Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Titik Buta Sang Penjaga

Share

Titik Buta Sang Penjaga

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-07-05 11:59:49

Seragam hijau Nida merosot jatuh ke atas lantai ubin yang basah oleh uap autoklaf.

Permukaan kulit punggungnya terekspos langsung menyentuh rak stainless steel yang dingin.

Nida menggigit telapak tangannya sendiri menahan suara guncangan dadanya.

"Katakan pada pasien, itu darah kambing dari pasar," perintah Leo dengan suara bariton menembus pelat pintu besi.

"Baik, Dokter Leo. Saya akan urus kekacauan di depan," balas Ayu terdengar menjauh.

Langkah sepatu pantofel bidan itu memudar tertelan ker
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Kontrak Budak Berseragam Putih

    Lorong bangsal rawat inap Rumah Sakit Terpadu terlihat sangat sepi pada pertengahan hari.​Deretan ranjang berlapis seprai putih bersih berjejer rapi di dalam puluhan kamar kaca.​Fasilitas medis tersebut sudah siap beroperasi penuh menerima ratusan pasien dari penjuru desa. Namun, tidak ada satu pun tenaga perawat yang berjaga di pos administrasi maupun ruang tindakan.​Leo melangkah menyusuri koridor rumah sakit memeriksa papan jadwal jaga yang dibiarkan kosong melompong.​"Pendaftaran rekrutmen staf perawat kita diblokir total sejak kemarin sore," lapor Karina berdiri di dekat meja pendaftaran utama.​Kepala Instruktur Akademi Keperawatan itu memegang tumpukan map berkas lamaran dengan jari memutih.​Kemeja kerjanya dikancingkan hingga leher menunjukkan kedisiplinan yang sangat kaku. Rambut hitamnya diikat rapat ke belakang tanpa menyisakan satu helai pun yang berjatuhan.​"Tidak ada satu pun lulusan akademi yang berani menandatangani kontrak kerja dengan rumah sakit ini," lanjut K

  • Rayuan Desa Wanita   Pembuluh Darah yang Robek

    Suara hantaman parang jagal pada pintu baja kabin pembeku berhenti sejenak menyisakan dengung mesin pendingin.​Leo perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Renata yang masih bergetar menahan suhu beku.​"Bongkar engsel pintu ini pakai mesin pemotong baja!" perintah Tono dari luar kabin dengan nada tinggi.​Renata mengatur napasnya meredam sisa lonjakan hormon endorfin. Keringat dingin bercampur embun es membuat seragam koki putihnya menempel ketat di kulit wanita itu.​"Tunggu di sudut ini sampai aku membereskan tengkulak itu," instruksi Leo menatap lurus ke arah pintu baja.​"Mereka membawa parang tajam dan jumlahnya sangat banyak, Dokter," peringat Renata menelan ludah menahan sisa rasa kebas di bibirnya.​"Senjata tajam tidak akan berguna di tangan orang yang salah," balas Leo dengan intonasi sangat datar.​Pria itu memutar tubuhnya dan mengangkat kaki kanannya mengambil ancang-ancang.​Ujung sepatu pantofel sang dokter mendarat telak pada panel kunci mekanik pintu baja dari arah

  • Rayuan Desa Wanita   Kabin Pembeku Daging

    Suara pisau jagal yang menghantam telenan kayu memecah keheningan rumah pemotongan hewan pada waktu subuh. Bau darah mentah bercampur bahan kimia pengawet mendominasi udara di area pabrik yang luas tersebut.​Leo melangkah melewati pintu gulung baja yang setengah terbuka tanpa menimbulkan suara pada sepatu pantofelnya. Pria itu menyusup masuk menelusuri lorong yang diapit oleh kait-kait besi pemotong daging.​Renata berlutut di tengah area pemotongan dengan kedua tangan terikat ke belakang. Koki kepala itu masih mengenakan seragam putihnya yang kini kotor oleh noda darah dan lendir lantai pabrik.​Tiga algojo bertubuh kekar mengelilingi Renata sambil memegang parang jagal berukuran besar.​"Serahkan ponsel yang kau gunakan untuk merekam kegiatan kami atau jari-jarimu akan putus!" ancam algojo pertama menarik rambut Renata secara kasar.​"Aktivitas oplosan formalin kalian akan segera diketahui dinas kesehatan kota," tolak Renata menahan rasa sakit di kulit kepalanya dengan gigi gemeret

  • Rayuan Desa Wanita   Daging Busuk di Dapur Sentral

    Suara debuk keras terdengar saat potongan daging sapi seberat lima kilogram menghantam meja ubin baja antikarat.​Cairan berwarna merah kehitaman menetes dari serat daging tersebut menodai permukaan meja kerja yang steril.​Aroma bahan kimia formalin seketika mengalahkan bau kaldu sapi dari panci rebusan di dapur sentral Puskesmas Elite pada pagi hari.​Persiapan pembukaan bangsal rawat inap menuntut standar kebersihan pangan yang sangat tinggi untuk asupan gizi para pasien. Dapur sentral ini merupakan jantung utama pemulihan fisik melalui asupan nutrisi berkualitas.​Renata menusukkan garpu panjang ke bagian tengah potongan daging itu dan menariknya paksa.Koki kepala wanita berseragam putih itu menutup hidungnya menahan bau busuk yang menyengat saraf penciumannya.​Serat daging itu terlepas dengan sangat mudah menandakan proses pembusukan yang sudah terjadi berhari-hari.​"Daging ini sudah membusuk sejak tiga hari lalu dan kalian merendamnya dengan pengawet mayat," tegur Renata mele

  • Rayuan Desa Wanita   Koma Diabetik Sang Mafia

    Suara derap sepatu bot preman menjauh dari area dinding belakang tungku.Suhu panas menyengat dari balik lapisan baja mesin peleburan itu mendominasi celah sempit tempat mereka bersembunyi.​Leo perlahan menarik tangannya dari area ulu hati Tania mengakhiri manipulasi saraf tersebut.Pria itu memegang kedua bahu sang arsitek untuk menstabilkan postur tubuhnya yang masih lemas.​Tania mengatur napasnya yang memburu menahan sisa-sisa lonjakan hormon endorfin. Keringat membasahi dahi dan leher wanita itu menembus kerah kemeja flanelnya.​"Tetap di sini sampai aku membuka jalur keluar," instruksi Leo melepaskan pelukan sang arsitek.​Leo membalikkan badannya menghadap celah lorong yang terhalang tumpukan drum oli kosong. Kaki kanannya terangkat mendaratkan tendangan keras pada barisan drum logam tersebut.​Drum-drum kosong itu terlempar ke depan menabrak dua algojo patroli hingga mereka terjungkal ke lantai beton.​Suara benturan logam memancing perhatian seluruh preman di area gudang pe

  • Rayuan Desa Wanita   Tungku Peleburan Panas

    Suara desis mesin pendingin beradu dengan deru api dari dalam gudang peleburan baja utama distrik di tengah malam. Asap kelabu pekat membumbung dari cerobong asap raksasa menyamarkan langit gelap.​Leo memotong pagar kawat berduri di bagian belakang pabrik menggunakan tang baja kecil.Pria itu menyelinap masuk menembus area tumpukan besi tua tanpa memicu sensor gerak yang terpasang di dinding.​Di sudut ruang administrasi yang berantakan, Tania duduk terikat di kursi besi dengan kedua tangan di belakang punggung.​Arsitek interior itu masih mengenakan kemeja flanelnya yang kini kotor oleh debu karbon. Wajahnya menunduk menahan rasa sakit dari tamparan siang tadi yang masih menyisakan memar kemerahan.​Dua penjaga berbadan besar berdiri di depan Tania memegang alat pemotong logam bertenaga listrik.​"Tandatangani laporan kelayakan material ini atau jari manismu akan terpotong malam ini juga," ancam penjaga pertama menghidupkan mesin pemotong itu hingga mendesing tajam.​"Baja rongsokan

  • Rayuan Desa Wanita   Satu Kasur Bertiga

    Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter

  • Rayuan Desa Wanita   Ayo Kita Tidur Bertiga

    Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta

  • Rayuan Desa Wanita   Berikan Tubuhmu!

    Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in

  • Rayuan Desa Wanita   Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

    Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status