LOGINSeraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu.
Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina. 'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang. 'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.' "Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina. Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu. Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang. Liza sengaja membiarkan air matanya mengalir lebih deras hingga membasahi pipinya yang kemerahan. Meski itu palsu. "Iya, Kakak... hiks... Aku hanya dianggap noda... dalam garis keturunan Count Astrea," isak Liza, suaranya parau yang dibuat-buat. "Oh, Liza yang malang. Kemarilah." Seraphina merentangkan tangannya, menarik gadis berusia tiga belas tahun itu ke dalam pelukannya. Saat wajah Liza tersembunyi di bahunya, ekspresi Seraphina berubah drastis. Wajahnya mengeras sekeras batu granit. Matanya menatap kosong ke arah dinding dengan kilat kebencian yang murni. Ia bisa merasakan tubuh kecil Liza yang bergetar karena menahan tawa atau merasa bahwa dirinya telah menang menarik perhatian sang kakak. Di momen ini, Seraphina meyakini satu hal: mereka berdua sedang berpelukan sambil memegang pisau tak kasatmata, siap untuk saling menikam di saat yang paling tidak terduga. "Tenang saja, Adikku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghinamu, bahkan sang Putra Mahkota sekalipun," bisik Seraphina sambil mengelus rambut Liza. "A-apa yang akan Kakak, lakukan?" "Aku akan bicara dengan Yang Mulia agar dia berhenti merundungmu. Kau adalah darah daging Astrea." Meski dalam hati, Seraphina mulai meragukan keabsahan itu. "Benarkah, Kakak? Kau... kau mau membelaku di hadapan Putra Mahkota? Kau memang kakakku yang paling berharga, Seraphina!" Seraphina menyunggingkan senyum sinis yang tersembunyi dengan baik. Ia ingin melihat, skenario busuk apalagi yang sudah disiapkan oleh 'adik manisnya' ini untuk menjatuhkan reputasinya di depan calon kaisar. Meski begitu, Seraphina tak peduli lagi. Mau seburuk apa reputasinya di mata Valerius. Justru semakin buruk, semakin bagus. Ia tak perlu repot-repot mengurus dokumen pembatalan pertunangan. "Iya, Liza. Jangan menangis lagi. Ayo kita temui Putra Mahkota Valerius sekarang juga. Dia masih berada di taman bukan?" Liza mengangguk antusias, jejak air matanya seolah menguap begitu saja digantikan oleh binar kelicikan. Seraphina kemudian melangkah menuju ruang ganti. Ia sengaja mengabaikan gaun-gaun megah dengan korset ketat dan hiasan renda berlapis yang biasanya ia kenakan untuk menyenangkan mata Valerius. Alih-alih, ia memilih sebuah gaun sederhana berwarna biru pucat dengan potongan minimalis. Di kehidupan sebelumnya, Valerius sering mencibir pilihan busana seperti ini, menganggapnya "tidak mencerminkan kemegahan keluarga Count Astrea" atau "tidak sebanding dengan citra Putra Mahkota!" dan bla... bla... bla... Dulu, Seraphina akan menangis dan langsung menggantinya dengan apa pun yang diinginkan pria itu karena dibutakan oleh cinta yang naif. Sekarang, Seraphina tidak peduli. Suara itu bahkan terdengar menjijikan dalam gema di benaknya. Ia mengusap permukaan kain gaun itu. Meski modelnya sangat sederhana, gaun ini terbuat dari kain sutra premium yang ditenun khusus dan diimpor langsung dari negeri seberang lautan. Harganya jauh melampaui gaun-gaun butik manapun di ibu kota. 