LOGINSementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.
Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti ini? BRAK! Pintu depan kayu yang rapuh itu akhirnya menyerah. Engselnya jebol, terlepas dari kusennya dengan suara berderak keras. Tiga orang pria menerobos masuk ke dalam rumah sederhana itu dengan membawa balok kayu. Di posisi terdepan, berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah bopeng dan gigi menghitam karena tembakau. Pria itu adalah Bahar, lintah darat paling ditakuti di desa ini sekaligus bos dari para preman pasar. Maya menjerit tertahan. Ia langsung menarik Kania ke belakang punggungnya, melindunginya dengan tubuh gemetar. "Lama banget kau buka pintu, Janda!" hardik Bahar tanpa basa-basi, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu. "Mana uangnya? Hutang sepuluh juta suamimu yang kabur itu sudah jatuh tempo berbulan-bulan! Malam ini adalah batas terakhirnya!" "T-tolong, Bang Bahar... beri saya waktu sedikit lagi. Upah dari perkebunan teh belum turun..." suara Maya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bahar mendengus keras. Matanya yang mesum memindai tubuh sintal Maya dari atas ke bawah, menyadari napas wanita itu masih memburu dan wajahnya memerah ranum. Bibir Bahar melengkung membentuk senyuman menjijikkan. "Hehehe... Baiklah. Aku kasih kau perpanjangan waktu. Tapi kau tahu aturannya, kan? Kau harus memuaskanku dulu malam ini, Sayang. Tubuhmu ini pasti bisa melunasi bunganya. Hmm… dan anak gadismu itu juga sudah besar rupanya..." Wajah Maya semakin memucat pasi mendengar ancaman kotor itu. Namun, sebelum Bahar sempat melangkah maju, sesosok tubuh tegap melangkah keluar dari lorong gelap, menghalangi pandangan Bahar dari Maya dan Kania. Tatapan mata Leonardo sedingin es abadi. Hawa membunuh menguar pekat dari tubuh sang dokter bedah. "Singkirkan pandangan kotormu dari mereka," desis Leo dengan suara bariton yang berat dan mengintimidasi. Bahar dan kedua anak buahnya tersentak kaget melihat ada pria lain di rumah itu. Bahar memicingkan mata, memindai penampilan Leo yang rapi dan elegan. Tawa mengejek langsung meledak dari mulut rentenir itu. "Hahaha! Siapa kau, hah?! Oh... jadi ini alasanmu lama buka pintu, Maya? Kau sedang melayani bocah kota ingusan ini?" ejek Bahar meludah ke lantai. Ia menodongkan balok kayunya ke wajah Leo. "Woi, pahlawan kesiangan! Hutang janda ini sepuluh juta. Nyawamu saja tidak seharga itu di desa ini. Minggir, atau kuhancurkan kepalamu!" Leo sama sekali tidak terpancing amarah murahan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan santai menuju tas ranselnya yang tergeletak di dekat sofa. Ia membuka resleting tas itu. Di bawah cahaya lampu teplok yang remang, tumpukan uang seratus ribuan yang masih terikat segel bank terlihat begitu menggiurkan. Leo merogoh ke dalam, mengeluarkan segepok uang tebal, dan dengan gerakan kasar... PRAAK! Leo melempar segepok uang itu tepat ke wajah Bahar. Uang bernilai sepuluh juta rupiah itu menghantam hidung Bahar sebelum akhirnya berhamburan jatuh ke lantai tanah. "Itu sepuluh juta," ucap Leo mutlak, menatap Bahar layaknya menatap serangga tak berguna. "Pungut uang receh itu, dan enyah dari pandanganku sekarang juga." Ekspresi Bahar berubah drastis. Dari yang awalnya meremehkan, kini menjadi syok dan bingung. Matanya terbelalak nyaris keluar dari sarangnya melihat lembaran merah bernilai jutaan itu berserakan di kakinya. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sedetik. Mata Bahar menangkap isi tas ransel Leo yang masih terbuka lebar. Masih ada puluhan gepok uang di sana. Rasa terhina di wajah Bahar seketika tersapu habis oleh keserakahan iblis. Matanya menghijau rakus. Ia menyeringai kejam, menampilkan deretan giginya yang busuk. "Sepuluh juta? Hahaha… Itu cuma untuk membayar bunga bulan lalu, Bocah bodoh!" raung Bahar memutarbalikkan fakta. "Hutang pokoknya seratus juta! Serahkan tas itu padaku!" Bahar memberi isyarat kepala. Dua preman bertubuh besar di belakangnya langsung mengayunkan balok kayu ke arah kepala dan lutut Leo secara bersamaan. "Dokter Leo, awas!" jerit Kania histeris. Alih-alih menghindar atau menangkis dengan panik, senyum iblis terukir di sudut bibir Leonardo. Sebagai seorang dokter spesialis bedah tingkat atas, ia tahu persis setiap kelemahan fatal di tubuh manusia. Baginya, serangan dua preman amatir ini tak ubahnya seperti gerakan siput yang lambat. Saat balok kayu itu hampir menghancurkan kepalanya, Leo memiringkan tubuhnya sedikit. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menyatu, melesat bagaikan kilat menyusup ke pertahanan musuh, lalu menotok sebuah simpul saraf tepat di bawah ketiak salah satu preman. KRAAK! Hanya dengan satu sentuhan ringan, balok kayu itu terlepas. Preman bertubuh besar itu menjerit melengking, ambruk ke lantai sambil memegangi lengannya yang tiba-tiba mati rasa seolah tulang-tulangnya baru saja dilumatkan. Melihat anak buahnya tumbang hanya dengan satu jentikan jari dalam hitungan detik, darah Bahar mendidih. Ia mencabut sebilah golok karatan yang terselip di pinggangnya. "Mati kau, Bajingan!!" Dengan mata memerah penuh niat membunuh, Bahar melompat maju. Ia mengayunkan golok tajam itu dengan tenaga penuh, membidik tepat ke arah leher Leonardo yang terbuka.Uap putih tebal mengepul dari permukaan kolam belerang panas menutupi area Resor Pemandian VIP desa teh.Lampu taman bernuansa temaram menyinari deretan pagar bambu yang memisahkan area privat tersebut dari lingkungan luar. Tidak ada satu pun pasien, warga desa, atau staf operasional yang diizinkan melintasi batas gerbang kayu pada malam itu.Leo menyandarkan bahu dan kepalanya pada tepian batu kali yang membentuk formasi kolam pemandian tersebut.Pria itu merendam tubuhnya sebatas dada menikmati suhu air empat puluh derajat Celcius yang merelaksasi ototnya. Tidak ada lagi kemeja linen atau jas medis yang menempel pada tubuh kokohnya malam ini.Enam wanita melangkah menuruni anak tangga batu menuju area kolam utama tanpa keraguan sedikit pun.Maya berjalan di posisi paling depan membawa sebuah nampan kayu berisi cangkir teh herbal panas dan handuk bersih. Janda kembang itu telah melucuti blus kerjanya menyisakan balutan kain sutra tipis yang melekat pada kulitnya.Di sebelah kir
Tumpukan map kulit tebal mendarat di atas permukaan meja bundar berbahan kayu jati.Suara benturan tumpukan dokumen itu menggema di dalam ruang rapat utama Rumah Sakit Terpadu. Cahaya matahari pagi menembus celah kerai jendela menyinari debu yang beterbangan di udara.Leo menarik kursi kulit di ujung meja dan duduk menyandarkan punggungnya secara perlahan.Kemeja linen pria itu bergerak menyesuaikan postur tubuhnya tanpa menyisakan satu pun lipatan kusut. Pria itu menyilangkan kaki kanannya dan menyesap kopi hitam dari cangkir porselen di tangan kirinya."Duduk di kursimu masing-masing," perintah Leo menatap deretan kursi baja yang mengelilingi meja.Sembilan wanita berseragam kerja menempati posisi mereka tanpa menimbulkan suara gesekan kursi yang berisik. Nida, Ratih, Ayu, Sekar, Karina, Sisca, Rika, Wina, dan Laras duduk tegak merapatkan lutut mereka.Mereka meletakkan buku catatan dan pena logam di atas meja secara serentak."Seluruh sertifikat lahan dan dokumen legal perpi
Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras daun pintu kayu ek gudang anggur dari arah dalam. Engsel baja tebal itu patah seketika menciptakan bunyi dentuman keras yang menggema memekakkan telinga di ruang bawah tanah.Pintu gudang terlempar terbuka menabrak rak penyimpanan hingga puluhan botol kaca mahal jatuh berserakan menghantam lantai.Leo melangkah keluar menembus udara ruangan yang dipenuhi bau alkohol menyengat hidung. Kemeja linennya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Taipan Harun terkesiap memundurkan langkah kakinya merespons suara benturan kayu tersebut."Mati kau, Dokter kampungan!" bentak Harun mengangkat laras pistol revolvernya lurus ke arah dada Leo.Pria tua itu menarik pelatuk senjatanya tanpa keraguan sedikit pun di kedua matanya. Suara letusan mesiu memantul di dinding beton ruang bawah tanah tersebut menghasilkan gema yang sangat tajam.Leo sama sekali tidak memundurkan pijakan kakinya untuk menghindari terjangan proyektil peluru mematikan itu. Pria itu me
Sepatu pantofel Leo menginjak rumput sintetis di halaman belakang kediaman mewah Harun pada larut malam.Lampu taman memancarkan cahaya kekuningan menyinari dinding marmer mansion di lereng bukit tersebut. Pria itu menyusup melewati sensor inframerah tanpa memicu bunyi peringatan pada sistem keamanan.Leo membuka pintu kaca geser dan melangkah masuk ke ruang keluarga utama bangunan itu.Di dekat perapian elektrik, Kirana duduk bersimpuh di atas karpet bulu dengan rambut berantakan. Istri muda konglomerat itu menangis sesenggukan memegangi bahu kirinya yang memar akibat siksaan fisik.Dua pengawal pribadi berseragam loreng berdiri mengapit wanita itu membawa tongkat rotan tebal."Tuan Harun memerintahkan kami untuk mendisiplinkanmu malam ini, Nyonya Kirana," ucap pengawal pertama mengetukkan rotan ke telapak tangannya."Aku tidak melakukan kesalahan apa pun pada suamiku!" tolak Kirana dengan suara bergetar menahan tangis."Kau menatap dokter kampung itu terlalu lama siang tadi,"
Suara putaran baling-baling helikopter menghantam atap Rumah Sakit Terpadu pada Selasa siang.Angin kencang dari baling-baling ganda itu menerbangkan debu dan kerikil tajam di pelataran parkir. Helikopter bercat hitam legam itu mendarat paksa tepat di tengah akses jalan utama desa teh.Tiga unit buldoser beroda rantai baja melaju beriringan merangsek masuk ke halaman. Mesin alat berat itu meruntuhkan pagar beton fasilitas medis dalam satu kali hantaman keras.Potongan beton dan kawat berduri berserakan di atas jalan aspal yang baru saja diaspal ulang bulan lalu.Puluhan pria berpakaian seragam paramiliter loreng melompat turun dari sisi kiri dan kanan badan helikopter. Mereka membawa senapan laras panjang dan menyebar cepat memblokir seluruh titik keluar masuk desa."Kosongkan bangunan ini dalam sepuluh menit atau buldoser ini akan meratakan kalian semua!" teriak seorang komandan paramiliter melalui pelantang suara.Suara peringatan itu memantul di dinding kaca lobi rumah sakit
Sepatu pantofel Leo mendarat tanpa suara di atas karpet tebal koridor utama kantor dewan distrik.Cahaya remang dari lampu pendar darurat menjadi satu-satunya sumber penerangan sebelum fajar tiba. Pria itu menyusup melewati sistem keamanan berlapis gedung pemerintahan tersebut tanpa memicu alarm.Di ruang arsip lantai dasar, Sintia berlutut di depan lemari baja yang terbuka lebar.Sekretaris dewan itu membongkar tumpukan map kuning dengan tangan gemetar. Ia mencari bukti catatan aliran dana suap yang mengalir ke rekening pribadi Baskoro.Tiga ajudan berbadan gempal berdiri di ambang pintu memegang tongkat kejut listrik."Kau menggali kuburanmu sendiri dengan mencari dokumen itu, Sintia," ucap ajudan pertama melangkah maju ke dalam ruangan."Bos Baskoro sudah menduga kau akan mengkhianatinya setelah penyegelan kemarin," tambah ajudan kedua menyalakan tongkat setrumnya hingga memercikkan bunga api.Sintia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak rak besi arsip. Wanita ber
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi







