Share

Berikan Tubuhmu!

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-03-09 14:37:01

Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.

Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti ini?

BRAK!

Pintu depan kayu yang rapuh itu akhirnya menyerah. Engselnya jebol, terlepas dari kusennya dengan suara berderak keras.

Tiga orang pria menerobos masuk ke dalam rumah sederhana itu dengan membawa balok kayu. Di posisi terdepan, berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah bopeng dan gigi menghitam karena tembakau.

Pria itu adalah Bahar, lintah darat paling ditakuti di desa ini sekaligus bos dari para preman pasar.

Maya menjerit tertahan. Ia langsung menarik Kania ke belakang punggungnya, melindunginya dengan tubuh gemetar.

"Lama banget kau buka pintu, Janda!" hardik Bahar tanpa basa-basi, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu. "Mana uangnya? Hutang sepuluh juta suamimu yang kabur itu sudah jatuh tempo berbulan-bulan! Malam ini adalah batas terakhirnya!"

"T-tolong, Bang Bahar... beri saya waktu sedikit lagi. Upah dari perkebunan teh belum turun..." suara Maya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Bahar mendengus keras. Matanya yang mesum memindai tubuh sintal Maya dari atas ke bawah, menyadari napas wanita itu masih memburu dan wajahnya memerah ranum.

Bibir Bahar melengkung membentuk senyuman menjijikkan. "Hehehe... Baiklah. Aku kasih kau perpanjangan waktu. Tapi kau tahu aturannya, kan? Kau harus memuaskanku dulu malam ini, Sayang. Tubuhmu ini pasti bisa melunasi bunganya. Hmm… dan anak gadismu itu juga sudah besar rupanya..."

Wajah Maya semakin memucat pasi mendengar ancaman kotor itu.

Namun, sebelum Bahar sempat melangkah maju, sesosok tubuh tegap melangkah keluar dari lorong gelap, menghalangi pandangan Bahar dari Maya dan Kania.

Tatapan mata Leonardo sedingin es abadi. Hawa membunuh menguar pekat dari tubuh sang dokter bedah.

"Singkirkan pandangan kotormu dari mereka," desis Leo dengan suara bariton yang berat dan mengintimidasi.

Bahar dan kedua anak buahnya tersentak kaget melihat ada pria lain di rumah itu. Bahar memicingkan mata, memindai penampilan Leo yang rapi dan elegan. Tawa mengejek langsung meledak dari mulut rentenir itu.

"Hahaha! Siapa kau, hah?! Oh... jadi ini alasanmu lama buka pintu, Maya? Kau sedang melayani bocah kota ingusan ini?" ejek Bahar meludah ke lantai. Ia menodongkan balok kayunya ke wajah Leo. "Woi, pahlawan kesiangan! Hutang janda ini sepuluh juta. Nyawamu saja tidak seharga itu di desa ini. Minggir, atau kuhancurkan kepalamu!"

Leo sama sekali tidak terpancing amarah murahan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan santai menuju tas ranselnya yang tergeletak di dekat sofa.

Ia membuka resleting tas itu. Di bawah cahaya lampu teplok yang remang, tumpukan uang seratus ribuan yang masih terikat segel bank terlihat begitu menggiurkan.

Leo merogoh ke dalam, mengeluarkan segepok uang tebal, dan dengan gerakan kasar...

PRAAK!

Leo melempar segepok uang itu tepat ke wajah Bahar. Uang bernilai sepuluh juta rupiah itu menghantam hidung Bahar sebelum akhirnya berhamburan jatuh ke lantai tanah.

"Itu sepuluh juta," ucap Leo mutlak, menatap Bahar layaknya menatap serangga tak berguna. "Pungut uang receh itu, dan enyah dari pandanganku sekarang juga."

Ekspresi Bahar berubah drastis. Dari yang awalnya meremehkan, kini menjadi syok dan bingung. Matanya terbelalak nyaris keluar dari sarangnya melihat lembaran merah bernilai jutaan itu berserakan di kakinya.

Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sedetik. Mata Bahar menangkap isi tas ransel Leo yang masih terbuka lebar. Masih ada puluhan gepok uang di sana.

Rasa terhina di wajah Bahar seketika tersapu habis oleh keserakahan iblis. Matanya menghijau rakus. Ia menyeringai kejam, menampilkan deretan giginya yang busuk.

"Sepuluh juta? Hahaha… Itu cuma untuk membayar bunga bulan lalu, Bocah bodoh!" raung Bahar memutarbalikkan fakta. "Hutang pokoknya seratus juta! Serahkan tas itu padaku!"

