LOGIN"Menjadi Nyai Anom, menjadi Garwa Padmi, semua itu melelahkan." Memayu melangkah ke arah dipan. Matanya sendu menatap langit yang awalnya cerah perlahan mendung dari arah timur."Kedudukan ini membawa begitu banyak penderitaan," katanya, sambil duduk dan menyembuskan naps. "Jika Shankara kembali, Agastya turun dari kedudukan pewaris, dan aku bisa terbebas dari jabatan ini."'Penderitaan'Tilar dan Asri menunduk. Bukan lagi hanya karena merasa benar, mereka yang melihatnya sendiri. Puspa bahkan belum sempat menikmati kebahagiaan sebagai seorang ibu, bayi itu sudah pergi sebelum sempat melihat dunia.Ternyata, bahkan seorang bayi yang baru memiliki detak jantung tidak aman bersama Nyai Anom—Garwa Padmi.Sungguh kejam. Neraka dunia."Kalian berdua menunduk untuk apa?"Tilar dan Asri tersentak, keduanya sama-sama mendongak, menatap Puspa yang keningnya mengernyit saat sedang menilai"Tidak apa-apa, Nyai Anom," kata Tilar. Sementara Asri di sampingnya hanya mengangguk pelan sebelum menundu
Puspa tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, ia bertanya, "Kau mengenalnya?"Adi terdiam. Ia merasa pertanyaan sederhana bisa menjadi sesuatu yang begitu sulit dijawab. Sebab selama ini, ia sendiri belum tahu siapa dirinya.Lalu sekarang, perempuan yang bahkan tidak bisa ia pahami mengapa selalu mengusik pikirannya itu datang membawa sebuah nama yang terasa familier.Nama yang mungkin bisa menjelaskan segalanya, atau ... justru menghancurkan semua yang selama ini dipercayainya."Saya tidak mengenalnya.""Begitukah?" Puspa menunduk, menatap batu-batu dan cincin yang Adi poles. "Tapi namamu juga Adiwilaga, benar?""Nama yang sama tidak membuat seseorang sama." Adi menyapu semua hal yang ada di mejanya, ia memang tidak suka seseorang melihat apa yang sedang ia lalukan.Puspa tersenyum. Tentu saja ia tahu itu, tapi ketika melirik dada kiri Adi, di mana lambang bintang itu terpampang dengan jelas, ia menarik napas pelan dan berbisik, "Aku tahu kau tidak percaya, tapi tanda itu sam
Dana lelah. Helaan napasnya terdengar pelan. "Adi, rendam kepalamu dalam bakul es dulu agar kau bisa fokus." "Aku fokus," jawab Adi, setelah tadi menjatuhkan palu dan menyenggol batu yang akan ia poles. Sudah jelas, Dana mendengkus, tapi tak acuhkan sajalah, api di hadapannya lebih penting daripada apa yang sedang berkecamuk di kepala rekan bekerjanya itu. Asal pesanan dan permintaan yang masuk selesai dengan baik, semuanya pun baik-baik saja, bukan? Tak berapa lama, Adi berganti kegiatan, ia mulai menghaluskan tepian sebuah cincin, dan detik itu juga aroma sedap malam menyentuh indra penciumannya. Tangannya berhenti. Aroma itu begitu dikenalnya. Bukan karena sering tercium di tokonya, melainkan karena pemiliknya pernah berdiri di hadapannya, memilih perhiasan dengan ketelitian yang tidak biasa. Adi mengangkat wajah. Ia melihat langsung jika Puspa sudah berada di ambang pintu, ditemani Tilar dan Asri. Entah mengapa, dadanya terasa lebih lapang ... lega. Perasaan itu datang beg
"Tidak ada," ujar Adi, ia mengembuskan napas pelan, sambil memainkan cincin di ibu jarinya.Di kegelapan malam, hijau di batu nyaris tak kentara, tapi masih bisa dibedakan dengan remang-remang damar.Asih berdeham sekilas, dan tetap menatapnya lama. "Kau bertemu seseorang?" tanyanya tiba-tiba.Adi langsung mengangkat wajah. Tidak ada pernyataan yang keluar dari bibirnya, tapi tatapan itu adalah pertanyaan itu sendiri.Asih tersenyum kecil, lalu menepuk kain yang dikenakan. "Nah."Adi mengernyit. Ia tidak suka dengan kepekaan ibunya jika begini. "Nah apa?""Berarti memang ada." Asih tersenyum makin lebar, hingga wajahnya yang berkerut karena menua mulai tampak lebih cerah.Adi menghindari tatapan ibunya itu. "Tidak ada," katanya."Kamu bahkan menjawab terlalu cepat."Adi terdiam mendengarnya, ia tidak sadar sudah melakukan hal itu, dan wajahnya jelas membuat Asih tertawa kecil, tapi tak lama, kemudian wanita itu kembali bersandar."Siapa?" tanya Asih. "Siapa namanya?"Adi tidak menjawa
Dana mengangkat kedua bahunya lagi. "Katanya masih hidup dan sudah ditangani tabib."Adi mengembuskan napas pelan. Namun, pandangannya tetap jatuh kepada perhiasan yang belum selesai dikerjakannya.Ia tidak tahu mengapa berita sederhana itu membuat pikirannya tidak tenang. Apalagi entah kenapa, nama Puspa terasa jauh lebih mengganggunya daripada seharusnya.Menjelang malam, kabar itu sudah sampai ke lingkungan istana. Kali ini bentuknya telah berubah."Nyai Anom Wastu Gautama mengalami keguguran setelah jatuh di taman."Dan karena telah terdengar di lingkungan istana, kabar itu akhirnya sampai pula ke kediaman keluarga Adipati Wiradaha.Seorang pelayan menyampaikan berita itu kepada salah seorang anggota keluarga sebelum akhirnya berita tersebut dibawa ke ruang dalam."Nyai Anom Wastu Gautama?" Putra Adipati Wiradaha yang sejak tadi duduk bersandar langsung mengangkat wajah."Ya, Yang Mulia. Katanya kandungannya tidak tertolong."Lelaki itu terdiam. Untuk sesaat, tidak ada perubahan p
Kemuning langsung menunduk. Tangannya yang masih menggenggam tangan Puspa bergetar.Arendra tidak segera menjawab. Ia hanya menatap keponakannya beberapa saat, seolah ingin memastikan bahwa yang baru saja didengarnya bukan sekadar ucapan seorang Nyai Anom yang sedang lemah."Jika begitu, pulanglah."Puspa mengangkat wajah. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Agastya yang sejak tadi diam akhirnya menarik napas pelan."Raden."Arendra menoleh kepadanya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan, tangannya langsung mengepal."Puspa belum bisa pergi."Puspa langsung menundukkan wajah. Ia tahu itu. Bahkan sebelum Agastya mengatakannya, ia sudah tahu.Punggungnya masih sakit. Tubuhnya belum pulih. Dan lebih daripada itu, ia tidak mungkin meninggalkan Wastu Gautama begitu saja setelah semua orang percaya ia baru saja kehilangan kandungannya.Kemuning mengusap punggung tangan Puspa. "Kamu ingin pulang, Nduk?"Puspa menggigit bagian dalam bibirnya. "... Iya. Ingin sekali." Suaranya begitu k
"NIMAS! JANGAN KERAMAS!"Pekikan Asri melesat menembus pintu kayu kamar mandi yang tipis, membuat Puspa tersentak hingga gayung yang dicengkeram sedikit goyang."Nimas ingat keningnya luka! Kalau airnya masuk ke luka, nanti perihnya sampai ke ubun-ubun! Nanti kalau lukanya busuk bagaimana? Kalau ke
"Tilar, kamu dengar tadi? Kupingmu masih berfungsi, kan?" bisik Asri tak percaya. Ia cengkeram lengan Tilar dengan sisa-sisa tenaga setelah diajak lari maraton oleh pikirannya sendiri.Mata Asri melotot menatap bakul bunga di atas meja kecil kamar Puspa. "Nimas bilang buang semua melati. Semua! Kan
"Lukanya tidak dalam." Jemari tua dengan hati-hati mengecek kembali luka di kening Puspa. "Kainnya perlu diganti agar tidak meradang."Ada gerakan di sekeliling Puspa—Tilar menuangkan air ke bokor kuningan, Asri menyodorkan kain bersih, dan Kemuning berdiri dengan tangan saling meremas. Semua itu i
"Bibi ... ini tidak sedang bercanda, kan?"Puspa langsung melonjak dari duduknya. Nada suaranya tegang, tapi matanya sudah berbinar-binar menatap Kemuning."Benar-benar nyata, Nduk! Apanya yang bercanda?" Kemuning terkekeh pelan melihat reaksi keponakannya. "Utusan raja sendiri yang membawakan tita







