LOGIN"Karena serangan Gideon semalam tidak akan pernah terjadi jika tidak ada dorongan dari petinggi di Eropa," Alin melepaskan tangan Valerio dari dagunya secara halus. "Seseorang di atas sana takut jika kita berhasil melegalkan bisnis kasino dan menguasai Sektor Lima, kekuasaan Moretti akan menjadi terlalu besar untuk dikendalikan."Valerio menatap istrinya beberapa saat sebelum sebuah helai nafas berat keluar dari dadanya. "Aku baru saja selesai menginterogasi komandan pengawal faksi selatan yang kita tangkap di pelabuhan.""Apa yang dia katakan?" tanya Alin cepat."Don Carlos tidak bergerak sendirian," Valerio melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan halaman kastil di bawah sinar matahari pagi. "Dia mendapat perintah langsung dari seorang perantara yang mengaku bekerja untuk klan Vane di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi... perantara itu memberikan foto wajahmu sebagai target utama yang harus ditangkap hidup-hidup."Alin terdiam sebentar. "Mereka tidak menginginkan kematia
Matahari pagi belum sepenuhnya terbit saat Alin terbangun di atas ranjang kamar utama. Sedangkan Valerio sudah pergi lebih awal untuk mengurus sisa-sisa kekacauan di pelabuhan dan menginterogasi sisa-sisa pengawal faksi selatan yang ditangkap.Alin duduk di tepi ranjang, merenungkan perkembangan situasi. Serangan dari Tentara Bayaran Gideon semalam membuktikan bahwa bahaya yang dihadapinya kini telah meluas melebihi ekspektasi awal dari memori masa lalunya. Seseorang di tingkat internasional sedang memantau setiap langkahnya dan langkah Valerio.Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun sutra simpel berwarna biru gelap, Alin melangkah menuju ruang kerja pribadi Valerio di lantai dua. Pengawal yang berjaga di depan pintu hanya membungkuk hormat tanpa berani menghalangi jalan sang Nyonya Muda. Alin mendekati brankas besi rahasia yang tersembunyi di balik lukisan dinding tua. Menggunakan kombinasi angka yang dia ingat dari masa depan dan kunci akses biometrik yang dia salin semalam,
"Tentu saja tidak," Alin melirik Valerio dengan kilatan mata jahil yang sangat memikat di bawah remang lampu interior mobil. "Itu hanya gertakan palsu. Tapi mereka tidak punya waktu untuk memverifikasinya dalam tiga menit, bukan?"Valerio tertegun sejenak sebelum sebuah tawa rendah dan berbahaya lolos dari tenggorokannya. "Kamu benar-benar wanita paling licik yang pernah kutemui."Suara dari helikopter kembali bergaung, kali ini terdengar sedikit ragu. "Nyonya Moretti... kamu bermain-main dengan maut. Turun dari mobil dan serahkan perangkat penyimpanan data itu dalam tiga puluh detik!”"Enzo!" Valerio menyambar radio komunikasi genggamnya, memotong gertakan dari udara. "Apakah tim sudah berada di posisi penembakan?"Dari radio, suara Enzo terdengar di antara derau sinyal. "Sudah, Don! Penembak jitu kita sudah mengunci rotor belakang helikopter musuh dari atas derek kontainer utama!""Hancurkan mereka," perintah Valerio dingin.Suara tembakan senapan membakar malam. Rotor belakang
Tepat pukul sebelas malam, setelah persidangan dewan aliansi berakhir dengan kemenangan mutlak bagi faksi Moretti, konvoi mobil mewah Valerio bergerak menuju ke area Pelabuhan Sektor Lima. Malam itu, hujan deras mengguyur kota, menyelimuti kaca-kaca mobil dengan titik-titik air yang berkilauan di bawah lampu jalanan.Di dalam kabin penumpang, Valerio duduk di samping Alin. Dia melepaskan jas tuksedonya, menyingsingkan lengan kemeja putihnya sembari menatap istrinya yang sedang menatap ke luar jendela."Kamu menghancurkan Don Carlos di depan seluruh anggota dewan tanpa menyisakannya sedikit pun harga dirinya, Alinea," Valerio berkata, suara baritonnya yang berat memecah keheningan kabin.Alin memutar kepalanya, menatap suaminya dengan senyuman tipis. "Pria tua serakah seperti Carlos tidak butuh harga diri, Valerio. Dia hanya butuh diingatkan siapa yang memegang kendali atas rantai makanan di kota ini."Valerio mengulurkan tangan besarnya, jemari kokohnya mengusap lembut rahang tegas
Valerio dan Enzo seketika mengalihkan pandangan mereka kepada Alin. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit, melipat tangan di dada dengan alis terangkat."Apa maksudmu, Alinea?" Valerio bertanya, nada suaranya memancarkan ketertarikan yang dalam. "Ini bukan bisnis pengapalan barang di pelabuhan. Ini adalah politik birokrasi yang kotor.""Politik birokrasi selalu bergerak di atas roda keserakahan yang sama, Suamiku," Alin tersenyum tipis, merapikan lembaran berkas di depannya. "Mengapa kalian terus mencoba menyuap dewan kota untuk mendapatkan lisensi kasino konvensional yang sudah usang?""Karena itulah satu-satunya cara melegalkan bisnis ini secara hukum, Nyonya" sahut Enzo, merasa ragu dengan arah pemikiran sang Nyonya Muda."Itu adalah cara lima tahun lalu," Alin menjawabnya dengan tegas.Alin memutar tablet digital di depannya menuju ke arah Valerio. "Jangan ajukan lisensi untuk kasino bawah tanah. Buat entitas perusahaan baru di bawah nama Moretti Holding yang bergera
Derit engsel pintu kayu jati yang tebal bergaung halus di dalam ruang kerja yang membeku. Alin tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang masih menampilkan notifikasi berwarna hijau terang: [AKSES DIIZINKAN: OTORISASI BIOMETRIK TINGKAT TINGGI - ID PENGGUNA: DON MORETTI TERDAHULU]. Tangannya yang ramping perlahan bergerak menyentuh gembok rahasia di bawah meja, sementara matanya yang jernih tetap terpaku pada bayangan yang melangkah masuk. Sesosok pria jangkung melangkah melewati ambang pintu. Namun, itu bukan sosok asing dari kegelapan. Orang itu adalah Valerio. Valerio melepas jas hitamnya yang bernoda embun malam, melemparkannya secara santai ke atas sofa kulit di sudut ruangan. Kemeja hitamnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan kokoh yang dihiasi tato lambang keluarga Moretti. Rambut gelapnya sedikit berantakan ditiup angin perbukitan. "Mengapa wajahmu pucat sekali, Alinea?" Valerio bertanya dengan suara baritonnya yang rendah dan parau. Matanya mena







