Share

chapter 2

Author: Pena Anonim
last update publish date: 2026-06-01 21:05:00

Sensasi dingin yang mencekam mendadak lenyap, digantikan oleh gelombang udara panas yang menyengat paru-parunya.

Alin tersentak bangun. Dia menghirup oksigen dengan rakus, dadanya naik-turun dengan gila-gilaan seolah-olah dia baru saja timbul dari dasar samudra yang dalam. Jantungnya berdenyut begitu keras di balik tulang rusuknya, menciptakan rasa ngilu yang amat sangat.

Secara refleks, kedua tangan Alin langsung mencengkeram dadanya. Dia meraba gaunnya, mencari lubang peluru, mencari aliran darah hangat yang beberapa detik lalu dia rasakan mengalir deras merenggut nyawanya.

Namun, tidak ada apa-apa.

Tidak ada darah. Tidak ada lubang. Tidak ada rasa sakit terbakar dari timah panas yang menembus dagingnya. Yang ada hanya permukaan kain katun lembut dari piyama merah muda yang sudah lama tidak pernah dia kenakan lagi.

Alin mengerutkan kening, napasnya perlahan mulai teratur namun kepalanya berdenyut pening. Dia memandang berkeliling dengan sisa-sisa paranoia yang membakar sel otaknya. Tempat ini bukan gudang tua yang pengap dan bau bensin. Ini adalah sebuah kamar tidur yang luas, didominasi warna pastel yang lembut, dengan gorden renda yang bergoyang ditiup angin pagi dari jendela yang terbuka setengah.

"Kamarku...?" bisik Alin, suaranya terdengar lebih cempreng dan muda di telinganya sendiri.

Ini adalah kamarnya di kediaman keluarga Vance. Rumah masa kecilnya sebelum dia diseret paksa menjadi tawanan di bawah atap megah nan dingin milik Valerio Moretti.

Alin menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, peluh dingin membanjiri dahi dan lehernya. Kulitnya meremang. "Apakah... semua itu hanya mimpi?" pikirnya ragu.

Alin terdiam sejenak dan berpikir. Apakah pernikahan satu tahun yang penuh siksaan batin, pengkhianatan Elena yang brutal, tatapan dingin Enzo, dan rasa sakit dari peluru yang menembus dadanya hanya sekedar bunga tidur yang teramat nyata? Namun, bagaimana mungkin sebuah mimpi bisa meninggalkan rasa trauma yang begitu pekat di dada? Rasa benci dan penyesalan itu masih terasa sangat nyata, mengalir layaknya racun di dalam aliran darahnya.

Alin menyingkap selimutnya dengan tergesa-gesa. Kakinya yang mungil menyentuh lantai marmer yang hangat karena sinar matahari pagi. Dia melangkah menuju meja rias berkaki ramping di sudut kamar.

Saat dia menatap cermin, Alin tertegun.

Wajah di dalam cermin itu adalah dirinya, namun tampak lebih muda. Pipinya masih memiliki sedikit gurat keremajaan yang lembut, matanya yang bulat besar memancarkan kepolosan yang belum ternoda oleh ketakutan dunia bawah tanah.

Tidak ada bekas luka cambuk di pundaknya, tidak ada memar keunguan di pergelangan tangannya, dan tidak ada lingkaran hitam di bawah matanya yang dalam akibat malam-malam tanpa tidur di kamar pengantin Moretti.

Dia tampak seperti gadis berusia tujuh belas tahun. Gadis yang naif, yang masih percaya bahwa dunia ini berjalan dengan poros kebaikan. Tangan Alin yang bergetar kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Itu adalah ponsel model lama yang sudah diganti dua tahun lalu.

Dengan ibu jari yang gemetar, dia menekan tombol daya untuk menyalakan layarnya.

Mata Alin membelalak sempurna saat melihat deretan angka digital yang tertera di sana.

Senin, 1 Juni 2024.Tubuh Alin menegang kaku. Ponsel di genggamannya merosot, jatuh berdentang di atas meja rias.

"Dua puluh empat..." bisik Alin dengan bibir kelu.

Dia melangkah mundur hingga betisnya membentur tepi ranjang. Pikirannya berputar hebat, mencoba mencerna kegilaan yang baru saja terjadi. Di ingatan terakhirnya, dia dieksekusi pada pertengahan tahun 2025 setelah satu tahun menjalani pernikahan neraka dengan Valerio. Tapi hari ini, kalender menunjukkan bahwa ini masih tahun 2024.

Ini adalah waktu di mana dia belum menikah. Waktu di mana bisnis pamannya belum hancur total, dan waktu di mana Elena masih berpura-pura menjadi sepupu yang manis dan malaikat pelindungnya.

Ini bukan mimpi buruk yang terjadi saat dia tidur. Ini adalah kenyataan. Dia telah mati, dan takdir telah melemparnya kembali ke masa lalu. Ke masa di mana semua petaka itu belum dimulai.

Alin perlahan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Perlahan, ketakutan yang sempat melumpuhkannya menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar dari lubuk hatinya. Rasa hangat itu dengan cepat berubah menjadi kobaran api yang membakar gairah hidupnya.

Doanya di ambang maut dikabulkan.

"Tuhan benar-benar memberiku kesempatan kedua," gumam Alin, sebuah senyuman tipis dan dingin perlahan terukir di bibirnya yang pucat. Sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh Alin yang lama.

Di kehidupan lalu, bulan Juni tahun 2024 adalah awal dari kehancurannya. Minggu depan, Paman Silas akan mulai kehilangan kapal logistiknya karena disabotase oleh musuh, yang kemudian membuatnya terlilit hutang besar pada keluarga Moretti. Dan tiga bulan dari sekarang, Alin akan diseret seperti domba pasrah menuju altar untuk menjadi jaminan utang tersebut.

Di kehidupan lalu, Alin menghabiskan tiga bulan itu dengan menangis, mengunci diri di kamar, dan memohon pada Elena untuk mencarikan jalan keluar,tanpa pernah tahu bahwa Elena justru memanfaatkannya untuk mendekati lingkaran kekuasaan.

"Tidak akan terulang lagi," tegas Alin pada dirinya sendiri. Tatapan matanya yang semula lembut kini menajam, memancarkan aura dingin yang sarat akan kalkulasi.

Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membuang waktu satu detik pun untuk menangis. Jika garis waktu ini berjalan sama seperti sebelumnya, maka dia memiliki keunggulan terbesar yang tidak dimiliki oleh siapa pun di dunia ini. Yaitu, dia tahu masa depan.

Dia tahu kapan pamannya akan menyelundupkan senjata. Dia tahu rute mana yang akan diambil. Dia tahu kapan Elena akan mencoba menusuknya dari belakang. Dan yang paling penting, dia tahu persis bagaimana cara kerja pikiran Valerio Moretti.

Alin berjalan kembali ke meja rias. Dia mengambil jepit rambut hitamnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin dengan kepala tegak. Ketakutan itu telah mati di gudang tua bersama Alin yang pasif. Alin yang berdiri di sini sekarang adalah seorang wanita yang telah mencicipi kematian akibat pengkhianatan.

“Elena, Paman Silas, Valerio…” Alin menyebut nama-nama itu dalam hatinya seperti sebuah mantra pembalasan dendam.

“Kalian memanfaatkan kepatuhanku di kehidupan lalu. Maka di kehidupan ini, bersiaplah untuk hancur oleh kepatuhan yang sama. Aku akan tetap menjadi boneka kalian yang penurut... sampai aku sendiri yang memotong tali-tali kalian dan menyeret kalian ke neraka.” Ucapnya dalam hati.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang ritmis mendadak memecah keheningan kamar.

"Alin? Sayang, kamu sudah bangun? Paman Silas meminta kita sarapan bersama di bawah. Ada hal penting yang ingin dibicarakan," suara lembut dan manja itu terdengar dari balik pintu.

Itu suara Elena. Suara dari wanita yang telah memerintahkan Enzo untuk melubangi dadanya.

Mendengar suara itu, rahang Alin mengatup rapat, dan tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Permainan psikologis ini telah dimulai lebih cepat dari dugaan, dan Alin bersumpah, kali ini dialah yang akan keluar sebagai pemenang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 37

    Alin merespons ciuman itu. Tangannya mengalung di leher Valerio, jemarinya menyusup ke dalam rambut hitam suaminya yang tebal. Namun di tengah ciuman yang semakin memanas, Alin memanfaatkan momen ketika Valerio terbuai oleh kenikmatan gairah tersebut untuk membalikkan posisi psikologis mereka.Alin menggigit kecil bibir bawah Valerio, membuat dia menggeram rendah di tengah ciumannya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lembut. Lalu Alin memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Valerio."Jika Anda menginginkan tubuh ini sepenuhnya, Don Valerio... berikan aku otoritas penuh atas pasukan Sektor Lima besok pagi."Valerio membeku seketika. Ciumannya terhenti. Matanya membelalak menatap Alin yang kini tersenyum manis di dalam pelukannya dengan deru napas yang masih memburu."Kamu... memanfaatkan momen ini untuk bernegosiasi bisnis lagi?" Valerio bertanya dengan suara penuh ketidakpercayaan, bercampur antara rasa takjub dan frustasi yang membakar dadanya."Aku seorang Vance yang kini

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 36

    Perjalanan kembali ke Kastel Moretti berlangsung dalam keheningan dan ketegangan. Di dalam mobil, Valerio duduk di samping Alin, memperhatikan setiap gerakan kecil istrinya.Alin melepas mantel tebalnya, memperlihatkan gaun kasual sutra berwarna biru gelap yang membingkai indah bentuk tubuhnya. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit basah oleh hujan terurai bebas, mengeluarkan aroma harum floral yang memenuhi kabin mobil."Mengapa kamu diam, Valerio?" Alin memecah keheningan, melirik suaminya yang tak melepaskan pandangan darinya. "Apakah interogasi Kapten Viper di kepalamu sudah selesai?""Aku tidak sedang memikirkan agen federal itu, Alinea," suara Valerio terdengar rendah dan serak. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terangkat, mengelus paha atas Alin yang terekspos di balik belahan gaunnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana cara menghukum seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya."Sensasi hangat dari telapak tangan Valerio menembus kain sutra tipis, membuat bul