'Valerius hanyalah pria dangkal yang menilai segala sesuatu dari permukaannya saja,' pikir Seraphina sambil mengancingkan lengan gaunnya. Tak lama, mereka berdua berjalan menyusuri lorong-lorong megah kediaman Count Astrea yang kental dengan sejarah. Keluarga Astrea bukan sekadar bangsawan biasa; mereka adalah pilar Kekaisaran Valeranthia. Para lelakinya dikenal sebagai ahli strategi brilian yang memenangkan perang di atas meja peta. Mereka juga para ahli pedang terbaik di kekaisaran selain para lelaki dari garis keturunan Eisenhardt. Mungkin itu pula yang membuat kedua keluarga tak pernah akur. Sementara para wanitanya memiliki kecantikan dan kecerdasan yang membuat mereka sering diangkat menjadi Permaisuri. Bahkan, Permaisuri Esthelle Draco Valeranthia yang saat ini bertahta di samping Kaisar adalah nenek Seraphina. Secara teknis, Valerius masih merupakan keponakan dari garis keluarga yang bersinggungan, atau paman bagi Seraphina dalam tatanan silsilah tertentu. "Kakak, lihat... di sana," bisik Liza sambil menarik lengan baju Seraphina. Di tengah labirin mawar yang sedang bermekaran sempurna, tampak Valerius duduk dengan angkuh. Ia sedang menyesap teh dari cangkir porselen, dikelilingi oleh wangi mawar yang memenuhi udara musim semi. Pemandangan itu seharusnya terlihat puitis, namun bagi Seraphina, itu tampak seperti iblis yang sedang duduk di atas tumpukan bangkai. Seraphina mempercepat langkahnya. Liza tertinggal beberapa langkah di belakangnya, berusaha mempertahankan akting wajah sedihnya. Begitu sampai di hadapan Valerius, Seraphina tidak membungkuk hormat. Justru Seraphina melayangkan tangannya tanpa memberikan Valerius mengatakan apa pun lebih dulu. PLAK!Lima tahun telah berlalu sejak malam penobatan yang menyapu bersih bayang-bayang kelam rezim tiran dari bumi Valeranthia. Reruntuhan masa lalu kini telah lama terkubur. Digantikan oleh kemakmuran dan kedamaian yang terbentang luas dari dataran rendah Luxandria hingga perbatasan es abadi di utara. Di halaman belakang Istana Astrum-Glace, rumput hijau terhampar luas bagai permadani zamrud. Dihiasi oleh ribuan bunga musim semi yang mekar menyambut hangatnya matahari pagi. Udara dipenuhi oleh gelak tawa riang dan suara derap kaki kecil yang berlarian ke sana kemari. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan helaian rambut hitam legam dan manik mata biru es yang tajam—persis seperti replika sang ayah saat kecil—tengah berlari kencang sambil membawa sebatang pedang mainan dari kayu. "Tangkap aku jika bisa, Kakak!" seru bocah itu kegirangan, tertawa renyah saat melintasi hamparan bunga. Di belakangnya, seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan rambut perak keunguan yang
Alunan musik waltz yang megah perlahan memudar. Menyisakan gema lembut yang memantul di dinding-dinding marmer putih Aula Utama Istana Astrum-Glace. Ribuan lilin kristal di langit-langit kubah memancarkan cahaya keemasan. Menghangatkan ruangan yang dipenuhi oleh para bangsawan, ksatria, dan perwakilan rakyat jelata. Namun, di tengah kemeriahan pesta kemenangan yang meruntuhkan era tiran Benedict, perhatian seluruh hadirin seolah terhipnotis oleh satu pemandangan di tengah lantai dansa.Killian von Eisenhardt, sang kaisar baru yang selama ini dikenal sebagai Grand Duke dari Utara yang dingin dan kejam, menatap wanita di dalam dekapannya dengan tatapan yang dipenuhi oleh kelembutan mutlak. Jemarinya masih melingkar erat di pinggang ramping Seraphina. Seolah ia tidak akan pernah membiarkan dunia merenggut kebahagiaan yang baru saja mereka temukan."Kau akan selalu menjadi duniaku, Sera!" bisik Killian sekali lagi. Suaranya sarat akan ketulusan yang menggetarkan jiwa.Seraphina meng
