INICIAR SESIÓNLeonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.
Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan. "Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masih berdiri di ambang pintu. "Aku tadi hampir aja dibawa sama preman pasar! Untung ada Tuan ini yang nolongin aku." Maya tersentak. Wajahnya yang tadi menyiratkan kebingungan berubah menjadi panik luar biasa. Ia segera memegang kedua bahu putrinya dan memindai tubuh gadis itu dari atas ke bawah. "Astaga, Kania! Kamu nggak apa-apa, Nak? Ada yang luka?" "Aku nggak apa-apa, Bu," jawab Kania cepat. Ia lalu menoleh ke arah Leo dengan senyum penuh kekaguman dan rasa hormat. "Dokter Leo tadi langsung meriksa dan ngerawat bahuku yang memar gara-gara ditarik preman. Nah, karena motor antiknya mogok, aku nawarin Dokter Leo buat istirahat di rumah kita malam ini." Maya tertegun. Pandangannya perlahan beralih dari motor klasik yang bersandar di gudang, kembali menatap pria tinggi tegap di hadapannya. Di desa terpencil ini, profesi seorang dokter adalah sesuatu yang sangat langka dan sangat dihormati. Ditambah lagi, pria di hadapannya ini memiliki fisik yang begitu maskulin, berkelas, dan wajah yang luar biasa tampan. Rasa segan sekaligus kagum seketika membuncah di dada Maya. "Ya ampun... Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan nyawa putri saya, Dokter Leo," ucap Maya dengan suara lembut yang sedikit bergetar. Ia menunduk hormat. "Silakan masuk, Dokter. Maaf kalau rumah kami sangat sederhana dan berantakan." Leo membalas dengan senyum tipis yang karismatik. "Nggak masalah. Maaf kalau kedatanganku malam-malam malah merepotkan." Setelah mempersilakan Leo duduk di ruang tamu, Maya bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Sementara itu, Kania pamit ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama, Maya kembali dan meletakkan segelas teh di atas meja kayu. Saat wanita itu menunduk, kemben batiknya sedikit merenggang, menyuguhkan pemandangan belahan dada yang penuh di depan mata Leo. Leo menelan ludah diam-diam, menjaga pandangannya tetap elegan agar tidak terlihat seperti pria hidung belang murahan. Maya kemudian duduk di hadapan Leo, menyilangkan kakinya yang putih mulus. "Desa ini sepi sekali kalau malam. Apa penduduk di sini memang sedikit?" pancing Leo santai, mencoba membangun obrolan sambil menyesap tehnya. Mata sayu Maya seketika meredup. Ia menghela napas panjang, menatap cangkir teh di depannya. "Penduduknya lumayan banyak, Dokter. Tapi... sebagian besar memang perempuan," jelas Maya dengan nada getir. "Hampir semua laki-laki di kampung ini pergi merantau. Ada yang kerja di tambang seberang pulau, ada juga yang jadi TKI ke luar negeri. Awalnya mereka janji akan ngirim uang dan pulang, tapi kenyataannya... banyak yang nggak pernah kembali." Leo mengerutkan keningnya. "Mereka meninggalkan keluarga begitu saja?" Maya tersenyum kecut, senyum yang menyimpan luka belasan tahun. "Iya. Banyak yang akhirnya berselingkuh di perantauan, lalu menceraikan istri-istri mereka di sini. Sama seperti suami saya. Dia pergi saat Kania masih kecil, dan gak pernah kembali. Akhirnya, para janda dan istri di sini harus banting tulang bekerja di perkebunan teh untuk bertahan hidup." Mendengar kenyataan pahit itu, Leo terdiam. Pantas saja hawa di desa ini terasa berbeda. Tempat ini dipenuhi oleh para wanita kesepian yang merindukan sandaran hidup, kasih sayang, dan tentunya sentuhan hangat seorang pria. Malam semakin larut. Maya akhirnya menyiapkan bantal dan selimut tipis agar Leo bisa beristirahat di sofa ruang tamu. Rumah kayu itu pun perlahan terlelap dalam keheningan malam. Namun di pertengahan malam, tidur Leo terusik. Kandung kemihnya terasa penuh. Dengan langkah tanpa suara, Leo menyusuri lorong menuju kamar mandi di bagian belakang rumah. Setelah menyelesaikan hajatnya, Leo melangkah keluar. Udara malam yang gerah membuatnya sedikit berkeringat. Sambil berjalan melewati area dapur, ia membenahi kancing celananya dan tanpa sadar menarik ujung kaos putihnya ke atas untuk menyeka keringat di wajah. Gerakan itu mengekspos perutnya yang terbentuk sempurna dengan otot six-pack yang mengeras. Tepat saat itu, sesosok wanita muncul dari arah lorong. Itu Maya. Wanita itu rupanya juga terbangun untuk pergi ke kamar mandi. Langkah Maya terhenti seketika. Matanya membelalak, terpaku pada pemandangan di depannya. Di bawah cahaya remang bulan yang menembus ventilasi