LOGIN"Makasih, Bu. Jadi ngerepotin," ujar Dion. Matanya tak sengaja turun ke arah belahan dada Bu Diana yang terekspos jelas saat wanita itu sedikit membungkuk. Sebagai pria normal, sulit mengabaikan kemolekan di depannya, meskipun dia adalah ibu mertuanya sendiri.
Makan malam itu berlangsung hangat.
Bu Diana terus mengisi piring Dion, memastikan pria itu merasa dilayani—sesuatu yang sudah lama hilang dari Wawa.
"Dion," Bu Diana memulai, matanya menatap tajam ke arah Dion. "Ibu mau minta satu hal. Beberapa hari ke depan, tolong menginap di sini ya. Ibu nggak mau kamu sendirian di apartemen atau hotel pas lagi emosional kayak gini."
Dion terdiam, menimbang-nimbang. "Tapi Bu?"
"Biarkan Wawa dengan dunianya dulu. Kamu butuh tempat buat jernihin pikiran biar nggak salah ambil keputusan," ujar Bu Diana. Ia memajukan tubuhnya ke arah meja, membuat dasternya semakin merosot rendah. "Meski nantinya kalian tetep pisah, Ibu mau kamu tahu kalau pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu. Kamu itu bagian penting dari keluarga, apalagi kamu selalu bantu Ibu sama Santi buat ngurus bisnis kita yang lain."
Usai makan, Bu Diana mengantar Dion ke lantai atas. "Ibu siapin kamar tepat di sebelah kamar Ibu. Mandi dulu ya biar rileks. Handuk sama perlengkapan baru udah ada di dalem."
Setelah mandi, Dion keluar hanya mengenakan celana kain panjang tanpa atasan. Ia masuk ke kamar untuk berganti baju. Saat itulah, ia merasa ada mata yang mengawasinya.
Melalui pantulan cermin, Dion melihat bayangan daster bunga-bunga Bu Diana di celah pintu yang sedikit terbuka.
Dion tahu ia diintip. Ia sengaja memperlambat gerakannya saat memakai baju, memamerkan otot perutnya yang six-pack. Ada gejolak aneh; rasa marah pada Wawa berubah jadi gairah liar untuk membalas dendam dengan cara paling terlarang.
"Ibu lagi apa?" tanya Dion tiba-tiba sambil menoleh.
Bu Diana tersentak, tapi tidak lari. Ia justru mendorong pintu lebih lebar, berdiri di sana dengan wajah memerah namun mata yang berani.
"Ibu... Ibu cuma mau mastiin selimut kamu udah cukup anget atau belum, Yon," suara Bu Diana bergetar. Ia melangkah masuk, aroma parfumnya memenuhi ruangan. Ia berdiri tepat di depan Dion, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari dada menantunya. "Tapi sepertinya, suhu di sini emang lagi panas ya?"
Dion menatap mata mertuanya, merasakan napas Bu Diana yang memburu mengenai kulit dadanya. "Iya, Bu. Panas banget."
Dion menghempaskan tubuhnya ke ranjang king size di kamar tamu. Kasurnya empuk dengan seprai sutra yang terasa sejuk di kulit, kontras dengan dadanya yang masih terasa panas setelah interaksi di ambang pintu tadi. Ia menatap lampu kristal di langit-langit, mencoba menata hatinya yang remuk karena Wawa, tapi malah terus digempur godaan dari orang-orang terdekat istrinya sendiri.
Di lantai bawah, Bu Diana berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman. Ia menimang ponselnya sebentar sebelum mencari nama Wawa.
"Halo, Wa?" suara Bu Diana terdengar tenang dan berwibawa saat telepon diangkat.
"Iya, Bu? Ada apa malam-malam?" suara Wawa terdengar serak di seberang sana.
"Ibu cuma mau kasih tahu, Dion di rumah Ibu sekarang. Dia baru sampai dan kelihatan capek banget. Ibu minta dia menginap di sini dulu beberapa hari," jelas Bu Diana. Ia sengaja memberi penekanan pada kalimat 'Ibu minta dia', seolah sedang menandai wilayah.
Di seberang sana, Wawa mengembuskan napas lega. "Halah, lupain aja dia! Aku udah muak denger nama dia lagi! Lagian, kita udah cerai tadi sore, jadi aku sama dia udah ga ada hubungan apa-apa!"
Tuut!
Telepon diputus sepihak.
Sementara di lantai atas, ketenangan Dion terganggu oleh getaran ponsel di nakas. Pesan W******p dari Santi. Begitu dibuka, mata Dion membelalak.
Santi mengirim foto dirinya sedang berbaring di ranjang, hanya mengenakan lingerie hitam yang sangat minim.
Santi: "Gimana tidur di rumah Ibu, Yon? Dingin ya? Kasurnya nggak seanget di rumahku semalam, kan? 😉"
Dion menarik napas panjang. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, jemarinya mulai mengetik balasan.
Dion: "Kamu nggak ada capeknya ya, San? Tadi pagi aja udah bikin aku hampir lepas kendali."
Balasan Santi datang secepat kilat.
Santi: "Mana ada capek kalau buat kamu. Lagian, aku nggak tahan bayangin kamu berduaan sama Ibu di sana. Aku tahu Ibu kalau udah mau sesuatu tuh gimana. Inget janji, kapan-kapan mampir sini lagi. Aku mau ajak kamu keliling toko kueku. Kita cek cabang baru, terus... mungkin bisa nyicip hal lain di ruang kerjaku yang kedap suara."
Dion tersenyum sinis. Gairah yang ditawarkan Santi terasa liar dan nyata.
Dion: "Oke, aku nanti mampir, tapi gatau kapan.."
Santi: "I’ll wait for you, My Hero. Jangan lama-lama, aku bisa mati kehausan kalau kamu nggak cepet dateng."
Dion meletakkan ponselnya. Ia merebahkan diri dengan tangan menyilang di belakang kepala. Bayangan kemolekan mertuanya tadi, bercampur foto panas dari Santi, membuat darahnya berdesir hebat. Ia meraba area pribadinya yang menegang keras di balik celana.
Usai membalas chat itu, Dion terdiam sejenak.
Pria itu memandangi langit-langit kamarnya dan mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Sampai setengah jam, Dion masih melamun, hingga akhirnya dia tertidur pulas.
Paginya, Dion bangun kesiangan, sekitar pukul enam pagi. Entah, mungkin karena otaknya terlalu lelah memikirkan hal kemarin. Dia hari ini masuk kerja agak siang dan melakukan streching pagi di kamarnya. Karena merasa tubuhnya lengket, dia pun ingin mandi dulu dan satu-satunya kamar mandi ada di lantai satu, di dekat dapur.
Sambil bersiul, Dion menuruni anak tangga, tapi tiba-tiba, terdengar suara gemericik air terdengar dari kamar Bu Diana yang sengaja dibuka lebar-lebar.
Dion terjaga dengan napas yang langsung memberat. Ia bangkit, hanya mengenakan celana pendek kain yang tak mampu menyembunyikan gairahnya. Ia melangkah perlahan ke ambang pintu, matanya terpaku pada sosok di balik uap air.
Di sana, tepat di lurusan pintu kamar, ada pintu lain yang juga terbuka.
Itu pintu kamar mandi pribadi Bu Diana.
Wanita itu berdiri di bawah pancuran, tanpa sehelai benang pun. Di usia 47 tahun, tubuh itu sangat terjaga dan montok.
Dion menelan ludah susah payah saat matanya turun ke bawah, menatap lekuk pantat yang indah dan area selangkangan yang basah. Mahakarya wanita matang yang tahu betul cara memikat lawan jenis.
Meski tahu Dion memperhatikannya, Bu Diana tidak menoleh. Ia justru meliukkan tubuh, mengusap sabun ke seluruh kulitnya dengan gerakan provokatif, membiarkan busa mengalir di sela-sela lekuk tubuhnya.
Karena Dion sadar ini adalah sesuatu terlarang, dia kemudian pergi ke kamar mandi belakang, lalu cepat-cepat mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar gairahnya tidak semakin membara.
Selesai mandi, Dion ingin segera ke taman belakang, tapi begitu dia lewat kamar Bu Diana, suara lembut nan manja memanggil namanya.
"Dion... bisa bantu Ibu sebentar?"
"I-iya, Bu, ada apa? Dion mau ke belakang. Kalau bukan urusan yang mendadak banget, maaf Dion ga bisa masuk ke kamar Ibu." Dion hanya menjawab dengan posisi memunggungi kamar itu.
Di atas ranjang besar, Bu Diana sudah berbaring tengkurap. Ia hanya mengenakan handuk yang menutupi sebagian kecil tubuhnya, namun tak lama kemudian, dengan gerakan perlahan, ia melepas ikatan handuk itu.
"Punggung Ibu mendadak kaku banget pagi ini. Mungkin salah bantal, tolong pijitin bentar ya, sebelum kamu berangkat kerja. Ibu takut salah urat ini, kayaknya abis kejedot gagang shower tadi."
"Dion panggilin tukang pijet aja ya, Bu, sambil nanti Dion berangkat kerja."
"Dion, pliss, kamu mau Ibu harus tengkurap gini terus seharian? Ini nyiksa Ibu banget, Dion, cepet pijit bentar. Atau minimal, lurusin urat Ibu yang tadi keseleo!"
Dion ragu sejenak, tapi akhirnya dia menghela nafas berat, lalu masuk ke kamar Bu Diana. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia duduk di tepi ranjang dan menyentuh pundak mertuanya.
"Tekan dikit lagi, Yon... ahh, di situ!"
Dion mencoba tetap tenang, tapi matanya tak bisa berhenti menjelajahi pemandangan di depannya. Setiap sentuhan Dion membuat Bu Diana melenguh nikmat, suara yang bagi Dion lebih menggoda dari musik mana pun.
"Kamu pinter banget mijit, Yon. Tangan kamu kuat banget, sumpah, enak banget dipijit kamu. Sekarang, bagian depan Ibu juga kerasa pegal. Bisa lanjut di sini?"
Keheningan di dalam apartemen Maya yang baru saja pecah oleh desah lega dan tangis haru, seketika berubah menjadi kaku yang mematikan. Bunyi kunci pintu yang diputar dengan kasar itu seolah-olah adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja Dion bangun untuk Maya.Dion dengan sigap berdiri, mengancingkan kemejanya yang sempat berantakan dengan gerakan tenang namun waspada. Maya, di sisi lain, tampak gemetar hebat. Ia buru-buru merapikan dasternya, wajahnya yang tadi merona merah kini pucat pasi seperti kertas."Maya! Kamu di mana? Kok pintu nggak dikunci?!" suara Robi menggelegar dari arah lorong depan.Langkah sepatu pantofel Robi yang berat terdengar mendekat. Maya menatap Dion dengan tatapan memohon, matanya seolah berkata, 'Tolong, jangan sampai ada darah'. Dion hanya memberikan anggukan kecil, berdiri tegak di tengah ruang tamu, menunggu badai itu datang.Begitu Robi muncul di ambang ruang tengah, langkahnya terhenti. Matanya yang merah, mungkin karena alkohol atau kuran
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tamu di rumah Bu Diana terasa begitu menyengat, seolah memaksa Dion untuk menghadapi realita yang makin kacau. Pikirannya masih dipenuhi sisa-sia aroma parfum yang berbeda dari semalam; antara manisnya vanila milik Santi di ruang kedap suara dan aroma floral elegan milik Bu Diana di ranjang king size-nya. Dion membasuh wajahnya kasar di wastafel.Saat ia hendak memakai jam tangan Rolex-nya, ponselnya bergetar panjang. Bukan dari Santi atau Bu Diana, melainkan dari Maya.Maya: "Yon, aku tahu kamu lagi suntuk banget setelah kejadian di apartemen Wawa kemarin. Kalau kamu butuh tempat yang bener-bener tenang buat sekadar napas tanpa ada gangguan siapa pun, kamu bisa ke apartemenku siang ini. Aku masak sup ayam buat bayiku, dan ada porsi lebih buat kamu. Robi lagi dinas luar kota."Dion menatap pesan itu cukup lama. Maya adalah sahabat Wawa, namun ia adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar alat pemuas
Dion pun melirik jam tangannya, lalu menatap Bu Diana yang masih menyesap tehnya dengan tatapan posesif."Bu," panggil Dion pelan, memecah kesunyian taman. "Soal tawaran Ibu untuk nemenin Ibu malam ini... Dion nggak bermaksud menolak. Tapi Dion ada janji yang nggak bisa dibatalkan dengan Santi di toko pusat."Gelas teh Bu Diana berdenting cukup keras saat menyentuh tatakannya. Matanya yang tajam langsung menatap Dion dengan kilatan cemburu yang tak bisa disembunyikan. "Santi lagi? Kenapa sih kamu lebih mentingin urusan toko kecil itu daripada istirahat di sini sama Ibu? Kamu tahu kan, Ibu sudah siapkan semuanya?"Dion menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Santi bantu Dion banyak hari ini, Bu. Dia yang buka akses data Satria sampai kita bisa gerak cepat ke apartemen Wawa. Dia menagih laporan itu beres malam ini. Dion nggak mau punya utang budi yang lama-lama sama dia."Bu Diana bersedekap, dadanya naik turun menahan kesal. "Halah, laporan atau cuma alasan dia saja biar bisa ber
Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri
Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil
Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak







