Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Sentuhan Sang Dokter

Share

Sentuhan Sang Dokter

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-03-08 22:30:31

Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.

Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan.

"Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masih berdiri di ambang pintu. "Aku tadi hampir aja dibawa sama preman pasar! Untung ada Tuan ini yang nolongin aku."

Maya tersentak. Wajahnya yang tadi menyiratkan kebingungan berubah menjadi panik luar biasa. Ia segera memegang kedua bahu putrinya dan memindai tubuh gadis itu dari atas ke bawah. "Astaga, Kania! Kamu nggak apa-apa, Nak? Ada yang luka?"

"Aku nggak apa-apa, Bu," jawab Kania cepat. Ia lalu menoleh ke arah Leo dengan senyum penuh kekaguman dan rasa hormat. "Dokter Leo tadi langsung meriksa dan ngerawat bahuku yang memar gara-gara ditarik preman. Nah, karena motor antiknya mogok, aku nawarin Dokter Leo buat istirahat di rumah kita malam ini."

Maya tertegun. Pandangannya perlahan beralih dari motor klasik yang bersandar di gudang, kembali menatap pria tinggi tegap di hadapannya.

Di desa terpencil ini, profesi seorang dokter adalah sesuatu yang sangat langka dan sangat dihormati. Ditambah lagi, pria di hadapannya ini memiliki fisik yang begitu maskulin, berkelas, dan wajah yang luar biasa tampan. Rasa segan sekaligus kagum seketika membuncah di dada Maya.

"Ya ampun... Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan nyawa putri saya, Dokter Leo," ucap Maya dengan suara lembut yang sedikit bergetar. Ia menunduk hormat. "Silakan masuk, Dokter. Maaf kalau rumah kami sangat sederhana dan berantakan."

Leo membalas dengan senyum tipis yang karismatik. "Nggak masalah. Maaf kalau kedatanganku malam-malam malah merepotkan."

Setelah mempersilakan Leo duduk di ruang tamu, Maya bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Sementara itu, Kania pamit ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Tak lama, Maya kembali dan meletakkan segelas teh di atas meja kayu. Saat wanita itu menunduk, kemben batiknya sedikit merenggang, menyuguhkan pemandangan belahan dada yang penuh di depan mata Leo.

Leo menelan ludah diam-diam, menjaga pandangannya tetap elegan agar tidak terlihat seperti pria hidung belang murahan.

Maya kemudian duduk di hadapan Leo, menyilangkan kakinya yang putih mulus.

"Desa ini sepi sekali kalau malam. Apa penduduk di sini memang sedikit?" pancing Leo santai, mencoba membangun obrolan sambil menyesap tehnya.

Mata sayu Maya seketika meredup. Ia menghela napas panjang, menatap cangkir teh di depannya.

"Penduduknya lumayan banyak, Dokter. Tapi... sebagian besar memang perempuan," jelas Maya dengan nada getir. "Hampir semua laki-laki di kampung ini pergi merantau. Ada yang kerja di tambang seberang pulau, ada juga yang jadi TKI ke luar negeri. Awalnya mereka janji akan ngirim uang dan pulang, tapi kenyataannya... banyak yang nggak pernah kembali."

Leo mengerutkan keningnya. "Mereka meninggalkan keluarga begitu saja?"

Maya tersenyum kecut, senyum yang menyimpan luka belasan tahun. "Iya. Banyak yang akhirnya berselingkuh di perantauan, lalu menceraikan istri-istri mereka di sini. Sama seperti suami saya. Dia pergi saat Kania masih kecil, dan gak pernah kembali. Akhirnya, para janda dan istri di sini harus banting tulang bekerja di perkebunan teh untuk bertahan hidup."

Mendengar kenyataan pahit itu, Leo terdiam. Pantas saja hawa di desa ini terasa berbeda. Tempat ini dipenuhi oleh para wanita kesepian yang merindukan sandaran hidup, kasih sayang, dan tentunya sentuhan hangat seorang pria.

Malam semakin larut. Maya akhirnya menyiapkan bantal dan selimut tipis agar Leo bisa beristirahat di sofa ruang tamu. Rumah kayu itu pun perlahan terlelap dalam keheningan malam.

