Share

Chapter 7

Author: Pena Anonim
last update publish date: 2026-07-02 17:26:43

Malam harinya, setelah makan malam yang melelahkan dimana Alin harus kembali berpura-pura menjadi keponakan yang bodoh dan penurut, dia mengunci diri di dalam kamar mandi. Suara gemercik air pancuran sengaja dinyalakan dengan volume maksimal untuk menyamarkan aktivitasnya dari kemungkinan alat penyadap tersembunyi yang dipasang Silas di dinding kamar.

Alin duduk di atas penutup kloset, memangku ponselnya. Layarnya memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahnya yang kini tampak dingin dan tanpa ekspresi.

Alin tahu, ia tidak bisa begitu saja menyerahkan dokumen penyelundupan senjata kepada pihak kepolisian biasa. Paman Silas memiliki koneksi yang kuat di jajaran penegak hukum lokal melalui uang suap yang rutin mengalir setiap bulan. Jika dia mengirimkannya ke polisi, dokumen itu hanya akan berakhir di mesin penghancur kertas sebelum sempat diselidiki.

"Aku harus memberikannya kepada seseorang yang memiliki taring yang lebih tajam dari Paman Silas," pikir Alin, matanya menatap tajam ke layar ponsel.

Pilihannya jatuh pada dua pihak. Yaitu, otoritas Khusus Satgas Penyelundupan Federal yang terkenal tidak bisa disuap, dan Keluarga Rostov, faksi mafia saingan yang menguasai wilayah pelabuhan barat dan selalu mencari celah untuk merebut distrik Pelabuhan Utara dari tangan sekutu-sekutu Moretti.

Alin mulai mengetik sebuah surat elektronik menggunakan akun anonim yang dialihkan melalui belasan peladen di berbagai belahan dunia.

Kepada: Satgas Federal Kontra-Penyelundupan.

Manifes terlampir adalah bukti nyata penyelundupan senjata api otomatis kelas militer yang disamarkan sebagai suku cadang traktor oleh Vance Logistics. Kapal Cargo 'Siren of the East' akan bersandar di Dermaga Pelabuhan Utara pada 8 Juni pukul 02.00 dini hari. Periksa kompartemen ganda di bawah tangki bahan bakar cadangan.

Alin tidak mengirimkan seluruh dokumen utuh. Dia sengaja menahan bagian nomor seri dan kode brankas kontainer. Itu adalah detail kecil yang sengaja dia simpan sebagai umpan babak berikutnya.

Setelah menekan tombol kirim ke otoritas federal, Alin beralih ke forum tertutup dark web yang menjadi papan komunikasi rahasia jaringan mafia. Dia mengirimkan pesan serupa kepada perantara Keluarga Rostov.

Di dunia gelap, informasi adalah mata uang yang paling berharga. Dengan membocorkan rute Silas kepada Rostov, Alin tahu dia sedang menyulut api di gudang mesiu. Rostov pasti tidak akan tinggal diam melihat Vance Logistics menyelundupkan senjata dalam skala besar tanpa membayar upeti wilayah.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan mendadak di pintu kamar mandi membuat Alin refleks menyembunyikan ponselnya ke dalam saku jubah mandinya.

"Alin? Kamu di dalam? Kenapa lama sekali?" suara Elena terdengar dari luar, dan terdengar penuh selidik. "Aku membawakanmu beberapa majalah mode untuk referensi gaun kita."

Alin buru-buru mematikan pancuran air, membuka pintu dengan wajah yang sedikit basah dan ekspresi lelah yang dibuat-buat.

"Iya, El. Maaf, perutku agak mulas sejak pulang dari butik tadi."

Elena menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, mencoba mencari kejanggalan, namun akting Alin terlihat sempurna.

"Makanya, kamu jangan jajan sembarangan. Ini, majalahnya kuletakkan di atas ranjangmu, ya. Jangan tidur terlalu malam."

"Terima kasih, Elena. Kamu baik sekali," ucap Alin dengan nada suara yang penuh rasa syukur yang palsu.

Begitu Elena keluar dari kamarnya, Alin kembali menatap pintu dengan tatapan sedalam sumur.

"Perang psikologis ini baru saja dimulai, Elena. Dan kalian berdua bahkan tidak tahu bahwa bidak catur kalian sudah mulai bergerak menuju jurang kehancuran."

Empat hari berlalu sejak Alin mengirimkan informasi anonim tersebut. Selama itu pula, dia tetap menjalankan perannya sebagai gadis rumahan yang pasif. Dia menghabiskan waktu dengan merajut, membaca buku di taman, dan mendengarkan Elena yang tiada hentinya memamerkan perhiasan baru yang dia dapatkan dari Paman Silas.

Namun di balik layar, Alin terus memantau pergerakan jaringan melalui ponsel sekundernya. Efek domino yang dia rancang mulai bekerja dengan kejam.

Pagi itu, atmosfer di ruang makan kediaman Vance berubah total. Tidak ada lagi tawa renyah Silas atau obrolan manja Elena. Silas duduk di ujung meja dengan wajah yang luar biasa tegang, dahi dipenuhi keringat dingin meski pendingin ruangan menyala maksimal. Tangannya yang memegang cangkir kopi tampak bergetar hebat.

"Sialan! Bagaimana bisa tim intelijen federal mengendus jalur itu!" bentak Silas tiba-tiba, menghantam meja makan hingga sendok dan garpu berdenting nyaring.

Elena tersentak, menghentikan aktivitas makannya.

"Paman? Ada apa? Apa ada masalah di kantor?"

Silas tidak menjawab pertanyaan Elena. Dia justru menatap Alin yang sedang duduk tenang memakan sereal dengan tatapan penuh kecurigaan sesaat, sebelum akhirnya mengabaikannya karena menganggap Alin tidak mungkin tahu apa-apa perihal urusan bisnis pria dewasa.

"Seseorang telah membocorkan manifes kargo kita di Pelabuhan Utara," geram Silas dengan suara rendah yang sarat akan kemarahan. "Pagi ini, perwakilan bea cukai yang kubayar memberi tahu bahwa Satgas Federal telah mengeluarkan surat perintah pemeriksaan darurat untuk kapal Siren of the East minggu depan. Mereka tahu persis nomor kontainer dan letak kompartemen rahasianya!"

Alin menghentikan sendoknya di udara, memasang wajah terkejut dan ketakutan yang luar biasa.

"Paman... apa itu berarti Paman akan ditangkap? Apa bisnis kita ilegal?" tanya Alin dengan suara bergetar, mata bulatnya berkaca-kaca seolah dia akan menangis karena panik.

"Diam kamu, Alin! Jangan bicara sembarangan!" potong Silas dengan kasar. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut pening. "Ini hanya masalah persaingan bisnis terlarang. Seseorang mencoba menjatuhkanku."

Elena mendekati Silas, mencoba menenangkan pamannya. "Paman, tenanglah. Bukankah kita memiliki koneksi di kepolisian lokal? Mereka kan bisa membantu mengalihkan pemeriksaan itu"

"Tidak bisa, Elena! Ini Satgas Federal, mereka berada di luar jangkauan hukum kota ini," bentak Silas frustasi. "Dan yang lebih buruk, mata-mataku di distrik barat melaporkan bahwa Keluarga Rostov mulai menggerakkan pasukan mereka ke sekitar Pelabuhan Utara. Mereka mengira aku sengaja menyelundupkan senjata untuk menyerang wilayah mereka!"

Alin menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman kemenangan yang nyaris pecah di bibirnya. Semuanya berjalan persis sesuai dengan kalkulasi strategisnya. Silas kini terjepit di antara dua kekuatan besar. Hukum federal yang mengejarnya dari atas, dan Keluarga Rostov yang siap mencabik-cabiknya dari bawah.

Tiba-tiba saja, kedua mata Elina berkilat penuh rencana.

"Bagaimana dengan Keluarga Moretti? Bukankah mereka adalah penguasa tertinggi di kota ini? Jika Paman meminta perlindungan pada Valerio Moretti..."

Mendengar nama itu disebut oleh Elena, jantung Alin berdegup kencang. Valerio.

Di kehidupan lalu, Silas mendatangi Valerio setelah kapalnya disita dan dia jatuh bangkrut, yang berujung pada penjualan Alin sebagai jaminan utang. Namun di kehidupan ini, karena Alin mempercepat kebocoran informasi dan melibatkan Keluarga Rostov, Silas terpaksa harus mencari bantuan Moretti jauh sebelum kapal itu bersandar.

"Moretti tidak akan membantu secara cuma-cuma, Elena," Silas mendesah berat, bahunya merosot. "Valerio Moretti adalah iblis berdarah dingin. Dia akan meminta bayaran yang sangat mahal untuk intervensi seperti ini. Aku belum memiliki aset yang cukup untuk menarik perhatiannya."

Alin mendongak perlahan, menatap pamannya dengan tatapan pasrah yang dibuat-buat.

"Paman... jika ada hal yang bisa kulakukan untuk membantu keluarga ini, aku akan melakukannya. Aku tidak mau melihat Paman dan Elena kesusahan."

Silas menatap Alin dengan intens, seolah baru saja menyadari keberadaan sebuah bidak berharga yang bisa dia pertaruhkan di meja judi Moretti.

"Alin... kamu benar-benar anak yang berbakti. Kita lihat saja nanti. Paman akan mencoba mengatur pertemuan dengan perwakilan Moretti besok malam."

Setelah sarapan yang menegangkan itu bubar, Alin kembali ke kamarnya dengan langkah yang mantap. Dia mengeluarkan ponsel sekundernya dan mengetik satu pesan terakhir untuk kontak anonimnya.

Langkah pertama berupa sabotase finansial dan manipulasi psikologis terhadap pamannya telah berhasil total. Kini, saatnya dia mempersiapkan diri untuk keputusan hidup yang paling krusial dari regresi ini, mendatangi Valerio Moretti dengan syarat dan ketentuan yang dibuatnya sendiri, bukan sebagai domba yang tidak berdaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 37

    Alin merespons ciuman itu. Tangannya mengalung di leher Valerio, jemarinya menyusup ke dalam rambut hitam suaminya yang tebal. Namun di tengah ciuman yang semakin memanas, Alin memanfaatkan momen ketika Valerio terbuai oleh kenikmatan gairah tersebut untuk membalikkan posisi psikologis mereka.Alin menggigit kecil bibir bawah Valerio, membuat dia menggeram rendah di tengah ciumannya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lembut. Lalu Alin memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Valerio."Jika Anda menginginkan tubuh ini sepenuhnya, Don Valerio... berikan aku otoritas penuh atas pasukan Sektor Lima besok pagi."Valerio membeku seketika. Ciumannya terhenti. Matanya membelalak menatap Alin yang kini tersenyum manis di dalam pelukannya dengan deru napas yang masih memburu."Kamu... memanfaatkan momen ini untuk bernegosiasi bisnis lagi?" Valerio bertanya dengan suara penuh ketidakpercayaan, bercampur antara rasa takjub dan frustasi yang membakar dadanya."Aku seorang Vance yang kini

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 36

    Perjalanan kembali ke Kastel Moretti berlangsung dalam keheningan dan ketegangan. Di dalam mobil, Valerio duduk di samping Alin, memperhatikan setiap gerakan kecil istrinya.Alin melepas mantel tebalnya, memperlihatkan gaun kasual sutra berwarna biru gelap yang membingkai indah bentuk tubuhnya. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit basah oleh hujan terurai bebas, mengeluarkan aroma harum floral yang memenuhi kabin mobil."Mengapa kamu diam, Valerio?" Alin memecah keheningan, melirik suaminya yang tak melepaskan pandangan darinya. "Apakah interogasi Kapten Viper di kepalamu sudah selesai?""Aku tidak sedang memikirkan agen federal itu, Alinea," suara Valerio terdengar rendah dan serak. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terangkat, mengelus paha atas Alin yang terekspos di balik belahan gaunnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana cara menghukum seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya."Sensasi hangat dari telapak tangan Valerio menembus kain sutra tipis, membuat bul

