Share

Pusat Perhatian

Author: Yoru Akira
last update publish date: 2026-03-11 23:36:19

Malam itu, kemegahan Istana Astrum-Glace seharusnya menjadi panggung bagi perayaan musim semi yang hangat.

Kelopak bunga mawar menghiasi taman-taman istana, dan udara malam di Luxandria biasanya mulai melunak, membawa aroma tanah basah dan pucuk-pucuk bunga yang baru mekar.

Namun, di dalam aula agung kekaisaran Valeranthia, dinding-dinding kristal es yang menjadi kebanggaan arsitektur itu justru memancarkan aura yang jauh lebih dingin dari biasanya.

Di balik alunan simfoni string yang menday
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Gairah Sang Grand Duke

    Setelah drama koridor yang menguras emosi itu berakhir, Killian memastikan Liza telah masuk ke kamarnya dengan rasa percaya diri yang meluap. Namun, begitu pintu kamar gadis itu tertutup, topeng ketenangan Killian retak seketika. Dengan langkah yang ditekan agar tak bersuara, ia menyusuri lorong rahasia di balik dinding perpustakaan yang langsung menghubungkan ke kamar utama calon Duchess-nya. Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh satu lilin yang hampir habis, Seraphina sedang duduk di tepi ranjang. Perempuan itu baru saja menyeka sisa minyak angin di bawah matanya ketika pintu rahasia di balik lemari buku berderit terbuka. "Tuan Duke?" Killian melangkah masuk dengan napas yang memburu. Penampilannya tak lagi kaku dengan baju zirah. Pria itu hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka. Memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Dipadu dengan celana kulit hitam yang membungkus kaki panjangnya dengan sempurna. Aura pria itu tampak gelap, jauh lebih

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Mimpi Buruk di Ambang Pernikahan

    Tiga hari menuju hari pernikahan yang seharusnya menjadi puncak aliansi Utara, atmosfer di Kastil Eisenhardt terasa seperti permukaan danau yang membeku. Tenang di atas, namun menyimpan tekanan mematikan di bawahnya. Seraphina berdiri di depan jendela kamarnya yang berembun. Menatap pekatnya malam yang seolah menjadi cermin bagi rencana besarnya. Ketukan halus di bingkai jendela luar membuatnya sedikit bergeser. Seorang pemuda bermantel hitam pekat, nyaris menyatu dengan kegelapan, muncul di sana. Mata-mata kepercayaan Seraphina. "Katakan," bisik Seraphina setelah membuka sedikit celah jendela. Udara dingin Utara langsung menyerbu masuk. "Kereta kuda dengan lambang matahari perak—milik Pangeran Valerius—telah terlihat sepuluh mil dari perbatasan, Lady. "Mereka bergerak dalam pengawalan rahasia, namun panjinya tak bisa menipu mata saya," lapor sang pemuda dengan napas beruap. Seraphina menarik napas dalam. Membiarkan oksigen dingin itu memenuhi paru-parunya. "Hanya ker

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Perangkap!

    Lonceng kastil berdentang tiga kali, memecah keheningan salju yang turun di luar. Suaranya yang berat bergema di antara dinding-dinding batu Eisenhardt yang kokoh. Seolah memberi peringatan bahwa permainan besar telah dimulai. Di kejauhan, rombongan kereta kuda dengan panji bunga lili perak khas Kerajaan Corbella mulai terlihat merayap masuk melintasi gerbang depan yang bersalju. "Mereka datang lebih cepat dari dugaanku. Sepertinya semua orang menyambut antusias pernikahan ini," gumam Seraphina pada dirinya sendiri. "Sayang, mereka harus melihat pertunjukkan yang memuakkan." Seraphina berdiri di balkon kamarnya. Menatap ke bawah dengan tatapan sedingin es yang bertolak belakang dengan apa yang akan ia tunjukkan sesaat lagi. Perempuan itu menghela napas panjang, membiarkan uap napasnya membeku di udara. Dengan gerakan terlatih, ia menggosok kedua matanya hingga tampak sedikit merah dan sembap. Lalu mencubit pipinya agar warna kulitnya terlihat tidak merata. Memberikan kesa