Namun di pertengahan malam, tidur Leo terusik. Kandung kemihnya terasa penuh. Dengan langkah tanpa suara, Leo menyusuri lorong menuju kamar mandi di bagian belakang rumah.

Setelah menyelesaikan hajatnya, Leo melangkah keluar. Udara malam yang gerah membuatnya sedikit berkeringat. Sambil berjalan melewati area dapur, ia membenahi kancing celananya dan tanpa sadar menarik ujung kaos putihnya ke atas untuk menyeka keringat di wajah. Gerakan itu mengekspos perutnya yang terbentuk sempurna dengan otot six-pack yang mengeras.

Tepat saat itu, sesosok wanita muncul dari arah lorong. Itu Maya. Wanita itu rupanya juga terbangun untuk pergi ke kamar mandi.

Langkah Maya terhenti seketika. Matanya membelalak, terpaku pada pemandangan di depannya. Di bawah cahaya remang bulan yang menembus ventilasi dapur, tubuh atletis sang dokter bedah tercetak sangat jelas. Kulit perutnya yang kencang dengan garis V yang mengarah ke balik celana seolah menyihir akal sehat Maya. Bibir wanita dewasa itu sedikit terbuka, napasnya mendadak tertahan.

Leo menurunkan kaosnya dan menyadari kehadiran Maya. Ia menangkap arah tatapan mata wanita itu yang begitu intens, rakus, dan dipenuhi hasrat liar ke arah perutnya. Seringai tipis yang nakal langsung terukir di bibir Leo.

Sadar dirinya tertangkap basah, wajah Maya memerah padam. Rasa malu dan gugup menyerangnya secara bersamaan. Ia buru-buru membuang muka dan berniat mundur untuk kembali ke kamarnya.

Namun, karena salah tingkah, kaki Maya tersandung kaki meja makan kayu di dekatnya.

"Aduh!" pekik Maya tertahan saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan merosot jatuh ke lantai semen.

Leo melesat dengan refleks cepat. Ia berjongkok di hadapan Maya sebelum wanita itu sempat bangun.

"Ssst... pelan-pelan. Nanti Kania bangun," bisik Leo dengan suara seraknya. Matanya menatap kaki Maya. "Mana yang sakit?"

"P-pergelangan kakiku... kayaknya terkilir," ringis Maya sambil memegangi pergelangan kaki kanannya.

"Biar kuperiksa, ya,” bisik Leo penuh karisma.

Tangan besar Leo yang hangat merengkuh pergelangan kaki Maya dengan lembut. Sensasi hangat dari telapak tangan pria itu langsung menembus kulit Maya, membuatnya merinding hebat. Tubuhnya terasa seperti tersengat aliran listrik statis yang menyenangkan.

Jari-jari kuat Leo mulai memijat perlahan area pergelangan kaki yang terkilir. Pijatannya sama sekali tidak menyakitkan, melainkan sebuah tekanan lembut dan berirama yang luar biasa nikmat.

"Sakit?" tanya Leo pelan, menatap langsung ke dalam mata sayu Maya yang mulai berkabut.

"N-nggak... rasanya... enak," desah Maya dengan suara bergetar, tanpa sadar mengucapkan apa yang ada di kepalanya.

Leo tersenyum penuh arti. Pijatannya kini tidak hanya terfokus pada pergelangan kaki. Ibu jarinya mulai merayap naik secara perlahan, menyusuri betis Maya yang mulus dan kencang. Ia memijat otot-otot betis itu dengan gerakan memutar yang sangat sensual.

Kain jarik yang dikenakan Maya sedikit tersingkap akibat jatuhnya tadi, memberikan akses yang lebih leluasa bagi tangan Leo.

Napas Maya mulai terengah-engah. Sentuhan tangan sang dokter terasa membakar kewarasannya. Saat jari-jari Leo terus merayap naik, melewati lutut dan mulai memijat lembut bagian bawah paha dalamnya, pertahanan Maya runtuh sepenuhnya.

Wanita matang itu menggigit bibir bawahnya, menahan erangan nikmat yang mendesak keluar. Tangannya refleks meraih dada bidang Leo, meremas kaos pemuda itu dengan erat. Matanya menatap Leo dengan tatapan lapar dan mendamba.

"Dokter Leo..." bisik Maya dengan suara parau yang basah, tubuhnya perlahan mencondong ke arah pemuda itu, mengundang sesuatu yang lebih dari sekadar pijatan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Rongga Turbin Panas

    ​Amel berdiri mengetik cepat di atas papan ketik terminal kendali hidrolik stasiun pompa air.Wanita berkacamata itu mencoba membobol sistem keamanan untuk membuka kunci pintu bendungan desa secara manual."Kode enkripsinya sudah diubah ulang secara sepihak siang tadi," gumam Amel membetulkan letak kacamatanya.Keringat dingin menetes dari dahi sang insinyur menyadari risiko tinggi dari tindakan sabotase tersebut.​Tiga preman penjaga mendadak melangkah masuk ke dalam ruang kontrol menodongkan senjata mereka."Jadi kau mau mencoba menjadi pahlawan kemanusiaan untuk warga desa ya, Nona Insinyur?" tegur preman pertama.Amel terlonjak mundur menabrak meja kontrol menjatuhkan gulungan peta topografinya ke lantai."Bos Tirta sudah menduga kau akan mencoba berkhianat dengan membuka pintu bendungan itu malam ini," lanjut preman kedua.Pria berbadan gempal itu melangkah maju berniat mencengkeram rambut panjang Amel yang diikat kuda.​Leo melesat masuk dari balik bayangan pintu memotong jarak

  • Rayuan Desa Wanita   Katup Bendungan Kering

    Debu kering beterbangan tertiup angin panas menyapu pelataran aspal Puskesmas Elite.Musim kemarau ekstrem melanda seluruh wilayah perbatasan distrik tanpa tanda-tanda awan mendung.Daun-daun pohon jati di pinggir jalan raya menguning dan berguguran layu menahan suhu tinggi.Layar monitor tangki air utama puskesmas berkedip merah menampilkan angka debit yang terus menurun.​Bidan Ayu berlari keluar dari lorong ruang sterilisasi alat medis dengan wajah tegang."Pasokan air bersih untuk mesin sterilisasi uap panas mengalami penyusutan drastis pagi ini, Dokter," lapor Ayu dengan wajah yang tampak panik."Kita tidak bisa melakukan tindakan operasi minor siang nanti tanpa instrumen yang disterilkan secara absolut itu."Leo meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja kerja kayu jati di ruang VIP.​"Debit air tanah tidak akan turun drastis dalam semalam hanya karena cuaca panas," observasi Leo datar.Suara deru mesin mobil SUV mewah memecah percakapan mereka dari arah gerbang depan.Sebuah

  • Rayuan Desa Wanita   Hancurnya Sindikat Plasma

    Engsel pintu insulasi perak itu berderit pelan merespons dorongan bahu kanan Leo.Hawa beku berhembus keluar berbenturan langsung dengan udara pengap bekas pabrik tekstil.Leo melangkah keluar dari ruang pendingin raksasa menenteng kemeja linennya di tangan kiri.Sinta berjalan mengekor tepat di belakang sang dokter bedah dengan langkah kaki yang menapak stabil.Suhu inti tubuh perawat muda itu telah kembali normal sepenuhnya pasca terapi termal di dalam mesin pembeku.Rona kemerahan menghiasi wajah dan leher Sinta menyisakan jejak guncangan biologis barusan.Napas wanita itu masih sedikit tersengal menahan lonjakan hormon endorfin yang memabukkan jaringan otaknya.Sembilan penjaga bayaran mengerang parau memegangi pergelangan kaki mereka yang cacat permanen.​"Berhenti melangkah sekarang juga, Dokter keparat!" bentak Frans dari ujung lorong timur.Mantan ahli anatomi itu mengangkat sebuah pistol pembius bertekanan gas pneumatik tinggi.Laras hitam berlubang besar itu mengarah lurus m

