Share

Sebuah Tamparan

Penulis: Yoru Akira
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 21:55:09

Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu.

Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina.

'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang.

'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.'

"Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina.

Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu.

Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang.

Liza sengaja membiarkan air matanya mengalir lebih deras hingga membasahi pipinya yang kemerahan. Meski itu palsu.

"Iya, Kakak... hiks... Aku hanya dianggap noda... dalam garis keturunan Count Astrea," isak Liza, suaranya parau yang dibuat-buat.

"Oh, Liza yang malang. Kemarilah." Seraphina merentangkan tangannya, menarik gadis berusia tiga belas tahun itu ke dalam pelukannya.

Saat wajah Liza tersembunyi di bahunya, ekspresi Seraphina berubah drastis. Wajahnya mengeras sekeras batu granit. Matanya menatap kosong ke arah dinding dengan kilat kebencian yang murni.

Ia bisa merasakan tubuh kecil Liza yang bergetar karena menahan tawa atau merasa bahwa dirinya telah menang menarik perhatian sang kakak.

Di momen ini, Seraphina meyakini satu hal: mereka berdua sedang berpelukan sambil memegang pisau tak kasatmata, siap untuk saling menikam di saat yang paling tidak terduga.

"Tenang saja, Adikku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghinamu, bahkan sang Putra Mahkota sekalipun," bisik Seraphina sambil mengelus rambut Liza.

"A-apa yang akan Kakak, lakukan?"

"Aku akan bicara dengan Yang Mulia agar dia berhenti merundungmu. Kau adalah darah daging Astrea." Meski dalam hati, Seraphina mulai meragukan keabsahan itu.

"Benarkah, Kakak? Kau... kau mau membelaku di hadapan Putra Mahkota? Kau memang kakakku yang paling berharga, Seraphina!"

Seraphina menyunggingkan senyum sinis yang tersembunyi dengan baik.

Ia ingin melihat, skenario busuk apalagi yang sudah disiapkan oleh 'adik manisnya' ini untuk menjatuhkan reputasinya di depan calon kaisar.

Meski begitu, Seraphina tak peduli lagi. Mau seburuk apa reputasinya di mata Valerius. Justru semakin buruk, semakin bagus. Ia tak perlu repot-repot mengurus dokumen pembatalan pertunangan.

"Iya, Liza. Jangan menangis lagi. Ayo kita temui Putra Mahkota Valerius sekarang juga. Dia masih berada di taman bukan?"

Liza mengangguk antusias, jejak air matanya seolah menguap begitu saja digantikan oleh binar kelicikan.

Seraphina kemudian melangkah menuju ruang ganti. Ia sengaja mengabaikan gaun-gaun megah dengan korset ketat dan hiasan renda berlapis yang biasanya ia kenakan untuk menyenangkan mata Valerius.

Alih-alih, ia memilih sebuah gaun sederhana berwarna biru pucat dengan potongan minimalis.

Di kehidupan sebelumnya, Valerius sering mencibir pilihan busana seperti ini, menganggapnya "tidak mencerminkan kemegahan keluarga Count Astrea" atau "tidak sebanding dengan citra Putra Mahkota!" dan bla... bla... bla...

Dulu, Seraphina akan menangis dan langsung menggantinya dengan apa pun yang diinginkan pria itu karena dibutakan oleh cinta yang naif.

Sekarang, Seraphina tidak peduli. Suara itu bahkan terdengar menjijikan dalam gema di benaknya.

Ia mengusap permukaan kain gaun itu. Meski modelnya sangat sederhana, gaun ini terbuat dari kain sutra premium yang ditenun khusus dan diimpor langsung dari negeri seberang lautan. Harganya jauh melampaui gaun-gaun butik manapun di ibu kota.

'Valerius hanyalah pria dangkal yang menilai segala sesuatu dari permukaannya saja,' pikir Seraphina sambil mengancingkan lengan gaunnya.

Tak lama, mereka berdua berjalan menyusuri lorong-lorong megah kediaman Count Astrea yang kental dengan sejarah.

Keluarga Astrea bukan sekadar bangsawan biasa; mereka adalah pilar Kekaisaran Valeranthia. Para lelakinya dikenal sebagai ahli strategi brilian yang memenangkan perang di atas meja peta.