Bahar memberi isyarat kepala. Dua preman bertubuh besar di belakangnya langsung mengayunkan balok kayu ke arah kepala dan lutut Leo secara bersamaan.

"Dokter Leo, awas!" jerit Kania histeris.

Alih-alih menghindar atau menangkis dengan panik, senyum iblis terukir di sudut bibir Leonardo. Sebagai seorang dokter spesialis bedah tingkat atas, ia tahu persis setiap kelemahan fatal di tubuh manusia. Baginya, serangan dua preman amatir ini tak ubahnya seperti gerakan siput yang lambat.

Saat balok kayu itu hampir menghancurkan kepalanya, Leo memiringkan tubuhnya sedikit. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menyatu, melesat bagaikan kilat menyusup ke pertahanan musuh, lalu menotok sebuah simpul saraf tepat di bawah ketiak salah satu preman.

KRAAK!

Hanya dengan satu sentuhan ringan, balok kayu itu terlepas. Preman bertubuh besar itu menjerit melengking, ambruk ke lantai sambil memegangi lengannya yang tiba-tiba mati rasa seolah tulang-tulangnya baru saja dilumatkan.

Melihat anak buahnya tumbang hanya dengan satu jentikan jari dalam hitungan detik, darah Bahar mendidih. Ia mencabut sebilah golok karatan yang terselip di pinggangnya.

"Mati kau, Bajingan!!"

Dengan mata memerah penuh niat membunuh, Bahar melompat maju. Ia mengayunkan golok tajam itu dengan tenaga penuh, membidik tepat ke arah leher Leonardo yang terbuka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Kabin Ambulans Rongsokan

    Suara derik engsel berkarat menggema saat Leo mendorong pelan pintu garasi pool ambulans milik Jono. Udara sebelum fajar terasa dingin namun dipenuhi bau oli dan sisa gas buang kendaraan yang tidak terawat.​Leo melangkah menembus keremangan barisan mobil darurat reyot tanpa memicu alarm keamanan sedikit pun.​Di sudut area perbaikan mesin, Wina terikat di kursi besi dengan noda oli menempel di kemeja putihnya.​Janda tangguh itu menatap tajam tiga algojo bayaran Jono yang berdiri mengelilinginya. Ia tertangkap basah beberapa jam lalu saat menyelinap untuk merampas kunci cadangan armada.​"Tangan yang berani mencuri aset bos kami harus dihancurkan dengan palu ini," ancam algojo pertama mengangkat palu godam.​"Pasien di desaku akan mati jika tidak dijemput pagi ini juga!" bentak Wina mempertahankan niatannya meski terikat.​"Bukan urusan kami jika orang miskin itu tidak bernapas lagi," kekeh algojo kedua mengarahkan senter menyilaukan ke mata Wina.​Leo memangkas jarak dari balik baya

  • Rayuan Desa Wanita   Sirine yang Dibungkam

    Suara decit ban karet beradu dengan aspal kasar menghentikan laju sebuah ambulans secara paksa.​Kendaraan gawat darurat itu tertahan tepat di perbatasan jalur utama menuju distrik selatan. Sirine merah di atap mobil langsung dimatikan dari luar oleh hantaman balok kayu.​Terik matahari siang memanggang aspal jalanan hingga memancarkan uap panas yang menyilaukan pandangan mata.​Lima mobil pikap modifikasi melintang menutup seluruh akses jalan raya utama. Belasan pria berwajah sangar berdiri di depan barikade memegang potongan pipa paralon tebal dan rantai besi berkarat.​Pintu kemudi ambulans ditarik paksa dari luar hingga engsel bajanya berbunyi nyaring memekakkan telinga.​Wina ditarik keluar dari kursi kemudi hingga seragam paramedisnya robek di bagian bahu kanan. Janda tangguh itu meronta menepis cengkeraman tangan kotor preman tersebut dengan sisa tenaganya.​"Pasien balita di dalam sedang kritis dan butuh penanganan bedah segera!" teriak Wina menunjuk bagian belakang ambulansny

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Yayasan Eksploitasi

    ​Leo melepaskan tekanan jarinya dari area ulu hati Karina secara perlahan. Pria itu menahan kedua bahu sang instruktur untuk menstabilkan postur tubuhnya yang melemas kehilangan tenaga.​Karina menarik napas panjang meraup sisa oksigen yang berbau tajam cairan formalin.​"Bongkar lemari ini sekarang juga!" perintah Surya dari luar diiringi suara kokangan senjata api rakitan. "Habisi siapapun yang bersembunyi di dalam sana!"​Leo memutar tubuhnya membelakangi Karina dan mengangkat kaki kanannya ke udara.​Tendangan keras dari sepatu pantofel sang dokter menghantam pintu lemari dari arah dalam. Papan kayu jati tebal itu pecah terbelah dua menghasilkan suara ledakan kayu.​Pintu lemari terlempar ke depan menabrak rahang preman terdepan yang memegang tali rantai anjing.​Pria berjaket kulit itu terpelanting ke belakang menjatuhkan senapan rakitannya ke lantai keramik. Anjing herder itu meronta melepaskan kalungnya dan lari ketakutan keluar dari laboratorium.​Leo melangkah keluar dari tum

