LOGINGedoran keras kembali menghantam daun pintu kayu. Kania memejamkan matanya rapat-rapat menahan rasa panik yang merayap naik ke dadanya."Minggir, Nyonya Nadia. Biar saya buka pakai kunci cadangan," suara Bidan Ayu terdengar jelas dari lorong luar.Kania menahan napasnya seketika. Tangan gadis itu mencengkeram kerah kemeja hitam Leo dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih."Mereka akan masuk," bisik Kania gemetar. Mata bulatnya menatap Leo dengan penuh ketakutan.Leo tidak menjawab kepanikan asistennya. Ia menarik pinggul Kania dengan satu entakan kuat ke arah tubuhnya.Pria itu menyeret Kania mundur menuju sudut paling gelap di ujung lorong rak. Area itu tertutup rapat oleh tumpukan kardus botol infus usang setinggi dada orang dewasa.Tubuh Kania kembali terhimpit di antara dinding beton dingin dan dada bidang Leo. Pria itu mengunci pergerakannya sepenuhnya tanpa sisa ruang gerak.Bunyi putaran kunci logam terdengar nyaring. Pintu gudang farmasi terbuka lebar menabrak dinding p
Leo meletakkan pena besinya di atas meja kerja yang bersih. Istirahat siang staf puskesmas baru saja dimulai."Jadwal Nadia diundur ke sesi sore," ucap Leo melirik buku tamu.Kania berdiri di ambang pintu ruang konsultasi. Ia menatap tajam buku tamu yang terbuka."Biar Ibu Maya saja yang mengatur jadwal pemeriksaan wanita angkuh itu," ketus Kania membalikkan badan cepat.Langkah sepatu karet Kania menghentak dengan sangat kasar melintasi lantai lobi. Ia berjalan lurus dengan cepat menuju area belakang puskesmas.Leo mengernyitkan dahinya melihat tingkah asistennya. Ia segera bangkit dari kursi putarnya."Kania," panggil Leo tegas.Gadis itu mengabaikan panggilan tersebut. Ia mendorong pintu kayu Gudang Farmasi dan masuk.Pintu gudang farmasi itu tertutup rapat dengan bunyi bantingan yang sangat keras.Leo menyusul asistennya dengan santai. Lorong sepi karena perawat sedang di kantin.Tangan kanan Leo memutar perlahan gagang pintu. Ruangan farmasi terasa sangat dingin.Rak baja besar b
Jari telunjuk Nadia menempel pada tepian kayu rak arsip. Leo menggeser posisinya melindungi tubuh Maya di balik punggungnya.Tiba-tiba, suara dering telepon seluler memecah keheningan menegangkan di dalam ruangan.Nadia tersentak mundur menjauhkan tangannya dari rak. Ia merogoh saku blazernya dan menatap layar ponselnya."Gubernur menelepon," gumam Nadia pelan. Ia mengangkat panggilan itu dan berjalan cepat keluar dari gudang arsip.Kania berdiri membawa kotak besi berkarat itu. Gadis itu berlari kecil mengikuti langkah Nadia meninggalkan ruangan.Hembusan napas lega meluncur deras dari hidung Maya. Tubuhnya seketika merosot lemas ke lantai ubin begitu pintu kayu tertutup rapat."Mereka sudah pergi," ucap Leo melepaskan cengkeramannya dari rahang Maya.Maya menyandarkan punggungnya ke dinding bata yang dingin. Wajahnya merah padam dan keringat membasahi seluruh lehernya."Kau hampir membuat jantungku copot, Leo," keluh Maya dengan napas memburu."Tapi kau menikmati setiap detiknya," b
Leo menarik pergelangan tangan Maya dengan gerakan kilat. Tubuh janda itu terseret masuk ke celah sempit antara rak kayu terakhir dan dinding bata.Nadia melangkah masuk ke dalam ruang arsip dengan ketukan hak tinggi yang nyaring. Kania berjalan tepat di belakang inspektur tata ruang tersebut membawa sebuah senter baterai."Nyalakan lampunya, Kania," perintah Nadia tajam. Tangannya menepuk debu yang menempel di lengan blazernya.Kania menekan sakelar di dekat pintu masuk. Lampu bohlam kuning berkedip mengusir kegelapan malam sebelum menyinari tumpukan kertas kusam di dalam ruangan."Sebagian besar dokumen lama ada di deretan rak huruf C, Nyonya Nadia," kata Kania. Gadis itu mengarahkan cahaya senternya ke barisan rak kayu di tengah.Leo menekan dada bidangnya merapatkan jarak dengan tubuh Maya. Ruang selebar setengah meter itu memaksa mereka berdiri menempel tanpa ada celah udara.Maya menahan napasnya secara refleks. Kedua payudaranya yang terbalut daster tipis tertekan rata oleh oto
Kaca jendela sedan hitam itu turun sepenuhnya. Seorang wanita berwajah dingin dengan kacamata hitam besar menatap tajam ke arah pagar Puskesmas Elite.Ia melepaskan kacamatanya dan melangkah keluar dari mobil. Setelan blazer abu-abu ketat membalut tubuhnya, menegaskan postur tubuhnya yang tinggi dan profesional.Wanita itu melirik dua tubuh pembunuh bayaran yang masih tergeletak di dekat mobil van. Ia mendengus pelan, lalu berjalan mantap melewati pagar besi menuju lobi."Saya Nadia, Inspektur Tata Ruang Provinsi," ucap wanita itu begitu kakinya menginjak lantai lobi puskesmas. Suaranya lantang dan menuntut perhatian.Leo tidak memutar tubuhnya. Ia tetap berdiri menyilangkan lengan, menatap sisa-sisa bercak darah hitam di lantai."Ini bukan kantor pemerintahan," kata Leo datar.Nadia mengerutkan kening. Ia melangkah lebih dekat, meneliti setiap sudut puskesmas dengan tatapan merendahkan."Saya menerima laporan bahwa bangunan mewah ini berdiri di atas lahan sengketa tanpa izin tata rua
Jari-jari tangan kanan Leo mencengkeram kuat tenggorokan pria bertato kalajengking itu. Kecepatan serangannya tidak menyisakan ruang bagi pria itu untuk berkedip apalagi menghindar.Pria itu tersedak hebat. Botol kaca berisi penawar di tangannya terlepas dan jatuh membentur tanah berbatu tanpa sempat ia gunakan sebagai jaminan.Leo mengangkat tubuh ahli racun itu ke udara hanya dengan satu tangan."Lepaskan dia!" teriak pria bertopi hitam. Pria itu mengayunkan pisau lipatnya ke arah tulang rusuk Leo dari sudut kiri.Leo memutar tubuhnya setengah putaran. Ia menggunakan tubuh ahli racun yang menggantung di tangannya sebagai perisai daging.Pisau lipat itu menancap dalam ke bahu kiri sang ahli racun. Pria bertato itu menjerit tertahan karena saluran napasnya masih tercekik rapat.Leo melepaskan cengkeramannya. Pria bertato itu jatuh berlutut sambil memegangi bahunya yang bersimbah darah.Pria bertopi hitam membeku melihat senjatanya mengenai rekan sendiri.Leo melangkah maju menendang l







