LOGINPagi hari tiba membawa keheningan yang berbeda di kediaman keluarga Vance. Tidak ada lagi kepanikan yang meledak-ledak dari Silas, melainkan ketegangan dingin yang menusuk tulang.
Di ruang tengah, beberapa kotak beludru berisi gaun-gaun sampel dari butik dan berkas-berkas hukum sudah tertata rapi di atas meja kaca.Alin turun dengan langkah yang disengaja lambat, menyeret kakinya seolah-olah dia membawa seluruh beban dunia di pundaknya."Duduk, Alin," titah Silas tanpa mendongakAura di lantai teratas The Obsidian mendadak membeku. Detik ketika Valerio Moretti melangkah melewati pintu ganda, seluruh ruangan seakan kehilangan pasokan udaranya. Pria itu tinggi, dengan bahu lebar yang dibungkus setelan jas abu-abu arang buatan Italia yang melekat sempurna. Namun, bukan ketampanannya yang membuat orang berlutut, melainkan sepasang matanya. Sepasang mata sehitam jelaga, dingin, tajam, dan sama sekali tidak memiliki riak kemanusiaan di dalamnya.Valerio menatap Alin dari kejauhan, lalu berjalan perlahan, memecah keheningan dengan ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai marmer. Setiap langkahnya ritmis, tenang, namun membawa beban intimidasi yang absolut."Alinea Vance," Valerio mengulang nama itu, suaranya berupa bariton rendah yang serak, terdengar berbahaya seperti geraman serigala di tengah malam. "Aku tidak tahu Silas Vance memiliki keponakan yang cukup gila untuk menyelinap ke markasku malam-malam."Enzo langsung b
Keesokan paginya, suasana di ruang kerja Silas berubah menjadi badai baru yang mengerikan. Alin sudah berdiri di koridor luar, sambil memegang nampan berisi kopi pesanan pamannya, ketika mendengar suara dobrakan meja dari dalam ruangan."Bagaimana mungkin saldonya kosong?!" teriak Silas, suaranya melengking tinggi hingga ke langit-langit rumah. "Periksa lagi, Wilson! Uang itu harusnya ada di sana! Dua juta empat ratus ribu dolar!"Alin mengetuk pintu pelan, lalu melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi kepanikan yang diatur dengan sempurna olehnya. "Paman? Ada apa lagi? Mengapa Paman berteriak?"Silas menoleh dengan wajah merah padam, napasnya memburu. Di depannya, seorang pria paruh baya berkacamata yang merupakan akuntan pribadi keluarga, Wilson, tampak berkeringat dingin di depan laptopnya."Alin! Sini kamu!" Silas menyentak pergelangan tangan Alin dengan kasar hingga nampan kopi di tangannya berguncang. "Apakah kamu diam-diam memin
Pagi hari tiba membawa keheningan yang berbeda di kediaman keluarga Vance. Tidak ada lagi kepanikan yang meledak-ledak dari Silas, melainkan ketegangan dingin yang menusuk tulang. Di ruang tengah, beberapa kotak beludru berisi gaun-gaun sampel dari butik dan berkas-berkas hukum sudah tertata rapi di atas meja kaca.Alin turun dengan langkah yang disengaja lambat, menyeret kakinya seolah-olah dia membawa seluruh beban dunia di pundaknya."Duduk, Alin," titah Silas tanpa mendongak dari tablet digitalnya. Wajahnya masih sekaku kemarin, namun ada gurat kepuasan yang tertahan di sana. "Pihak Moretti sudah mengirimkan draft perjanjian awal. Pengacara mereka akan datang dua hari lagi."Alin mengambil tempat duduk di sofa terjauh, merapatkan cardigannya dengan jemari yang gemetar. "Aku... aku sudah memikirkannya semalaman, Paman. Jika ini satu-satunya cara agar keluarga kita tidak hancur... aku akan menurut."Silas mendongak, matanya menyipit, menatap keponakannya seola
Silas menghantamkan tinjunya ke meja sekali lagi, tidak suka dengan drama air mata di depannya. "Hentikan tangisan bodohmu itu, Alin! Mulai besok, aku akan mendatangkan guru etika dan perancang busana terbaik ke rumah ini. Kamu harus terlihat sempurna saat diserahkan kepada Moretti. Jika kamu melakukan kesalahan sekecil apa pun yang membuat Don Valerio membatalkan perjanjian ini, aku sendiri yang akan memastikan kamu membusuk di jalanan!" "Paman, biarkan aku berbicara berdua saja dengan Alin," Elena menawarkan diri, menatap Silas dengan pandangan memohon. "Alin hanya terkejut. Aku akan bicara agar dia mengerti." Silas mengibaskan tangannya dengan gusar, memberi isyarat agar mereka berdua keluar dari ruang kerjanya. "Bawa dia keluar dari sini. Kepalaku mau pecah melihat wajahnya yang cengeng. Pastikan dia tidak melakukan tindakan bodoh seperti mencoba melarikan diri." Elena hanya mengangguk lalu membantu Alin berdiri, merang
Gelas kristal berisi wiski yang sebelumnya ada ditangan Silas itu menghantam dinding ruang kerja dengan suara dentangan keras, hancur berkeping-keping dan meninggalkan noda kecoklatan yang pekat di atas gorden sutra mahal. Bau alkohol yang tajam menyengat hidung Alin begitu dia melangkah melewati ambang pintu. Silas berdiri di balik meja kerjanya yang masif, napasnya memburu kasar dengan dasi yang sudah ditarik longgar. Di sudut ruangan, Elena duduk meringkuk di atas sofa beludru, wajahnya pucat dengan jemari yang gemetar memegang saputangan. "Paman memanggilku?" Alin bertanya dengan nada suara yang sengaja dicicitkan, kecil, ragu-ragu, dan penuh ketakutan. Dia meremas ujung kardigan rajutnya, berdiri terpaku di dekat pintu seolah takut melangkah lebih jauh. Silas membalikkan tubuhnya dengan sentakan kasar. Matanya merah, dipenuhi gurat merah akibat kurang tidur dan frustasi yang menumpuk selama empat puluh delapan jam terakhir. "Masuk, Alin!
Malam harinya, setelah makan malam yang melelahkan dimana Alin harus kembali berpura-pura menjadi keponakan yang bodoh dan penurut, dia mengunci diri di dalam kamar mandi. Suara gemercik air pancuran sengaja dinyalakan dengan volume maksimal untuk menyamarkan aktivitasnya dari kemungkinan alat penyadap tersembunyi yang dipasang Silas di dinding kamar. Alin duduk di atas penutup kloset, memangku ponselnya. Layarnya memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahnya yang kini tampak dingin dan tanpa ekspresi. Alin tahu, ia tidak bisa begitu saja menyerahkan dokumen penyelundupan senjata kepada pihak kepolisian biasa. Paman Silas memiliki koneksi yang kuat di jajaran penegak hukum lokal melalui uang suap yang rutin mengalir setiap bulan. Jika dia mengirimkannya ke polisi, dokumen itu hanya akan berakhir di mesin penghancur kertas sebelum sempat diselidiki. "Aku harus memberikannya kepada seseorang yang memiliki taring yang lebih tajam dari Paman Silas," pikir Alin, matanya menatap taja