  • Rayuan Desa Wanita   Suhu Minus Derajat

    Ujung tongkat baja pertama melayang lurus mengincar pelipis kanan Leo.Pemuda itu merendahkan bahunya membiarkan besi tumpul tersebut melewati kepalanya.Pisau titanium di tangan sang dokter bedah berputar memantulkan cahaya neon."Pukul kepalanya dari belakang!" perintah seorang preman berwajah parut.Leo melangkah mundur memotong lintasan serangan lawan dengan presisi geometris.Bilah perak murni itu menyayat bagian belakang pergelangan kaki preman pertama.Tendon Achilles pria tersebut terputus rapi dalam satu tarikan garis lurus.Preman berwajah parut itu menjerit keras kehilangan fungsi tumpuan kakinya seketika.Dia ambruk menghantam lantai tanpa kesempatan untuk berdiri tegak kembali."Kalian terlalu membebani otot betis saat mengayunkan senjata," evaluasi Leo datar."Potong lidahnya biar dia bungkam!" teriak preman lain melompat maju.Tiga penjaga bayaran lainnya merangsek serentak dari arah samping.Leo memutar tubuhnya menggunakan poros tumit kiri dengan kelenturan efisien.S

  • Rayuan Desa Wanita   Sayatan Pisau Titanium

    Ban mobil Jeep hitam itu berdecit keras menggesek aspal berlubang di kawasan kumuh pinggiran kota.Layar jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul satu dini hari lewat lima belas menit.Leo mematikan mesin kendaraannya tepat di depan sebuah bangunan bekas pabrik tekstil yang terbengkalai.​Jejak ban truk pendingin medis tercetak sangat jelas di atas tanah lumpur dekat pintu masuk."Distribusi kantong plasma darah golongan O negatif bermuara di tempat pembuangan sampah ini," gumam Leo.Sepatu pantofelnya menghindari genangan air kotor, melangkah menuju pintu baja berkarat di bagian belakang bangunan.​Suara mesin pendingin ruangan terdengar beroperasi melebihi kapasitas standar sebuah gedung kosong.Di balik pintu itu, Frans berdiri mengenakan celemek plastik yang dipenuhi noda kecokelatan.Sinta, seorang perawat muda berseragam putih, terbaring kaku terikat sabuk kulit di atas meja operasi.​Mulut Sinta disumbat gulungan kain kasa medis yang menahan suara teriakannya meminta tolon

  • Rayuan Desa Wanita   Komandan Lumpuh

    Leo menarik kedua jarinya dari leher Rina saat suara derap langkah menjauh.Polisi wanita itu merosot lemas menghirup sisa oksigen dengan rakus."Ambil map merahmu dari lantai baja itu sekarang," perintah Leo membenarkan kerahnya.Rina merangkak cepat memungut dokumen tersebut dengan tangan bergetar.Leo memutar tubuhnya menghadap pintu brankas setebal lima belas sentimeter.Pria itu memusatkan tenaga murni ke ujung sepatu pantofel kanannya.​Leo menendang engsel baja pintu brankas tersebut menggunakan satu hentakan brutal.Brak!Baut penahan pintu patah berhamburan menghantam dinding lorong.Pelat baja seberat ratusan kilogram itu terlempar membentur lantai keramik.Komandan Bayu yang berjarak lima langkah refleks memutar tubuhnya.Wajah perwira distrik itu memucat melihat pintu brankas jebol paksa."Penyusup!" teriak Bayu mengangkat laras senapan serbunya setinggi dada.​Jari telunjuk Bayu menekan pelatuk tanpa peringatan tembakan.Suara letusan mesiu menggema memekakkan telinga di

  • Rayuan Desa Wanita   Oksigen Terbatas

    Bilah pintu baja menabrak kusen logam menghasilkan dentuman keras yang merobek telinga.Bunyi selot hidrolik bergeser menutup rapat dari berbagai sisi kusen.Ruang brankas itu kini tersegel, memisahkan mereka berdua dari dunia luar.Suara putaran baling-baling kipas ventilasi di langit-langit menda

  • Rayuan Desa Wanita   Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

    Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m

  • Rayuan Desa Wanita   Anak dan Ibu Sama-sama Menggoda

    Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu

  • Rayuan Desa Wanita   Terjebak Di Desa

    Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status