Share

chapter 3

Author: Pena Anonim
last update publish date: 2026-06-01 21:05:43

Suara Elena di balik pintu bertindak seperti palu yang menghantam dinding es dalam dada Alin. Dingin, namun sekaligus memicu adrenalinnya untuk melonjak.

Alin memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Dia harus kembali menyembunyikan kilat kemarahan di matanya. Dalam hitungan detik, dia memaksakan otot-otot wajahnya untuk melunak. Bahunya yang tadi tegap sengaja dia turunkan, menciptakan kembali postur tubuh seorang gadis remaja yang rapuh dan penurut. Topengnya harus sempurna.

Alin melangkah menuju pintu, memutar kunci, dan membukanya.

Di sana berdiri Elena Vance. Sepupunya itu mengenakan gaun rumah berwarna putih gading, rambut pirang dikuncir kuda dengan rapi. Wajahnya tampak begitu polos, begitu tulus. Tipe wajah yang akan membuat siapapun percaya bahwa dia tidak tega menyakiti seekor semut pun.

Melihat wajah itu, bayangan Elena di gudang tua yang tersenyum puas sambil menyeka tangannya yang terkena cipratan darah Alin mendadak terproyeksi di benak Alin.

Rasa mual yang hebat mendadak naik ke kerongkongan Alin. Dia harus meremas jarinya sendiri di balik lipatan piyamanya untuk menahan diri agar tidak muntah tepat di depan wajah Elena.

"Alin? Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," Elena mengulurkan tangan, mencoba menyentuh kening Alin dengan raut wajah cemas yang dibuat-buat.

Alin dengan halus memundurkan kepalanya sedikit, berpura-pura seolah dia hanya sedang merapikan rambutnya yang berantakan. "Aku... aku tidak apa-apa, El. Hanya sedikit pusing karena kurang tidur," jawab Alin. Suaranya diatur sedemikian rupa, agak pelan, sedikit serak, dan penuh kepatuhan. Tepat seperti Alin yang lama.

Elena tersenyum lega, tidak menyadari distorsi emosi yang sedang ditekan rapat-rapat oleh sepupunya. "Oh, syukurlah. Jangan membuat Paman Silas menunggu terlalu lama, ya? Kamu tahu sendiri paman paling tidak suka jika ada yang terlambat di meja makan."

"Iya, aku akan segera turun setelah mencuci muka," ucap Alin sambil mengangguk patuh.

Setelah Elena berbalik dan melangkah pergi, Alin segera menutup pintu kamarnya kembali. Dia berlari kecil ke kamar mandi, mencengkeram tepi wastafel, dan menarik napas panjang demi menghilangkan rasa mual yang mencuat akibat bau parfum Elena yang begitu dia benci.

Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin yang menyegarkan sel-sel otaknya, Alin menatap lurus ke cermin.

"Tenang, Alin. Ini baru permulaan," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.

Sepuluh menit kemudian, Alin berjalan menyusuri tangga besar menuju ruang makan utama keluarga Vance. Langkah kakinya yang ringan nyaris tidak terdengar. Ruang makan itu tampak megah, dilapisi marmer dan dihiasi lampu kristal gantung yang mewah, semuanya dibeli menggunakan uang warisan mendiang orang tua Alin yang secara sepihak dikelola oleh pamannya.

Di ujung meja panjang, duduklah Silas Vance. Pamannya itu sedang membaca koran pagi sambil menyesap kopi hitamnya. Di sampingnya, Elena sudah duduk manis sambil mengoleskan selai ke rotinya.

Melihat Silas, dada Alin kembali bergemuruh. Pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas rapi inilah yang di kehidupan lalu mengorbankannya tanpa kedipan mata. Pria yang memanfaatkannya sebagai tameng hidup untuk menyelamatkan lehernya sendiri dari kemurkaan keluarga Moretti.

"Alin, akhirnya kamu turun. Duduklah," suara Silas menggelegar, berwibawa namun menyimpan nada menuntut yang absolut.

"Selamat pagi, Paman. Maaf membuat Paman menunggu," Alin membungkuk kecil, sebuah gestur tubuh yang biasa dia lakukan dulu sebagai tanda hormat dan ketundukan. Dia kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Elena.

Silas menurunkan korannya, menatap Alin dengan mata elangnya yang tajam. "Elena bilang kamu kurang sehat. Kamu harus menjaga kesehatanmu, Alin. Keluarga Vance membutuhkanmu dalam kondisi terbaik, terutama sekarang saat bisnis paman sedang berekspansi."

Alin menunduk, menatap piring kosong di depannya. "Baik, Paman. Saya akan lebih memperhatikan kesehatan saya."

“Keluarga Vance membutuhkanmu dalam kondisi terbaik,” Alin mengulangi kalimat itu dalam hatinya dengan ironi yang tajam. Di kehidupan lalu, dia mengira kalimat itu adalah wujud kepedulian seorang ayah pengganti. Tapi, saat ini dia tahu betul arti yang sebenarnya. Silas membutuhkannya tetap cantik dan utuh agar memiliki nilai jual yang tinggi saat ditukarkan dengan tumpukan uang Moretti.

"Paman, apa yang ingin Paman bicarakan tadi?" Elena menyela dengan nada manja, memancing pembicaraan yang sebenarnya sudah Alin ketahui ujungnya.

Silas mendeham, memperbaiki posisi duduknya. "Paman baru saja menandatangani kontrak pengiriman logistik besar yang baru untuk pelabuhan utara minggu depan. Jika ini berhasil, posisi keluarga Vance di kota ini akan semakin tak tergoyahkan." Silas menatap Alin, matanya berkilat penuh keserakahan.

"Dan Alin, paman ingin kamu mulai menghadiri beberapa acara minum teh dengan para wanita dari keluarga elit. Sudah saatnya kamu memperluas jaringanmu. Kamu mengerti maksud Paman, kan?"

Di kehidupan lalu, Alin akan langsung mengangguk tanpa bertanya, mengira ini hanya tugas sosialita biasa. Dia tidak tahu bahwa acara minum teh itu adalah pasar malam terselubung di mana Silas memamerkan keponakannya kepada para kolega bisnisnya yang kaya raya untuk mencari penawar tertinggi.

"Saya mengerti, Paman," Alin mendongak, menampilkan senyuman paling naif dan patuh yang bisa dia bentuk. Mata bulatnya berkedip polos. "Apa pun yang Paman rasa baik untuk saya dan keluarga ini, saya akan melakukannya dengan senang hati."

Elena yang duduk di seberangnya melempar senyum penuh kemenangan, mengira sepupunya tetaplah si bodoh yang bisa disetir ke mana saja. Sementara itu, Silas tertawa renyah, tampak sangat puas dengan jawaban Alin.

"Bagus, anak pintar. Kamu memang selalu bisa diandalkan, Alin. Tidak seperti gadis-gadis modern zaman sekarang yang selalu membangkang," puji Silas sambil kembali mengangkat korannya.

Di balik senyuman patuhnya, tangan Alin di bawah meja meremas kain serbet dengan begitu kencang hingga kukunya memutih.

“Nikmatilah kepatuhanku selagi bisa, Paman,” batin Alin berbisik kejam.

Dia tahu persis tentang pengiriman logistik besar di pelabuhan utara,myang baru saja dibanggakan Silas.

Di kehidupan lalu, pengiriman itu adalah awal dari petaka Silas karena disabotase. Namun di kehidupan ini, Alin tidak akan membiarkan musuh Silas yang bergerak duluan.

Alin sendiri yang akan menjadi bayangan di dalam kegelapan. Dia yang akan membocorkan detail manifes pengiriman itu ke pihak otoritas dan geng saingan, memastikan kapal Silas disita, dan membuat pamannya itu bertekuk lutut dalam kepanikan finansial lebih cepat dari garis waktu aslinya.

Permainan catur ini baru saja dimulai, dan sang pion telah mengambil langkah pertamanya tanpa ada yang menyadari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 37

    Alin merespons ciuman itu. Tangannya mengalung di leher Valerio, jemarinya menyusup ke dalam rambut hitam suaminya yang tebal. Namun di tengah ciuman yang semakin memanas, Alin memanfaatkan momen ketika Valerio terbuai oleh kenikmatan gairah tersebut untuk membalikkan posisi psikologis mereka.Alin menggigit kecil bibir bawah Valerio, membuat dia menggeram rendah di tengah ciumannya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lembut. Lalu Alin memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Valerio."Jika Anda menginginkan tubuh ini sepenuhnya, Don Valerio... berikan aku otoritas penuh atas pasukan Sektor Lima besok pagi."Valerio membeku seketika. Ciumannya terhenti. Matanya membelalak menatap Alin yang kini tersenyum manis di dalam pelukannya dengan deru napas yang masih memburu."Kamu... memanfaatkan momen ini untuk bernegosiasi bisnis lagi?" Valerio bertanya dengan suara penuh ketidakpercayaan, bercampur antara rasa takjub dan frustasi yang membakar dadanya."Aku seorang Vance yang kini

  • Ratu yang Merebut Singgasana   Chapter 36

    Perjalanan kembali ke Kastel Moretti berlangsung dalam keheningan dan ketegangan. Di dalam mobil, Valerio duduk di samping Alin, memperhatikan setiap gerakan kecil istrinya.Alin melepas mantel tebalnya, memperlihatkan gaun kasual sutra berwarna biru gelap yang membingkai indah bentuk tubuhnya. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit basah oleh hujan terurai bebas, mengeluarkan aroma harum floral yang memenuhi kabin mobil."Mengapa kamu diam, Valerio?" Alin memecah keheningan, melirik suaminya yang tak melepaskan pandangan darinya. "Apakah interogasi Kapten Viper di kepalamu sudah selesai?""Aku tidak sedang memikirkan agen federal itu, Alinea," suara Valerio terdengar rendah dan serak. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terangkat, mengelus paha atas Alin yang terekspos di balik belahan gaunnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana cara menghukum seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya."Sensasi hangat dari telapak tangan Valerio menembus kain sutra tipis, membuat bul

