LOGIN141Kancing piyama satin merah itu terlepas satu per satu dari lubangnya. Kain sutra mahal itu meluncur jatuh melewati bahu Laras hingga ke lantai.Leo menarik pergelangan tangan wanita itu tanpa membuang waktu. Pria itu menyeret tubuh Laras menyusuri lorong menuju ruang kerja pribadi Bowo.Pintu kayu jati berpelitur gelap ditendang terbuka. Leo melempar tubuh Laras ke atas meja kerja utama. Tumpukan map jatuh menghantam lantai."Buka kedua kakimu," perintah Leo melonggarkan kerah kemeja linennya.Laras menuruti instruksi itu dengan napas tersengal. Akal sehatnya telah menguap tergantikan keputusasaan untuk sembuh.Jari tangan kanan Leo mematuk lurus menekan simpul saraf sakral di pangkal paha wanita itu. Tekanan presisi tersebut menghantam langsung aliran darah yang tersumbat di panggul bawah Laras."Ah!" Laras memekik tertahan. Punggungnya melengkung ke atas membentuk busur yang tegang.Sensasi panas menyengat membakar jaringan ototnya. Rangsangan ekstrem itu memaksa kelenjar hormon
Sepatu pantofel Leo menapaki teras keramik rumah dinas Koperasi Unit Desa.Jam dinding di dalam ruangan lobi kecamatan baru saja menunjuk angka dua siang.Bowo sedang memimpin rapat tertutup penyaluran pupuk di kantor camat. Pria paruh baya itu tidak akan kembali ke rumah dalam waktu tiga jam ke depan.Leo memutar gagang pintu utama rumah berdinding cat hijau tersebut.Panel kayu jati itu tidak terkunci dari dalam. Pria itu mendorongnya perlahan tanpa menimbulkan bunyi decit engsel sedikit pun.Leo melangkah masuk ke ruang tamu yang luas tanpa mengetuk atau mengucapkan salam.Udara dingin dari mesin pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya. Suara pembawa acara siaran televisi terdengar keras mendominasi ruangan tersebut.Laras duduk bersandar menyilang kaki di atas sofa kulit berwarna hitam.Wanita itu mengenakan piyama satin merah berpotongan rendah hingga sebatas paha.Tangan kirinya memegang sebuah kikir kuku berbahan metal. Matanya fokus memperhatikan layar televisi di depannya
Tarjo memegang pipi kirinya yang memerah. Pria paruh baya itu menatap Kinasih dengan rahang menganga.Puluhan pemuda Desa Seberang menundukkan pandangan. Mereka menjatuhkan celurit ke aspal melihat kepala desa mereka dipermalukan istrinya sendiri."Kau urus surat cerai kita hari ini," putus Kinasih melangkah mundur. Ia berdiri di belakang garis bahu Leo.Tarjo tidak berani membalas tatapan dari sang dokter. Pria tambun itu berbalik dan berlari menuju motornya.Invasi sengketa tanah itu berakhir tanpa satu pun pertumpahan darah membasahi pelataran klinik.Dua minggu berlalu.Mesin traktor diesel menderu membajak tanah merah di lereng utara. Musim tanam teh unggulan telah tiba.Leo duduk memeriksa tumpukan laporan logistik di ruang kerjanya. Kipas angin gantung berputar statis di atas kepalanya."Gudang Koperasi Unit Desa memblokir jatah bibit unggul kita, Tuan," lapor Sekar meletakkan papan jalannya ke meja.Mandor wanita itu menyeka keringat di dahinya menggunakan ujung lengan kemeja
Leo melepaskan cengkeramannya dari rahang bawah Kinasih. Tangan kanan pria itu langsung menyambar pinggang sang wanita.Ia mengangkat tubuh ringkih itu dengan sangat mudah. Kinasih terlempar pelan ke atas meja kayu solid di tengah dapur. Benda-benda perabotan di sekitarnya bergeser menimbulkan bunyi pelan."Diam," perintah Leo menahan kedua bahu Kinasih yang mencoba meronta. "Pergerakan berlebih akan membuat patahan tulang rusukmu menembus paru-parumu."Kinasih menghentikan perlawanannya seketika. Matanya menatap ngeri pada pria berkemeja gelap di atasnya. Napasnya tertahan di kerongkongan melihat ketenangan absolut di wajah Leo.Jari telunjuk dan jari tengah Leo menelusuri garis tulang rusuk Kinasih dari arah luar daster batiknya. Pria itu menekan titik saraf interkostal dengan presisi anatomi tingkat tinggi."Aw!" Kinasih kembali mendesis keras.Suaranya tertahan oleh rasa kebas yang tiba-tiba menyerang otot dadanya."Aku memblokir reseptor rasamu untuk sementara waktu," jelas Leo m
Leo berdiri diam di balik kaca jendela lobi. Pria itu menatap tajam ke arah debu jalanan yang perlahan turun ke atas aspal.Fokus matanya masih merekam jelas memar kebiruan di pergelangan tangan Kinasih yang diseret kasar barusan."Mereka sudah benar-benar pergi, Tuan," lapor Sekar menurunkan tongkat rotannya di sebelah Leo.Mandor wanita itu mengatur napasnya yang sempat memburu akibat ketegangan di pelataran klinik."Perketat penjagaan di area pemandian VIP sore ini juga," instruksi Leo berbalik menghadap asistennya tersebut. "Tarjo nggak punya otak, tapi dia punya jumlah orang yang merepotkan.""Saya akan menyiagakan dua regu pemuda desa di pos depan," patuh Sekar mencatat perintah itu di kepalanya."Apa kita perlu memanggil pihak kepolisian dari kecamatan?" usul Maya melangkah keluar dari balik meja resepsionis.Janda kembang itu memegang segelas air putih hangat untuk Leo. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat melihat kilapan puluhan senjata tajam tadi.Leo mengambil gelas kaca i
Serpihan selongsong peluru emas jatuh berserakan di lantai keramik.Leo menyapu sisa logam itu dengan sepatu pantofelnya. Ia menyerahkan kotak kayu kosong tersebut pada Sekar yang berdiri kaku di ambang pintu."Perketat penjagaan di area pemandian VIP mulai malam ini," instruksi Leo berjalan menuju meja kerjanya."Kita akan melayani tamu dari ibu kota yang mencoba menguji batas kekuasaan medis di sini."Sekar mengangguk patuh lalu segera keluar untuk mengatur jadwal ronda para pemuda desa.Siang harinya, terik matahari membakar aspal di depan gerbang utama puskesmas.Pusat relaksasi air panas eksklusif milik Leo telah beroperasi dua minggu penuh. Tingkat kesuksesannya sangat luar biasa.Tumpukan laporan harian selalu menunjukkan grafik pendapatan yang menembus batas maksimal.Keuntungan besar bukit belerang tersebut menyebar sangat cepat dari mulut ke mulut. Nominal uang fantastis memancing keserakahan lintah darat di sekitar kecamatan.Suara derak mesin puluhan sepeda motor mendadak






