga mau ke salon." Bening jadi mengomel. Setelah punya dua anak, dia tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Apalagi dihina suaminya bau ikan asin, jadi sakit hati dia. "Gajiku apalagi, Bening. Kamu tahu gajiku nggak besar, kan!" "Memang berapa gajimu? Nominalnya aja kamu nggak pernah kasih tahu!" Iman langsung melipat bibir. Dia sudah salah bicara. Jangan pernah membahas gaji ke hadapan Bening. Para istri itu pandai berhitung. "Sekarang kamu jujur sama aku, mas. Kamu masih ngirimin orang tuaku uang, kan?" Selidik Bening. "Ya, masihlah. Tega banget aku kalau begitu." Jawab Iman jadi gugup. "Yakin?" "Ya ampun, Bening!" "Abisnya tadi kamu cerita seluruh pengeluaran ibu dan adik-adikmu kamu yang tanggung. Jangan lupa bayar listrik dan air, mas! Lalu kirim juga uang untuk orang tuaku. Ingat perjanjian kita." "Iya.." jawab Iman tersendat. "Terus gimana?" "Bantu setengah?" Bening menggeleng. "Aku nggak punya uang, mas." Bening main masuk saja ke kamarnya meninggalkan Iman yang masih pusing tujuh keliling. Jika istrinya tidak mau membantu, terpaksa Iman merogoh tabungannya. Itupun tanpa sepengetahuan Bening jika Iman memiliki tabungan. Jika tidak, wanita itu akan merengek. Besoknya, Iman menemui Irma dan bersama-sama ke toko untuk menyelesaikan masalah Cecep. Hutang sudah dibayar lunas. "Makasih ya, mas. Aku janji akan membayarnya!" Irma sampai memeluk Iman. "Itu bukan uangku tapi uang Bening. Jangan lupa dibayar sebelum ditagih!" Ucap Iman berbohong. "Iya, akan aku bayar secepatnya.." Oleh karena sudah izin mengajar 2 kelas, Iman memilih pulang saja ke rumah. Hari sudah siang, dia makan dan sekaligus istirahat saja di rumah. "Eh.. mas Iman pulang cepet?" Tanya Inah keheranan. "Iya. Mana anak-anak?" Sahut Iman. "Lagi pada tidur siang. Tadi baru selesai aku kasih makan." "Baguslah. Inah! Kamu layani aku makan dulu." "Ngng maksudnya?" Tanya Inah tak mengerti. "Siapkan makan siang untukku." Oh, kalau ini Inah baru mengerti. Dia mengikuti Iman sampai ke meja makan. Mengambil piring, nasi dan juga lauk. Sementara Iman duduk cantik di kursi makan. "Makasih." Inah pergi ke kamar anak-anak setelah melayani suami Bening ini di meja makan. Iman sendiri setelah makan, pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan baru ke kamar untuk istirahat. Masih ada satu jam lagi jadwal kosong, setelah itu dia akan ke kampus. Kamar Iman dan anak-anak yang bersebelahan membuat Iman jadi salah fokus. Baru saja memegang handle pintu kamarnya, dia melihat seseorang yang tengah berbaring di kamar sebelah. Dengan mengangkat satu kakinya hingga terlihatlah paha yang mulus itu. "Astaga, Inah.." Iman sampai geleng-geleng kepala. Remaja itu tengah bermain ponsel sambil berbaring. Pahanya yang putih itu terlihat karena dirinya yang memakai celana pendek sebatas lutut.Setelah beberapa hari tinggal di kota, Bening kembali bekerja di kantor arsitektur milik Reyhan dan Fandi sekaligus mengurus pendaftaran sekolah anak semata wayangnya.Dalam kurun waktu 2 bulan, Raka akan bersekolah di TK Aisyah. Merajut mimpi yang sebelumnya sempat berhenti karena musibah yang mereka alami."Selamat datang kembali, Bening.." ucap Sintia tersenyum manis."Terima kasih. Mudah-mudahan kamu tidak bosan mengajariku soal pekerjaan disini." Balas Bening sama manisnya."Ah.. itu! Siap-siap saja kamu akan sibuk.""Kenapa begitu?""Sekarang banyak klien yang mengambil jasa desain dari sini. Yang terbaru pemerintah daerah mengajak kerja sama dengan kita.""Dalam hal apa?""Mendesain perpustakaan. Kamu tahu kan kalau perpustakaan daerah kita sedang di renovasi?"Bening menggeleng. Dia sungguh tak tahu kabar."Rencananya perpustakaan itu akan dijadikan perpustakaan akbar. Jadi, bang Reyhan dan bang Fandi yang akan mendesainnya.""Wah, hebat sekali.." Bening jadi takjub. Dalam sat
Satu tahun kemudian...Selepas kepergian Iman, kehidupan Wati dan keluarganya banyak sekali mengalami perubahan. Dimas yang pemalas dan hanya mengharapkan harta orang tuanya kini bekerja sebagai ojek online. Begitu juga dengan Irma yang ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan manisan di depan rumahnya. Sementara Ifa, terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena keterbatasan biaya.Dulu ketika Iman hidup, Iman lah yang bertugas memberikan nahkah kepada keluarga ini. Tapi setelah Iman sudah tidak ada lagi, mereka berjuang untuk bertahan hidup. Mengais rupiah demi rupiah untuk menyambung kehidupan mereka.Di penjara, Cahaya juga menebus dosa-dosanya. Ternyata wajah cantik itu tak menjamin hati seseorang. Ia didakwa karena terbukti melakukan penganiayaan pada anak kecil. Tak hanya di penjara, Cahaya juga resmi kehilangan pekerjaan serta izin prakteknya. Kakak Cahaya yang terlibat dalam pelenyapan Iman juga sudah mendapatkan masing-masing hukuman.Namun satu kejutan yang
Iman memang ke kantor polisi. Tapi bukan untuk menyelamatkan istrinya. Melainkan memberi keterangan yang selama ini ia pendam sendiri. Mulai dari memar yang waktu itu ada di pelipis kanan anaknya, lalu Raka yang tak terurus dengan baik dimana Raka selalu mengadu tidak pernah dikasih makan.Bodohnya Iman yang selalu mengabaikan keluhan anaknya. Dia yang sibuk mencari nafkah diluar, mengaku jika kurang memberikan perhatian pada putranya. Ia juga tak bermaksud menyalahkan Cahaya, karena Iman sebenarnya sama saja.Keterangan dikantongi, para kakak Cahaya meradang setelah mendengar pengakuan Iman. Setelah itu, Cahaya dimintai keterangan lagi. Namun, wanita licik ini tetap tak mengaku dan meraung-raung minta dilepaskan.Sementara, Iman menuju rumah sakit dimana Raka dirawat. Sesampainya disana, dia bertemu dengan Bening dan dua mantan mertuanya."Mau apa lagi kamu kesini, mas?" Tanya Bening dingin."Aku hanya ingin melihat Raka. Apa kabarnya?""Buruk sekali. Anakku bahkan harus menjalani te
"Kenapa kamu kembali lagi, Ning?" Tanya Wati gugup bukan main. Oleh karena emosi, dia jadi mengeluarkan ucapan yang harusnya sampai mati disimpannya."Aku minta kalian mengatakan semuanya dengan jujur. Apa hubungan Ifa dengan kematian Riki?" Tanya Bening bergetar memandang tiga orang yang memiliki hubungan darah ini."Bukan apa-apa. Kamu salah dengar." Jawab Iman sembari memandang ke arah lain."Aku tidak salah dengar, mas. Kalian bilang jika Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh! Sekarang jawab semuanya!" Teriak Bening histeris. Raka sendiri memanggil bundanya ketika Bening menangis."Mbak Bening.." panggil Irma. "Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh.""Apa?"Sekarang semua mata tertuju pada Irma. Wati bahkan tak tahan untuk menegurnya."Mau sampai kapan kita menyembunyikan semuanya, bu?" Tanya Irma hampir terisak. "Mbak Bening nggak bersalah tapi dia menerima hukumannya. Begitu juga dengan mas Iman yang membiarkan rahasia ini terjaga untuk melindungi Ifa dari jerat hukum.""Irma, jelaska
"Raka!" Teriak Bening histeris ketika melihat Raka terjatuh tak sadarkan diri.Dia lalu meraih tubuh anaknya yang melemah. Sebelum Raka menutup mata, Raka sempat menatap bundanya dan mengaduh lemah."Sayang.."panggil Bening sambil menangis.Reyhan yang menyaksikan adegan mengerikan itu ikut turun dari mobil dan memburu keduanya."Kita bawa anakmu ke rumah sakit sekarang." Seru Reyhan. Dia lalu membawa Raka masuk ke dalam mobilnya.Sementara, Cahaya terdiam dengan tubuh menegang. Setan apa yang tadi memasukinya sampai ia begitu marah kepada anak tirinya."Bening!" Panggil Iman yang baru tiba. Dia bergegas turun dari motor dan menghampiri Bening yang membukakan pintu mobil kepada seorang pria yang tengah menggendong anaknya. "Raka mau dibawa kemana??!"Bening menutup pintu tersebut dan beralih membuka pintu bagian depan. Namun lengannya ditahan oleh Iman."Mau kemana, Bening?" Teriak Iman kesal."Tanya pada istrimu itu!" Bentak Bening sama kesalnya. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan Reyh
Bening bersyukur karena Raina mengizinkannya untuk mengundurkan diri dari toko Amara florist. Padahal, Bening belum ada satu bulan bekerja di toko ini."Nanti gajimu akan ku transfer.""Aduh, nggak usah, mbak. Aku kan belum sebulan juga kerja disini." Jawab Bening tak enak hati."Terus aku nggak perlu membayar tenagamu?" Raina tersenyum tulus. "Tenang saja. Aku nggak perhitungan, kok."Bening ikut membalas Raina dengan senyuman. Syukurlah di dunia ini, Bening masih bertemu dengan orang-orang baik.Selesai berpamitan dan bekerja untuk terakhir kalinya di toko bunga ini. Besoknya Bening bekerja di kantor milik Reyhan. Ada seorang wanita yang bernama Sintia yang mengajarkan mengenai pekerjaan Bening disini.Untunglah, Sintia, Fandi dan pegawai lainnya ramah kepadanya hingga membuat Bening merasa nyaman."Bagaimana hari pertama bekerja, Bening? Apa ada masalah?" Tanya Reyhan baru datang siang itu."Alhamdulillah nggak ada. Semua orang disini mengajariku dengan baik.""Baguslah kalau begit







