Share

Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik
Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik
Penulis: Ann Soe

Bab 1: Sales Terbaik

Penulis: Ann Soe
last update Tanggal publikasi: 2026-08-04 07:13:58

“Selamat pagi.”

Lia tersenyum dan menyapa setiap orang yang ditemuinya setelah memasuki area kantor PT Global Jaya.

Pagi ini Lia tidak berhenti tersenyum. Ia sangat antusias karena untuk pertama kalinya setelah satu setengah tahun bekerja Lia akhirnya bisa mendapatkan penghargaan sebagai sales terbaik.

Saat masuk ke ruang divisi, Lia menemukan Jamal, OB kantornya, sedang menyusun kue dan minuman di meja besar. Artinya perayaan sedang disiapkan.

Breaking record bulan ini sangat istimewa karena ada pesanan dari sebuah bengkel besar yang mencapai lima puluh ribu unit sparepart. Membuat target penjualan divisi sparepart motor terlampaui hampir dua kali lipat.

Semua pencapaian itu berkat Lia sehingga sudah pasti sales terbaik bulan ini adalah dirinya, Caliana Athaya Armania.

“Pagi, Farah,” sapa Lia pada rekan kerjanya yang sudah sibuk di telepon padahal waktu kerja mereka belum dimulai. Farah hanya membalas dengan lambaian dan Lia berlalu ke kubikelnya.

Lia menyalakan komputer, terlihat bersiap bekerja padahal sebenarnya yang Lia tunggu adalah pengumuman sales terbaik. Lia begitu antusias sehingga datang lebih pagi dari biasanya, bahkan rekan kerjanya baru beberapa yang muncul, termasuk Elvan Zyan Ghazi.

Elvan terlihat sedang membuat kopi di pantry sambil membantu Jaman memindahkan kotak-kotak kue ke meja.

Lia menatap Elvan dengan penuh kemenangan. Sebab bulan ini, ia berhasil mengalahkan pria itu.

Elvan Ghazi sudah menjadi sales nomor satu di divisi sparepart motor dua belas bulan berturut-turut. Namun, gelar itu tidak akan bisa lagi dipertahankan, mengingat Lia akan merebutnya.

“Lia, aku mau ngomong,” bisik Farah yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Lia.

“Ngomong aja, Far,” sahut Lia yang kembali menatap Elvan. Sebelum Farah bicara, Lia kembali buka mulut, “Aku seneng banget akhirnya bisa ngalahin Elvan. Akhirnya, bisa juga ngalahin kulkas dua pintu itu.”

“Tapi, Li-“

Lia tidak membiarkan Farah bicara. “Aku heran, kok cowok pendiam dan dingin macam dia bisa dapat banyak klien dan penjualannya selalu nomor satu, kecuali bulan ini. Pakai cara apa dia ngerayu klien?”

“Dengerin aku, Li-“

Namun, Farah tetap tidak bisa menyelesaikan kalimat karena rekan-rekan kerja lain datang hampir di waktu bersamaan. Ruangan Divisi Penjualan Sparepart langsung ramai, dan saat Elvira, sales manager, datang, perayaan langsung dimulai.

Lia langsung menarik Farah agar bisa berdiri paling dekat dengan Elvira. Sementara Elvira memberi kata sambutan, Lia menunggu dengan tidak sabar.

“Tentu saja, semua pencapaian ini berkat kinerja kalian semua. Jadi, setiap orang mendapatkan apresiasi dalam bentuk bonus.”

Semua orang bertepuk tangan dengan semangat.

“Dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengumumkan sales terbaik kita bulan ini yaitu …”

Lia menegakkan punggung, mempersiapkan diri karena namanya akan disebut.

“Elvan. Selamat ya bisa mempertahankan gelar sales terbaik yang ketiga belas.”

Semua orang memberikan selamat pada Elvan, tapi Lia membeku di tempat. Tatapan bingung Lia bertemu dengan mata Elvan.

“Bu-“ Lia sudah bersiap untuk protes ketika Farah menutup mulutnya, lalu menarik Lia ke pantry.

“Kalau kamu protes di depan umum akan mempermalukan dirimu sendiri,” bisik Farah.

“Tapi, apa sebenarnya yang terjadi?” Lia begitu bingung sampai hampir menangis.

Namun, ketika mata Lia melihat Elvan, kemarahannya muncul. “Kenapa dia lagi yang jadi sales terbaik?”

“Makanya tadi aku mau ngomong, tapi nggak sempat,” ujar Farah.

“Kamu tahu sesuatu? Ada kesalahan input atau gimana? Elvan dapat pesanan besar di menit-menit terakhir, makanya penjualannya lebih tinggi?”

Lia bertanya sambil membuka handphone membuka aplikasi khusus penjualan milik perusahaan untuk mengecek capaian penjualan setiap sales. Mata Lia membelalak ketika menemukan pesanan 50 ribu unit yang seharusnya miliknya dicatatkan atas nama Elvan.

“Apa-apaan ini?!”

Sebelum Lia sempat bergerak untuk melabrak Elvan, Farah menahannya.

“Klien sendiri yang minta ganti sales menangani pesanan itu,” bisik Farah.

“Apa?” Lia tak percaya.

“Aku baru tahu tadi pagi. Jadi-“

Farah belum selesai bicara, karena Elvira mendekat dan langsung berkata, “Lia, ke ruangan saya sebentar.”

“Jangan emosi, ya,” bisik Farah sebelum Lia mengikuti langkah Elvira.

Ketika berjalan ke ruangan Elvira, Lia melihat Elvan terus memandanginya, tapi pria itu tidak mengatakan apa pun. Mungkin takut karena Lia terus memelototinya.

Satu jam kemudian Lia keluar dari ruangan Elvira, langsung mengarah ke pintu keluar dan masuk toilet. Dalam bilik toilet, Lia berteriak untuk mengeluarkan emosi. Sampai ada orang yang mengetuk pintu dan bertanya.

“Kak, kamu baik-baik aja?”

“Iya, cuma kaget ada kecoa,” jawab Lia.

“Oh, saya panggilkan OB ya.”

“Nggak usah, nanti saya aja. Makasih.”

Lalu orang itu tidak berkata apa-apa lagi dan terdengar langkah kaki menjauh, sepertinya orang itu pergi.

Lia langsung keluar dari bilik dan berdiri di depan wastafel sambil merengut. Berbicara dengan atasannya sama sekali tidak mengurangi kemarahan Lia, malah rasanya ingin meledak.

Menurut Bu Elvira, Lia belum layak untuk menangani pesanan besar dari Bengkel Olila. Karena jam terbang dianggap masih kurang. Makanya pesanan itu diserahkan pada sales yang lebih senior, yaitu Elvan.

Lia sudah mencoba membujuk Bu Elvira agar memberinya kesempatan, terutama karena dari awal Lia lah yang mengusahakan pesanan itu. Namun, bukannya setuju, Bu Elvira malah mengancam. 

Jika Lia berkeras, maka bulan depan hanya boleh menangani satu klien, Bengkel Olila, dan klien lain miliknya akan diserahkan pada sales lain. Akhirnya Lia lelah beradu argumen dan keluar dari ruangan Elvira dengan marah.

Lia menatap bayangan dirinya di cermin. Setelah menarik napas dalam, Lia memutuskan untuk mengakhiri ketidakadilan ini dengan resign.

Lia melangkah mantap kembali ke ruangan, duduk di kubikelnya, lalu mengetik surat pengunduran diri dengan penuh emosi. Setelah selesai, Lia langsung mencetak surat itu.

Lia melangkah ke printer yang terhubung dengan semua komputer milik sales untuk mengambil surat resign-nya. Satu printer multifungsi itu digunakan untuk kebutuhan sepuluh sales di divisi penjualan sparepart motor.

Namun, Lia tidak sempat mengambil hasil cetakan surat pengunduran dirinya, karena Elvan lebih dulu mengambil kertas itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 34: Kencan?

    Lia terbangun keesokan harinya di atas kasur di kamar utama yang ia tempati. Namun, seingatnya tadi malam tidak kembali ke kamar dan jatuh tertidur di sofa depan televisi setelah mengobrol dengan Elvan. Lia jadi bertanya-tanya apakah Elvan yang membantunya pindah ke kamar atau ia berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar?Lia tidak bisa memikirkan lebih lanjut karena ketukan di pintu meminta perhatiannya. Lia sudah berjalan ke pintu ketika suara Elvan terdengar.“Lia, sudah bangun?”“Sudah,” jawab Lia sambil membuka pintu.“Kirain belum bangun,” ujar Elvan saat melihat Lia.“Baru bangun,” sahut Lia. “Semalam kamu yang mindahin aku ke kamar?”“Huum,” ujar Elvan sambil lalu sementara wajah Lia merona setelah mendengar jawaban itu. Karena jawaban itu berarti Elvan menggendong Lia ke kamar, artinya mereka sudah bersentuhan."Takutnya, kamu masuk angin kalau tidur di luar. Jadi aku pindahin ke kamar.” Elvan terlihat biasa saja saat menjelaskan. Seolah itu bantuan yang akan diberikan El

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 33: Pengakuan Elvan

    “Emang kamu gitu ya kalau nyari klien?” tanya Lia hati-hati. Pertanyaan itu memang lancang dan bisa membuat Elvan tersinggung, tapi Lia tidak bisa menahan diri untuk menanyakannya.Lia penasaran. Selain itu, juga ingin tahu sisi Elvan yang lain. Bukan saingan sempurna yang sulit sekali Lia kalahkan sebelumnya, tapi Elvan yang merupakan manusia biasa sepertinya.“Apaan nih, mau nyontek strategiku?”Lia begidik. Teringat apa yang sudah dialaminya beberapa jam lalu. “Ogah!” sahutnya. “Cuma nanya karena penasaran, kalau nggak mau jawab juga nggak papa.”Elvan diam. Mata pria itu kembali mengarah ke layar televisi yang menanyangkan acara variety show yang dirancang untuk membuat penonton tertawa, tapi Elvan tidak tertawa sedikit pun. Sebab tidak memerhatikan tayangan sama sekali.Lia jadi serba salah. Daripada nanti salah omong lagi, ia mencomot apel untuk membuat mulutnya sibuk.“Dulu, aku memang sering begitu.” Tiba-tiba Elvan membuat pengakuan. “Aku melakukan apa saja yang penting dapat

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 32: Sisi Lain Elvan

    “Kamu bersih-bersih dulu,” kata Elvan setelah sampai di rumah.Lia menggangguk sebagai jawaban. Niatnya memang ingin langsung mandi dan ganti pakaian sesampainya di rumah. Meski tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, tapi Lia merasa ingin segera membersihkan diri.“Kamu mau dimasakin sesuatu atau pesan anta raja?”Lia berhenti di depan pintu kamar sesaat. Saat ini ia tidak merasa lapar dan tidak nafsu makan, tapi perutnya harus diisi. “Aku ngikut kamu aja. Soalnya nggak tau mau makan apa, belum ada selera,” sahut Lia.“Aku masakin aja, pakai bahan yang ada di kulkas,” kata Elvan dan Lia tidak protes. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.Saat Lia keluar kamar mandi, aroma masakan tercium dari dapur. Lia urung kembali ke kamar dan mengalihkan langkah ke dapur.Elvan sedang di depan kompor sibuk dengan wajan ketika Lia mendekat.“Bikin apa?” tanya Lia sambil menengok isi wajan.“Mi goreng seafood,” jawab Elvan.Meskipun Elvan tak menjawab, Lia su

