공유

chapter 6

작가: Pena Anonim
last update 게시일: 2026-06-01 21:07:35

Siang itu, udara di dalam mobil sedan mewah keluarga Vance terasa begitu pekat oleh kepalsuan. Elena duduk di kursi belakang berdampingan dengan Alin, sibuk mengoceh tentang tren mode terbaru dan bagaimana gaun sutra dari Prancis akan mendongkrak pesona mereka di pesta dansa mendatang.

Alin hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk patuh, melempar senyum manis yang selama belasan tahun ini menjadi topeng terbaiknya. Didalam dirinya, dia sedang sibuk mengendalikan dirinya sendiri.

Setiap kali mendengar suara Elena, ingatan kehidupan lamanya muncul seperti racun yang menetes perlahan ke dalam pikirannya.

"Kamu harus memakai warna hijau limau, Alin," ujar Elena, matanya berbinar penuh kelicikan yang dibungkus kepedulian. "Warna itu sedang sangat populer di Paris. Kamu akan terlihat... unik. Bahkan model-model dari Maison Verelle memakainya minggu lalu."

“Unik? Lebih tepatnya pucat seperti mayat di bawah lampu aula pesta,” batin Alin bergolak kejam.

Di kehidupan lalu, dia menuruti saran itu dan berakhir menjadi bahan tertawaan para gadis bangsawan, kontras dengan Elena yang tampil memukau mengenakan gaun merah beludru yang menyala.

"Benarkah, El? Kalau begitu aku akan mengikuti saranmu," jawab Alin lembut, menyembunyikan kilatan dingin di sepasang matanya. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu."

Elena tertawa kecil, menepuk punggung tangan Alin dengan mesra. "Tentu saja, kita kan bersaudara. Kita harus saling mendukung."

Begitu mereka tiba di butik eksklusif di pusat kota. Pelayan berseragam hitam segera membukakan pintu dengan penuh hormat.

"Selamat datang, Nona Elena dan Nona Alin. Tuan Silas sudah memesan ruang privat untuk Anda.”

Mereka berdua masuk, dan Elena langsung tenggelam dalam tumpukan kain bersama sang desainer. Sedangkan Alin, dia menggunakan kesempatan itu untuk memisahkan diri. Dia berpura-pura mengeluh pusing dan meminta izin untuk duduk di ruang tunggu VIP yang sepi di bagian belakang butik.

Beberapa menit kemudian, Alin duduk sendirian di ruang tunggu VIP. Ruangan itu sunyi, hanya diisi alunan piano lembut dan aroma teh melati hangat. Setelah memastikan pelayan butik meninggalkan dirinya sendiri dengan secangkir teh, Alin mengeluarkan sebuah ponsel pintar sekunder berlayar hitam yang dibeli secara tunai melalui pelayan toko kelontong kemarin malam.

Ponsel itu tidak terdaftar atas namanya, bersih dari pelacakan jaringan teknologi informasi intelijen mana pun. Tidak ada riwayat pembelian. Tidak ada koneksi dengan keluarga Vance.

Jemari ramping Alin langsung bergerak dengan kecepatan dan presisi yang tidak akan pernah disangka dimiliki oleh seorang gadis belia sekolahan. Dia membuka sebuah peramban terenkripsi, masuk ke dalam jaringan gelap (dark web) menggunakan protokol VPN berlapis yang pernah dia lihat digunakan oleh tim siber Valerio Moretti di masa depan.

"Mari kita lihat sejauh mana Paman Silas telah melangkah," bisik Alin pada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis.

Tujuan pertamanya adalah meretas sistem pelacakan kontainer internal milik perusahaan cangkang Silas, Vance Logistics.

Di kehidupan lalu, Alin adalah gadis pasif yang buta huruf perihal bisnis dunia bawah. Namun, setahun hidup terkunci di mansion Moretti sebagai istri pajangan membuatnya tidak sengaja mendengar banyak obrolan strategi, transaksi gelap, rute penyelundupan, bagaimana sistem manifest pelabuhan dimanipulasi, dan tentang cara menyembunyikan senjata di balik dokumen legal.

Dulu, Valerio selalu membiarkan anak buahnya berdiskusi di hadapannya tanpa takut Alin membocorkan apa pun. Karena menurut Valerio saat itu, Alin hanyalah burung kecil dalam sangkar emas. Tidak berbahaya.

Tapi sekarang? Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alin untuk menemukan apa yang dia cari. Dokumen manifest digital berkode rahasia dengan nomor registrasi VNC-9901-X.

Itu adalah dokumen pengiriman senjata api ilegal dari Eropa Timur yang dibanggakan pamannya saat sarapan tadi. Di sana tertera tanggal keberangkatan, koordinat lambung kapal, hingga pelabuhan transit khusus sebelum akhirnya berlabuh di Pelabuhan Utara pada tanggal 8 Juni 2024.

Paman Silas menyamarkannya sebagai komoditas suku cadang alat berat pertanian.

Alin menyalin seluruh data digital tersebut, termasuk manifestasi nomor seri senjata orisinal yang sengaja dihapus dari dokumen resmi pelabuhan.

"Paman, kamu mengira bisnis ini akan berjalan mulus seperti biasanya," gumam Alin, bibirnya membentuk lengkungan seringai yang dingin. "Tapi di kehidupan saat ini, aku adalah badai yang tidak akan pernah kamu lihat. Mari kita lihat kedepannya kamu akan seperti apa"

Dengan satu ketukan tegas, Alin menyimpan seluruh data tersebut ke dalam penyimpanan awan terenkripsi, bersiap untuk mengambil langkah berikutnya yang akan mengguncang pondasi finansial Silas Vance.

Di luar ruangan VIP, suara tawa Elena masih terdengar ceria. Tidak ada satupun orang di butik itu yang tahu bahwa seorang gadis remaja baru saja menyalakan sumbu perang besar di dunia bawah kota.

Lalu Alin kembali menghampiri Elena, menerima pilihan Elena dengan manis berusaha menutupi apa yang sudah dia lakukan di ruang VIP tadi.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 37

    Alin merespons ciuman itu. Tangannya mengalung di leher Valerio, jemarinya menyusup ke dalam rambut hitam suaminya yang tebal. Namun di tengah ciuman yang semakin memanas, Alin memanfaatkan momen ketika Valerio terbuai oleh kenikmatan gairah tersebut untuk membalikkan posisi psikologis mereka.Alin menggigit kecil bibir bawah Valerio, membuat dia menggeram rendah di tengah ciumannya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lembut. Lalu Alin memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Valerio."Jika Anda menginginkan tubuh ini sepenuhnya, Don Valerio... berikan aku otoritas penuh atas pasukan Sektor Lima besok pagi."Valerio membeku seketika. Ciumannya terhenti. Matanya membelalak menatap Alin yang kini tersenyum manis di dalam pelukannya dengan deru napas yang masih memburu."Kamu... memanfaatkan momen ini untuk bernegosiasi bisnis lagi?" Valerio bertanya dengan suara penuh ketidakpercayaan, bercampur antara rasa takjub dan frustasi yang membakar dadanya."Aku seorang Vance yang kini

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 36

    Perjalanan kembali ke Kastel Moretti berlangsung dalam keheningan dan ketegangan. Di dalam mobil, Valerio duduk di samping Alin, memperhatikan setiap gerakan kecil istrinya.Alin melepas mantel tebalnya, memperlihatkan gaun kasual sutra berwarna biru gelap yang membingkai indah bentuk tubuhnya. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit basah oleh hujan terurai bebas, mengeluarkan aroma harum floral yang memenuhi kabin mobil."Mengapa kamu diam, Valerio?" Alin memecah keheningan, melirik suaminya yang tak melepaskan pandangan darinya. "Apakah interogasi Kapten Viper di kepalamu sudah selesai?""Aku tidak sedang memikirkan agen federal itu, Alinea," suara Valerio terdengar rendah dan serak. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terangkat, mengelus paha atas Alin yang terekspos di balik belahan gaunnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana cara menghukum seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya."Sensasi hangat dari telapak tangan Valerio menembus kain sutra tipis, membuat bul