Suara pintu besi sel bawah tanah yang dibanting tertutup bergemerincing nyaring. Disusul oleh jeritan melengking yang mendadak terputus seketika. Tidak ada lagi suara ratapan di lorong lembap itu. Yang tersisa hanyalah kesunyian mutlak.Seolah parasit yang mencoba mencemari fajar baru Kekaisaran Valeranthia telah dibersihkan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Seraphina melangkah keluar dari koridor bawah tanah dengan kepala tegak. Gaun malam ungu gelapnya bergesekan pelan dengan lantai batu, dan aroma darah serta debu sel tahanan perlahan menguap.Digantikan oleh keharuman mawar putih yang senantiasa mengikutinya. Di luar pintu rahasia, Jeremiah telah menanti dengan postur tegap seragam militernya, menunduk hormat saat sang permaisuri melewatinya. "Sudah selesai?" tanya Jeremiah singkat, tanpa perlu menyebutkan siapa yang berada di dalam sel. "Sampah telah disapu bersih, Kak," jawab Seraphina dingin, sudut matanya melirik sekilas ke arah sang kakak. "Kau tidak menyesal, Sera
"Aku tidak menyangka kau masih memiliki nyali menggunakan kebohongan untuk sampai ke tempat ini. Apakah kau masih belum jera juga, Liza?!" Nama itu terucap dari bibir Seraphina dengan nada yang begitu dingin.Bagaikan embusan angin dari puncak gunung es utara yang langsung merenggut sisa-sisa kehangatan di dalam sel tahanan yang lembap. Gadis yang terduduk di lantai batu kotor itu—Liza—tersentak hebat. Tubuhnya yang lemas mendadak menegang. Topeng kebohongan yang ia coba bangun runtuh seketika saat menyadari bahwa sosok di hadapannya sama sekali tidak tertipu oleh penampilan kumuh maupun klaim palsunya tentang pewaris takhta. Permaisuri Agung itu mengenalnya. Mengenalnya hingga ke akar-akar kebusukannya di masa lalu.Tentu saja. Dia tidak mungkin melupakan adik manis yang tumbuh bersamanya, tapi tega menusuknya dari belakang di kehidupannya yang lalu.Kepalang tanggung, gadis itu merangkak menuju Seraphina."Kakak, tolong aku. Ampuni aku. Aku tidak tahu kenapa mereka menyeretk
Komandan pasukan bayangan itu mendengus sinis, suaranya berderak dingin di balik topeng besi separuhnya. Ia melangkah maju selangkah. Menatap rendah ke arah gadis yang kini berlutut dengan napas memburu di kubangan lumpur.Tak ada satu pun yang mengenali siapa sosok di balik wajah kumuh gadis itu. "Membawa Anda ke hadapan Yang Mulia Kaisar Killian?" ulang sang komandan dengan nada mengejek. "Anda pikir Baginda Kaisar memiliki waktu untuk meladeni tikus got yang membawa klaim kotor? "Kaisar kami hanya memiliki satu permaisuri di hatinya, dan itu adalah Yang Mulia Seraphina. "Jangan bermimpi bisa menodai istana suci dengan kebohongan rendahanmu, Lady!" Gadis itu—yang dulunya hidup dalam sanjungan dan kemewahan istana sebelum rezim runtuh—mengatupkan rahangnya erat-erat. Rasa sakit di sekujur tubuhnya, kelaparan yang melilit perutnya, dan penghinaan yang ia terima melebur menjadi satu kobaran amarah yang membakar habis sisa rasa takutnya. "Kebohongan?" teriaknya tertahan, suar
"Kalian tak akan bisa menangkapku begitu saja! Aku mengandung pewaris takhta kekaisaran ini!" Jeritan itu lolos begitu saja dari bibir sang buronan, disusul oleh suara isak tangis yang tertahan di sela-sela napasnya yang memburu. Keputusasaan yang menderanya telah meruntuhkan pertahanan mentalnya. Membuatnya melontarkan klaim terakhir yang ia miliki sebagai satu-satunya tameng perlindungan di tengah gelapnya lorong kumuh itu. Namun, kalimat ancaman tersebut sama sekali tidak menghentikan langkah para pengejar. Di tengah gelapnya lorong yang hanya disinari oleh temaram cahaya obor yang mulai meredup, bayangan tanpa suara bergerak mendekat dari belakang sosok itu. Bergerak begitu cepat, senyap, dan tanpa celah. Seolah angin malam beracun itu sendiri menjelma menjadi wujud nyata yang siap mematikan mangsanya. Tanpa pernah disadari, bayangan tersebut telah melangkah tepat di balik punggungnya. Sebuah tangan bersarung tangan kulit hitam legam dengan dingin menyentuh pundaknya yang b
Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Kil
Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan deng
Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak perna
Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap







