Beranda / Romansa / Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian! / Bab 4 Kebenaran yang Menyakitkan dan Pengusiran

Share

Bab 4 Kebenaran yang Menyakitkan dan Pengusiran

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 20:24:07

"Maksudku, pria yang setia dan tetep sayang sama istrinya meski udah bertahun-tahun. Kamu itu beruntung, Wa. Jangan sampe nyesel belakangan."

Wawa terdiam.

Kata-kata Maya menghujam telak.

Ia tahu Dion pria hebat.

Ia tahu gimana lihainya Dion di ranjang, gimana pria itu selalu memastikan Wawa sampai duluan sebelum dirinya sendiri.

"Aku dilema, May. Aku sayang Satria, tapi aku juga ngerasa bersalah banget sama Dion. Tapi ya, gimana lagi, aku udah bulat mau cerai sama dia!"

"Kalau kamu emang udah nggak bisa sama Dion, lepasin dia baik-baik, Wa. Jangan digantung. Pria kayak Dion nggak pantes digantung."

Dan ketika sedang berbincang demikian, Wawa dan Maya melihat kendaraan Dion masuk ke garasi, hanya untuk mengambil beberapa barang sebelum pergi lagi. Dari kejauhan, ia bisa melihat rahang Dion yang mengeras dan tatapan matanya yang dingin.

"Andai aku yang ada di posisi Wawa," gumam Maya pelan.

Maya dan Wawa akhirnya melihat Dion masuk, tapi langkahnya terhenti di ruang tengah.

Dion baru saja hendak mengambil berkas penting di laci meja kerjanya ketika ponselnya bergetar panjang. Sebuah notifikasi email masuk dari detektif swasta yang sudah ia sewa seminggu terakhir, langkah antisipasi yang ia ambil saat instingnya mencium gelagat aneh Wawa.

Dion membuka lampiran itu. Matanya membelalak, bukan karena kaget, tapi karena rasa jijik yang memuncak.

Di layar ponselnya, terpampang jelas foto Wawa dan Satria yang sedang check-in di sebuah hotel melati enam bulan lalu—saat Satria bahkan belum resmi bercerai dari istrinya.

"Wah, hebat," gumam Dion, suaranya cukup keras hingga membuat Wawa dan Maya menoleh.

"Apanya yang hebat?" tanya Wawa ketus. Ia masih duduk di sofa, terlihat enggan menatap suaminya.

Dion melempar ponselnya ke atas meja kopi, tepat di depan wajah Wawa. "Lihat sendiri. Kamu bilang kamu baru berhubungan lagi sama Satria setelah dia menduda? Terus ini apa, Wa? Enam bulan lalu, tanggal 12, di Hotel Cempaka. Satria masih punya istri sah waktu itu."

Wawa melirik layar ponsel itu. Wajahnya yang semula mendung seketika memerah padam. Bukannya merasa bersalah, ia justru bangkit dan melayangkan tangannya.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Dion, membuat Maya yang duduk di sebelahnya terlonjak kaget menutup mulut.

"Kamu bener-bener keterlaluan, Dion!" teriak Wawa, napasnya memburu. "Kamu mata-matain aku? Kamu nyewa orang buat nguntit aku? Dasar sakit jiwa!"

Wawa menyambar map cokelat berisi surat cerai yang ada di meja, mengambil pena, dan dengan gerakan kasar menandatanganinya di hadapan Dion.

"Nih! Puas kamu?!" Wawa melempar kertas yang sudah ditandatangani itu ke dada Dion. "Jangan sok jadi korban di sini, Dion! Kamu itu playing victim! Kamu sengaja cari-cari kesalahan aku biar kamu kelihatan suci di depan Maya, kan? Kamu mau mempermalukan aku di depan sahabatku sendiri? Dasar laki-laki nggak punya harga diri!"

Dion memungut kertas itu, rahangnya mengeras menahan amarah yang serasa ingin meledak. Harga dirinya sebagai suami, sebagai laki-laki yang sudah banting tulang demi kemewahan rumah ini, baru saja diinjak-injak tanpa ampun.

"Harga diri?" Dion terkekeh sinis, tawa yang terdengar mengerikan. Ia melangkah maju, membuat Wawa mundur selangkah karena aura intimidasi yang keluar dari tubuh tegap Dion.

"Tiga tahun, Wa. Tiga tahun aku sabar ngadepin dinginnya kamu. Aku tahu kamu nggak cuma sekali dua kali ketemu dia. Aku punya semua buktinya!" Dion mengangkat jarinya, menghitung satu per satu dosa istrinya.

"Aku punya foto kalian makan berdua saat aku lembur. Aku punya video CCTV lobi apartemen Satria waktu kamu pamit arisan. Bahkan, teman-teman sosialita kamu, yang kamu anggap setia itu, mereka yang kirim info ke aku karena kasihan lihat suamimu dibodohi!" suara Dion meninggi, membongkar semua bangkai yang selama ini Wawa tutup rapat.

"Kamu selingkuh sama dia bahkan saat dia masih punya istri! Kamu wanita muna—"

PLAK!

Tamparan kedua mendarat lebih keras, kali ini di sisi wajah yang sama. Wawa menatapnya dengan mata nyalang, lalu air mata kemarahan mengalir di pipinya.

"CUKUP, Dion!" jerit Wawa histeris. "Cukup! Aku nggak mau denger apa-apa lagi dari mulut kamu! Kita udah cerai, Dion! Tanda tangan itu udah basah, dan detik ini juga kita nggak ada urusan lagi!"

Wawa menunjuk pintu keluar dengan jari gemetar. "Sekarang kamu keluar! Angkat kaki dari sini! Ini rumahku, sertifikatnya atas namaku, warisan dari Papaku! Kamu nggak berhak sedetik pun napas di sini lagi!"

Hening.

Dion terdiam, merasakan denyut panas di pipinya. Ia menatap Maya sekilas, yang kini menunduk, tidak berani menatap mata Dion karena rasa canggung dan malu yang luar biasa.

"Oke," ucap Dion pelan, namun tajam. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan akibat guncangan Wawa tadi. "Kalau itu mau kamu. Silakan nikmati rumah ini sama kenangan busuk kamu."

Wawa tidak menggubris dan langsung menarik tangan Maya. "Ayo, May. Kita pergi. Udara di sini bikin aku muak!"

Kedua wanita itu melangkah keluar, meninggalkan Dion berdiri sendirian di tengah ruang tamu mewah yang tiba-tiba terasa seperti neraka. Suara mobil Wawa yang menderu pergi terdengar tak lama kemudian, meninggalkan keheningan yang menyakitkan.

Dion menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Terusir dari rumah yang ia rawat, dihina oleh wanita yang ia puja, dan dituduh sebagai penjahat. Ia berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Tiba-tiba, ingatan tentang tawaran Bu Diana tadi siang melintas di benaknya.

Kita makan malam berdua aja. Ibu bakal masakin menu favorit kamu, terus kita buka sebotol wine biar kamu rileks…

Senyum tipis dan dingin terukir di bibir Dion. Jika Wawa membuangnya seperti sampah, maka ia tidak punya alasan lagi untuk menolak kenyamanan yang ditawarkan oleh ibunya.

Dion kembali menyalakan mesin mobil, lalu menyelesaikan urusan perceraiannya. Setelah semua dirasa tuntas, dia mengemasi barang-barang, membawa baju seadanya, lalu bersiap angkat kaki dari rumah penuh derita itu.

***

Suasana rumah mewah Bu Diana malam itu terasa berbeda. Aroma rendang dan udang balado, menu favorit Dion, bercampur dengan wangi lilin aromaterapi yang menenangkan.

Di ruang makan, Bu Diana berdiri di depan cermin besar. Ia merapikan daster sutra tipis bermotif bunga yang ia kenakan. Potongan lehernya begitu rendah, sengaja menonjolkan bagian atas dadanya yang masih kencang dan putih porselen.

Ahh, biasa orang kaya, itu pasti hasil perawatan mahal dan olahraga rutin di gym.

Mendengar deru mobil Dion, jantung Bu Diana berdegup kencang. "Tenang, Diana, mainkan peranmu dengan cantik."

"Dion, akhirnya sampai juga," sambut Bu Diana dengan senyum paling manis. Ia mendekat, tangannya mendarat di bahu Dion. "Wajahmu pucat banget, Nak. Mari, Ibu udah siapin makan malam. Jangan pikirin apa-apa dulu malam ini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 14 Makan Siang Berbumbu Intrik

    Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 13 Panas di Apartemen

    Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 12 Musuh dalam Selimut

    Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 11 Sarapan yang Panas

    Suasana ruang makan di rumah mewah Bu Diana pagi itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang kontras dengan aroma sedap nasi goreng gila dan emping renyah di atas meja. Dion, yang baru saja keluar dari kamar Bu Diana dengan napas yang masih sedikit berburu setelah sesi "pijat" yang menguras emosi, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, ia tahu, di rumah ini tidak ada yang benar-benar normal.Santi sudah duduk manis di sana, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tidak lepas dari anak tangga. Begitu melihat Dion turun, ia menyeringai nakal."Lama banget mandinya, Yon? Apa dipijit dulu sama Ibu biar seger?" sindir Santi telak, suaranya renyah namun tajam.Dion menarik kursi, mencoba mengabaikan tatapan Santi. "Punggung Ibu kaku, San. Salah bantal katanya," jawab Dion pendek, tangannya meraih teko air putih."Halah, salah bantal atau kangen sentuhan tangan kamu?" Santi tertawa kecil, tawa provokatif yang membuat Dion nyaris tersedak air yang diminumnya.Tak lama, Bu Diana muncul

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 10 Singa Betina dalam Satu Kandang

    "Beda sama Ibu, Yon," bisik Bu Diana dengan suara yang serak namun dalam. Ia meletakkan telapak tangannya di atas paha Dion, lalu meremasnya pelan. "Ibu tahu apa yang pria seperti kamu butuhkan. Kamu itu pria kuat, Yon. Tapi Ibu lihat kamu kesepian. Wawa sudah keterlaluan menghancurkan harga diri kamu, dan Ibu nggak sanggup kalau harus lihat kamu menderita sendirian di rumah ini."Dion menatap mata mertuanya. Ada ambisi yang berkobar di sana, bercampur dengan gairah wanita matang yang sudah lama tidak tersentuh. "Bu, ini nggak benar. Aku ini menantu Ibu—maksudku, mantan menantu Ibu. Hubungan kita seharusnya punya batasan."Bu Diana tertawa kecil, suara yang terdengar sangat provokatif di tengah keheningan malam. "Aturan itu cuma buat orang yang hidupnya sudah bahagia dan sempurna, Dion. Faktanya, kita berdua ini sama-sama terluka. Kamu dikhianati istri, dan Ibu sudah kesepian bertahun-tahun sejak Papa Wawa meninggal. Apa salahnya kalau kita saling menyembuhkan? Apa itu dosa?"Wanita i

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 9 Jamuan Makan Berduri

    Suasana ruang makan rumah mewah Bu Diana malam itu terasa begitu mencekam, meski aroma martabak telur dan rendang yang hangat memenuhi ruangan. Dion duduk di kursi tengah, terjepit di antara dua energi yang saling beradu. Sejak kejadian di kamar mandi tamu tadi, jantung Dion belum sepenuhnya kembali ke ritme normal."Dion, kok rendangnya cuma diaduk-aduk gitu? Ibu sengaja lho pesankan yang bumbunya kental, kesukaan kamu," suara Bu Diana memecah keheningan. Ia menatap Dion dengan kelembutan yang terasa begitu manipulatif.Dion mendongak, mencoba memaksakan senyum tipis. "Eh, iya Bu. Maaf, masih agak kepikiran urusan kantor tadi.""Kepikiran kantor atau... kejadian di rumah ini yang bikin kamu gagal fokus, Yon?" celetuk Santi sambil menyuap potongan martabak dengan gaya santai. Ia sudah berganti pakaian dengan slip dress tipis yang lagi-lagi sangat provokatif, seolah tidak terjadi apa-apa di kamar mandi beberapa menit lalu.Bu Diana menghentikan gerakan sendoknya. Ia melirik putrinya de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status