MasukTiga bulan berlalu begitu cepat di bawah naungan musim semi yang sedang hangat-hangatnya di Kekaisaran Valeranthia. Ibukota Luxandria bergemuruh dalam kemegahan dan sukacita. Merayakan sebuah peristiwa sakral yang telah lama dinantikan oleh para bangsawan dan rakyat jelata. Katedral Agung Kekaisaran dihiasi oleh jutaan kelopak bunga mawar putih dan pita sutra perak yang menjuntai anggun di setiap pilar marmernya. Lonceng suci berdentang merdu. Memecah keheningan pagi dengan kidung kebahagiaan yang menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Di hadapan altar suci, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan wibawa yang tak tertandingi. Noah von Astrea mengenakan jubah kebesaran bangsawan berwarna hitam legam bergaris sulaman perak murni. Sorot mata hijau yang biasanya memancarkan ketegasan militer kini tampak melembut.Dipenuhi oleh debar jantung yang luar biasa serta binar antisipasi yang tak bisa ia sembunyikan lagi."Dia benar-benar seperti orang yang berbeda," bisik Seraphina l
Obrolan di meja makan itu perlahan-lahan terpecah menjadi beberapa kelompok kecil. Jeremiah sibuk menceritakan strategi perbatasan di wilayah Kekaisaran Valeranthia kepada Kaelen dan Elianora dengan gaya bercerita yang dramatis.Sementara Killian dan Seraphina asyik berbincang berdua, sengaja memberikan ruang privasi bagi dua orang yang duduk di ujung meja. Di tengah suara dentingan alat makan yang berpadu dengan alunan musik instrumental dari koridor luar, suasana di sekitar Noah dan Sabrina terasa lebih tenang.Namun diisi oleh debar jantung yang sama-sama bergemuruh. Noah menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian yang biasanya ia kerahkan saat memimpin ribuan pasukan di medan perang. Ia meletakkan garpu dan pisaunya dengan rapi di atas piring, lalu menoleh sepenuhnya ke arah wanita di sampingnya. "Lady Sabrina," panggil Noah dengan suara baritonnya yang tenang, meski ada getar tipis yang berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. Sabrina, yang baru saja hendak
Mendengar penuturan sang permaisuri, Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah kursi yang dimaksud. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang memukau. "Terima kasih, Yang Mulia," ujar Sabrina sebelum menuju kursi yang disebutkan sang permaisuri.Dengan langkah anggun dan terukur, ia berjalan mendekati meja makan. Mengabaikan debar-debar penasaran dari para tamu lain yang tidak tahu menahu tentang rencana terselubung di balik jamuan ini.Di sisi lain, Noah merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak mengalir deras ke kepala. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Berusaha mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan wibawa.Meski telapak tangannya di bawah meja kini basah oleh keringat dingin. Ia merutuki adiknya dalam hati; 'Sera benar-benar sengaja melakukannya. Apa dia tahu sesuatu?'"Selamat malam, Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri. Dan selamat malam untuk para petinggi keluarga Astrea," sapa Sabrina dengan suara lembutnya yang khas, begitu ia ti
Killian mendengus geli mendengar jawaban telak dari kakak iparnya itu. Sebelum ia sempat melontarkan komentar balasan untuk menjahili Noah, Seraphina sudah lebih dulu menyenggol pelan lengan suaminya dengan tatapan memperingatkan. Menyiratkan agar sang kaisar tidak mencari gara-gara di hari pertemuan keluarga yang berharga ini. "Sudahlah, Killian. Jangan mulai berdebat di hadapan anak-anak," tegur Seraphina lembut. Suaranya mengandung otoritas manis yang langsung membuat sang kaisar mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Wanita itu kemudian beralih menatap kedua kakaknya dengan senyuman ramah. "Mari masuk ke paviliun. Perjamuan malam sudah disiapkan di ruang makan terbuka, dan koki istana baru saja memanggang daging domba kesukaan kalian." "Baguslah, karena perjalanan ke mari membuat perutku keroncongan," sahut Jeremiah ringan. Merangkul pundak sang kakak sulung sambil berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan paviliun yang megah. Suasana hangat langsung mendominas
Noah menarik napas panjang. Membiarkan udara sore yang sejuk mengisi paru-parunya sebelum ia berbalik menghadap sang adik yang masih duduk bersantai di sofa. "Katakan padaku, Jeremiah," ujar Noah dengan nada serius namun terselip sedikit seringai di bibirnya. "Apakah pasukan khususmu di perbatasan barat sudah tidak ada kerjaan lagi, sampai-sampai kau punya banyak waktu luang untuk mampir ke ruang kerjaku dan mengurusi masalah percintaanku?" Jeremiah terbahak pelan, menegakkan punggungnya lalu berdiri merapikan seragam militer kekaisaran yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. "Tentu saja ada, Kak. Tapi mengejek seorang kepala keluarga Astrea yang hampir berkarat di balik meja kerjanya jauh lebih menghibur daripada melihat peta perbatasan." "Sialan kau," balas Noah melempar gulungan kertas kosong ringan ke arah adiknya, yang dengan sigap ditangkap oleh Jeremiah sambil tertawa lepas. "Sudahlah, jangan pasang wajah masam begitu," ucap Jeremiah sambil melangkah menuju pintu k
Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas atap menara tinggi Kediaman Utama Keluarga Astrea. Berbeda dengan suasana hangat dan penuh gelak tawa di istana kekaisaran, kediaman keluarga Astrea selalu memancarkan aura ketenangan yang khidmat, teratur, dan dijaga ketat oleh disiplin militer yang ketat. Di ruang kerja pribadi kepala keluarga, Noah von Astrea duduk di balik meja kerja marmer hitam. Dipenuhi oleh tumpukan gulungan dokumen perbatasan dan laporan keuangan wilayah keluarga tersebut. "Kalau kau terus seperti ini, kau akan mati bahkan sebelum sempat menikah, Noah!" bisik pria itu pada dirinya sendiri. Ia mulai lelah akibat setiap hari harus berkutat dengan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Usianya kini telah menginjak kepala tiga. Garis rahangnya semakin tegas, dan sorot mata hijaunya memancarkan wibawa mutlak dari seorang pemimpin.Seorang pemimpin yang berhasil membawa keluarganya keluar dari bayang-bayang kehancuran masa lalu.Namun, di usianya saat ini, i
Hosh! Seraphina tersentak bangun, tubuhnya melengkung ke atas seolah baru saja ditarik paksa dari kedalaman samudra yang gelap. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya; setiap tarikan napas terasa rakus. Seolah-olah paru-parunya masih tidak percaya bahwa udara yang ia hirup bukanlah pecahan kaca
"Ugh!" Suaranya tersekat, ketika sensasi terbakar itu mulai menyerang tenggorokannya. Racun itu merambat secepat kilat. Mencabik-cabik paru-parunya hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca yang membara. Seraphina von Astrea terbatuk, dan saat ia melihat telapak tangannya
Brak!! Liza membanting pintu kamar di belakangnya hingga debu-debu tua berjatuhan dari langit-langit menara sayap Barat. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang menyumbat tenggorokan.Gadis itu mondar-mandir di dalam kamar yang luas namun terasa mencekik itu. Sesekali menggigit u
Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini







