Share

Alisiansi Berbahaya

Penulis: Yoru Akira
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-05 02:38:42

Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya.

Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan dengan sang Grand Duke.

"Saya tidak sedang menghalangi jalan Anda, Grand Duke," ucap Seraphina, suaranya jernih dan tak bergetar.

"Saya sedang menawarkan jalan keluar dari jebakan yang sudah disiapkan Putra Mahkota untuk Anda malam ini."

Langkah Killian yang tadinya hendak berlanjut, kembali berhenti. Ia sedikit menyipitkan mata, menatap gadis muda di hadapannya dengan sedikit rasa ingin tahu yang dingin.

"Jebakan?" Killian mendengus sinis. "Anda adalah tunangan sang Putra Mahkota. Mengapa Anda mengkhianati calon suami Anda demi orang asing dari Utara?"

Killian menimbang sebelum melanjutkan,"Atau... justru Andalah jebakan yang sudah disiapkan itu sendiri!"

Seraphina menelan ludah susah payah. Ia memang sempat membicarakan hal itu pada Valerius beberapa waktu lalu, tapi tak semua rencana ia katakan. Seraphina sengaja mengulur waktu agar lebih banyak kesempatan bertemu sang putra mahkota.

Sedangkan itu memang pikirannya dulu. Tanpa pernah tahu, jika pria itu tak pernah benar-benar mencintainya. Hanya memanfaatkannya.

"Kewaspadaan Anda memang tak perlu dipertanyakan, Grand Duke. Apalagi terhadap calon tunangan putra mahkota yang secara terang-terangan memusuhi Anda. Bukankah dengan begitu, semakin terlihat kualitasnya?"

Killian tak memberikan tanggapan. Ada keterkejutan samar di wajah pria itu.

Yakin bahwa Killian mulai terusik, perempuan muda itu maju satu langkah. Memperkecil jarak hingga ia bisa merasakan aura intimidasi yang kuat dari Killian. Ia berbisik, cukup rendah hingga hanya pria itu yang bisa mendengarnya.

"Saya tahu apa yang ada di balik senyum Valerius hanyalah kepalsuan, Tuan. Senyuman itu tak lebih dari racun yang mematikan, dan saya tahu apa yang ada di balik pedang Anda adalah keadilan.

"Saya tidak datang sebagai tunangan Putra Mahkota, Grand Duke. Saya datang sebagai seseorang yang ingin melihat Valeranthia dibersihkan dari tikus-tikus pengkhianat."

Killian diam membisu. Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia menatap Seraphina, mencari tanda-tanda kebohongan atau muslihat.

Namun, yang ia temukan di mata ungu gadis itu hanyalah kegelapan yang sama dengan miliknya—kegelapan seseorang yang telah melihat neraka.

"Ikuti saya," perintah Killian singkat, berbalik menuju koridor yang lebih sepi. "Anda punya waktu lima menit sebelum saya meninggalkan istana ini."

Seraphina menyunggingkan senyum tipis di balik jubahnya. Ikan besar itu sudah memakan umpannya.

Sementara Killian melangkah dengan langkah-langkah lebar yang bergema di sepanjang koridor sepi sayap timur. Menciptakan bayangan panjang yang seolah menelan sosok Seraphina di belakangnya.

Begitu mereka mencapai balkon terpencil yang menghadap ke tebing curam di belakang istana—tempat di mana suara angin menderu cukup keras untuk meredam pembicaraan—Killian berhenti mendadak.

Ia berbalik, menyandarkan tubuh tegapnya pada pilar marmer yang dingin, sementara tangannya tetap berada di gagang pedang setinggi pinggang.

"Lima menit dimulai sekarang, Lady Astrea," suara Killian terdengar seperti gesekan es. "Katakan, jebakan apa yang dimaksud oleh 'otak' di balik takhta Valeranthia ini?"

Seraphina tidak membuang waktu. Ia mengatur napasnya, menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai menggelap.

"Malam ini, di perjamuan perpisahan Anda, Valerius telah memerintahkan unit bayangan untuk menyusup ke barak pengawal Anda.

"Mereka tidak akan menyerang. Mereka akan meletakkan segel resmi Kekaisaran yang telah dicuri dari ruang kerja Kaisar Benedict ke dalam peti logistik Anda."

Mata biru Killian berkilat. Ia tahu persis apa artinya itu: tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi. Mencuri segel kaisar sama saja dengan menyatakan diri sebagai pemberontak.

"Lalu, Valerius akan muncul sebagai pahlawan yang 'menemukan' bukti itu sebelum Anda meninggalkan gerbang Luxandria," lanjut Seraphina, bibirnya menyunggingkan senyum getir.

"Dia ingin memastikan Anda tidak pernah sampai ke Utara hidup-hidup, atau setidaknya, sampai ke sana sebagai buronan."

Killian terdiam. Keheningan di antara mereka terasa menyesakkan. Hanya diisi oleh deru angin musim semi yang mendadak terasa menusuk.

Pria yang telah menghabiskan sepanjang hidupnya di medan perang itu, mempelajari ekspresi Seraphina. Dengan intensitas yang seolah mampu menguliti rahasia di balik tulang rusuk gadis itu.

"Informasi yang sangat spesifik, Lady. Ini bukan sesuatu yang murah," Killian berbisik berbahaya, langkahnya mendekat hingga bayangannya menutupi Seraphina sepenuhnya.

"Apa yang Anda inginkan sebagai imbalan?"

Seraphina mendongak, matanya yang ungu kini tampak sedalam samudra di malam hari. Ia melepaskan topeng keanggunannya. Membiarkan kebencian yang murni merembes keluar melalui suaranya.

"Saya menginginkan kehancurannya, Grand Duke. Saya ingin melihat Valerius kehilangan segala yang ia dambakan—takhtanya, reputasinya, dan napasnya.

"Saya ingin menjadikannya debu di bawah kakiku dan rampaslah takhta kaisar darinya, lalu jadikan saya permaisurimu."

Killian terpaku sesaat. Ia telah menghadapi ribuan musuh di medan perang. Namun, ia belum pernah melihat api dendam sepekat ini dalam diri seorang gadis bangsawan yang seharusnya sibuk dengan pesta dansa.

"Anda terlalu blak-blakan, Lady. Jadi, Anda ingin menggunakan saya sebagai pedang Anda," simpul Killian.

"Anda pasti tahu bahwa saya tak pernah berpikir untuk duduk di kursi, Kaisar."

"Anda akan dan Anda harus melakukannya, Grand Duke. Demi kakek buyut Anda!" Ada kobaran dendam yang semakin menyala di sepasang mata Seraphina ketika mengatakan hal tersebut.

"Baik, katakan saya menerima permintaan Anda, Apa Anda sudah memikirkan jika alisiansi ini berbahaya, Lady Astrea? Jika saya gagal, Anda akan digantung sebagai pengkhianat di samping saya."

"Dan jika kita berhasil," Seraphina membalas dengan nada yang tenang namun tajam, "Anda akan memiliki kendali penuh atas militer Utara, naik takhta, dan saya... saya akan memiliki kepuasan melihat sejarah menghapus nama Valerius."

Seraphina mengulurkan tangannya yang mungil, tampak rapuh namun tak bergetar. "Kontrak pernikahan sebagai perlindungan hukum bagi saya untuk berada di sisi Anda, dan kecerdasan Astrea sebagai jaminan bagi Anda.

"Apakah Anda bersedia berdansa dengan 'iblis' dari keluarga Astrea ini?"

"Anda sudah memikirkan bagaimana reaksi ayah Anda dengan jalinan ikatan ini, Lady? Anda tentu tahu bagaimana Astrea dan..."

"Saking bermusuhan. Saya tahu dan saya menerima resikonya, Tuan. Asalkan Anda sepakat dengan saya, itu lebih dari cukup."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Senjata Makan Tuan

    Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini!" teriak Valerius. Suaranya pecah oleh kepanikan yang mendalam. Ia menoleh ke arah Seraphina, mencari dukungan."Seraphina! Kau tahu aku bersamamu tadi sore, katakan pada mereka ini mustahil!" Seraphina menurunkan gelas anggurnya perlahan. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Valerius. Wajahnya kini dipenuhi dengan raut keterkejutan yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia... saya memang bersama Anda sepanjang sore ini. Tapi, ada momen di mana saya permisi untuk bertemu Putri Arabella. Sa-saya tidak bisa memberikan kesaksian sepenuhnya."Maafkan saya, Yang Mulia." Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia sangat

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Rencana Sang Putri

    Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Killian, untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa nama belakang. "Bersiaplah. Jika malam ini segel itu tidak ditemukan di peti saya, maka saya akan menganggap Anda sebagai umpan yang gagal—dan saya tidak memelihara umpan yang tidak berguna." Killian berbalik, jubah bulu serigalanya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Seraphina berdiri terpaku, merasakan dinginnya sisa genggaman Killian di kulitnya. Ikan besar itu bukan sekadar memakan umpan; ia telah menyeret Seraphina masuk ke dalam perairan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Namun, itulah yang ia cari. "Permainan dimulai, Valerius," bisiknya pada kegelapan. */*/ Malam itu, Istana Astrum-Glace diselimuti keme

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Alisiansi Berbahaya

    Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan dengan sang Grand Duke. "Saya tidak sedang menghalangi jalan Anda, Grand Duke," ucap Seraphina, suaranya jernih dan tak bergetar. "Saya sedang menawarkan jalan keluar dari jebakan yang sudah disiapkan Putra Mahkota untuk Anda malam ini." Langkah Killian yang tadinya hendak berlanjut, kembali berhenti. Ia sedikit menyipitkan mata, menatap gadis muda di hadapannya dengan sedikit rasa ingin tahu yang dingin. "Jebakan?" Killian mendengus sinis. "Anda adalah tunangan sang Putra Mahkota. Mengapa Anda mengkhianati calon suami Anda demi orang asing dari Utara?" Killian menimbang sebelum melanjutkan,"Atau... justru Andalah jebakan yang sudah disiapkan itu sendiri!" Seraphina menelan ludah susah p

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Bertemu Duke Utara

    Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota. Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis. Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya. "Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak. "Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!" "Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah. "Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liz

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Sebuah Tamparan

    Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina. 'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang. 'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.' "Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina. Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu.Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang. Liza

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Adik yang Menggemaskan?

    Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius. Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut. Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt. Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri.Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan. Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status