Share

Chapter 8

Penulis: Pena Anonim
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 17:00:36

Gelas kristal berisi wiski yang sebelumnya ada ditangan Silas itu menghantam dinding ruang kerja dengan suara dentangan keras, hancur berkeping-keping dan meninggalkan noda kecoklatan yang pekat di atas gorden sutra mahal. Bau alkohol yang tajam menyengat hidung Alin begitu dia melangkah melewati ambang pintu.

Silas berdiri di balik meja kerjanya yang masif, napasnya memburu kasar dengan dasi yang sudah ditarik longgar. Di sudut ruangan, Elena duduk meringkuk di atas sofa beludru, w
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 10

    Pagi hari tiba membawa keheningan yang berbeda di kediaman keluarga Vance. Tidak ada lagi kepanikan yang meledak-ledak dari Silas, melainkan ketegangan dingin yang menusuk tulang. Di ruang tengah, beberapa kotak beludru berisi gaun-gaun sampel dari butik dan berkas-berkas hukum sudah tertata rapi di atas meja kaca.Alin turun dengan langkah yang disengaja lambat, menyeret kakinya seolah-olah dia membawa seluruh beban dunia di pundaknya."Duduk, Alin," titah Silas tanpa mendongak dari tablet digitalnya. Wajahnya masih sekaku kemarin, namun ada gurat kepuasan yang tertahan di sana. "Pihak Moretti sudah mengirimkan draft perjanjian awal. Pengacara mereka akan datang dua hari lagi."Alin mengambil tempat duduk di sofa terjauh, merapatkan cardigannya dengan jemari yang gemetar. "Aku... aku sudah memikirkannya semalaman, Paman. Jika ini satu-satunya cara agar keluarga kita tidak hancur... aku akan menurut."Silas mendongak, matanya menyipit, menatap keponakannya seola

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 9

    Silas menghantamkan tinjunya ke meja sekali lagi, tidak suka dengan drama air mata di depannya. "Hentikan tangisan bodohmu itu, Alin! Mulai besok, aku akan mendatangkan guru etika dan perancang busana terbaik ke rumah ini. Kamu harus terlihat sempurna saat diserahkan kepada Moretti. Jika kamu melakukan kesalahan sekecil apa pun yang membuat Don Valerio membatalkan perjanjian ini, aku sendiri yang akan memastikan kamu membusuk di jalanan!" "Paman, biarkan aku berbicara berdua saja dengan Alin," Elena menawarkan diri, menatap Silas dengan pandangan memohon. "Alin hanya terkejut. Aku akan bicara agar dia mengerti." Silas mengibaskan tangannya dengan gusar, memberi isyarat agar mereka berdua keluar dari ruang kerjanya. "Bawa dia keluar dari sini. Kepalaku mau pecah melihat wajahnya yang cengeng. Pastikan dia tidak melakukan tindakan bodoh seperti mencoba melarikan diri." Elena hanya mengangguk lalu membantu Alin berdiri, merang

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 8

    Gelas kristal berisi wiski yang sebelumnya ada ditangan Silas itu menghantam dinding ruang kerja dengan suara dentangan keras, hancur berkeping-keping dan meninggalkan noda kecoklatan yang pekat di atas gorden sutra mahal. Bau alkohol yang tajam menyengat hidung Alin begitu dia melangkah melewati ambang pintu. Silas berdiri di balik meja kerjanya yang masif, napasnya memburu kasar dengan dasi yang sudah ditarik longgar. Di sudut ruangan, Elena duduk meringkuk di atas sofa beludru, wajahnya pucat dengan jemari yang gemetar memegang saputangan. "Paman memanggilku?" Alin bertanya dengan nada suara yang sengaja dicicitkan, kecil, ragu-ragu, dan penuh ketakutan. Dia meremas ujung kardigan rajutnya, berdiri terpaku di dekat pintu seolah takut melangkah lebih jauh. Silas membalikkan tubuhnya dengan sentakan kasar. Matanya merah, dipenuhi gurat merah akibat kurang tidur dan frustasi yang menumpuk selama empat puluh delapan jam terakhir. "Masuk, Alin!

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 7

    Malam harinya, setelah makan malam yang melelahkan dimana Alin harus kembali berpura-pura menjadi keponakan yang bodoh dan penurut, dia mengunci diri di dalam kamar mandi. Suara gemercik air pancuran sengaja dinyalakan dengan volume maksimal untuk menyamarkan aktivitasnya dari kemungkinan alat penyadap tersembunyi yang dipasang Silas di dinding kamar. Alin duduk di atas penutup kloset, memangku ponselnya. Layarnya memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahnya yang kini tampak dingin dan tanpa ekspresi. Alin tahu, ia tidak bisa begitu saja menyerahkan dokumen penyelundupan senjata kepada pihak kepolisian biasa. Paman Silas memiliki koneksi yang kuat di jajaran penegak hukum lokal melalui uang suap yang rutin mengalir setiap bulan. Jika dia mengirimkannya ke polisi, dokumen itu hanya akan berakhir di mesin penghancur kertas sebelum sempat diselidiki. "Aku harus memberikannya kepada seseorang yang memiliki taring yang lebih tajam dari Paman Silas," pikir Alin, matanya menatap taja

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 6

    Siang itu, udara di dalam mobil sedan mewah keluarga Vance terasa begitu pekat oleh kepalsuan. Elena duduk di kursi belakang berdampingan dengan Alin, sibuk mengoceh tentang tren mode terbaru dan bagaimana gaun sutra dari Prancis akan mendongkrak pesona mereka di pesta dansa mendatang. Alin hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk patuh, melempar senyum manis yang selama belasan tahun ini menjadi topeng terbaiknya. Didalam dirinya, dia sedang sibuk mengendalikan dirinya sendiri.Setiap kali mendengar suara Elena, ingatan kehidupan lamanya muncul seperti racun yang menetes perlahan ke dalam pikirannya."Kamu harus memakai warna hijau limau, Alin," ujar Elena, matanya berbinar penuh kelicikan yang dibungkus kepedulian. "Warna itu sedang sangat populer di Paris. Kamu akan terlihat... unik. Bahkan model-model dari Maison Verelle memakainya minggu lalu."“Unik? Lebih tepatnya pucat seperti mayat di bawah lampu aula pesta,” batin Alin bergolak kejam. Di kehidupan lalu, dia menuruti s

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 5

    Kembali ke dalam kamarnya yang sepi, Alin langsung mengunci pintu ganda erat-erat. Dia bersandar pada daun pintu, memejamkan mata sembari mengatur detak jantungnya yang masih berpacu liar setelah interaksi penuh kepalsuan dengan Elena di bawah tadi."Waktuku tidak banyak," bisik Alin pada kesunyian kamar. Karena jam satu siang nanti Alin harus pergi ke butik bersama Elena, yang berarti dia hanya memiliki waktu sekitar tiga jam untuk menyusun fondasi pertamanya. Alin melangkah cepat menuju rak buku besar di sudut ruangan. Dia meraih sebuah buku catatan tebal bersampul kulit cokelat tua yang tampak seperti buku sketsa biasa. Di kehidupan lalu, buku ini berakhir di tempat sampah saat kamarnya dijarah oleh anak buah Valerio. Namun di kehidupan ini, buku catatan kosong ini akan menjadi senjata paling mematikan yang dia miliki.Alin duduk di meja belajarnya, membuka lembar pertama, dan mengambil sebuah pena hitam.Dia tidak boleh menuliskan ingatan masa depannya dengan bahasa biasa. Jika

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status