  • Rayuan Desa Wanita   Lemari Alat Peraga Anatomi

    Suara angin malam berembus pelan menyapu area asrama akademi keperawatan yang terletak di pinggiran distrik.Gedung tiga lantai itu terlihat gelap menyembunyikan aktivitas eksploitasi tenaga medis di dalamnya.​Leo memotong gembok gerbang belakang asrama menggunakan tang baja tanpa menghasilkan suara bising.Pria itu menyelinap masuk menelusuri koridor lantai dasar menuju ruang penyimpanan dokumen.​Di dalam ruang arsip yang berantakan, Karina duduk terikat di kursi kayu dengan kedua tangan di belakang punggung.​Instruktur kaku itu masih mengenakan seragam kerjanya yang kini berkerut dan kotor oleh debu ruangan.Wajah wanita itu tertunduk menahan rasa perih di sudut bibirnya yang masih membengkak akibat tamparan Surya siang tadi.​Dua penjaga berbadan besar berjaga di depan pintu memegang tongkat pemukul karet.​"Kau terlalu berani berniat melaporkan yayasan ini ke dinas tenaga kerja, Nona Instruktur," ejek penjaga pertama mengayunkan tongkatnya mendekati wajah Karina.​"Ratusan pera

  • Rayuan Desa Wanita   Kontrak Budak Berseragam Putih

    Lorong bangsal rawat inap Rumah Sakit Terpadu terlihat sangat sepi pada pertengahan hari.​Deretan ranjang berlapis seprai putih bersih berjejer rapi di dalam puluhan kamar kaca.​Fasilitas medis tersebut sudah siap beroperasi penuh menerima ratusan pasien dari penjuru desa. Namun, tidak ada satu pun tenaga perawat yang berjaga di pos administrasi maupun ruang tindakan.​Leo melangkah menyusuri koridor rumah sakit memeriksa papan jadwal jaga yang dibiarkan kosong melompong.​"Pendaftaran rekrutmen staf perawat kita diblokir total sejak kemarin sore," lapor Karina berdiri di dekat meja pendaftaran utama.​Kepala Instruktur Akademi Keperawatan itu memegang tumpukan map berkas lamaran dengan jari memutih.​Kemeja kerjanya dikancingkan hingga leher menunjukkan kedisiplinan yang sangat kaku. Rambut hitamnya diikat rapat ke belakang tanpa menyisakan satu helai pun yang berjatuhan.​"Tidak ada satu pun lulusan akademi yang berani menandatangani kontrak kerja dengan rumah sakit ini," lanjut K

  • Rayuan Desa Wanita   Pembuluh Darah yang Robek

    Suara hantaman parang jagal pada pintu baja kabin pembeku berhenti sejenak menyisakan dengung mesin pendingin.​Leo perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Renata yang masih bergetar menahan suhu beku.​"Bongkar engsel pintu ini pakai mesin pemotong baja!" perintah Tono dari luar kabin dengan nada tinggi.​Renata mengatur napasnya meredam sisa lonjakan hormon endorfin. Keringat dingin bercampur embun es membuat seragam koki putihnya menempel ketat di kulit wanita itu.​"Tunggu di sudut ini sampai aku membereskan tengkulak itu," instruksi Leo menatap lurus ke arah pintu baja.​"Mereka membawa parang tajam dan jumlahnya sangat banyak, Dokter," peringat Renata menelan ludah menahan sisa rasa kebas di bibirnya.​"Senjata tajam tidak akan berguna di tangan orang yang salah," balas Leo dengan intonasi sangat datar.​Pria itu memutar tubuhnya dan mengangkat kaki kanannya mengambil ancang-ancang.​Ujung sepatu pantofel sang dokter mendarat telak pada panel kunci mekanik pintu baja dari arah

  • Rayuan Desa Wanita   Satu Kasur Bertiga

    Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter

  • Rayuan Desa Wanita   Ayo Kita Tidur Bertiga

    Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta

  • Rayuan Desa Wanita   Anak dan Ibu Sama-sama Menggoda

    Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu

  • Rayuan Desa Wanita   Terjebak Di Desa

    Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status