Beranda / Romansa / Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian! / Bab 6 Sentuhan yang Tertahan

Share

Bab 6 Sentuhan yang Tertahan

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 16:53:36

Kamar Bu Diana terasa jauh lebih dingin dari biasanya berkat AC sentral yang menderu halus, namun keringat dingin justru mulai membasahi pelipis Dion. Ia masih duduk kaku di tepi ranjang besar itu. Di depannya, punggung mulus mertuanya terbentang, hanya tertutup sebagian oleh helai rambut yang berantakan.

"Dion? Kok malah bengong? Tangan kamu kenapa berhenti?" suara Bu Diana memecah keheningan, terdengar serak dengan nada menuntut yang kental.

Dion menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai tak beraturan. "Anu, Bu... Dion rasa ini sudah cukup. Takutnya kalau terlalu lama ditekan, malah memar. Urutannya beda sama pijat refleksi biasa."

Bu Diana terkekeh pelan, tubuhnya sedikit berguncang di atas kasur. Ia memutar posisi kepalanya, menatap Dion dengan sudut mata yang sayu namun tajam.

"Memar? Atau kamu yang takut kalau tangan kamu nggak sengaja meleset ke tempat lain, hmm?" godanya sambil menyunggingkan senyum tipis.

Dion segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan botol krim. "Ibu jangan bercanda. Dion cuma mau bantu biar Ibu bisa aktivitas lagi, nggak kaku-kaku banget badannya."

"Aktivitas apa, Dion? Wawa sudah nggak ada di rumah ini. Santi juga sibuk sama urusan butiknya yang nggak jelas itu. Rumah ini sepi," Bu Diana mendesah berat.

Dengan gerakan perlahan dan anggun, ia bangkit hingga posisi duduk. Ia membelakangi Dion tanpa sandaran apa pun. Handuk yang tadinya menutupi punggungnya hampir saja meluncur jatuh kalau tidak segera ia tahan dengan satu tangan di depan dadanya.

"Balurin krim ini di pundak bawah, Yon. Sedikit lagi saja. Habis itu Ibu janji bakal lepasin kamu berangkat kerja," pinta Bu Diana sambil menyodorkan botol kecil dari nakas.

Dion menerima botol itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Saat telapak tangannya kembali menyentuh kulit pundak Bu Diana yang hangat dan halus, ia merasakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ibu harusnya panggil tukang pijat langganan saja kalau memang sering sakit begini. Jangan dibiasain minta tolong sama menantu... eh, mantan menantu," cetus Dion, mencoba mencairkan suasana yang terasa terlalu intim.

"Tukang pijat itu nggak tahu bagian mana yang paling butuh perhatian, Dion. Beda sama kamu. Kamu itu... peka. Terlalu peka malah, sampai-sampai kamu rela dibohongin Wawa bertahun-tahun," suara Bu Diana merendah, menusuk tepat di ulu hati Dion.

Gerakan tangan Dion melambat. Ia terdiam sejenak sebelum membalas, "Kenapa Ibu bahas Wawa lagi? Kita sudah sepakat, urusan surat cerai itu sudah selesai semalam. Dion nggak mau nengok ke belakang lagi."

"Ibu cuma kasihan sama kamu, Yon. Laki-laki hebat dan sukses seperti kamu, kok ya disia-siakan sama anak ingusan yang cuma modal cinta monyet masa lalu. Kalau Ibu jadi Wawa..." Bu Diana menggantung kalimatnya.

Ia berbalik perlahan, menatap Dion tepat di mata. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Aroma parfum mawar mahal bercampur panas tubuh mertuanya itu mulai memenuhi indra penciuman Dion, mengaburkan logikanya.

"Kalau Ibu jadi dia, Ibu nggak akan pernah biarkan kamu keluar dari kamar ini dengan wajah murung apalagi sampai membiarkan kamu tidur sendirian," bisik Bu Diana sambil mengelus rahang Dion dengan ujung jarinya.

Dion segera berdiri, memundurkan langkahnya dengan kaku hingga menabrak ujung meja hias. "Bu, sudah. Dion benar-benar harus ke kantor. Ada meeting penting sama vendor jam sembilan."

"Meeting, atau mau lari dari Ibu?" Bu Diana tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak mengejar, hanya memperhatikan Dion yang tampak kalut dari tempatnya duduk di atas ranjang.

Tepat saat Dion baru saja hendak memegang gagang pintu kamar, pintu itu tiba-tiba terbuka dari luar dengan sentakan kasar.

BRAK!

"Ma! Mama lihat charger-ku yang... eh?"

Santi berdiri di ambang pintu dengan rambut acak-adakan. Ia mengenakan kaos kebesaran yang melorot di satu bahu, memperlihatkan tali bra tipisnya. Matanya membelalak melihat Dion ada di dalam kamar ibunya sepagi ini, apalagi melihat ibunya yang hanya berbalut handuk di atas ranjang.

"Lho, Dion? Ngapain kamu di kamar Mama pagi-pagi buta begini?" tanya Santi dengan nada curiga, namun matanya justru menelusuri tubuh bertelanjang dada Dion dengan lapar.

Dion berdeham, mencoba mengembalikan sisa-sisa kewibawaannya. "Ibu tadi minta tolong pijitin pundaknya yang kaku, San. Katanya salah urat gara-gara gagang shower."

Santi melangkah masuk, melewati Dion begitu saja sambil mencibir. "Halah, alasan klasik banget sih, Ma? Pundak kaku atau memang Mama lagi kangen sentuhan laki-laki di kamar ini?"

"Santi! Jaga bicara kamu!" tegur Bu Diana, meski suaranya tidak terdengar benar-benar marah. Ia malah kembali merebahkan diri dengan gaya yang sengaja dibuat menggoda di depan keduanya.

Santi tertawa renyah, suara yang terdengar provokatif di telinga Dion. Ia mendekati Dion, lalu tanpa canggung menyenggol lengan Dion dengan bahunya.

"Lagian kamu juga aneh, Yon. Mau-mauan aja disuruh jadi tukang pijat gratisan. Kalau memang kamu lagi 'butuh' penyaluran karena baru diceraiin Wawa, kan ada aku. Aku nggak perlu dipijit-pijit dulu, aku lebih suka langsung ke intinya," bisik Santi tepat di telinga Dion.

Wajah Dion memerah padam. "San, aku nggak ada waktu buat becandaan kamu. Aku harus berangkat."

"Eh, tunggu dulu!" Santi menarik ujung kemeja yang tersampir di bahu Dion. "Nanti malam temenin aku ke pembukaan galeri temenku di Kemang ya? Aku nggak ada gandengan. Masa punya pria seganteng kamu di rumah tapi aku malah datang sendirian?"

Dion melepaskan tarikan Santi dengan halus namun tegas. "Aku nggak janji, San. Banyak kerjaan di kantor yang terbengkalai gara-gara urusan kemarin."

"Alah, sok sibuk kamu. Bilang aja takut ketahuan Wawa," goda Santi sambil mengedipkan sebelah mata. "Tapi tenang aja, Wawa kan sudah asyik 'main' sama si Satria itu. Jadi, kita di sini bebas melakukan apa pun, kan? Tanpa beban."

Dion tidak menjawab. Ia melangkah keluar kamar dengan cepat, meninggalkan tawa provokatif Santi dan tatapan tajam nan ambisius dari Bu Diana di belakangnya. Di lorong rumah yang mewah namun terasa menyesakkan itu, Dion bersandar sejenak di tembok, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

Pikirannya berkecamuk hebat. Di satu sisi, harga dirinya sebagai laki-laki hancur berkeping-keping karena dikhianati Wawa secara terang-terangan. Secara moral, ia tahu harus menjaga jarak karena mereka semua adalah keluarga. Namun di sisi lain, dendam yang membara dan godaan yang datang bertubi-tubi dari wanita-wanita di rumah ini mulai meruntuhkan tembok pertahanannya.

Sial, batin Dion. Rumah ini benar-benar sarang macan betina yang lapar.

Ia turun ke lantai bawah, mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja makan. Namun langkahnya kembali terhenti. Di sana, ia melihat Maya, sahabat dekat Wawa, yang entah sejak kapan sudah duduk tenang sambil menyesap kopi pagi.

"Pagi, Dion," sapa Maya dengan suara yang jauh lebih lembut dan menenangkan. Berbeda dengan Santi yang beringas atau Bu Diana yang manipulatif, Maya selalu terlihat mengerti posisi Dion.

"Eh, Maya. Sudah lama di sini?" tanya Dion, mencoba bersikap normal.

"Baru sepuluh menit. Tadi niatnya mau cari Wawa buat ambil barang yang ketinggalan, tapi aku lupa... dia sudah nggak di sini ya?" Maya menatap Dion dengan tatapan simpatik yang dalam. "Kamu oke, Yon? Wajahmu kelihatan capek banget, kayak nggak tidur semalaman."

Dion duduk sejenak di depan Maya, hanya untuk menarik napas sejenak. "Yah, begitulah May. Hidup nggak selalu sesuai rencana. Aku baru sadar kalau aku ini ternyata gampang banget dibodohi."

Maya mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Dion sekilas—sebuah sentuhan yang terasa hangat dan tulus—sebelum menariknya kembali.

"Jangan nyalahin diri sendiri, Yon. Kamu itu pria yang terlalu baik buat wanita yang nggak tahu cara bersyukur. Kalau kamu butuh teman bicara... atau teman makan malam yang nggak banyak menuntut seperti Santi, kamu tahu kan nomor teleponku nggak pernah berubah?"

Dion menatap Maya. Wanita ini selalu punya cara untuk masuk ke celah terkecil di hati Dion dengan kata-kata manisnya. "Thanks, May. Aku hargai itu. Aku berangkat duluan ya."

Dion bergegas menuju mobilnya. Saat mesin mobil menderu, ia menyadari satu hal: permainannya bukan lagi soal siapa yang paling setia atau siapa yang paling tersakiti.

Dion mencengkeram setir erat-erat. Jika Wawa bisa mencari kebahagiaan di tempat lain, kenapa dia harus tetap menjadi orang suci yang menderita?

"Kalian mau main-main sama aku?" gumam Dion dengan senyum sinis yang perlahan muncul. "Oke. Kita lihat siapa yang bakal bertekuk lutut duluan."

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Dion memutuskan untuk berhenti menjadi mangsa yang pasrah. Ia akan mengikuti arus gairah ini, namun kali ini, dialah yang akan memegang kendali sebagai sang pemburu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 14 Makan Siang Berbumbu Intrik

    Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 13 Panas di Apartemen

    Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 12 Musuh dalam Selimut

    Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 11 Sarapan yang Panas

    Suasana ruang makan di rumah mewah Bu Diana pagi itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang kontras dengan aroma sedap nasi goreng gila dan emping renyah di atas meja. Dion, yang baru saja keluar dari kamar Bu Diana dengan napas yang masih sedikit berburu setelah sesi "pijat" yang menguras emosi, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, ia tahu, di rumah ini tidak ada yang benar-benar normal.Santi sudah duduk manis di sana, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tidak lepas dari anak tangga. Begitu melihat Dion turun, ia menyeringai nakal."Lama banget mandinya, Yon? Apa dipijit dulu sama Ibu biar seger?" sindir Santi telak, suaranya renyah namun tajam.Dion menarik kursi, mencoba mengabaikan tatapan Santi. "Punggung Ibu kaku, San. Salah bantal katanya," jawab Dion pendek, tangannya meraih teko air putih."Halah, salah bantal atau kangen sentuhan tangan kamu?" Santi tertawa kecil, tawa provokatif yang membuat Dion nyaris tersedak air yang diminumnya.Tak lama, Bu Diana muncul

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 10 Singa Betina dalam Satu Kandang

    "Beda sama Ibu, Yon," bisik Bu Diana dengan suara yang serak namun dalam. Ia meletakkan telapak tangannya di atas paha Dion, lalu meremasnya pelan. "Ibu tahu apa yang pria seperti kamu butuhkan. Kamu itu pria kuat, Yon. Tapi Ibu lihat kamu kesepian. Wawa sudah keterlaluan menghancurkan harga diri kamu, dan Ibu nggak sanggup kalau harus lihat kamu menderita sendirian di rumah ini."Dion menatap mata mertuanya. Ada ambisi yang berkobar di sana, bercampur dengan gairah wanita matang yang sudah lama tidak tersentuh. "Bu, ini nggak benar. Aku ini menantu Ibu—maksudku, mantan menantu Ibu. Hubungan kita seharusnya punya batasan."Bu Diana tertawa kecil, suara yang terdengar sangat provokatif di tengah keheningan malam. "Aturan itu cuma buat orang yang hidupnya sudah bahagia dan sempurna, Dion. Faktanya, kita berdua ini sama-sama terluka. Kamu dikhianati istri, dan Ibu sudah kesepian bertahun-tahun sejak Papa Wawa meninggal. Apa salahnya kalau kita saling menyembuhkan? Apa itu dosa?"Wanita i

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 9 Jamuan Makan Berduri

    Suasana ruang makan rumah mewah Bu Diana malam itu terasa begitu mencekam, meski aroma martabak telur dan rendang yang hangat memenuhi ruangan. Dion duduk di kursi tengah, terjepit di antara dua energi yang saling beradu. Sejak kejadian di kamar mandi tamu tadi, jantung Dion belum sepenuhnya kembali ke ritme normal."Dion, kok rendangnya cuma diaduk-aduk gitu? Ibu sengaja lho pesankan yang bumbunya kental, kesukaan kamu," suara Bu Diana memecah keheningan. Ia menatap Dion dengan kelembutan yang terasa begitu manipulatif.Dion mendongak, mencoba memaksakan senyum tipis. "Eh, iya Bu. Maaf, masih agak kepikiran urusan kantor tadi.""Kepikiran kantor atau... kejadian di rumah ini yang bikin kamu gagal fokus, Yon?" celetuk Santi sambil menyuap potongan martabak dengan gaya santai. Ia sudah berganti pakaian dengan slip dress tipis yang lagi-lagi sangat provokatif, seolah tidak terjadi apa-apa di kamar mandi beberapa menit lalu.Bu Diana menghentikan gerakan sendoknya. Ia melirik putrinya de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status