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 35

    Alin melepaskan genggaman tangannya dari pistol yang berada di dalam saku, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Silas dengan pandangan mata yang penuh penghinaan."Paman Silas..." Alin berkata dengan suara yang sangat tenang dan jernih, menggelegar menembus deru suara hujan di luar. "Apakah kamu benar-benar mengira... aku datang ke dermaga tua ini sendirian tanpa membawa hadiah penutup untukmu?"Tepat pada saat Alin menyelesaikan kalimatnya, suara mesin mobil berdaya tinggi mendadak memecah kegelapan malam dari luar gudang!Sebuah kendaraan lapis baja berukuran raksasa menghantam dinding beton gudang tua hingga hancur berkeping-keping, menyemburkan debu dan puing-puing batu ke udara! Di belakang kendaraan tersebut, belasan lampu tembak menyala serentak, menyinari seluruh sudut gudang tua dengan cahaya putih yang menyilaukan mata!Dari dalam debu yang membumbung tinggi, sesosok pria tinggi besar melangkah keluar dengan senapan di tangannya. Aura membunuh yang amat peka

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 34

    "Karena serangan Gideon semalam tidak akan pernah terjadi jika tidak ada dorongan dari petinggi di Eropa," Alin melepaskan tangan Valerio dari dagunya secara halus. "Seseorang di atas sana takut jika kita berhasil melegalkan bisnis kasino dan menguasai Sektor Lima, kekuasaan Moretti akan menjadi terlalu besar untuk dikendalikan."Valerio menatap istrinya beberapa saat sebelum sebuah helai nafas berat keluar dari dadanya. "Aku baru saja selesai menginterogasi komandan pengawal faksi selatan yang kita tangkap di pelabuhan.""Apa yang dia katakan?" tanya Alin cepat."Don Carlos tidak bergerak sendirian," Valerio melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan halaman kastil di bawah sinar matahari pagi. "Dia mendapat perintah langsung dari seorang perantara yang mengaku bekerja untuk klan Vane di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi... perantara itu memberikan foto wajahmu sebagai target utama yang harus ditangkap hidup-hidup."Alin terdiam sebentar. "Mereka tidak menginginkan kematia

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 33

    Matahari pagi belum sepenuhnya terbit saat Alin terbangun di atas ranjang kamar utama. Sedangkan Valerio sudah pergi lebih awal untuk mengurus sisa-sisa kekacauan di pelabuhan dan menginterogasi sisa-sisa pengawal faksi selatan yang ditangkap.Alin duduk di tepi ranjang, merenungkan perkembangan situasi. Serangan dari Tentara Bayaran Gideon semalam membuktikan bahwa bahaya yang dihadapinya kini telah meluas melebihi ekspektasi awal dari memori masa lalunya. Seseorang di tingkat internasional sedang memantau setiap langkahnya dan langkah Valerio.Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun sutra simpel berwarna biru gelap, Alin melangkah menuju ruang kerja pribadi Valerio di lantai dua. Pengawal yang berjaga di depan pintu hanya membungkuk hormat tanpa berani menghalangi jalan sang Nyonya Muda. Alin mendekati brankas besi rahasia yang tersembunyi di balik lukisan dinding tua. Menggunakan kombinasi angka yang dia ingat dari masa depan dan kunci akses biometrik yang dia salin semalam,

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 32

    "Tentu saja tidak," Alin melirik Valerio dengan kilatan mata jahil yang sangat memikat di bawah remang lampu interior mobil. "Itu hanya gertakan palsu. Tapi mereka tidak punya waktu untuk memverifikasinya dalam tiga menit, bukan?"Valerio tertegun sejenak sebelum sebuah tawa rendah dan berbahaya lolos dari tenggorokannya. "Kamu benar-benar wanita paling licik yang pernah kutemui."Suara dari helikopter kembali bergaung, kali ini terdengar sedikit ragu. "Nyonya Moretti... kamu bermain-main dengan maut. Turun dari mobil dan serahkan perangkat penyimpanan data itu dalam tiga puluh detik!”"Enzo!" Valerio menyambar radio komunikasi genggamnya, memotong gertakan dari udara. "Apakah tim sudah berada di posisi penembakan?"Dari radio, suara Enzo terdengar di antara derau sinyal. "Sudah, Don! Penembak jitu kita sudah mengunci rotor belakang helikopter musuh dari atas derek kontainer utama!""Hancurkan mereka," perintah Valerio dingin.Suara tembakan senapan membakar malam. Rotor belakang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status