LOGINLonceng kastil berdentang tiga kali, memecah keheningan salju yang turun di luar. Suaranya yang berat bergema di antara dinding-dinding batu Eisenhardt yang kokoh. Seolah memberi peringatan bahwa permainan besar telah dimulai. Di kejauhan, rombongan kereta kuda dengan panji bunga lili perak khas Kerajaan Corbella mulai terlihat merayap masuk melintasi gerbang depan yang bersalju. "Mereka datang lebih cepat dari dugaanku. Sepertinya semua orang menyambut antusias pernikahan ini," gumam Seraphina pada dirinya sendiri. "Sayang, mereka harus melihat pertunjukkan yang memuakkan." Seraphina berdiri di balkon kamarnya. Menatap ke bawah dengan tatapan sedingin es yang bertolak belakang dengan apa yang akan ia tunjukkan sesaat lagi. Perempuan itu menghela napas panjang, membiarkan uap napasnya membeku di udara. Dengan gerakan terlatih, ia menggosok kedua matanya hingga tampak sedikit merah dan sembap. Lalu mencubit pipinya agar warna kulitnya terlihat tidak merata. Memberikan kesa
Sementara debu surat yang dibakar Valerius terbang di udara Ibukota, di Eisenhardt, salju turun lebih lebat seolah ingin menyembunyikan rahasia besar. Membungkus setiap menara batu dalam selimut putih yang sunyi. Namun, di dalam aula makan utama, keheningan yang tercipta terasa jauh lebih menggigit daripada badai di luar. Seraphina duduk dengan punggung tegak. Namun, bahunya tampak sedikit layu. Memberikan impresi seorang wanita yang sedang memikul beban dunia. "Jam tiga nanti, rombongan dari Kerajaan Corbella tiba di Kastil Eisenhardt, Lady. Bantu aku menyambut kedatangan mereka." Suara Killian membuyarkan ketegangan di antara mereka. Namun, ekspresi Seraphina tetap datar. Perempuan itu hanya menjawab seperlunya saja. "Ya, Tuan Duke." Jawaban singkat Seraphina disambut senyum tipis oleh Liza von Astrea. Gadis itu beranggapan bahwa dirinya telah berhasil menghancurkan hubungan antara sang kakak dan Duke Killian. "Pastikan juga tamu dari negara Yangsar tidak kekurangan selimu
Gelak tawa Valerius bergema di antara pilar-pilar marmer Istana Barat. Memantul pada langit-langit tinggi yang dihiasi lukisan kemenangan perang pada zaman dulu. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran yang dilapisi beludru merah. Memutar-mutar gelas kristal berisi anggur musim panas yang berkilauan. Di atas meja kerja yang bersih, selembar kertas kecil tergeletak dengan posisi terbuka—sebuah pesan yang baru diterima pagi tadi. Dikirim menggunakan burung pengantar pos dengan risiko tinggi. Namun, isi di dalamnya membawa kabar yang jauh lebih manis daripada kemenangan militer mana pun. Setidaknya bagi sang pangeran. 'Seraphina von Astrea mulai goyah, Yang Mulia. Dia pasti akan meninggalkan Eisenhardt sebelum hari pernikahannya.' "Goyah, katamu?" Valerius menggumam, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai sombong. "Tentu saja dia akan goyah. Seraphina hanyalah seorang wanita yang terbiasa hidup mewah di ibukota. Dia tidak akan bertahan lama di Utara yang
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Count Astrea begitu Noah mengucapkan kalimat yang membuat ruangan mendadak sunyi. Aroma kayu cendana dan tinta yang biasanya menenangkan kini terasa pengap. Terdistorsi oleh amarah Demarcus yang meluap-luap. Di luar jendela, matahari pagi menyinari ibu kota dengan cerah. Kontras dengan kegelapan yang menyelimuti suasana batin penghuni kediaman Astrea."Ulangi sekali lagi," ucap Demarcus dengan nada rendah.Memastikan bahwa ia tak salah dengar dengan ucapan anak sulungnya."Aku harus mengulangi bagian mana, Ayah? Bahwa tempat Seraphina berada di Utara sebagai calon Duchess Eisenhardt?" Demarcus von Astrea perlahan mengangkat wajahnya. Urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya merah karena emosi yang tertahan.Pria itu menatap Noah, putra sulungnya, dengan pandangan yang seolah bisa menghanguskan apa saja. "Kau sudah berani mengatakan hal buruk itu di depanku, Noah?!""Ayah yang memintaku mengulangnya bukan?""Berhenti membantah uca
