ログインSensasi dingin yang mencekam mendadak lenyap, digantikan oleh gelombang udara panas yang menyengat paru-parunya.
Alin tersentak bangun. Dia menghirup oksigen dengan rakus, dadanya naik-turun dengan gila-gilaan seolah-olah dia baru saja timbul dari dasar samudra yang dalam. Jantungnya berdenyut begitu keras di balik tulang rusuknya, menciptakan rasa ngilu yang amat sangat. Secara refleks, kedua tangan Alin langsung mencengkeram dadanya. Dia meraba gaunnya, mencari lubang peluru, mencari aliran darah hangat yang beberapa detik lalu dia rasakan mengalir deras merenggut nyawanya. Namun, tidak ada apa-apa. Tidak ada darah. Tidak ada lubang. Tidak ada rasa sakit terbakar dari timah panas yang menembus dagingnya. Yang ada hanya permukaan kain katun lembut dari piyama merah muda yang sudah lama tidak pernah dia kenakan lagi. Alin mengerutkan kening, napasnya perlahan mulai teratur namun kepalanya berdenyut pening. Dia memandang berkeliling dengan sisa-sisa paranoia yang membakar sel otaknya. Tempat ini bukan gudang tua yang pengap dan bau bensin. Ini adalah sebuah kamar tidur yang luas, didominasi warna pastel yang lembut, dengan gorden renda yang bergoyang ditiup angin pagi dari jendela yang terbuka setengah. "Kamarku...?" bisik Alin, suaranya terdengar lebih cempreng dan muda di telinganya sendiri. Ini adalah kamarnya di kediaman keluarga Vance. Rumah masa kecilnya sebelum dia diseret paksa menjadi tawanan di bawah atap megah nan dingin milik Valerio Moretti. Alin menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, peluh dingin membanjiri dahi dan lehernya. Kulitnya meremang. "Apakah... semua itu hanya mimpi?" pikirnya ragu. Alin terdiam sejenak dan berpikir. Apakah pernikahan satu tahun yang penuh siksaan batin, pengkhianatan Elena yang brutal, tatapan dingin Enzo, dan rasa sakit dari peluru yang menembus dadanya hanya sekedar bunga tidur yang teramat nyata? Namun, bagaimana mungkin sebuah mimpi bisa meninggalkan rasa trauma yang begitu pekat di dada? Rasa benci dan penyesalan itu masih terasa sangat nyata, mengalir layaknya racun di dalam aliran darahnya. Alin menyingkap selimutnya dengan tergesa-gesa. Kakinya yang mungil menyentuh lantai marmer yang hangat karena sinar matahari pagi. Dia melangkah menuju meja rias berkaki ramping di sudut kamar. Saat dia menatap cermin, Alin tertegun. Wajah di dalam cermin itu adalah dirinya, namun tampak lebih muda. Pipinya masih memiliki sedikit gurat keremajaan yang lembut, matanya yang bulat besar memancarkan kepolosan yang belum ternoda oleh ketakutan dunia bawah tanah. Tidak ada bekas luka cambuk di pundaknya, tidak ada memar keunguan di pergelangan tangannya, dan tidak ada lingkaran hitam di bawah matanya yang dalam akibat malam-malam tanpa tidur di kamar pengantin Moretti. Dia tampak seperti gadis berusia tujuh belas tahun. Gadis yang naif, yang masih percaya bahwa dunia ini berjalan dengan poros kebaikan. Tangan Alin yang bergetar kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Itu adalah ponsel model lama yang sudah diganti dua tahun lalu. Dengan ibu jari yang gemetar, dia menekan tombol daya untuk menyalakan layarnya. Mata Alin membelalak sempurna saat melihat deretan angka digital yang tertera di sana. Senin, 1 Juni 2024.Tubuh Alin menegang kaku. Ponsel di genggamannya merosot, jatuh berdentang di atas meja rias. "Dua puluh empat..." bisik Alin dengan bibir kelu. Dia melangkah mundur hingga betisnya membentur tepi ranjang. Pikirannya berputar hebat, mencoba mencerna kegilaan yang baru saja terjadi. Di ingatan terakhirnya, dia dieksekusi pada pertengahan tahun 2025 setelah satu tahun menjalani pernikahan neraka dengan Valerio. Tapi hari ini, kalender menunjukkan bahwa ini masih tahun 2024. Ini adalah waktu di mana dia belum menikah. Waktu di mana bisnis pamannya belum hancur total, dan waktu di mana Elena masih berpura-pura menjadi sepupu yang manis dan malaikat pelindungnya. Ini bukan mimpi buruk yang terjadi saat dia tidur. Ini adalah kenyataan. Dia telah mati, dan takdir telah melemparnya kembali ke masa lalu. Ke masa di mana semua petaka itu belum dimulai. Alin perlahan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Perlahan, ketakutan yang sempat melumpuhkannya menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar dari lubuk hatinya. Rasa hangat itu dengan cepat berubah menjadi kobaran api yang membakar gairah hidupnya. Doanya di ambang maut