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 35

    Alin melepaskan genggaman tangannya dari pistol yang berada di dalam saku, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Silas dengan pandangan mata yang penuh penghinaan."Paman Silas..." Alin berkata dengan suara yang sangat tenang dan jernih, menggelegar menembus deru suara hujan di luar. "Apakah kamu benar-benar mengira... aku datang ke dermaga tua ini sendirian tanpa membawa hadiah penutup untukmu?"Tepat pada saat Alin menyelesaikan kalimatnya, suara mesin mobil berdaya tinggi mendadak memecah kegelapan malam dari luar gudang!Sebuah kendaraan lapis baja berukuran raksasa menghantam dinding beton gudang tua hingga hancur berkeping-keping, menyemburkan debu dan puing-puing batu ke udara! Di belakang kendaraan tersebut, belasan lampu tembak menyala serentak, menyinari seluruh sudut gudang tua dengan cahaya putih yang menyilaukan mata!Dari dalam debu yang membumbung tinggi, sesosok pria tinggi besar melangkah keluar dengan senapan di tangannya. Aura membunuh yang amat peka

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 34

    "Karena serangan Gideon semalam tidak akan pernah terjadi jika tidak ada dorongan dari petinggi di Eropa," Alin melepaskan tangan Valerio dari dagunya secara halus. "Seseorang di atas sana takut jika kita berhasil melegalkan bisnis kasino dan menguasai Sektor Lima, kekuasaan Moretti akan menjadi terlalu besar untuk dikendalikan."Valerio menatap istrinya beberapa saat sebelum sebuah helai nafas berat keluar dari dadanya. "Aku baru saja selesai menginterogasi komandan pengawal faksi selatan yang kita tangkap di pelabuhan.""Apa yang dia katakan?" tanya Alin cepat."Don Carlos tidak bergerak sendirian," Valerio melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan halaman kastil di bawah sinar matahari pagi. "Dia mendapat perintah langsung dari seorang perantara yang mengaku bekerja untuk klan Vane di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi... perantara itu memberikan foto wajahmu sebagai target utama yang harus ditangkap hidup-hidup."Alin terdiam sebentar. "Mereka tidak menginginkan kematia

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 33

    Matahari pagi belum sepenuhnya terbit saat Alin terbangun di atas ranjang kamar utama. Sedangkan Valerio sudah pergi lebih awal untuk mengurus sisa-sisa kekacauan di pelabuhan dan menginterogasi sisa-sisa pengawal faksi selatan yang ditangkap.Alin duduk di tepi ranjang, merenungkan perkembangan situasi. Serangan dari Tentara Bayaran Gideon semalam membuktikan bahwa bahaya yang dihadapinya kini telah meluas melebihi ekspektasi awal dari memori masa lalunya. Seseorang di tingkat internasional sedang memantau setiap langkahnya dan langkah Valerio.Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun sutra simpel berwarna biru gelap, Alin melangkah menuju ruang kerja pribadi Valerio di lantai dua. Pengawal yang berjaga di depan pintu hanya membungkuk hormat tanpa berani menghalangi jalan sang Nyonya Muda. Alin mendekati brankas besi rahasia yang tersembunyi di balik lukisan dinding tua. Menggunakan kombinasi angka yang dia ingat dari masa depan dan kunci akses biometrik yang dia salin semalam,

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 32

    "Tentu saja tidak," Alin melirik Valerio dengan kilatan mata jahil yang sangat memikat di bawah remang lampu interior mobil. "Itu hanya gertakan palsu. Tapi mereka tidak punya waktu untuk memverifikasinya dalam tiga menit, bukan?"Valerio tertegun sejenak sebelum sebuah tawa rendah dan berbahaya lolos dari tenggorokannya. "Kamu benar-benar wanita paling licik yang pernah kutemui."Suara dari helikopter kembali bergaung, kali ini terdengar sedikit ragu. "Nyonya Moretti... kamu bermain-main dengan maut. Turun dari mobil dan serahkan perangkat penyimpanan data itu dalam tiga puluh detik!”"Enzo!" Valerio menyambar radio komunikasi genggamnya, memotong gertakan dari udara. "Apakah tim sudah berada di posisi penembakan?"Dari radio, suara Enzo terdengar di antara derau sinyal. "Sudah, Don! Penembak jitu kita sudah mengunci rotor belakang helikopter musuh dari atas derek kontainer utama!""Hancurkan mereka," perintah Valerio dingin.Suara tembakan senapan membakar malam. Rotor belakang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status