Keheningan merambat dengan cepat. Killian bermaksud menolak permintaan Seraphina, tapi perempuan itu begitu teguh pendirian. "Hanya ini cara paling cepat untuk mengubah situasi, Grand Duke." "Tapi aku tidak bisa, Lady. Aku..." "Tuan Duke, kita tahu pasti siapa orang di balik kemunculan Liza. Jadi, kita harus membuat Valerius percaya bahwa rencananya mengirim Liza ke sini telah berhasil. "Dengan begitu, kita akan tahu apa yang akan dilakukan Valerius selanjutnya. Datang atau mengutus seseorang untuk menyeret saya kembali ke Ibukota." Killian terdiam cukup lama. Ia menatap mata Seraphina, mencari jejak keraguan, namun ia hanya menemukan tekad yang membara. Sang Grand Duke menyadari bahwa pernikahan ini memang bukan sekadar urusan hati, melainkan sebuah peperangan yang medan tempurnya adalah ruang makan dan koridor kastil. "Umpan yang kau maksud... adalah hubungan kita sendiri?" tanya Killian pelan. "Benar. Mari kita buat mereka percaya bahwa Eisenhardt sedang berada di ambang
Raut wajah Seraphina mengeras. Bagaikan porselen yang membeku di tengah badai salju. Ia memutar tumitnya dengan gerakan anggun namun tajam.Meninggalkan aroma mawar yang kini bercampur dengan bau besi dari kegelapan koridor. Di belakangnya, Liza masih terisak dengan bahu yang berguncang hebat. Berusaha menarik simpati Killian atau apa pun itu.Sementara Killian berdiri mematung. Seolah-olah seluruh sendinya berubah menjadi batu seperti Atlas yang membeku setelah menatap sepasang mata Medusa. Hening sejenak mencekik udara, sebelum akhirnya Killian tersentak dari keterpakuannya. Matanya yang tajam menangkap siluet gaun tidur Seraphina yang menghilang di balik tikungan. Tanpa memedulikan Liza, sang Grand Duke memburu langkah. Derap bot kulitnya menghantam lantai batu dengan ritme yang mendesak. Di sudut koridor yang remang-remang, senyum kemenangan mulai merekah di wajah Liza von Astrea. Gadis itu menyeka air mata palsunya dengan gerakan perlahan. Menatap punggung Killian yang menj
Suasana di aula agung Astrum-Glace tidak lagi sekadar dingin karena sihir es dari Utara, melainkan membeku oleh amarah sang penguasa tertinggi Valeranthia. Kaisar Benedict berdiri di undakan takhta dengan napas yang memburu. Sementara dokumen-dokumen yang berserakan di lantai marmer menjadi saks
Seraphina masih terpaku di tempatnya berdiri. Jemarinya perlahan naik menyentuh pipi yang beberapa saat lalu merasakan panas dari telapak tangan Killian. Ada degup hangat yang asing. Sebuah ritme yang tidak seharusnya ada dalam jantung seorang wanita yang telah bersumpah untuk mematikan perasaan
Salju mulai turun lebih lebat, membungkus kediaman Astrea dalam keheningan yang mencekam saat kereta kuda Seraphina berhenti tepat di depan gerbang utama. Namun, keheningan itu segera pecah oleh suara langkah kaki yang berat dan penuh amarah."Salju sialan ini bahkan tak mau pergi! Apa ini benar-b
Seraphina menerima dokumen itu dengan tangan yang mantap. Ia menatap segel lilin merah yang baru saja membebaskannya dari belenggu Valerius. "Saya akan melakukan apa yang perlu dilakukan untuk kestabilan kekaisaran, Yang Mulia," jawab Seraphina, memberikan jawaban ambigu yang disukai para politis