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 35

    Alin melepaskan genggaman tangannya dari pistol yang berada di dalam saku, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Silas dengan pandangan mata yang penuh penghinaan."Paman Silas..." Alin berkata dengan suara yang sangat tenang dan jernih, menggelegar menembus deru suara hujan di luar. "Apakah kamu benar-benar mengira... aku datang ke dermaga tua ini sendirian tanpa membawa hadiah penutup untukmu?"Tepat pada saat Alin menyelesaikan kalimatnya, suara mesin mobil berdaya tinggi mendadak memecah kegelapan malam dari luar gudang!Sebuah kendaraan lapis baja berukuran raksasa menghantam dinding beton gudang tua hingga hancur berkeping-keping, menyemburkan debu dan puing-puing batu ke udara! Di belakang kendaraan tersebut, belasan lampu tembak menyala serentak, menyinari seluruh sudut gudang tua dengan cahaya putih yang menyilaukan mata!Dari dalam debu yang membumbung tinggi, sesosok pria tinggi besar melangkah keluar dengan senapan di tangannya. Aura membunuh yang amat peka

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 34

    "Karena serangan Gideon semalam tidak akan pernah terjadi jika tidak ada dorongan dari petinggi di Eropa," Alin melepaskan tangan Valerio dari dagunya secara halus. "Seseorang di atas sana takut jika kita berhasil melegalkan bisnis kasino dan menguasai Sektor Lima, kekuasaan Moretti akan menjadi terlalu besar untuk dikendalikan."Valerio menatap istrinya beberapa saat sebelum sebuah helai nafas berat keluar dari dadanya. "Aku baru saja selesai menginterogasi komandan pengawal faksi selatan yang kita tangkap di pelabuhan.""Apa yang dia katakan?" tanya Alin cepat."Don Carlos tidak bergerak sendirian," Valerio melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan halaman kastil di bawah sinar matahari pagi. "Dia mendapat perintah langsung dari seorang perantara yang mengaku bekerja untuk klan Vane di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi... perantara itu memberikan foto wajahmu sebagai target utama yang harus ditangkap hidup-hidup."Alin terdiam sebentar. "Mereka tidak menginginkan kematia

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 33

    Matahari pagi belum sepenuhnya terbit saat Alin terbangun di atas ranjang kamar utama. Sedangkan Valerio sudah pergi lebih awal untuk mengurus sisa-sisa kekacauan di pelabuhan dan menginterogasi sisa-sisa pengawal faksi selatan yang ditangkap.Alin duduk di tepi ranjang, merenungkan perkembangan situasi. Serangan dari Tentara Bayaran Gideon semalam membuktikan bahwa bahaya yang dihadapinya kini telah meluas melebihi ekspektasi awal dari memori masa lalunya. Seseorang di tingkat internasional sedang memantau setiap langkahnya dan langkah Valerio.Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun sutra simpel berwarna biru gelap, Alin melangkah menuju ruang kerja pribadi Valerio di lantai dua. Pengawal yang berjaga di depan pintu hanya membungkuk hormat tanpa berani menghalangi jalan sang Nyonya Muda. Alin mendekati brankas besi rahasia yang tersembunyi di balik lukisan dinding tua. Menggunakan kombinasi angka yang dia ingat dari masa depan dan kunci akses biometrik yang dia salin semalam,

  • Ratu yang Merebut Singgasana   chapter 32

    "Tentu saja tidak," Alin melirik Valerio dengan kilatan mata jahil yang sangat memikat di bawah remang lampu interior mobil. "Itu hanya gertakan palsu. Tapi mereka tidak punya waktu untuk memverifikasinya dalam tiga menit, bukan?"Valerio tertegun sejenak sebelum sebuah tawa rendah dan berbahaya lolos dari tenggorokannya. "Kamu benar-benar wanita paling licik yang pernah kutemui."Suara dari helikopter kembali bergaung, kali ini terdengar sedikit ragu. "Nyonya Moretti... kamu bermain-main dengan maut. Turun dari mobil dan serahkan perangkat penyimpanan data itu dalam tiga puluh detik!”"Enzo!" Valerio menyambar radio komunikasi genggamnya, memotong gertakan dari udara. "Apakah tim sudah berada di posisi penembakan?"Dari radio, suara Enzo terdengar di antara derau sinyal. "Sudah, Don! Penembak jitu kita sudah mengunci rotor belakang helikopter musuh dari atas derek kontainer utama!""Hancurkan mereka," perintah Valerio dingin.Suara tembakan senapan membakar malam. Rotor belakang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status