Share

Rencana Sang Putri

Penulis: Yoru Akira
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-23 14:03:50

Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan.

Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif.

"Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Killian, untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa nama belakang.

"Bersiaplah. Jika malam ini segel itu tidak ditemukan di peti saya, maka saya akan menganggap Anda sebagai umpan yang gagal—dan saya tidak memelihara umpan yang tidak berguna."

Killian berbalik, jubah bulu serigalanya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Seraphina berdiri terpaku, merasakan dinginnya sisa genggaman Killian di kulitnya. Ikan besar itu bukan sekadar memakan umpan; ia telah menyeret Seraphina masuk ke dalam perairan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Namun, itulah yang ia cari.

"Permainan dimulai, Valerius," bisiknya pada kegelapan.

*/*/

Malam itu, Istana Astrum-Glace diselimuti kemegahan yang menyesakkan. Arsitektur yang didominasi marmer kristal putih itu memantulkan cahaya dari ribuan lilin. Menciptakan ilusi seolah-olah seluruh aula dibangun dari berlian yang dipoles.

Lantainya begitu mengkilap hingga Seraphina bisa melihat bayangan wajahnya yang dingin di bawah kakinya sendiri.

Udara di dalam istana terasa aneh; kokoh namun menusuk, dengan aroma mawar yang samar—aroma yang kini membuat Seraphina ingin muntah.

Di tengah aula yang berkilau, Valerius berdiri dengan mempesona dalam balutan seragam kebesaran emasnya.

Ia tersenyum lebar ke arah para bangsawan, tampak begitu kokoh sebagai pilar masa depan kekaisaran. Namun, Seraphina tahu bahwa di balik dinding kristal Astrum-Glace ini, kebusukan sedang menunggu untuk disingkapkan.

Dua jam sebelum perjamuan dimulai, Seraphina telah melakukan langkah bunuh diri. Menggunakan lencana keluarga Astrea yang memberinya akses ke area logistik.

Ia menyelinap ke barak pengawal Utara yang dijaga ketat.

Sang putri tidak memindahkan segel kaisar yang telah diletakkan orang-orang Valerius di sana. Alih-alih, ia menambahkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Kini, Seraphina berdiri di samping Valerius, memegang segelas anggur merah dengan jemari yang stabil.

Dari kejauhan, ia melihat Killian von Eisenhardt masuk ke aula. Pria itu tampak seperti dewa kematian yang terperangkap dalam kotak kaca yang indah; wajahnya datar, matanya sedingin es, dan ia sama sekali tidak menyentuh makanan apa pun.

"Kau tampak cantik malam ini, Seraphina," bisik Valerius di telinganya, suaranya lembut namun penuh kemenangan yang tertahan.

"Sayang sekali pesta di Astrum-Glace yang megah ini harus berakhir dengan sedikit... drama."

Seraphina menyesap anggurnya, matanya berkilat di balik bibir gelas.

"Benarkah, Yang Mulia? Saya juga sangat menantikan drama apa yang akan terjadi di istana yang suci ini."

Tepat saat musik berhenti untuk memberikan jalan bagi Kaisar Benedict memberikan pidato perpisahan, Valerius memberi isyarat kecil pada komandan pengawal istana.

"Mohon maaf, Ayahanda Kaisar," suara Valerius memotong keheningan, terdengar penuh otoritas namun dibuat-buat cemas.

"Saya baru saja menerima laporan yang sangat meresahkan. Tampaknya ada penyelundupan benda suci kekaisaran yang dilakukan oleh tamu kehormatan kita sebelum mereka berangkat ke perbatasan."

Aula kristal itu mendadak sunyi senyap. Mata semua orang tertuju pada Killian.

Duke itu hanya berdiri diam, menyilangkan tangan di dada. Menatap Valerius dengan tatapan predator yang sedang mengamati mangsa yang terlalu percaya diri.

"Apa maksudmu, Valerius?" tanya Kaisar Benedict dengan suara berat dan curiga.

"Segel Agung Kekaisaran menghilang dari ruang kerja Anda, Ayahanda.

"Dan utusan saya melaporkan bahwa segel itu disembunyikan di dalam peti logistik nomor tujuh milik Grand Duke Killian," ucap Valerius lantang. Ia menoleh pada Killian dengan senyum meremehkan.

"Bagaimana, Duke? Apakah Anda ingin membukanya sendiri di depan seluruh saksi di Astrum-Glace ini, atau kita harus membiarkan pengawal istana mempermalukan Anda?"

Killian tidak menjawab. Ia hanya melirik singkat ke arah Seraphina. Seraphina memberikan anggukan hampir tak terlihat.

"Bawa petinya ke sini," perintah Kaisar, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan.

Para pengawal menyeret sebuah peti kayu hitam besar ke tengah aula marmer.

Valerius melangkah maju, tangannya sendiri yang membongkar kunci peti tersebut dengan semangat yang meluap-luap.

Pria itu merogoh ke dalam tumpukan kain pelana, dan dengan gerakan dramatis, ia mengangkat tinggi-tinggi sebuah kotak beludru merah yang berisi Segel Agung Kekaisaran.

"Lihat! Pengkhianatan ini nyata!" seru Valerius.

Namun, sebelum sorakan kemenangan Valerius berlanjut, seorang pengawal kekaisaran yang bertugas memeriksa barang bukti menemukan secarik kertas yang terjatuh dari balik kotak beludru tersebut.

"Tunggu, Yang Mulia Kaisar," ucap sang abdi dalem dengan suara gemetar. "Ada... ada surat di sini."

Valerius mengerutkan kening. Surat? Aku tidak menaruh surat apa pun di sana.

Kaisar Benedict menyambar kertas itu. Saat matanya membaca baris demi baris, wajahnya yang tadinya merah karena marah pada Killian, kini berubah menjadi pucat pasi. Lalu berubah menjadi hitam pekat oleh murka yang meledak di tengah kemegahan aula Astrum-Glace.

"...Letakkan segel ini di peti Eisenhardt. Pastikan dia tidak punya kesempatan untuk membela diri. Aku akan memastikan posisiku sebagai kaisar berikutnya aman setelah monster ini lenyap. - V.D."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Senjata Makan Tuan

    Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini!" teriak Valerius. Suaranya pecah oleh kepanikan yang mendalam. Ia menoleh ke arah Seraphina, mencari dukungan."Seraphina! Kau tahu aku bersamamu tadi sore, katakan pada mereka ini mustahil!" Seraphina menurunkan gelas anggurnya perlahan. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Valerius. Wajahnya kini dipenuhi dengan raut keterkejutan yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia... saya memang bersama Anda sepanjang sore ini. Tapi, ada momen di mana saya permisi untuk bertemu Putri Arabella. Sa-saya tidak bisa memberikan kesaksian sepenuhnya."Maafkan saya, Yang Mulia." Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia sangat

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Rencana Sang Putri

    Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Killian, untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa nama belakang. "Bersiaplah. Jika malam ini segel itu tidak ditemukan di peti saya, maka saya akan menganggap Anda sebagai umpan yang gagal—dan saya tidak memelihara umpan yang tidak berguna." Killian berbalik, jubah bulu serigalanya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Seraphina berdiri terpaku, merasakan dinginnya sisa genggaman Killian di kulitnya. Ikan besar itu bukan sekadar memakan umpan; ia telah menyeret Seraphina masuk ke dalam perairan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Namun, itulah yang ia cari. "Permainan dimulai, Valerius," bisiknya pada kegelapan. */*/ Malam itu, Istana Astrum-Glace diselimuti keme

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Alisiansi Berbahaya

    Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan dengan sang Grand Duke. "Saya tidak sedang menghalangi jalan Anda, Grand Duke," ucap Seraphina, suaranya jernih dan tak bergetar. "Saya sedang menawarkan jalan keluar dari jebakan yang sudah disiapkan Putra Mahkota untuk Anda malam ini." Langkah Killian yang tadinya hendak berlanjut, kembali berhenti. Ia sedikit menyipitkan mata, menatap gadis muda di hadapannya dengan sedikit rasa ingin tahu yang dingin. "Jebakan?" Killian mendengus sinis. "Anda adalah tunangan sang Putra Mahkota. Mengapa Anda mengkhianati calon suami Anda demi orang asing dari Utara?" Killian menimbang sebelum melanjutkan,"Atau... justru Andalah jebakan yang sudah disiapkan itu sendiri!" Seraphina menelan ludah susah p

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Bertemu Duke Utara

    Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota. Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis. Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya. "Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak. "Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!" "Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah. "Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liz

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Sebuah Tamparan

    Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina. 'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang. 'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.' "Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina. Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu.Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang. Liza

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Adik yang Menggemaskan?

    Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius. Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut. Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt. Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri.Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan. Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status