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 35

    Alin melepaskan genggaman tangannya dari pistol yang berada di dalam saku, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Silas dengan pandangan mata yang penuh penghinaan."Paman Silas..." Alin berkata dengan suara yang sangat tenang dan jernih, menggelegar menembus deru suara hujan di luar. "Apakah kamu benar-benar mengira... aku datang ke dermaga tua ini sendirian tanpa membawa hadiah penutup untukmu?"Tepat pada saat Alin menyelesaikan kalimatnya, suara mesin mobil berdaya tinggi mendadak memecah kegelapan malam dari luar gudang!Sebuah kendaraan lapis baja berukuran raksasa menghantam dinding beton gudang tua hingga hancur berkeping-keping, menyemburkan debu dan puing-puing batu ke udara! Di belakang kendaraan tersebut, belasan lampu tembak menyala serentak, menyinari seluruh sudut gudang tua dengan cahaya putih yang menyilaukan mata!Dari dalam debu yang membumbung tinggi, sesosok pria tinggi besar melangkah keluar dengan senapan di tangannya. Aura membunuh yang amat peka

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 34

    "Karena serangan Gideon semalam tidak akan pernah terjadi jika tidak ada dorongan dari petinggi di Eropa," Alin melepaskan tangan Valerio dari dagunya secara halus. "Seseorang di atas sana takut jika kita berhasil melegalkan bisnis kasino dan menguasai Sektor Lima, kekuasaan Moretti akan menjadi terlalu besar untuk dikendalikan."Valerio menatap istrinya beberapa saat sebelum sebuah helai nafas berat keluar dari dadanya. "Aku baru saja selesai menginterogasi komandan pengawal faksi selatan yang kita tangkap di pelabuhan.""Apa yang dia katakan?" tanya Alin cepat."Don Carlos tidak bergerak sendirian," Valerio melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan halaman kastil di bawah sinar matahari pagi. "Dia mendapat perintah langsung dari seorang perantara yang mengaku bekerja untuk klan Vane di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi... perantara itu memberikan foto wajahmu sebagai target utama yang harus ditangkap hidup-hidup."Alin terdiam sebentar. "Mereka tidak menginginkan kematia

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 33

    Matahari pagi belum sepenuhnya terbit saat Alin terbangun di atas ranjang kamar utama. Sedangkan Valerio sudah pergi lebih awal untuk mengurus sisa-sisa kekacauan di pelabuhan dan menginterogasi sisa-sisa pengawal faksi selatan yang ditangkap.Alin duduk di tepi ranjang, merenungkan perkembangan situasi. Serangan dari Tentara Bayaran Gideon semalam membuktikan bahwa bahaya yang dihadapinya kini telah meluas melebihi ekspektasi awal dari memori masa lalunya. Seseorang di tingkat internasional sedang memantau setiap langkahnya dan langkah Valerio.Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun sutra simpel berwarna biru gelap, Alin melangkah menuju ruang kerja pribadi Valerio di lantai dua. Pengawal yang berjaga di depan pintu hanya membungkuk hormat tanpa berani menghalangi jalan sang Nyonya Muda. Alin mendekati brankas besi rahasia yang tersembunyi di balik lukisan dinding tua. Menggunakan kombinasi angka yang dia ingat dari masa depan dan kunci akses biometrik yang dia salin semalam,

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 32

    "Tentu saja tidak," Alin melirik Valerio dengan kilatan mata jahil yang sangat memikat di bawah remang lampu interior mobil. "Itu hanya gertakan palsu. Tapi mereka tidak punya waktu untuk memverifikasinya dalam tiga menit, bukan?"Valerio tertegun sejenak sebelum sebuah tawa rendah dan berbahaya lolos dari tenggorokannya. "Kamu benar-benar wanita paling licik yang pernah kutemui."Suara dari helikopter kembali bergaung, kali ini terdengar sedikit ragu. "Nyonya Moretti... kamu bermain-main dengan maut. Turun dari mobil dan serahkan perangkat penyimpanan data itu dalam tiga puluh detik!”"Enzo!" Valerio menyambar radio komunikasi genggamnya, memotong gertakan dari udara. "Apakah tim sudah berada di posisi penembakan?"Dari radio, suara Enzo terdengar di antara derau sinyal. "Sudah, Don! Penembak jitu kita sudah mengunci rotor belakang helikopter musuh dari atas derek kontainer utama!""Hancurkan mereka," perintah Valerio dingin.Suara tembakan senapan membakar malam. Rotor belakang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status