Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Hancurnya Gengsi

Share

Hancurnya Gengsi

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-24 11:00:49

Leo mencengkeram pergelangan tangan Bella dengan jepitan dua jari. Kulit aktris itu terasa sangat dingin akibat pengaruh obat penenang.

"Lepaskan tangan kotor desamu ini!" teriak Bella mencoba menyentak lengannya.

Tenaga Leo layaknya jepitan besi. Jari-jarinya tidak bergeser satu milimeter pun dari jalur nadi utama sang diva.

"Denyut jantungmu tidak beraturan, Nona Bella," ucap Leo datar. "Kau sedang mengalami gejala sakau zat aktif."

Bella membelalakkan ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Sengketa Mata Air

    Leo memutar pena peraknya di atas meja kerja mahoni. Asap tipis mengepul lambat dari cangkir kopi hitam di sisi kanannya.Suara deru mesin berkapasitas besar bergemuruh di pelataran Puskesmas Elite. Sebuah SUV putih mengkilap berhenti tepat di dekat gerbang masuk.Kania mengintip dari balik tirai jendela ruang VIP. Gadis desa itu mengerutkan keningnya melihat logo perusahaan properti menempel di pintu mobil tersebut."Ada tamu dari kota kabupaten, Tuan," lapor Kania menoleh ke arah Leo. "Mereka tidak masuk ke lobi, tapi langsung berjalan menuju jalur bukit belakang."Leo berdiri dan mengambil jas dokter putihnya dari sandaran kursi. Pria itu melangkah keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Sepatu bot kulit Leo menapaki jalan setapak berbatu menuju area pemandian VIP. Bau belerang murni tercium semakin pekat di udara pagi.Seorang wanita berpenampilan modis berdiri berkacak pinggang di depan pagar anyaman bambu. Ia mengenakan kemeja sutra putih ketat dan rok pensil hitam ya

  • Rayuan Desa Wanita   Beri Pelajaran Kepada Paparazi

    Ujung sepatu kulit Leo melesat menendang benda plastik hitam itu. Tutup lensa tersebut terpental keras menabrak dahi wartawan yang sedang menunduk."Aduh!" keluh pria berbaju kotak-kotak itu menarik kepalanya ke belakang.Tangannya refleks memegangi dahi yang memerah akibat benturan tajam tersebut.Leo merapatkan kedua lututnya, menutupi celah kolong meja mahoni sepenuhnya. Pria itu menatap tajam para penyusup di ruangannya tanpa rasa takut."Jaga etika Anda di ruang kerja medis saya," desis Leo datar.Wartawan itu mengusap dahinya sambil memungut tutup lensa yang tergeletak di dekat kaki kursi. Ia kembali duduk dengan raut wajah sangat kesal."Anda menyembunyikan Nona Bella di fasilitas ini," tuduh wartawan itu menaikkan volume suaranya. "Kami akan membongkar semua kebohongan Anda ke publik Megantara."Leo meraih telepon genggam hitam dari atas meja kaca. Ia menekan layar sentuh itu beberapa kali mencari kontak.Bella menahan napas di bawah meja. Jantungnya berpacu liar menunggu nasi

  • Rayuan Desa Wanita   Wawancara di Atas Meja Kerja

    Leo menepis lensa kamera itu menggunakan punggung tangannya. Bunyi benturan plastik keras menggema nyaring di lorong bangsal timur."Jangan mengganggu staf kebersihanku," tegur Leo menatap tajam wartawan berbaju kotak-kotak itu. "Jika kalian butuh berita, masuk ke ruang kerjaku sekarang."Pria berbaju kotak-kotak itu menurunkan kameranya dengan ragu. Ia memberi kode pada ketiga rekannya untuk mengikuti langkah sang dokter desa."Kau, bersihkan tumpahan kopi di bawah meja kerjaku," perintah Leo melirik Bella.Bella mengangguk kaku menutupi ketakutannya. Wanita itu menyeret tongkat pelnya menyusul langkah mereka dari belakang menuju ruang VIP.Ruang kerja Leo cukup luas menampung lima orang dewasa. Meja kayu mahoni besar mendominasi bagian tengah ruangan tersebut.Kania melangkah masuk membawa nampan berisi botol air mineral. Gadis desa itu meletakkannya di atas meja kaca kecil."Duduklah di sana," tunjuk Leo pada sofa panjang kulit di seberang mejanya.Bella merangkak pelan masuk ke ko

  • Rayuan Desa Wanita   Paparazi Bayaran

    Ujung pena perak Leo mengetuk meja kaca sebanyak tiga kali. Pria itu menandatangani laporan pengeluaran obat bius untuk bulan ini."Ada tiga mobil van hitam parkir sembarangan di depan gerbang puskesmas," lapor Maya melangkah masuk membawa cangkir kopi hitam.Wanita itu meletakkan cangkir keramik tersebut tepat di samping siku kanan Leo."Plat nomor mereka dari ibu kota Megantara," tambah Maya menatap tajam ke arah jendela.Leo meletakkan penanya perlahan. Tangan kanannya mengangkat cangkir kopi itu.Pria itu menyesap cairan pekat tersebut dalam satu tarikan napas panjang."Mereka membawa kamera televisi dan peralatan siaran langsung," sahut Kania berlari masuk ke ruang kerja VIP dengan napas memburu.Gadis desa itu menunjuk ke arah lobi depan menggunakan ibu jarinya."Sekelompok pria berompi jurnalis memaksa masuk menanyakan data pasien rawat inap kita."Manajer Bella berdiri kaku di sudut ruangan. Wajah pria kurus itu memucat pasi melihat kekacauan di luar."Mereka pasti melacak sin

  • Rayuan Desa Wanita   Ranjang Medis Sang Artis

    Gagang pintu besi berderit nyaring saat ditekan paksa ke bawah. Leo menarik telapak tangannya dari paha dalam Bella dengan gerakan kilat. "Nyonya Bella, Anda baik-baik saja di dalam?" panggil manajer dari luar ruangan. Suara ketukan jari menabrak keras daun pintu kayu. Bella membelalakkan matanya menatap pintu. Ia mencengkeram lengan kemeja hitam Leo dengan tangan gemetar. "Jawab panggilannya dengan nada tenang," perintah Leo dengan suara nyaris berbisik. Pria itu menyisipkan jarum ketiga tepat di titik saraf pinggang sang diva. Sengatan akupunktur itu merambat langsung ke sumsum tulang belakang Bella. Tubuh wanita itu menegang kaku seketika. "S-saya baik-baik saja!" balas Bella dengan suara tertahan. Ia membenamkan separuh wajahnya ke bantal putih. "Kenapa pintunya dikunci dari dalam? Tolong buka pintunya, Nyonya," desak sang manajer. "Dua pengawal ini harus memastikan keamanan Anda."

  • Rayuan Desa Wanita   Hancurnya Gengsi

    Leo mencengkeram pergelangan tangan Bella dengan jepitan dua jari. Kulit aktris itu terasa sangat dingin akibat pengaruh obat penenang."Lepaskan tangan kotor desamu ini!" teriak Bella mencoba menyentak lengannya.Tenaga Leo layaknya jepitan besi. Jari-jarinya tidak bergeser satu milimeter pun dari jalur nadi utama sang diva."Denyut jantungmu tidak beraturan, Nona Bella," ucap Leo datar. "Kau sedang mengalami gejala sakau zat aktif."Bella membelalakkan matanya di balik kacamata hitam yang miring. Ia mencoba memukul dada Leo menggunakan tangan kiri bebas.Leo menepis pukulan itu dengan punggung tangan kiri secara santai."Jangan bertingkah gila di puskesmas ini," tekan Leo memiringkan wajah Bella ke arah cahaya lampu neon."Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkan klinik ini dalam satu panggilan telepon!" ancam Bella bernada tinggi."Aku tahu kau mengonsumsi pil penenang sintetis dosis tinggi selama tig

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status