MasukUjung pena tinta hitam itu bergetar hebat di atas kertas bermaterai.Tono menekan ujung penanya, meninggalkan coretan tanda tangan yang tidak beraturan.Darah kotor menetes dari dagu pria paruh baya itu secara terus-menerus.Noda merah menetes membasahi bagian bawah dokumen pengalihan aset secara permanen.Leo menarik kertas itu dari bawah tangan Tono yang mulai melemas tak berdaya."Kau sudah menepati bagian kesepakatanmu dengan sangat baik," ucap Leo melipat dokumen tersebut."Tolong aku, Dokter. Napasku mau putus," mohon Tono tersengal-sengal menahan perih."Aku selalu menepati janji pada rekan bisnis baruku," tanggap Leo.Tangan kanan Leo mengeluarkan sebatang jarum perak dari kotak medis di sakunya.Dia menusukkan jarum itu menembus titik meridian paru-paru Tono dalam satu gerakan cepat.Tono tersentak keras, meraup udara dengan rakus ke dalam paru-parunya yang tersumbat.Rasa sakit di dadanya berkurang drastis, memberikan perpanjangan waktu sementara bagi organ vitalnya.Suar
Lengan pengeruk ekskavator itu meluncur turun mengincar pilar penyangga atap gudang seng.Kecepatan ayunannya menciptakan embusan angin yang meniup debu kapur di lantai beton.Leo menarik sebilah pisau bedah ortopedi dari saku dada kemejanya.Baja tebal berkualitas tinggi itu memantulkan kilat cahaya lampu sorot halogen.Otot lengan kanan Leo berkontraksi maksimal dalam hitungan sepersekian detik.Dia melempar pisau bedah itu dengan presisi mematikan tepat ke arah pangkal persendian ekskavator.Bilah baja setajam silet itu menancap dalam menembus katup karet selang hidrolik utama mesin.Semburan cairan oli hidrolik bertekanan tinggi meledak keluar seperti air mancur hitam pekat.Tekanan sistem mekanik mesin pengeruk itu anjlok seketika.Lengan besi seberat tonan itu kehilangan tenaga penopangnya di pertengahan udara.Logam raksasa itu jatuh menghantam lantai beton tepat di depan pintu masuk gudang dengan suara dentuman memekakkan telinga.Puing-puing lantai beton hancur berhamburan,
Langkah sepatu Leo bergema di lantai beton gudang alat berat yang kotor tersebut.Dia tidak menghentikan langkahnya melihat formasi lima preman bersenjata tongkat bisbol.Tatapan matanya hanya tertuju pada rantai baja yang melilit pergelangan kaki Jaya."Berhenti di sana, Dokter Sombong!" bentak preman gempal berbekas luka bakar di leher.Pria itu mengangkat tongkat bisbol kayunya setinggi bahu."Satu langkah lagi, aku akan mematahkan tulang rusuk supirmu menjadi serpihan."Leo mengabaikan ancaman murahan tersebut.Ujung jarinya menekan panel kontrol hidrolik darurat di sisi badan ekskavator.Tuas pengeruk besi itu bergerak turun perlahan hingga menyentuh lantai beton.Tubuh Jaya yang tergantung terbalik mendarat kasar menimbulkan erangan parau dari bibirnya.Leo berjongkok membuka lilitan rantai baja yang mengunci kaki pria kurus itu."D-dokter Leo," rintih Jaya dengan mata setengah terbuka, menahan rasa sakit luar biasa."Mereka... mereka menjebakku di tikungan jurang.""Simpan
Seragam hijau Nida merosot jatuh ke atas lantai ubin yang basah oleh uap autoklaf.Permukaan kulit punggungnya terekspos langsung menyentuh rak stainless steel yang dingin.Nida menggigit telapak tangannya sendiri menahan suara guncangan dadanya."Katakan pada pasien, itu darah kambing dari pasar," perintah Leo dengan suara bariton menembus pelat pintu besi."Baik, Dokter Leo. Saya akan urus kekacauan di depan," balas Ayu terdengar menjauh.Langkah sepatu pantofel bidan itu memudar tertelan keributan ruang tunggu.Leo menatap bahu Nida yang bergetar pelan.Tangannya merapikan kembali pakaian dalam wanita itu dengan gerakan efisien."Pakai kembali seragammu," instruksi Leo menarik resleting punggung Nida ke atas."Tetap di ruangan ini sampai aku kembali membawa suamimu."Nida mengangguk cepat sambil mengancingkan kerah seragamnya dengan jemari gemetar."Jangan lakukan hal bodoh yang membahayakan nyawanya, Dokter," bisik Nida tertahan."Aku tidak pernah bertaruh untuk hal yang tidak pas
Lampu neon di sepanjang lorong Puskesmas Elite berkedip menyala secara otomatis.Cahaya putihnya menyorot halaman depan aspal yang mulai digelayuti kegelapan malam.Sebuah mobil pikap kabin tunggal tanpa plat nomor melaju kencang menerobos gerbang besi yang terbuka.Mesin kendaraan bertenaga besar itu menderu kasar memecah rutinitas petang warga desa.Kaca samping sisi penumpang terbuka setengah menampilkan siluet tangan bertato.Sebuah benda bulat terbungkus karung goni kotor terlempar dari dalam kabin mobil.Benda itu menghantam lantai keramik teras dengan suara debum yang berat.Pikap tersebut langsung memutar kemudi secara paksa menuju jalan keluar.Ban karet kasarnya berdecit bergesekan dengan aspal meninggalkan jejak hitam pekat sebelum menghilang ke arah jalan provinsi.Mobil dobel kabin hitam milik Leo mengerem tajam tepat di belakang jejak ban yang tertinggal.Leo menendang pintu kemudi hingga terbuka dan melangkah turun.Sepatu pantofelnya menapak lantai teras mendekati karu
Pita kuning garis polisi membentang membelah aspal jalan provinsi yang berdebu.Sepatu pantofel Leo menginjak rerumputan basah di tepi tebing curam.Matanya menatap lurus ke dasar jurang sedalam tiga puluh meter di bawahnya."Ruang kemudi hancur total tergencet batang pohon pinus," lapor Kepala Polisi Perbatasan berdiri di samping Leo.Pria berseragam cokelat itu menunjuk bangkai truk boks berlogo logistik herbal desa yang ringsek."Kami menduga pengemudimu kehilangan kendali akibat rem blong."Leo menyalakan senter taktis dari saku celana kargonya.Sorot lampu menembus kegelapan dasar tebing yang tertutup bayangan rimbun pepohonan."Di mana jasad pengemudiku?" tanya Leo datar."Arus sungai di bawah sana sangat deras," jelas sang polisi."Anggota kami meyakini tubuh Jaya terlempar dari kaca dan terseret arus."Leo mematikan senternya dan menyarungkan kembali benda itu."Kesimpulan yang cacat logika," tanggap Leo melangkah melewati pita kuning."Tunggu, Dokter Leo!" cegah polisi itu me
Malam semakin larut menyelimuti desa kebun teh. Hujan rintik-rintik yang turun sejak sore tadi kini berubah menjadi gerimis tipis. Leonardo Xaverius bangkit perlahan dari atas balai-balai bambunya, memastikan Kania dan Maya sudah tertidur pulas.‘Tidurlah yang nyenyak, wanita-wanitaku,’batin Leo sa
Suara langkah kaki Maya terhenti tepat di depan pintu gudang yang engselnya sudah rusak akibat tendangan Leo tadi."Kania? Dokter Leo? Kalian di dalam?" panggil Maya lagi. Suaranya terdengar cemas.Di atas dipan, Kania membeku. Tubuhnya yang polos dan masih berdenyut nikmat tiba-tiba diserang rasa
Bau bensin mulai menguar, menyusup lewat celah dinding kayu gudang yang lapuk. Di luar sana, Bahar, Suroto, dan belasan preman bayaran sudah bersiap menyalakan obor.Mereka pikir kegelapan malam akan menjadi sekutu mereka untuk membakar sang dokter hidup-hidup.Di dalam gudang, mata bulat Kania mem
Kekalahan telak di halaman rumah Maya pagi itu menjadi tamparan paling memalukan bagi Bahar seumur hidupnya.Uang seratus juta memang kini ada di tangannya, tapi harga dirinya sebagai penguasa gelap desa telah hancur lebur diinjak-injak oleh pemuda kota itu.Di sebuah gubuk reyot di pinggir perkebu







