Share

Bertemu Duke Utara

Penulis: Yoru Akira
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 22:02:13

Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu.

Hening.

Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut.

Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota.

Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis.

Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya.

"Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak.

"Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!"

"Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah.

"Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liza, bagian dari keluarga Astrea, di bawah atap rumahku sendiri!"

Ada kilat amarah yang berkobar di sepasang mata emas Valerius. Pria itu berdiri, tubuhnya yang tinggi menjulang berusaha mengintimidasi Seraphina. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih.

Ia tampak sangat ingin membalas, namun ia sadar—di sini, di kediaman Astrea, dan dengan status Seraphina sebagai cucu kesayangan Permaisuri Esthelle, membalas tamparan itu akan menjadi bunuh diri politik.

Lagipula, Valerius masih membutuhkan otak brilian Seraphina untuk ambisinya mengkudeta ayahnya sendiri.

"Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran, My Lady," desis Valerius dengan gigi terkatup. "Lady Liza memang hanyalah noda bagi martabat keluarga ini."

Sudut bibir Seraphina berkedut sinis. 'Kau sekarang bilang begitu, Valerius, tapi tujuh tahun dari sekarang kau justru menjadikannya Permaisuri alih-alih mengangkatku yang telah mengotori tangan demi takhtamu.'

"Biar bagaimanapun cara pandangmu yang sempit itu, Yang Mulia," Seraphina melangkah maju, memperkecil jarak hingga ia bisa mencium aroma mawar dan kemunafikan dari napas Valerius. "Liza tetaplah menyandang nama Astrea."

Harga diri Valerius benar-benar hancur berkeping-keping. Ia tidak menyangka Seraphina yang biasanya tunduk kini justru menggunakan otoritas keluarganya untuk melawannya.

Di belakang mereka, Liza diam-diam menyembunyikan senyum licik.

"Kau akan menyesal karena telah memperlakukanku seperti ini, Seraphina von Astrea!" Valerius berteriak, suaranya gemetar oleh murka yang tertahan. "Pengawal! Kita kembali ke istana!"

Valerius berbalik dan melangkah pergi dengan kasar, jubahnya berkibar di antara mawar-mawar yang bergoyang.

Seraphina berdiri diam, menatap punggung pria itu dengan tatapan predator yang hendak memangsa buruannya.

'Ya, kembalilah ke istanamu yang megah, Yang Mulia. Berlarilah ke sana agar aku punya alasan yang sah untuk mengejarmu!'

Setelah kepergian Valerius yang penuh amarah, suasana taman kediaman Astrea kembali sunyi. Menyisakan aroma mawar yang kini terasa memuakkan bagi Seraphina.

Ia tidak membuang waktu untuk menikmati kemenangannya yang kecil itu. Ada pergerakan yang jauh lebih besar yang harus ia lakukan hari ini.

"Kakak... kau benar-benar berani," bisik Liza yang kini berdiri di sampingnya. Berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan raut wajah cemas yang dibuat-buat.

"Apa kau tidak takut hubunganmu dengan Putra Mahkota akan hancur?"

Seraphina menoleh perlahan, menatap adik tirinya dengan sorot mata yang membuat Liza mengerutkan dahi.

"Hancur? Tidak, Liza. Ini justru awal dari penataan ulang yang lebih sempurna. Masuklah, bersihkan wajahmu. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan?"

Tanpa menunggu jawaban Liza, Seraphina berbalik dan melangkah cepat menuju kediaman utama. Ia memanggil Martha dengan suara yang tegas.

"Martha, siapkan kereta kuda sekarang juga. Aku harus pergi ke Istana segera."

"Tapi Milady, baru saja Putra Mahkota pergi dengan kemarahan besar. Jika Anda menyusulnya sekarang—"

"Siapa bilang aku akan menyusulnya?" potong Seraphina sambil menyambar jubah tipis berwarna abu-abu perak untuk menutupi gaun birunya.

"Aku pergi untuk menghadap Kaisar... dan seseorang yang jauh lebih penting."

Kereta kuda dengan lambang keluarga Astrea melaju kencang menembus jalanan Ibu Kota Aethelgard yang ramai.

Di dalam kereta, Seraphina memejamkan mata, memutar kembali memori dari kehidupan sebelumnya.

Tahun 724, bulan kedua musim semi... Ia ingat betul. Di kehidupan lalu, Valerius mengeluh habis-habisan padanya tentang kedatangan "Monster Utara" ke istana.

Kaisar Benedict memanggil Grand Duke Killian von Eisenhardt untuk memberikan laporan pertanggungjawaban atas anggaran militer di wilayah perbatasan.

Di kehidupan itu, Seraphina membantu Valerius menyusun rencana untuk menjebak Killian dalam skandal penggelapan dana—sebuah rencana yang membuat Killian murka dan semakin mengisolasi diri di Utara.

'Kali ini, aku tidak akan membiarkan pedang terkuat itu disia-siakan oleh tikus seperti Valerius,' batin Seraphina.

Setibanya di gerbang Istana Valeranthia, Seraphina turun dengan keanggunan seorang permaisuri yang sudah mendarah daging.

Para pengawal istana segera memberikan jalan begitu melihat lambang Astrea dan wajah cucu kesayangan Permaisuri Esthelle.

Namun, Seraphina tidak melangkah menuju sayap barat tempat kediaman Putra Mahkota. Ia justru berbelok menuju sayap timur. Koridor panjang yang menghubungkan ruang audiensi pribadi Kaisar dengan taman rahasia istana.

"Maaf, Lady Astrea," seorang pengawal menghentikannya di depan pintu ganda kayu aras yang besar. "Yang Mulia Kaisar sedang mengadakan pertemuan tertutup dengan Grand Duke dari Utara. Beliau tidak bisa diganggu."

Seraphina tidak mundur. Ia justru menegakkan punggungnya, memberikan tatapan yang membuat pengawal itu merasa kerdil.

"Aku tidak datang untuk mengganggu audiensi. Aku datang karena ada pesan mendesak dari Nenekku, Permaisuri Esthelle, terkait sambutan untuk tamu dari Utara," Seraphina berbohong dengan lancar tanpa mengedipkan mata.

"Apakah kau berani menunda titah Permaisuri?"

Pengawal itu ragu sejenak, namun sebelum ia sempat menjawab, pintu besar itu terbuka dari dalam.

Hawa dingin yang menusuk seolah merembes keluar dari ruangan yang hangat itu. Seraphina menahan napas. Dari dalam ruangan, melangkah keluar seorang pria yang keberadaannya seolah menelan seluruh cahaya di koridor istana.

Tingginya melampaui rata-rata pria di Valeranthia. Ia mengenakan seragam militer hitam pekat dengan aksen perak dan jubah bulu serigala kelabu yang tersampir di bahu lebarnya.

Rambutnya sehitam malam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Namun, yang paling mematikan adalah matanya—sepasang iris sebiru es yang tidak memiliki emosi. Seolah ia bisa melihat kematian seseorang hanya dengan sekali lirik.

Killian von Eisenhardt.

Langkah Killian terhenti tepat di depan Seraphina. Ia tidak membungkuk, tidak juga menunjukkan ketertarikan. Baginya, Seraphina hanyalah satu lagi bangsawan ibu kota yang wangi dan rapuh.

"Lady Astrea," suara Killian rendah, berat, dan terasa seperti getaran guntur yang jauh. Ia mengenali lambang di kerah gaun Seraphina. "Anda menghalangi jalan saya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Senjata Makan Tuan

    Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini!" teriak Valerius. Suaranya pecah oleh kepanikan yang mendalam. Ia menoleh ke arah Seraphina, mencari dukungan."Seraphina! Kau tahu aku bersamamu tadi sore, katakan pada mereka ini mustahil!" Seraphina menurunkan gelas anggurnya perlahan. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Valerius. Wajahnya kini dipenuhi dengan raut keterkejutan yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia... saya memang bersama Anda sepanjang sore ini. Tapi, ada momen di mana saya permisi untuk bertemu Putri Arabella. Sa-saya tidak bisa memberikan kesaksian sepenuhnya."Maafkan saya, Yang Mulia." Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia sangat

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Rencana Sang Putri

    Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Killian, untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa nama belakang. "Bersiaplah. Jika malam ini segel itu tidak ditemukan di peti saya, maka saya akan menganggap Anda sebagai umpan yang gagal—dan saya tidak memelihara umpan yang tidak berguna." Killian berbalik, jubah bulu serigalanya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Seraphina berdiri terpaku, merasakan dinginnya sisa genggaman Killian di kulitnya. Ikan besar itu bukan sekadar memakan umpan; ia telah menyeret Seraphina masuk ke dalam perairan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Namun, itulah yang ia cari. "Permainan dimulai, Valerius," bisiknya pada kegelapan. */*/ Malam itu, Istana Astrum-Glace diselimuti keme

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Alisiansi Berbahaya

    Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan dengan sang Grand Duke. "Saya tidak sedang menghalangi jalan Anda, Grand Duke," ucap Seraphina, suaranya jernih dan tak bergetar. "Saya sedang menawarkan jalan keluar dari jebakan yang sudah disiapkan Putra Mahkota untuk Anda malam ini." Langkah Killian yang tadinya hendak berlanjut, kembali berhenti. Ia sedikit menyipitkan mata, menatap gadis muda di hadapannya dengan sedikit rasa ingin tahu yang dingin. "Jebakan?" Killian mendengus sinis. "Anda adalah tunangan sang Putra Mahkota. Mengapa Anda mengkhianati calon suami Anda demi orang asing dari Utara?" Killian menimbang sebelum melanjutkan,"Atau... justru Andalah jebakan yang sudah disiapkan itu sendiri!" Seraphina menelan ludah susah p

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Bertemu Duke Utara

    Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota. Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis. Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya. "Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak. "Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!" "Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah. "Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liz

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Sebuah Tamparan

    Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina. 'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang. 'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.' "Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina. Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu.Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang. Liza

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Adik yang Menggemaskan?

    Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius. Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut. Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt. Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri.Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan. Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status