dapur, tubuh atletis sang dokter bedah tercetak sangat jelas. Kulit perutnya yang kencang dengan garis V yang mengarah ke balik celana seolah menyihir akal sehat Maya. Bibir wanita dewasa itu sedikit terbuka, napasnya mendadak tertahan. Leo menurunkan kaosnya dan menyadari kehadiran Maya. Ia menangkap arah tatapan mata wanita itu yang begitu intens, rakus, dan dipenuhi hasrat liar ke arah perutnya. Seringai tipis yang nakal langsung terukir di bibir Leo. Sadar dirinya tertangkap basah, wajah Maya memerah padam. Rasa malu dan gugup menyerangnya secara bersamaan. Ia buru-buru membuang muka dan berniat mundur untuk kembali ke kamarnya. Namun, karena salah tingkah, kaki Maya tersandung kaki meja makan kayu di dekatnya. "Aduh!" pekik Maya tertahan saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan merosot jatuh ke lantai semen. Leo melesat dengan refleks cepat. Ia berjongkok di hadapan Maya sebelum wanita itu sempat bangun. "Ssst... pelan-pelan. Nanti Kania bangun," bisik Leo dengan suara seraknya. Matanya menatap kaki Maya. "Mana yang sakit?" "P-pergelangan kakiku... kayaknya terkilir," ringis Maya sambil memegangi pergelangan kaki kanannya. "Biar kuperiksa, ya,” bisik Leo penuh karisma. Tangan besar Leo yang hangat merengkuh pergelangan kaki Maya dengan lembut. Sensasi hangat dari telapak tangan pria itu langsung menembus kulit Maya, membuatnya merinding hebat. Tubuhnya terasa seperti tersengat aliran listrik statis yang menyenangkan. Jari-jari kuat Leo mulai memijat perlahan area pergelangan kaki yang terkilir. Pijatannya sama sekali tidak menyakitkan, melainkan sebuah tekanan lembut dan berirama yang luar biasa nikmat. "Sakit?" tanya Leo pelan, menatap langsung ke dalam mata sayu Maya yang mulai berkabut. "N-nggak... rasanya... enak," desah Maya dengan suara bergetar, tanpa sadar mengucapkan apa yang ada di kepalanya. Leo tersenyum penuh arti. Pijatannya kini tidak hanya terfokus pada pergelangan kaki. Ibu jarinya mulai merayap naik secara perlahan, menyusuri betis Maya yang mulus dan kencang. Ia memijat otot-otot betis itu dengan gerakan memutar yang sangat sensual. Kain jarik yang dikenakan Maya sedikit tersingkap akibat jatuhnya tadi, memberikan akses yang lebih leluasa bagi tangan Leo. Napas Maya mulai terengah-engah. Sentuhan tangan sang dokter terasa membakar kewarasannya. Saat jari-jari Leo terus merayap naik, melewati lutut dan mulai memijat lembut bagian bawah paha dalamnya, pertahanan Maya runtuh sepenuhnya. Wanita matang itu menggigit bibir bawahnya, menahan erangan nikmat yang mendesak keluar. Tangannya refleks meraih dada bidang Leo, meremas kaos pemuda itu dengan erat. Matanya menatap Leo dengan tatapan lapar dan mendamba. "Dokter Leo..." bisik Maya dengan suara parau yang basah, tubuhnya perlahan mencondong ke arah pemuda itu, mengundang sesuatu yang lebih dari sekadar pijatan.Uap putih tebal mengepul dari permukaan kolam belerang panas menutupi area Resor Pemandian VIP desa teh.Lampu taman bernuansa temaram menyinari deretan pagar bambu yang memisahkan area privat tersebut dari lingkungan luar. Tidak ada satu pun pasien, warga desa, atau staf operasional yang diizinkan melintasi batas gerbang kayu pada malam itu.Leo menyandarkan bahu dan kepalanya pada tepian batu kali yang membentuk formasi kolam pemandian tersebut.Pria itu merendam tubuhnya sebatas dada menikmati suhu air empat puluh derajat Celcius yang merelaksasi ototnya. Tidak ada lagi kemeja linen atau jas medis yang menempel pada tubuh kokohnya malam ini.Enam wanita melangkah menuruni anak tangga batu menuju area kolam utama tanpa keraguan sedikit pun.Maya berjalan di posisi paling depan membawa sebuah nampan kayu berisi cangkir teh herbal panas dan handuk bersih. Janda kembang itu telah melucuti blus kerjanya menyisakan balutan kain sutra tipis yang melekat pada kulitnya.Di sebelah kir
Tumpukan map kulit tebal mendarat di atas permukaan meja bundar berbahan kayu jati.Suara benturan tumpukan dokumen itu menggema di dalam ruang rapat utama Rumah Sakit Terpadu. Cahaya matahari pagi menembus celah kerai jendela menyinari debu yang beterbangan di udara.Leo menarik kursi kulit di ujung meja dan duduk menyandarkan punggungnya secara perlahan.Kemeja linen pria itu bergerak menyesuaikan postur tubuhnya tanpa menyisakan satu pun lipatan kusut. Pria itu menyilangkan kaki kanannya dan menyesap kopi hitam dari cangkir porselen di tangan kirinya."Duduk di kursimu masing-masing," perintah Leo menatap deretan kursi baja yang mengelilingi meja.Sembilan wanita berseragam kerja menempati posisi mereka tanpa menimbulkan suara gesekan kursi yang berisik. Nida, Ratih, Ayu, Sekar, Karina, Sisca, Rika, Wina, dan Laras duduk tegak merapatkan lutut mereka.Mereka meletakkan buku catatan dan pena logam di atas meja secara serentak."Seluruh sertifikat lahan dan dokumen legal perpi
Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras daun pintu kayu ek gudang anggur dari arah dalam. Engsel baja tebal itu patah seketika menciptakan bunyi dentuman keras yang menggema memekakkan telinga di ruang bawah tanah.Pintu gudang terlempar terbuka menabrak rak penyimpanan hingga puluhan botol kaca mahal jatuh berserakan menghantam lantai.Leo melangkah keluar menembus udara ruangan yang dipenuhi bau alkohol menyengat hidung. Kemeja linennya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Taipan Harun terkesiap memundurkan langkah kakinya merespons suara benturan kayu tersebut."Mati kau, Dokter kampungan!" bentak Harun mengangkat laras pistol revolvernya lurus ke arah dada Leo.Pria tua itu menarik pelatuk senjatanya tanpa keraguan sedikit pun di kedua matanya. Suara letusan mesiu memantul di dinding beton ruang bawah tanah tersebut menghasilkan gema yang sangat tajam.Leo sama sekali tidak memundurkan pijakan kakinya untuk menghindari terjangan proyektil peluru mematikan itu. Pria itu me
Sepatu pantofel Leo menginjak rumput sintetis di halaman belakang kediaman mewah Harun pada larut malam.Lampu taman memancarkan cahaya kekuningan menyinari dinding marmer mansion di lereng bukit tersebut. Pria itu menyusup melewati sensor inframerah tanpa memicu bunyi peringatan pada sistem keamanan.Leo membuka pintu kaca geser dan melangkah masuk ke ruang keluarga utama bangunan itu.Di dekat perapian elektrik, Kirana duduk bersimpuh di atas karpet bulu dengan rambut berantakan. Istri muda konglomerat itu menangis sesenggukan memegangi bahu kirinya yang memar akibat siksaan fisik.Dua pengawal pribadi berseragam loreng berdiri mengapit wanita itu membawa tongkat rotan tebal."Tuan Harun memerintahkan kami untuk mendisiplinkanmu malam ini, Nyonya Kirana," ucap pengawal pertama mengetukkan rotan ke telapak tangannya."Aku tidak melakukan kesalahan apa pun pada suamiku!" tolak Kirana dengan suara bergetar menahan tangis."Kau menatap dokter kampung itu terlalu lama siang tadi,"
Suara putaran baling-baling helikopter menghantam atap Rumah Sakit Terpadu pada Selasa siang.Angin kencang dari baling-baling ganda itu menerbangkan debu dan kerikil tajam di pelataran parkir. Helikopter bercat hitam legam itu mendarat paksa tepat di tengah akses jalan utama desa teh.Tiga unit buldoser beroda rantai baja melaju beriringan merangsek masuk ke halaman. Mesin alat berat itu meruntuhkan pagar beton fasilitas medis dalam satu kali hantaman keras.Potongan beton dan kawat berduri berserakan di atas jalan aspal yang baru saja diaspal ulang bulan lalu.Puluhan pria berpakaian seragam paramiliter loreng melompat turun dari sisi kiri dan kanan badan helikopter. Mereka membawa senapan laras panjang dan menyebar cepat memblokir seluruh titik keluar masuk desa."Kosongkan bangunan ini dalam sepuluh menit atau buldoser ini akan meratakan kalian semua!" teriak seorang komandan paramiliter melalui pelantang suara.Suara peringatan itu memantul di dinding kaca lobi rumah sakit
Sepatu pantofel Leo mendarat tanpa suara di atas karpet tebal koridor utama kantor dewan distrik.Cahaya remang dari lampu pendar darurat menjadi satu-satunya sumber penerangan sebelum fajar tiba. Pria itu menyusup melewati sistem keamanan berlapis gedung pemerintahan tersebut tanpa memicu alarm.Di ruang arsip lantai dasar, Sintia berlutut di depan lemari baja yang terbuka lebar.Sekretaris dewan itu membongkar tumpukan map kuning dengan tangan gemetar. Ia mencari bukti catatan aliran dana suap yang mengalir ke rekening pribadi Baskoro.Tiga ajudan berbadan gempal berdiri di ambang pintu memegang tongkat kejut listrik."Kau menggali kuburanmu sendiri dengan mencari dokumen itu, Sintia," ucap ajudan pertama melangkah maju ke dalam ruangan."Bos Baskoro sudah menduga kau akan mengkhianatinya setelah penyegelan kemarin," tambah ajudan kedua menyalakan tongkat setrumnya hingga memercikkan bunga api.Sintia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak rak besi arsip. Wanita ber
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta







