LOGIN"Nyai Anom." Adi lebih dulu menyapa, tapi lelaki itu tidak beranjak dari duduknya, hanya mengangguk.Puspa juga hanya mengangguk sebelum kemudian bertanya, "Bagaimana enam setel perhiasan yang kuminta? Aku akan mengambil semuanya hari ini."Adi berdeham. "Di sini," katanya sambil berbalik, meraih enam kotak kayu kecil yang telah disusun dengan rapi. "Sudah saya pisahkan."Puspa menatap dengan teliti. Perlahan sudut bibirnya terangkat kecil. "Bagus." Ia berjongkok perlahan, hingga membuat Asri di belakangnya tersentak—tapi tidak bisa berbuat apa pun. Puspa tidak sadar akan hal itu, ia justru bertanya, "Perhiasan apa yang kau buat?""Anda bisa melihatnya sendiri, Nyai Anom." Adi mengulukan tangannya, membuka enam kotak kayu sederhana itu.Kali ini Puspa yang berdeham. "Tusuk Rambut, Gelang, dan Cincin." Puspa diam sejenak, ia kembali fokus memperhatikan detail dan kembali tersenyum kecil. "Ukirannya tidak seragam. Tusuk rambut yang paling indah.""OHHHHH!"Puspa tersentak dengan suara i
'Anda mengira aku anak kecil atau bagaimana!?' batin Puspa sambil masih memandangi kepingan uang di telapak tangan Agastya."Yayi?'Puspa menatap Agastya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. "Lupakan saja," katanya, lalu mengambil uang di tangan Agastya.Agastya tersenyum geli. "Baik."Puspa menatapnya lagi, kali ini dengan mata menyipit heran. "Kenapa malah baik?""Tidak apa." Agastya menggeleng pelan. "Karena kamu sudah mengambilnya."Puspa mendengkus kecil. "Saya pergi.""Hati-hati."Puspa mengangguk. "Iya," jawabnya sambil Ia berbalik dan berjalan melewati gerbang.Baru beberapa langkah, suara Agastya terdengar dari belakang. "Yayi." Begitu Puspa berhenti dan menoleh, ia melanjutkan, "Jika mual, jangan dipaksakan."Puspa hanya mengangguk. "Baik, Kakang."Setelah itu ia benar-benar pergi. Dua orang pengawal yang telah disiapkan Agastya segera mengikuti dari belakang. Asri dan Tilar pun menyusul.Puspa tidak menoleh lagi saat masuk ke gerbong kereta kuda. Namun, sudut bibirnya
Dua hari berikutnya berlalu, Puspa tidak lagi muntah, meskipun rasa mual sesekali masih datang. Ia juga sengaja tidak terlalu banyak membicarakan keadaannya agar orang-orang di Wastu tidak semakin yakin bahwa dirinya benar-benar mengandung.Sayangnya, usaha itu sia-sia. Seluruh Wastu Gautama sudah telanjur memperlakukannya seperti perempuan hamil. Sarapannya berubah. Pakaian yang disiapkan Tilar berubah. Bahkan Asri mulai memperhatikan apakah Puspa berjalan terlalu cepat."Kacau." Puspa bergumam, tapi tertawa sedetik setelahnya. "Selama mereka sibuk mengawasi tubuhku, tidak ada yang memperhatikan tanganku," katanya.Tidak ada yang tahu bahwa selama dua hari itu, ia justru sedang menghitung sesuatu yang jauh lebih penting—serapa banyak kekayaan Wastu Gautama yang sudah berhasil ia pindahkan."Nyai Anom, Garwa Ampil ingin menemui Anda."Suara Tilar menggema dari luar. Cara duduk Puspa menjadi sedikit tegang, tapi ia tetap berucap, "Persilakan Saibu masuk.""Marawa Puspa." Bindani meman
"Kenapa, Arya Muda?" Puspa mendongak. Tidak ada ada perasaan yang tampak di wajahnya. Hanya ketenangan. Tapi hatinya terasa sangat dingin. "Anda berpikir saya telah bermain kotor di belakang?""Tidak." Agastya cepat menjawab. Ia tahu jika Puspa sangat mencintainya, jadi istrinya itu mustahil melakukannya. Agastya mendekat perlahan kepada Puspa. "Katakan. Apa ada yang ingin mencelakaimu?"Tangan Puspa saling menguatkan karena sedang gugup. "Belum bisa dipastikan siapa, Arya Muda. Tapi jelas ... selalu ada. Saya putri saudagar, lalu kini menjadi Nyai Anom. Siapa yang tidak akan iri?" Puspa menunduk sedikit lebih dalam. "Bahkan seorang gadis desa ingin mencelakaiku."Hati Agastya tersentil mendengarnya. "Yayi ... maafkan aku," katanya.Puspa memalingkan wajah. Selalu begini. Meskipun ia sudah berkali-kali mengatakan kepada hatinya untuk berhenti mencintai Agastya, hati itu tidak bisa dipaksa. Ia sudah mencintainya selama hampir sepuluh tahun di kehidupan pertama itu.Benar-benar berhenti