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 31: Terjebak Masalah

    Tugas dari Bu Elvira adalah mengantarkan penawaran ke CV. Adeera yang sebelumnya menghubungi untuk memesan sparepart untuk bengkel mereka. Sebelumnya CV Adeera pernah bekerjasama dengan perusahaan tempat Lia bekerja, tapi tiga bulan lalu kontrak berakhir dan tidak ada pesanan semenjak itu.Elvan adalah sales yang sebelumnya bertanggung jawab mengurus pesanan dari Adeera, tapi kali ini Lia lah yang dipercaya. Kesibukan Elvan dengan pesanan besar ternyata berdampak baik ke Lia hingga bisa mendapatkan kesempatan menangani klien besar. Sebab pesanan dari CV Adeera sebelum ini tidak pernah sedikit.[Lia, kamu di mana?]Pesan masuk dari Elvan saat Lia di perjalanan menuju CV Adeera. Lia langsung membalas.[OTW ke Adeera. Adeera udah jadi klienku ya, jangan coba-coba ngerebut.]Lia langsung memperingatkan Elvan. Kalau kejadian lagi seperti sebelumnya klien Lia diambil Elvan, Lia tidak akan diam saja dan melakukan pembalasan langsung.[Balik deh, nggak usah ke situ. Itu kliennya susah, ribet

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 30: Masih Rival di Kantor

    Sesuai perjanjian yang telah disepakati, Lia dan Elvan mencoba bersikap seperti biasa di kantor. Jarang berinteraksi dan masih bersaing seperti hari-hari sebelumnya. Lia masih menganggap Elvan saingan terbesarnya di kantor dan berusaha menjaga gelar sales terbaik yang berhasil didapatkannya bulan lalu.Di rumah mereka juga jarang berinteraksi. Setelah pulang kantor, biasanya Lia langsung masuk kamar. Ia hanya keluar kalau ingin makan atau pergi ke kamar mandi.Lia jarang menghabiskan waktu di luar kamar karena masih kurang nyaman dengan Elvan, tapi jika Elvan memanggil untuk makan bersama Lia akan keluar. Sebab masakan Elvan enak sehingga Lia tidak akan melewatkannya.“Bulan ini aku akan mengalahkannya lagi,” ujar Lia pada Farah saat mereka makan siang bersama. Lia benar-benar harus menyemangati dirinya karena selama seminggu terakhir usahanya mendapatkan konsumen atau orderan besar tidak banyak berhasil.“Semangat yang bagus,” Farah memberi dukungan, mengerti kalau semangat Lia sedan

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 29: Jangan Sampai Orang Kantor Tahu

    Lia lega karena Elvan mau makan spageti buatannya dan tidak mempermasalahkan pertengkaran mereka semalam.“Aku juga minta maaf. Semalam kita sama-sama lagi emosi dan capek,” ucap Elvan merespon permintaan maaf Lia. “Makasih untuk sarapannya. Nggak nyangka kamu bisa masak juga.”Lia memberengut. “Baru juga maaf-maafan udah ngajak berantem aja,” sahutnya kesal.Elvan mengangkat tangan. “Tahan dulu. Nggak ngajak berantem, tapi sebagai bentuk ekspresi kekaguman terhadap sesuatu yang kusangka tidak bisa kamu lakukan.”Kata-kata Elvan membuat Lia tertawa. “Lebay banget,” ujar Lia di sela-sela tawa.“Kamu lebih cakep kalau ketawa daripada marah loh.”Ucapan Elvan membuat Lia terdiam dan mengarahkan mata dengan tatapan curiga pada Elvan.“Kenapa, nggak senang dibilang cakep?” tanya Elvan takut-takut.Melihat Elvan yang gugup karena takut salah bicara, Lia tertawa.Elvan berdecak. “Serius, Lia. Becandamu itu nggak lucu,” keluh Elvan.“Tapi mukamu lucu,” sahut Lia yang masih tertawa.Elvan tida

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status