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Jaring yang Tersebar

    Sementara debu surat yang dibakar Valerius terbang di udara Ibukota, di Eisenhardt, salju turun lebih lebat seolah ingin menyembunyikan rahasia besar. Membungkus setiap menara batu dalam selimut putih yang sunyi. Namun, di dalam aula makan utama, keheningan yang tercipta terasa jauh lebih menggigit daripada badai di luar. Seraphina duduk dengan punggung tegak. Namun, bahunya tampak sedikit layu. Memberikan impresi seorang wanita yang sedang memikul beban dunia. "Jam tiga nanti, rombongan dari Kerajaan Corbella tiba di Kastil Eisenhardt, Lady. Bantu aku menyambut kedatangan mereka." Suara Killian membuyarkan ketegangan di antara mereka. Namun, ekspresi Seraphina tetap datar. Perempuan itu hanya menjawab seperlunya saja. "Ya, Tuan Duke." Jawaban singkat Seraphina disambut senyum tipis oleh Liza von Astrea. Gadis itu beranggapan bahwa dirinya telah berhasil menghancurkan hubungan antara sang kakak dan Duke Killian. "Pastikan juga tamu dari negara Yangsar tidak kekurangan selimu

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Mimpi Valerius

    Gelak tawa Valerius bergema di antara pilar-pilar marmer Istana Barat. Memantul pada langit-langit tinggi yang dihiasi lukisan kemenangan perang pada zaman dulu. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran yang dilapisi beludru merah. Memutar-mutar gelas kristal berisi anggur musim panas yang berkilauan. Di atas meja kerja yang bersih, selembar kertas kecil tergeletak dengan posisi terbuka—sebuah pesan yang baru diterima pagi tadi. Dikirim menggunakan burung pengantar pos dengan risiko tinggi. Namun, isi di dalamnya membawa kabar yang jauh lebih manis daripada kemenangan militer mana pun. Setidaknya bagi sang pangeran. 'Seraphina von Astrea mulai goyah, Yang Mulia. Dia pasti akan meninggalkan Eisenhardt sebelum hari pernikahannya.' "Goyah, katamu?" Valerius menggumam, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai sombong. "Tentu saja dia akan goyah. Seraphina hanyalah seorang wanita yang terbiasa hidup mewah di ibukota. Dia tidak akan bertahan lama di Utara yang

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Penolakan Sang Putra

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Count Astrea begitu Noah mengucapkan kalimat yang membuat ruangan mendadak sunyi. Aroma kayu cendana dan tinta yang biasanya menenangkan kini terasa pengap. Terdistorsi oleh amarah Demarcus yang meluap-luap. Di luar jendela, matahari pagi menyinari ibu kota dengan cerah. Kontras dengan kegelapan yang menyelimuti suasana batin penghuni kediaman Astrea."Ulangi sekali lagi," ucap Demarcus dengan nada rendah.Memastikan bahwa ia tak salah dengar dengan ucapan anak sulungnya."Aku harus mengulangi bagian mana, Ayah? Bahwa tempat Seraphina berada di Utara sebagai calon Duchess Eisenhardt?" Demarcus von Astrea perlahan mengangkat wajahnya. Urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya merah karena emosi yang tertahan.Pria itu menatap Noah, putra sulungnya, dengan pandangan yang seolah bisa menghanguskan apa saja. "Kau sudah berani mengatakan hal buruk itu di depanku, Noah?!""Ayah yang memintaku mengulangnya bukan?""Berhenti membantah uca

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Retaknya Fondasi Kekaisaran

    Udara di Luxandria pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah salju yang turun semalam membawa pesan kematian bagi kejayaan dinasti D’Argenteau. Di koridor-koridor panjang Istana Astrum-Glace, gema langkah kaki para pelayan terdengar terburu-buru, namun suara bisikan para bangsawan j

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pelarian

    "Kaptenmu terlihat ragu, Grand Duke!" ucap Seraphina dengan nada sinis.Ia baru saja diragukan oleh seorang prajurit di bawah komando Grand Duke Killian. Tentu saja. Dia hanyalah seorang perempuan. Tapi perempuan ini adalah seorang calon permaisuri yang sempurna, sebelum Valerius dibutakan oleh c

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pengepungan

    Salju turun dengan keanggunan yang mematikan. Menyapu jejak roda kereta kuda Seraphina seolah alam sendiri berusaha menyembunyikan dosanya malam itu. Ini musim semi, tapi salju tiba-tiba turun sejak rombongan Grand Duke Killian meninggalkan ibukota semalam.Waktu itu pun, cuacanya pun sama. Salju

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Kemarahan Count Astrea

    Salju mulai turun lebih lebat, membungkus kediaman Astrea dalam keheningan yang mencekam saat kereta kuda Seraphina berhenti tepat di depan gerbang utama. Namun, keheningan itu segera pecah oleh suara langkah kaki yang berat dan penuh amarah."Salju sialan ini bahkan tak mau pergi! Apa ini benar-b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status