Puspa mengangkat wajah. "Kenapa Anda datang?"Agastya berhenti di ambang pintu, menilik Puspa yang duduk di dipan dari atas hingga bawah. "Rama menyuruhku melihat keadaanmu."Puspa mengangguk kecil, dan mengembuskan napas pelan sambil menunduk. "Saya baik-baik saja," katanya, lalu mengangkat wajah. "Kenapa?""Tidak apa-apa."Puspa mengernyit mendengar jawaban itu. Ia menegakkan punggungnya. "Wajahmu aneh, Arya Muda."Agastya menyerah dengan ketelitian Puspa dan mengembuskan napas, lalu melangkah masuk, menghampiri istrinya. "Rama mengira kamu telah hamil."Puspa memejamkan mata lagi. "Asri sudah mengatakannya," bisik Puspa. "Dan sebelum Anda mengatakan apa pun ... saya tidak hamil.""Hmm. Aku tahu."Puspa membuka mata dan menatapnya tajam. "Bagus.""Tapi—""Jangan." Puspa memejamkan nata lagi. Mual yang dideranya kembali terasa."Aku hanya ingin bertanya—""Agastya.""Ya?""Aku sedang mual."Agastya langsung diam. Hening sebentar di antara mereka, sebelum Agastya duduk di samping Pusp
Asri langsung meletakkan kain-kain yang dibawa, ia berlari menuju Puspa. "Jangan berdiri!"Puspa mengerutkan kening. "Tidak akan—"Asri merasa lega mendengarnya dan segera memapah Puspa untuk kembali duduk, sebelum ia menoleh ke arah pintu dan berteriak, "Panggil tabib—!""Jangan." Puspa menahan tangan tangan Asri yang sudah hendak berbalik. Saat pelayannya tersebut menoleh, Puspa mengusap pelipis. "Aku hanya perlu beristirahat."Tilar yang baru masuk beberapa saat kemudian memandang Puspa, tapi hanya sedetik sebelum tatapannya beralih kepada Asri yang fokus kepada Puspa. Nyonya mereka itu kini membekap bibirnya karena masih merasa mual."Ha ... aku mau minum."Tilar segera bergegas ke dipan setelah mengambilkan air hangat untuk Puspa. Puspa meminumnya sedikit demi sedikit, sebelum di tegukan ketiga ia menyeka sudut bibirnya dan memejamkan mata sambil menyerahkan cangkir tanah liat itu kepada Tilar.Tilar menerimanya, sayang sebelum ia sempat merasa lega, Puspa kembali membekap mulutn
"NIMAS! JANGAN KERAMAS!"Pekikan Asri melesat menembus pintu kayu kamar mandi yang tipis, membuat Puspa tersentak hingga gayung yang dicengkeram sedikit goyang."Nimas ingat keningnya luka! Kalau airnya masuk ke luka, nanti perihnya sampai ke ubun-ubun! Nanti kalau lukanya busuk bagaimana? Kalau ke
"Tilar, kamu dengar tadi? Kupingmu masih berfungsi, kan?" bisik Asri tak percaya. Ia cengkeram lengan Tilar dengan sisa-sisa tenaga setelah diajak lari maraton oleh pikirannya sendiri.Mata Asri melotot menatap bakul bunga di atas meja kecil kamar Puspa. "Nimas bilang buang semua melati. Semua! Kan
"Lukanya tidak dalam." Jemari tua dengan hati-hati mengecek kembali luka di kening Puspa. "Kainnya perlu diganti agar tidak meradang."Ada gerakan di sekeliling Puspa—Tilar menuangkan air ke bokor kuningan, Asri menyodorkan kain bersih, dan Kemuning berdiri dengan tangan saling meremas. Semua itu i
"Bibi ... ini tidak sedang bercanda, kan?"Puspa langsung melonjak dari duduknya. Nada suaranya tegang, tapi matanya sudah berbinar-binar menatap Kemuning."Benar-benar nyata, Nduk! Apanya yang bercanda?" Kemuning terkekeh pelan melihat reaksi keponakannya. "Utusan raja sendiri yang membawakan tita







