ANMELDENSuara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu.
Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota. Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis. Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya. "Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak. "Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!" "Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah. "Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liza, bagian dari keluarga Astrea, di bawah atap rumahku sendiri!" Ada kilat amarah yang berkobar di sepasang mata emas Valerius. Pria itu berdiri, tubuhnya yang tinggi menjulang berusaha mengintimidasi Seraphina. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Ia tampak sangat ingin membalas, namun ia sadar—di sini, di kediaman Astrea, dan dengan status Seraphina sebagai cucu kesayangan Permaisuri Esthelle, membalas tamparan itu akan menjadi bunuh diri politik. Lagipula, Valerius masih membutuhkan otak brilian Seraphina untuk ambisinya mengkudeta ayahnya sendiri. "Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran, My Lady," desis Valerius dengan gigi terkatup. "Lady Liza memang hanyalah noda bagi martabat keluarga ini." Sudut bibir Seraphina berkedut sinis. 'Kau sekarang bilang begitu, Valerius, tapi tujuh tahun dari sekarang kau justru menjadikannya Permaisuri alih-alih mengangkatku yang telah mengotori tangan demi takhtamu.' "Biar bagaimanapun cara pandangmu yang sempit itu, Yang Mulia," Seraphina melangkah maju, memperkecil jarak hingga ia bisa mencium aroma mawar dan kemunafikan dari napas Valerius. "Liza tetaplah menyandang nama Astrea." Harga diri Valerius benar-benar hancur berkeping-keping. Ia tidak menyangka Seraphina yang biasanya tunduk kini justru menggunakan otoritas keluarganya untuk melawannya. Di belakang mereka, Liza diam-diam menyembunyikan senyum licik. "Kau akan menyesal karena telah memperlakukanku seperti ini, Seraphina von Astrea!" Valerius berteriak, suaranya gemetar oleh murka yang tertahan. "Pengawal! Kita kembali ke istana!" Valerius berbalik dan melangkah pergi dengan kasar, jubahnya berkibar di antara mawar-mawar yang bergoyang. Seraphina berdiri diam, menatap punggung pria itu dengan tatapan predator yang hendak memangsa buruannya. 'Ya, kembalilah ke istanamu yang megah, Yang Mulia. Berlarilah ke sana agar aku punya alasan yang sah untuk mengejarmu!' Setelah kepergian Valerius yang penuh amarah, suasana taman kediaman Astrea kembali sunyi. Menyisakan aroma mawar yang kini terasa memuakkan bagi Seraphina. Ia tidak membuang waktu untuk menikmati kemenangannya yang kecil itu. Ada pergerakan yang jauh lebih besar yang harus ia lakukan hari ini. "Kakak... kau benar-benar berani," bisik Liza yang kini berdiri di sampingnya. Berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan raut wajah cemas yang dibuat-buat. "Apa kau tidak takut hubunganmu dengan Putra Mahkota akan hancur?" Seraphina menoleh perlahan, menatap adik tirinya dengan sorot mata yang membuat Liza mengerutkan dahi. "Hancur? Tidak, Liza. Ini justru awal dari penataan ulang yang lebih sempurna. Masuklah, bersihkan wajahmu. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan?" Tanpa menunggu jawaban Liza, Seraphina berbalik dan melangkah cepat menuju kediaman utama. Ia memanggil Martha dengan suara yang tegas. "Martha, siapkan kereta kuda sekarang juga. Aku harus pergi ke Istana segera." "Tapi Milady, baru saja Putra Mahkota pergi dengan kemarahan besar. Jika Anda menyusulnya sekarang—" "Siapa bilang aku akan menyusulnya?" potong Seraphina sambil menyambar jubah tipis berwarna abu-abu perak untuk menutupi gaun birunya. "Aku pergi untuk menghadap Kaisar... dan seseorang yang jauh lebih penting." Kereta kuda dengan lambang keluarga Astrea melaju kencang menembus jalanan Ibu Kota Aethelgard yang ramai. Di dalam kereta, Seraphina memejamkan mata, memutar kembali memori dari kehidupan sebelumnya. Tahun 724, bulan kedua musim semi... Ia ingat betul. Di kehidupan lalu, Valerius mengeluh habis-habisan padanya tentang kedatangan "Monster Utara" ke istana. Kaisar Benedict memanggil Grand Duke Killian von Eisenhardt untuk memberikan laporan pertanggungjawaban atas anggaran militer di wilayah perbatasan. Di kehidupan itu, Seraphina membantu Valerius menyusun rencana untuk menjebak Killian dalam skandal penggelapan dana—sebuah rencana yang membuat Killian murka dan semakin mengisolasi diri di Utara. 'Kali ini, aku tidak akan membiarkan pedang terkuat itu disia-siakan oleh tikus seperti Valerius,' batin Seraphina. Setibanya di gerbang Istana Valeranthia, Seraphina turun dengan keanggunan seorang permaisuri yang sudah mendarah daging. Para pengawal istana segera memberikan jalan begitu melihat lambang Astrea dan wajah cucu kesayangan Permaisuri Esthelle. Namun, Seraphina tidak melangkah menuju sayap barat tempat kediaman Putra Mahkota. Ia justru berbelok menuju sayap timur. Koridor panjang yang menghubungkan ruang audiensi pribadi Kaisar dengan taman rahasia istana. "Maaf, Lady Astrea," seorang pengawal menghentikannya di depan pintu ganda kayu aras yang besar. "Yang Mulia Kaisar sedang mengadakan pertemuan tertutup dengan Grand Duke dari Utara. Beliau tidak bisa diganggu." Seraphina tidak mundur. Ia justru menegakkan punggungnya, memberikan tatapan yang membuat pengawal itu merasa kerdil. "Aku tidak datang untuk mengganggu audiensi. Aku datang karena ada pesan mendesak dari Nenekku, Permaisuri Esthelle, terkait sambutan untuk tamu dari Utara," Seraphina berbohong dengan lancar tanpa mengedipkan mata. "Apakah kau berani menunda titah Permaisuri?" Pengawal itu ragu sejenak, namun sebelum ia sempat menjawab, pintu besar itu terbuka dari dalam. Hawa dingin yang menusuk seolah merembes keluar dari ruangan yang hangat itu. Seraphina menahan napas. Dari dalam ruangan, melangkah keluar seorang pria yang keberadaannya seolah menelan seluruh cahaya di koridor istana. Tingginya melampaui rata-rata pria di Valeranthia. Ia mengenakan seragam militer hitam pekat dengan aksen perak dan jubah bulu serigala kelabu yang tersampir di bahu lebarnya. Rambutnya sehitam malam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Namun, yang paling mematikan adalah matanya—sepasang iris sebiru es yang tidak memiliki emosi. Seolah ia bisa melihat kematian seseorang hanya dengan sekali lirik. Killian von Eisenhardt. Langkah Killian terhenti tepat di depan Seraphina. Ia tidak membungkuk, tidak juga menunjukkan ketertarikan. Baginya, Seraphina hanyalah satu lagi bangsawan ibu kota yang wangi dan rapuh. "Lady Astrea," suara Killian rendah, berat, dan terasa seperti getaran guntur yang jauh. Ia mengenali lambang di kerah gaun Seraphina. "Anda menghalangi jalan saya."Tiga bulan berlalu begitu cepat di bawah naungan musim semi yang sedang hangat-hangatnya di Kekaisaran Valeranthia. Ibukota Luxandria bergemuruh dalam kemegahan dan sukacita. Merayakan sebuah peristiwa sakral yang telah lama dinantikan oleh para bangsawan dan rakyat jelata. Katedral Agung Kekaisaran dihiasi oleh jutaan kelopak bunga mawar putih dan pita sutra perak yang menjuntai anggun di setiap pilar marmernya. Lonceng suci berdentang merdu. Memecah keheningan pagi dengan kidung kebahagiaan yang menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Di hadapan altar suci, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan wibawa yang tak tertandingi. Noah von Astrea mengenakan jubah kebesaran bangsawan berwarna hitam legam bergaris sulaman perak murni. Sorot mata hijau yang biasanya memancarkan ketegasan militer kini tampak melembut.Dipenuhi oleh debar jantung yang luar biasa serta binar antisipasi yang tak bisa ia sembunyikan lagi."Dia benar-benar seperti orang yang berbeda," bisik Seraphina l
Obrolan di meja makan itu perlahan-lahan terpecah menjadi beberapa kelompok kecil. Jeremiah sibuk menceritakan strategi perbatasan di wilayah Kekaisaran Valeranthia kepada Kaelen dan Elianora dengan gaya bercerita yang dramatis.Sementara Killian dan Seraphina asyik berbincang berdua, sengaja memberikan ruang privasi bagi dua orang yang duduk di ujung meja. Di tengah suara dentingan alat makan yang berpadu dengan alunan musik instrumental dari koridor luar, suasana di sekitar Noah dan Sabrina terasa lebih tenang.Namun diisi oleh debar jantung yang sama-sama bergemuruh. Noah menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian yang biasanya ia kerahkan saat memimpin ribuan pasukan di medan perang. Ia meletakkan garpu dan pisaunya dengan rapi di atas piring, lalu menoleh sepenuhnya ke arah wanita di sampingnya. "Lady Sabrina," panggil Noah dengan suara baritonnya yang tenang, meski ada getar tipis yang berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. Sabrina, yang baru saja hendak
Mendengar penuturan sang permaisuri, Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah kursi yang dimaksud. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang memukau. "Terima kasih, Yang Mulia," ujar Sabrina sebelum menuju kursi yang disebutkan sang permaisuri.Dengan langkah anggun dan terukur, ia berjalan mendekati meja makan. Mengabaikan debar-debar penasaran dari para tamu lain yang tidak tahu menahu tentang rencana terselubung di balik jamuan ini.Di sisi lain, Noah merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak mengalir deras ke kepala. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Berusaha mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan wibawa.Meski telapak tangannya di bawah meja kini basah oleh keringat dingin. Ia merutuki adiknya dalam hati; 'Sera benar-benar sengaja melakukannya. Apa dia tahu sesuatu?'"Selamat malam, Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri. Dan selamat malam untuk para petinggi keluarga Astrea," sapa Sabrina dengan suara lembutnya yang khas, begitu ia ti
Killian mendengus geli mendengar jawaban telak dari kakak iparnya itu. Sebelum ia sempat melontarkan komentar balasan untuk menjahili Noah, Seraphina sudah lebih dulu menyenggol pelan lengan suaminya dengan tatapan memperingatkan. Menyiratkan agar sang kaisar tidak mencari gara-gara di hari pertemuan keluarga yang berharga ini. "Sudahlah, Killian. Jangan mulai berdebat di hadapan anak-anak," tegur Seraphina lembut. Suaranya mengandung otoritas manis yang langsung membuat sang kaisar mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Wanita itu kemudian beralih menatap kedua kakaknya dengan senyuman ramah. "Mari masuk ke paviliun. Perjamuan malam sudah disiapkan di ruang makan terbuka, dan koki istana baru saja memanggang daging domba kesukaan kalian." "Baguslah, karena perjalanan ke mari membuat perutku keroncongan," sahut Jeremiah ringan. Merangkul pundak sang kakak sulung sambil berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan paviliun yang megah. Suasana hangat langsung mendominas
Noah menarik napas panjang. Membiarkan udara sore yang sejuk mengisi paru-parunya sebelum ia berbalik menghadap sang adik yang masih duduk bersantai di sofa. "Katakan padaku, Jeremiah," ujar Noah dengan nada serius namun terselip sedikit seringai di bibirnya. "Apakah pasukan khususmu di perbatasan barat sudah tidak ada kerjaan lagi, sampai-sampai kau punya banyak waktu luang untuk mampir ke ruang kerjaku dan mengurusi masalah percintaanku?" Jeremiah terbahak pelan, menegakkan punggungnya lalu berdiri merapikan seragam militer kekaisaran yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. "Tentu saja ada, Kak. Tapi mengejek seorang kepala keluarga Astrea yang hampir berkarat di balik meja kerjanya jauh lebih menghibur daripada melihat peta perbatasan." "Sialan kau," balas Noah melempar gulungan kertas kosong ringan ke arah adiknya, yang dengan sigap ditangkap oleh Jeremiah sambil tertawa lepas. "Sudahlah, jangan pasang wajah masam begitu," ucap Jeremiah sambil melangkah menuju pintu k
Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas atap menara tinggi Kediaman Utama Keluarga Astrea. Berbeda dengan suasana hangat dan penuh gelak tawa di istana kekaisaran, kediaman keluarga Astrea selalu memancarkan aura ketenangan yang khidmat, teratur, dan dijaga ketat oleh disiplin militer yang ketat. Di ruang kerja pribadi kepala keluarga, Noah von Astrea duduk di balik meja kerja marmer hitam. Dipenuhi oleh tumpukan gulungan dokumen perbatasan dan laporan keuangan wilayah keluarga tersebut. "Kalau kau terus seperti ini, kau akan mati bahkan sebelum sempat menikah, Noah!" bisik pria itu pada dirinya sendiri. Ia mulai lelah akibat setiap hari harus berkutat dengan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Usianya kini telah menginjak kepala tiga. Garis rahangnya semakin tegas, dan sorot mata hijaunya memancarkan wibawa mutlak dari seorang pemimpin.Seorang pemimpin yang berhasil membawa keluarganya keluar dari bayang-bayang kehancuran masa lalu.Namun, di usianya saat ini, i
Brak!! Liza membanting pintu kamar di belakangnya hingga debu-debu tua berjatuhan dari langit-langit menara sayap Barat. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang menyumbat tenggorokan.Gadis itu mondar-mandir di dalam kamar yang luas namun terasa mencekik itu. Sesekali menggigit u
Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini
Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Kil
Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan deng







