LOGINLeo menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kerjanya. Pria itu sama sekali tidak menyentuh map merah tebal di atas mejanya."Kau bergerak lebih lambat dari dugaanku, Nona Direktur," tanggap Leo melipat kedua tangannya di atas meja."Bramantyo sudah berada di sel isolasi dari jam delapan pagi."Gisel meletakkan kedua telapak tangannya di tepi meja Leo. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengekspos belahan dada di balik kemeja putihnya."Jangan samakan aku dengan konglomerat tua bodoh itu!" ancam Gisel menatap tajam mata Leo. "Aku memegang kendali atas setiap sen yang masuk dan keluar dari wilayah provinsi ini."Sonya melangkah maju dari sudut ruangan. Tangan kanannya merogoh saku jaket mencari pisau lipatnya."Perlu aku patahkan rahangnya, Tuan?" tawar Sonya menatap dingin wanita berpakaian mahal tersebut.Leo mengangkat tangan kirinya memberi isyarat berhenti."Mundur, Sonya," perintah Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari Gisel. "Kita tidak memukul tamu yang datang menagih pajak."
Sorot senter bergeser ke arah deretan kardus di sisi kiri. Preman itu membalikkan badannya."Kosong. Cuma tumpukan teh kadaluarsa," lapor preman itu mematikan senternya.Langkah sepatu bot mereka terdengar menjauh menuju pintu keluar. Deru mesin van kembali menyala dan perlahan menghilang.Leo melepaskan bekapannya dari mulut Sonya. Pria itu menarik tangannya dari garis pinggang celana wanita tersebut.Sonya jatuh berlutut di atas lantai semen. Napasnya terputus-putus meraup oksigen sebanyak mungkin."Kau iblis gila," desis Sonya dengan suara bergetar parah. "Tubuhku hampir mati rasa."Pakaiannya basah oleh keringat dingin. Akal sehat dan dominasinya sebagai bos preman hancur total di bawah ujung jari sang dokter."Aku punya pekerjaan baru untukmu besok pagi," ucap Leo merapikan kerah kemejanya."Atau kau lebih suka aku menekan saraf itu lagi secara maksimal?"Sonya menunduk dalam. Tangannya mencengkeram ujung sepatu pantofel Leo secara refleks."Iya, aku akan melakukan semua instruks
Lampu senter itu bergerak menjauh dari celah kardus. Pria berjas hitam di luar pintu kargo menoleh ke arah rekannya."Ruang kargo ini hanya berisi tumpukan rumput kering," lapor pria itu menurunkan senternya.Leo tidak membuang waktu. Tangan kirinya menarik sebuah kardus herbal seberat dua puluh kilogram dari tumpukan terdekat.Pria itu melempar kardus tersebut tepat ke wajah sang penjaga pintu secara mengejutkan."Bangsat!" umpat pria berjas hitam itu terpelanting ke belakang. Kepalanya menghantam aspal dengan suara berderak keras.Leo melompat keluar dari ruang kargo. Sepatu pantofelnya mendarat mulus di atas tanah berbatu.Dua jarinya langsung mematuk simpul saraf leher pria yang baru saja terjatuh tersebut. Tubuh lawan mengejang sesaat sebelum pingsan total tanpa perlawanan."Naik ke kursi penumpang sekarang," perintah Leo menarik kerah jaket denim Sonya secara kasar.Wanita tomboi itu masih lemas akibat tekanan di pinggangnya. Ia merangkak naik ke kabin depan truk dengan sisa ten
Bilah pisau lipat baja berderik terbuka dari balik genggaman tangan kanan Sonya.Pantulan cahaya lampu jalanan yang baru menyala menyorot ujung tajam senjata tersebut. Wanita berambut pirang itu menatap Leo dengan napas memburu.Debu aspal berterbangan tertiup angin malam. Bau karat dari gerbang besi pabrik menusuk hidung."Habisi dokter ini sekarang!" perintah Sonya menunjuk dada Leo."Hancurkan lututnya pakai tongkat bisbol!"Dua puluh preman berjaket kulit merangsek maju menuruti komando. Mereka mengayunkan rantai besi tebal dan pemukul kayu dari berbagai arah.Leo sama sekali tidak banyak bicara menghadapi kepungan tersebut. Langkah sepatu pantofelnya bergeser lima sentimeter menghindari ayunan rantai pertama. Pria itu menyusup lurus ke ruang pertahanan lawan terdekat."Kalian membuang terlalu banyak kalori sia-sia," observasi Leo menatap ayunan tongkat di kanannya.Ia bergerak dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Tangan kiri Leo menangkis siku preman berbadan gempal. Ha
Ban sedan dinas kejaksaan berdecit keras menabrak aspal beton. Mobil berplat merah itu melaju membelah kepadatan jalan tol lintas provinsi dengan kecepatan tinggi.Valeria mencengkeram kemudi dengan kedua tangannya yang berkeringat dingin. Jaksa wanita itu memacu laju kendaraan menuruti instruksi mutlak pria di sebelahnya."Kita sudah memasuki zona industri terabaikan," lapor Valeria melirik Leo yang duduk tenang di kursi penumpang.Leo memandang hamparan pabrik kosong dari balik kaca jendela yang diturunkan. Angin sore meniup rambut hitamnya secara kasar."Berhenti di persimpangan depan. Aku akan berjalan kaki dari sana," instruksi Leo menunjuk sebuah jalan berdebu di sebelah kiri.Mobil sedan itu mengerem mendadak tepat di tepi jalan. Debu tebal berterbangan menyelimuti bodi kendaraan penegak hukum tersebut."Aku bisa memanggil pasukan taktis untuk mengepung tempat ini," tawar Valeria menahan lengan Leo sebelum pria itu turun."Kau baru saja membatalkan operasi penyitaan pagiku. Aku
Leo menarik jari-jarinya menjauh dari titik saraf sakral tersebut. Ia mengancingkan kembali seragam rok ketat wanita di bawahnya dengan gerakan cepat.Valeria meraup udara dengan mulut terbuka lebar. Dadanya kembang kempis menabrak meja besi interogasi yang dingin.Air mata bercampur keringat membasahi rambut sebatas bahunya. Sang Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi kehilangan seluruh tenaga di persendiannya."Berdiri!" perintah Leo merapikan kerah kemeja linennya.Valeria menopang tubuhnya menggunakan kedua siku. Wanita itu merosot turun dari atas meja besi dengan kaki bergetar hebat.Ujung sepatu hak tingginya menyentuh lantai semen. Ia nyaris terjatuh jika Leo tidak menahan lengan kirinya.Valeria memejamkan mata menunggu rasa sakit kronis yang biasa menusuk punggung bawahnya.Rasa sakit itu tidak pernah datang. Pinggangnya terasa sangat ringan dan fleksibel untuk pertama kalinya dalam tiga tahun."Kelumpuhan sarafmu sudah sembuh total," ucap Leo mencuci tangannya di wastafel sudut ru