dikabulkan. "Tuhan benar-benar memberiku kesempatan kedua," gumam Alin, sebuah senyuman tipis dan dingin perlahan terukir di bibirnya yang pucat. Sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh Alin yang lama. Di kehidupan lalu, bulan Juni tahun 2024 adalah awal dari kehancurannya. Minggu depan, Paman Silas akan mulai kehilangan kapal logistiknya karena disabotase oleh musuh, yang kemudian membuatnya terlilit hutang besar pada keluarga Moretti. Dan tiga bulan dari sekarang, Alin akan diseret seperti domba pasrah menuju altar untuk menjadi jaminan utang tersebut. Di kehidupan lalu, Alin menghabiskan tiga bulan itu dengan menangis, mengunci diri di kamar, dan memohon pada Elena untuk mencarikan jalan keluar,tanpa pernah tahu bahwa Elena justru memanfaatkannya untuk mendekati lingkaran kekuasaan. "Tidak akan terulang lagi," tegas Alin pada dirinya sendiri. Tatapan matanya yang semula lembut kini menajam, memancarkan aura dingin yang sarat akan kalkulasi. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membuang waktu satu detik pun untuk menangis. Jika garis waktu ini berjalan sama seperti sebelumnya, maka dia memiliki keunggulan terbesar yang tidak dimiliki oleh siapa pun di dunia ini. Yaitu, dia tahu masa depan. Dia tahu kapan pamannya akan menyelundupkan senjata. Dia tahu rute mana yang akan diambil. Dia tahu kapan Elena akan mencoba menusuknya dari belakang. Dan yang paling penting, dia tahu persis bagaimana cara kerja pikiran Valerio Moretti. Alin berjalan kembali ke meja rias. Dia mengambil jepit rambut hitamnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin dengan kepala tegak. Ketakutan itu telah mati di gudang tua bersama Alin yang pasif. Alin yang berdiri di sini sekarang adalah seorang wanita yang telah mencicipi kematian akibat pengkhianatan. “Elena, Paman Silas, Valerio…” Alin menyebut nama-nama itu dalam hatinya seperti sebuah mantra pembalasan dendam. “Kalian memanfaatkan kepatuhanku di kehidupan lalu. Maka di kehidupan ini, bersiaplah untuk hancur oleh kepatuhan yang sama. Aku akan tetap menjadi boneka kalian yang penurut... sampai aku sendiri yang memotong tali-tali kalian dan menyeret kalian ke neraka.” Ucapnya dalam hati. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang ritmis mendadak memecah keheningan kamar. "Alin? Sayang, kamu sudah bangun? Paman Silas meminta kita sarapan bersama di bawah. Ada hal penting yang ingin dibicarakan," suara lembut dan manja itu terdengar dari balik pintu. Itu suara Elena. Suara dari wanita yang telah memerintahkan Enzo untuk melubangi dadanya. Mendengar suara itu, rahang Alin mengatup rapat, dan tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Permainan psikologis ini telah dimulai lebih cepat dari dugaan, dan Alin bersumpah, kali ini dialah yang akan keluar sebagai pemenang.Dua hari setelah persidangan dewan yang menghancurkan Silas Vance, atmosfer di Kastil Moretti tampak sedikit berbeda. Valerio tampaknya mulai merasa terganggu dengan dominasi psikologis yang terus dibangun oleh Alin. Sebagai seorang Don tertinggi yang terbiasa mengontrol setiap aspek kehidupan orang-orang di sekitarnya, melihat istrinya selalu selangkah lebih maju menciptakan sebuah konflik ego yang pekat di dalam dadanya.Sore itu, Alin sedang duduk di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman mawar barat kastil. Dia sedang meninjau dokumen pengapalan sektor lima melalui tablet digitalnya saat suara deru mesin mobil mewah sport terbuka terdengar memasuki area pelataran taman.Dari atas balkon, Alin melihat Valerio keluar dari mobil tersebut. Namun, pria itu tidak sendirian.Seorang wanita muda dengan gaun merah menyala yang sangat berani dan potongan rambut bob pirang yang modis keluar dari kursi penumpang. Wanita itu adalah Bianca Rossi, putri dari salah satu bos maf
Keesokan paginya, setelah ketegangan serangan di Distrik Tengah mereda, Kastel Moretti kembali berada di bawah kendali keamanan penuh yang diperketat tiga kali lipat oleh Enzo. Berita tentang kegagalan penyergapan faksi Rusia dan aksi penyelamatan spektakuler yang dilakukan oleh Nyonya Moretti baru telah menyebar cepat ke seluruh penjuru dewan mafia, menciptakan gelombang rasa segan dan ketakutan baru terhadap pasangan penguasa tertinggi yang baru menikah ini.Di dalam ruang kerja pribadi Valerio, Alin berdiri di depan meja kayu jati besar yang kini resmi menjadi area kerjanya sendiri sesuai dengan kesepakatan malam pertama mereka di bawah selimut.Sesuai dengan janji Valerio, seluruh dokumen logistik sektor empat dan lima telah diletakkan di atas meja, lengkap dengan kunci enkripsi digital sektor enam yang sangat diincar oleh Silas Vance.Alin menarik laci paling bawah dari meja kerja tersebut, sebuah area rahasia yang hanya diketahui oleh Valerio dan mendiang ayahnya melalui mekani
"Ada apa, Enzo?" Alin bertanya, merasakan adanya perubahan atmosfer yang mendadak."Don Valerio baru saja disergap di Distrik Tengah saat menghadiri pertemuan darurat dewan kota, Nyonya," Enzo berkata dengan suara bergetar. "Mobilnya dihantam oleh truk kontainer besar dan saat ini faksi Rusia telah mengepung area reruntuhan tersebut. Don Valerio terluka... dan mereka mencoba mengambil kepalanya malam ini juga."Jantung Alin berdegup kencang mendengar berita tersebut. Di kehidupan masa lalunya, Valerio memang pernah mengalami kecelakaan hebat di Distrik Tengah, namun itu terjadi enam bulan setelah pernikahan mereka, bukan di malam kedua seperti sekarang. Alur waktu telah bergeser lebih cepat dan lebih agresif karena tindakan-tindakannya yang mengubah draft kontrak Silas dan membongkar kedok Brandon semalam.Alin mengepalkan tangannya di balik mantel wolnya. Dia tahu bahwa jika Valerio tewas malam ini, posisinya di kastel Moretti akan runtuh dalam sekejap, dan Silas bersama faksi Rusia
Wajah kaku Martha mendadak berubah pucat pasi. Kerutan di wajahnya bergetar hebat saat dia mencoba mempertahankan ketenangannya yang runtuh dalam sekejap. "Anda... Anda tidak tahu apa yang Anda bicarakan! Itu adalah tuduhan yang tidak memiliki bukti!""Aku memiliki seluruh mutasi rekening putramu, lengkap dengan tanda tangan persetujuan palsu yang Anda buat menggunakan stempel stasioner kastil ini," Alin berbisik, suaranya begitu lembut namun bergaung seperti lonceng kematian di telinga Martha. "Jika aku menunjukkan dokumen ini kepada Don Valerio sekarang... Anda tahu apa yang terjadi pada pelayan yang mencuri uang keluarga Moretti untuk diserahkan kepada musuh mereka, bukan?"Martha melirik ke arah Valerio yang masih duduk diam di ujung meja. Meskipun Valerio tidak bersuara, aura pembunuhnya sudah cukup membuat lutut kepala pelayan tua itu lemas. Martha tahu persis bahwa Valerio tidak pernah memberikan ampunan pada pencuri di dalam rumahnya sendiri."N-Nyonya..." suara Martha berge
"Gunakan frekuensi satelit palsu yang baru saja kubuat ini," Alin mengetuk layar portabel di sampingnya, menampilkan pesan teks terenkripsi yang siap dikirim. "Kirimkan pesan dari 'operator faksi Rusia' yang menyatakan bahwa target pertama, yaitu kita berdua, telah tewas dan dia harus segera menemui kontak mereka di gudang logistik sektor empat untuk menerima pembayaran sisa. Dia akan berjalan sendiri ke perangkap kita tanpa perlu membuat kegaduhan di dalam kastel."Valerio menatap Alin dengan pandangan yang sarat akan obsesi yang semakin mendalam. Keberanian, ketenangan, dan kecerdasan taktis yang ditunjukkan oleh gadis yang baru berusia awal dua puluh tahun ini benar-benar tidak masuk akal. Dia bukan sekadar pengantin mainan, melainkan dia adalah senjata taktis berjalan."Lakukan seperti apa yang dia katakan, Enzo," perintah Valerio tanpa melepaskan pandangannya dari Alin."Baik, Don Valerio," Enzo membungkuk hormat, kini dengan pandangan yang jauh lebih segan dan penuh ketakutan t
"Aku membutuhkannya untuk menghancurkan Paman Silas dengan tanganku sendiri," Alin menepis tuduhan itu dengan pandangan sedingin es. "Aku akan menjebaknya menggunakan keserakahannya sendiri. Dan yang ketiga... aku ingin hak politik formal sebagai perwakilan keluarga Moretti dalam pertemuan dewan mafia berikutnya."Valerio tertegun. Permintaan gadis ini bukan sekadar permintaan seorang wanita yang ingin mengamankan posisi finansialnya. Ini adalah cetak biru dari seorang penguasa yang ingin merebut takhta."Kamu meminta terlalu banyak untuk seseorang yang baru saja lolos dari kematian," Valerio mencondongkan tubuhnya, menekan sapu tangan di leher Alin sedikit lebih kuat hingga Alin mendesis pelan. “Apa jaminan bahwa ramalanmu berikutnya tidak akan menjebakku ke dalam lubang yang sama?""Jaminannya adalah kepala pengkhianat di dalam kastel ini," Alin menatap lurus ke dalam mata Valerio. "Seseorang yang memegang kunci enkripsi rute Anda malam ini... dia berada di bawah komando orang terd