Mereka juga para ahli pedang terbaik di kekaisaran selain para lelaki dari garis keturunan Eisenhardt. Mungkin itu pula yang membuat kedua keluarga tak pernah akur.

Sementara para wanitanya memiliki kecantikan dan kecerdasan yang membuat mereka sering diangkat menjadi Permaisuri.

Bahkan, Permaisuri Esthelle Draco Valeranthia yang saat ini bertahta di samping Kaisar adalah nenek Seraphina.

Secara teknis, Valerius masih merupakan keponakan dari garis keluarga yang bersinggungan, atau paman bagi Seraphina dalam tatanan silsilah tertentu.

"Kakak, lihat... di sana," bisik Liza sambil menarik lengan baju Seraphina.

Di tengah labirin mawar yang sedang bermekaran sempurna, tampak Valerius duduk dengan angkuh. Ia sedang menyesap teh dari cangkir porselen, dikelilingi oleh wangi mawar yang memenuhi udara musim semi.

Pemandangan itu seharusnya terlihat puitis, namun bagi Seraphina, itu tampak seperti iblis yang sedang duduk di atas tumpukan bangkai.

Seraphina mempercepat langkahnya. Liza tertinggal beberapa langkah di belakangnya, berusaha mempertahankan akting wajah sedihnya.

Begitu sampai di hadapan Valerius, Seraphina tidak membungkuk hormat. Justru Seraphina melayangkan tangannya tanpa memberikan Valerius mengatakan apa pun lebih dulu.

PLAK!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Senjata Makan Tuan

    Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini!" teriak Valerius. Suaranya pecah oleh kepanikan yang mendalam. Ia menoleh ke arah Seraphina, mencari dukungan."Seraphina! Kau tahu aku bersamamu tadi sore, katakan pada mereka ini mustahil!" Seraphina menurunkan gelas anggurnya perlahan. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Valerius. Wajahnya kini dipenuhi dengan raut keterkejutan yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia... saya memang bersama Anda sepanjang sore ini. Tapi, ada momen di mana saya permisi untuk bertemu Putri Arabella. Sa-saya tidak bisa memberikan kesaksian sepenuhnya."Maafkan saya, Yang Mulia." Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia sangat

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Rencana Sang Putri

    Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Killian, untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa nama belakang. "Bersiaplah. Jika malam ini segel itu tidak ditemukan di peti saya, maka saya akan menganggap Anda sebagai umpan yang gagal—dan saya tidak memelihara umpan yang tidak berguna." Killian berbalik, jubah bulu serigalanya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Seraphina berdiri terpaku, merasakan dinginnya sisa genggaman Killian di kulitnya. Ikan besar itu bukan sekadar memakan umpan; ia telah menyeret Seraphina masuk ke dalam perairan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Namun, itulah yang ia cari. "Permainan dimulai, Valerius," bisiknya pada kegelapan. */*/ Malam itu, Istana Astrum-Glace diselimuti keme

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Alisiansi Berbahaya

    Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan dengan sang Grand Duke. "Saya tidak sedang menghalangi jalan Anda, Grand Duke," ucap Seraphina, suaranya jernih dan tak bergetar. "Saya sedang menawarkan jalan keluar dari jebakan yang sudah disiapkan Putra Mahkota untuk Anda malam ini." Langkah Killian yang tadinya hendak berlanjut, kembali berhenti. Ia sedikit menyipitkan mata, menatap gadis muda di hadapannya dengan sedikit rasa ingin tahu yang dingin. "Jebakan?" Killian mendengus sinis. "Anda adalah tunangan sang Putra Mahkota. Mengapa Anda mengkhianati calon suami Anda demi orang asing dari Utara?" Killian menimbang sebelum melanjutkan,"Atau... justru Andalah jebakan yang sudah disiapkan itu sendiri!" Seraphina menelan ludah susah p

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Bertemu Duke Utara

    Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota. Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis. Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya. "Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak. "Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!" "Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah. "Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liz

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Sebuah Tamparan

    Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina. 'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang. 'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.' "Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina. Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu.Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang. Liza

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Adik yang Menggemaskan?

    Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius. Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut. Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt. Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri.Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan. Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status