LOGINTangan besar Leonardo bergerak secepat kilat. Dengan kecekatan seorang ahli bedah yang tak membiarkan satu milimeter pun kesalahan, ia menarik selimut tebal dari ujung ranjang dan menutupi tubuh Sekar yang setengah telanjang.“Sembunyi di bawah selimut, meringkuk ke arah dinding. Jangan bernapas terlalu keras,” bisik Leo mutlak, suaranya mengandung aura dominasi yang tak bisa dibantah.Sekar yang nyaris pingsan karena teror langsung menurut. Ia berguling ke sisi bagian dalam dipan yang menempel ke dinding papan, menggulung dirinya rapat-rapat di bawah selimut hingga tak terlihat bentuknya.Jantung wanita itu berdebar gila-gilaan, telapak tangannya yang dingin menekan mulutnya sendiri kuat-kuat.Begitu Sekar tak lagi terlihat, Leo melangkah santai menuju pintu. Ia menarik gerendel besi itu dan membukanya.“Maaf, Maya. Pintunya sedikit macet karena engselnya berkarat terkena hujan,” ucap Leo dengan wajah sedatar es, sama sekali tidak menunjukkan jejak kepanikan. Auranya kembali menjadi
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Leo segera menarik tubuh Sekar masuk ke dalam gudang dan menutup pintu kayu itu rapat-rapat. Tangan besarnya dengan cepat menggeser gerendel besi hingga terkunci.Suara rintik hujan yang menimpa atap seng gudang kini menjadi satu-satunya melodi yang menyamarkan deru napas mereka berdua.Di bawah cahaya lampu teplok yang temaram, Leo menatap wanita di pelukannya. Sekar menggigil hebat. Bibirnya yang biasanya merah merona kini pucat dan bergetar, sementara sudut kirinya robek dan meninggalkan jejak darah segar yang mengering di dagu.Selendang dan kain kemben batiknya basah kuyup, menempel ketat menyerupai kulit kedua. Kain basah itu mencetak jelas setiap lekuk tubuh sintal dan bukit kembar Sekar yang naik-turun dengan cepat seiring isak tangisnya yang tertahan."Duduk di dipan," perintah Leo mutlak. Suaranya rendah, memancarkan ketenangan yang anehnya langsung membuat Sekar merasa aman.Sekar menurut. Ia duduk di tepi ranjang kayu darurat itu sambil
Tangan mandor bertubuh gempal itu yang semula mengepal siap memukul, kini perlahan mengendur. Matanya menatap Leo dengan kilat kewaspadaan yang bercampur dengan ketakutan.Leo melangkah maju satu langkah. Sepatunya berderit pelan di atas tanah berkerikil, memangkas jarak di antara mereka. Sebagai seorang ahli bedah, Leo diajarkan untuk selalu mengobservasi pasiennya bahkan sebelum mereka berbaring di ranjang periksa."Mata dengan sklera yang menguning kemerahan, tremor halus di jari tangan kananmu yang berusaha kau sembunyikan, dan..." Mata tajam Leo menyipit, menatap tepat ke area kerah kemeja Suroto yang sedikit terbuka. "...bercak ruam makulopapular kemerahan di area leher bawahmu."Wajah Suroto mendadak pucat. Ia secara refleks menarik kerah kemejanya ke atas untuk menutupi lehernya."K-kau bicara apa, hah?! Jangan sok tahu!" gertak Suroto, tapi suaranya kini bergetar, kehilangan wibawanya.Leo mengukir senyum tipis yang meremehkan. Suaranya direndahkan, hanya cukup untuk didengar
Suasana di dalam kamar itu mendadak membeku. Kata-kata polos Kania bagaikan tongkat baseball yang menghantam kesadaran Maya hingga hancur berkeping-keping. Jantung Maya seolah berhenti berdetak, dan darah di wajahnya surut seketika, menyisakan pucat pasi yang mengerikan.Tangan Kania masih berada di sana, menindih punggung tangan ibunya yang tengah menggenggam erat aset paling berharga milik Leonardo.Dalam kegelapan, Maya bisa merasakan jemari putrinya yang halus mulai bergerak, mencoba mengenali objek keras dan panas yang ada di balik kain celana Leo. Satu gerakan lagi saja, dan rahasia kotor ini akan meledak di depan mata Kania."Ibu? Kok tangan Ibu... keras banget?" cicit Kania lagi, matanya yang bulat mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan, menatap ke arah gundukan di bawah selimut.Maya nyaris pingsan karena malu. Namun, di saat kritis itu, sebuah tangan besar dan hangat mendarat dengan tenang di atas punggung tangan Kania.Itu tangan Leonardo.Meskipun dalam posisi terjepit,
Ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Cahaya remang dari lampu teplok di sudut kamar memancarkan siluet bayangan tiga anak manusia yang berbaring di atas satu ranjang kayu usang.Ranjang itu sebenarnya hanya cukup untuk dua orang wanita dewasa. Namun kini, sesosok pria tinggi tegap dengan aura maskulin yang mendominasi, terbaring kaku di tengah-tengahnya.Leonardo Xaverius menatap langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba dengan napas yang dikontrol sehalus mungkin.Sebagai seorang dokter bedah yang terbiasa menangani pendarahan di meja operasi dalam hitungan detik, menahan ketegangan adalah keahliannya. Namun malam ini, pertahanan rasionalitasnya benar-benar diuji hingga ke batas maksimal.Di sisi kanannya, Kania tertidur sangat pulas. Gadis lugu itu memeluk lengan kanan Leo erat-erat bagaikan seekor koala yang menemukan pohon terkuat di tengah badai. Sesekali, Kania menduselkan wajahnya ke ceruk leher Leo, mengembuskan napas
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu tak ubahnya seperti gerakan slow-motion.Leo hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke samping dengan sangat santai. Ujung golok itu hanya menebas udara kosong, menyisakan angin yang mengacak pelan poni rambut Leo."Terlalu lambat," bisik Leo dingin, tepat di telinga Bahar.Sebelum rentenir itu menyadari serangannya meleset, tangan kanan Leo melesat bagaikan ular berbisa. Dua jarinya yang sekeras besi menekan kuat sebuah titik di pergelangan tangan Bahar.KRAAK!"AARGHHH…!"Bahar menjerit melengking dengan suara yang menyayat hati. Goloknya terlepas dan jatuh berdenting ke lantai. Lengannya seketika terkulai lemas seperti mie rebus.Bukannya melepaskan, Leo malah mencengkeram kerah jaket kulit Bah







