ログインEl día de la sentencia, mi prometido Diego González me tomó de la mano, sollozando, y me pidió que dejara de defender mi inocencia y firmara un acuerdo de culpabilidad. —Clara, sé que tú no hiciste nada… pero Isabella está esperando un hijo mío. No puedo permitir que ella vaya a la cárcel. Hazlo por tu bien, por favor —suplicó, con lágrimas que le empañaban la mirada. Sin dudarlo ni un instante, firmé el acuerdo. En mi vida anterior me negué a cargar con la culpa de Isabella García y, por eso, no solo terminé tras las rejas: la furia de Diego envió gente a torturarme hasta dejarme estéril. Esta vez me propuse complacerlo. A la mañana siguiente, los noticieros reventaron con la primicia de que yo había robado secretos comerciales de la Corporación López. Para colmo, Isabella se presentó como testigo. —Sí, fue ella; la vi con mis propios ojos infiltrarse en la compañía —declaró ante las cámaras. Pero aquella tarde, cuando inició la audiencia, el demandante Santiago López, director general de la corporación, retiró la acusación. Bajo la mirada atónita de la prensa, sacó un anillo, se arrodilló y me preguntó: —Clara, ¿en esta vida aceptarías casarte conmigo?
もっと見るKAMU YANG KUCINTAI
Part 1 Ikut denganmu? "Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan. "Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe. Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu." "Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik. "Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digenggam dengan kedua tangannya. Wajah itu terlihat begitu resah. Kakak tirinya itu tidak pernah bicara kasar. Tapi matanya selalu mengikutinya. Di meja makan, di lorong rumah, bahkan dia seperti berdiri di depan pintu kamarnya saat malam sudah larut. Kimmy pernah cerita pada sang mama. Tapi wanita itu bilang, Kimmy terlalu berlebihan. Padahal Arsel itu sopan dan pendiam. Bagi Kimmy, pria seperti itu bisa saja menjadi predator yang bersembunyi di balik wajah tampan, kemeja rapi, dan senyum sopannya. "Mereka keluargamu. Lebih aman bersama keluarga daripada dengan orang asing, Kim. Belum tentu aku terus baik seperti sangkaanmu." "Kita bukan orang asing, kan? Kita sudah berteman sejak kecil lagi. Sejauh ini aku aman bersamamu." Hening. Kimmy memandang Langit. Tapi pria itu mengalihkan perhatian pada suasana jalanan di bawah kafe sana. Kemacetan di tengah kota Surabaya tampak seperti aliran lava merah yang membara. Rahangnya yang tegas tampak menengang. Langit ingin lari dari sangkar emas. Ia muak dengan intrik bisnis ibu tirinya, muak dengan kekuasaan yang dibangun di atas air mata orang lain. Baginya pergi dari rumah adalah kematian baginya, tapi membawa Kimmy pergi adalah perjudian nyawa. Keluarga Fardhan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari Kimmy hingga ke lubang semut sekali pun. Ia seperti halnya Kimmy. Papanya menikah lagi dengan rekan bisnisnya. Dan wanita itu penuh ambisi untuk menguasai semuanya. "Mas Langit, hendak pergi ke mana?" Pertanyaan Kimmy memecah lamunan berat lelaki itu. "Jauh dari sini," jawab Langit terdengar parau menahan sebak dalam dada. Dia tidak ingin pergi. Tapi memang tidak punya pilihan selain menjauh. Ia ingin merengkuh Kimmy, memberinya perlindungan, tapi hidupnya sendiri entah bagaimana setelah pergi dari keluarga. "Di mana?" Kimmy mendesak. "Ke tempat di mana aku nggak dikenali, Kim. Ke tempat di mana aku cuma Langit, bukan pewaris apa pun." Kimmy menggeser duduknya, merapat ke meja. "Kalau begitu bawa aku ke sana. Aku bisa masak, aku bisa bersih-bersih, aku nggak akan merepotkan. Nanti aku juga akan bekerja, jadi nggak bergantung hidup padamu. Selain Mama, kamu yang kupunya." Langit memandang Kimmy. "Aku juga nggak akan menjadi penghalangmu jika suatu saat nanti Mas Langit menemukan gadis yang tepat yang ingin kamu nikahi. Bil-bilang saja aku adikmu." Suara Kimmy bergetar dan dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Kimmy menarik napas sejenak. "Aku nggak tahan di rumah itu, Mas. Salsa juga terus-terusan menyindirku. Dia bilang aku dan Mama hanya benalu yang mau merebut harta papanya." "Harta ini benda mati yang bisa membuat manusia menjadi iblis, Kim." "Tapi aku dan mamaku bukan iblis, Mas." "Maaf, aku tidak mengataimu begitu. Aku bicara tentang wanita lain." "Iya. Aku ngerti." "Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Aku pergi dan nggak tahu bagaimana nasibku nanti. Bisa jadi aku mungkin akan tidur di pom bensin, atau di emperan toko." Mendengar itu Kimmy tersenyum tipis. Tidak mungkin seorang Langit tak punya uang. Sekalipun dia bilang pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Ia lebih baik tidur di aspal bersama Langit daripada tidur di kasur empuk tapi harus mengunci pintu karena takut Arsel masuk. Namun ia sadar, tidak bisa memaksakan diri karena Langit mungkin juga ribet kalau dirinya ikut. Apalagi dia hanya teman bagi pria itu. Teman yang suka merepotkannya. "Bertahanlah, selesaikan dulu kuliahmu. Tinggal setahun lagi, kan?" ujar Langit yang akhirnya membuat Kimmy mengangguk lemah. Ia menyerah. 🖤LS🖤 "Baru pulang berkencan, ya? Jam segini baru nongol. Wangi asap jalanan banget sih, nggak cocok sama parfum ruangan di sini," ejek Salsa. Saat Kimmy masuk lewat pintu samping rumah. Gadis itu duduk bersedekap di sofa kulit impor. Kakinya disilangkan dengan angkuh. Matanya yang dipulas eyeliner tajam memindai penampilan Kimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memeriksa perempuan jalanan yang salah masuk ke rumah mewah. Kimmy memilih membisu. Ia menunduk sambil merapatkan jaketnya dan terus melangkah melewati ruang tengah secepat mungkin. Namun langkah Salsa lebih gesit. Ia berdiri, menghalangi jalur menuju tangga. "Ditanya itu dijawab, Kim. Mamamu nggak pernah ngajarin sopan santun kalau masuk rumah orang?" desis Salsa. "Belagu banget. Numpang di sini tapi nggak mau jawab saat ditanya tuan rumah. Harusnya kamu sadar posisi, dong. Kamu dan Mamamu itu cuma tamu yang kebetulan dapet 'tiket gratis masuk ke sini' karena Papa merasa kasihan." Kata-kata itu menghujam ulu hati Kimmy, tapi ia hanya mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Tidak ingin memicu keributan yang akan membuat sang mama menasehatinya panjang lebar. Dengan gerakan menghindar, Kimmy memutar tubuh dan menaiki anak tangga satu per satu. "Jangan pikir karena Papa baik, kamu bisa seenaknya di sini!" teriak Salsa dari bawah. "Kamu itu nggak lebih dari benalu, Kimmy!" Kimmy menarik napas panjang untuk melonggarkan dada yang sesak nyaris meledak. Kalau ada orang tua mereka, Salsa tidak akan berkata demikian. Pasti bersikap sok manis. Makanya sang mama tidak percaya dengan cerita Kimmy. Dan sudah dua hari ini, sang mama ikut suaminya ke luar kota. Kimmy benar-benar sendirian di rumah itu. Lantai dua terasa lebih sunyi, tapi suasananya jauh lebih mencekam. Kamar untuk anak-anak ada di lantai dua semua. Kimmy ingin pindah ke bawah, tapi tidak diperbolehkan oleh Pak Fardhan. Papa tirinya. Untuk mencapai kamarnya, Kimmy harus melewati balkon ruang tamu atas. Dan di sana, di bawah temaram lampu gantung, sosok tinggi tegap itu berdiri. Arsel menoleh dan memandangnya sekilas. Namun tatapan itu tajam. "Dari mana kamu?" Next ....—Deberías dormir —susurró Santiago, y se acomodó a mi lado. Me rodeaba la cintura con cuidado de no rozar las heridas—. Anda, duermo contigo.Mis lesiones estaban mejorando, pero él seguía sin dejarme salir.—Aunque Diego esté preso, la familia González sigue ahí. No me fío —murmuró, acariciando las marcas que aún quedaban en mis muñecas.Chasqueé la lengua con resignación.—¿Piensas encerrarme de por vida?De pronto bajó la cabeza y atrapó mi lóbulo con los dientes; un gruñido grave vibró en su pecho.—Si pudiera te escondería, que nadie te viera —su posesividad aceleró mi pulso, así que lo provoqué:—Eso sería secuestro, señor López.Él rió, hundió los dedos en mi cabello, sujetó mi nuca y me devoró la boca.—Ve y denúnciame —desafió.El beso fue hondo y feroz, hasta que mis piernas cedieron. Me limpió el labio con el pulgar; sus ojos eran un pozo oscuro.—El juez seguro me absuelve —susurró.—¿Por qué?—Porque… te amo demasiado.Tres meses después, Grupo González quebró.Diego e Isa
—¿Y el bebé? —pregunté sin pensar.Isabella se llevó las manos al vientre; la prótesis de silicona se deslizó hasta la cadera. Con un chillido tomó un candelabro del recibidor y lo arrojó contra Diego.—¡Todo es tu culpa! ¡Obligarme a fingir embarazo lo arruinó todo!El metal le abrió la ceja; la sangre brotó de inmediato.—¿Estás loca? —gruñó Diego. Se limpió el hilo rojo y, cegado de ira, la sujetó por el cuello.—¡Si no hubieras inventado esa panza, no estaríamos hundidos!—S suelta… —Isabella arañó su cara, dejándole surcos sangrientos—. ¡Fuiste tú quien dijo… que Clara era estéril… que fingiera embarazo para culparla!Un escalofrío me dejó helada. Así que llevaban tres años confabulando…—Vaya función. —La voz de Santiago retumbó en la puerta. Apoyado en el marco, hacía girar una grabadora entre los dedos—. Esta confesión es más clara que cualquier video.Entró y me atrajo contra su pecho; su mirada, afilada, taladró a Diego. Este soltó a Isabella al instante. Ella cayó, tosiendo.
—Estas noches me despierto a medianoche… —la voz de Diego se quebró—. Te sueño bañada en sangre, preguntándome por qué te traicioné…Aparté la mirada, pero los recuerdos con él seguían taladrándome.—Dame una última oportunidad…Antes de que reaccionara, sacó una navaja plegable y la hundió con fuerza en su propio muslo. La sangre brotó al instante; él apenas soltó una mueca.—Este corte paga el primer latigazo.Volvió a alzar el cuchillo hacia la otra pierna.—Voy a devolverte los noventa y nueve uno por uno.Un chispazo de horror me sacudió; quité la cadena y le sujeté la muñeca. El hedor metálico me nubló la cabeza, sin saber si era odio o compasión lo que se me partía en el pecho.Aprovechó para rodearme las piernas, empapándome de lágrimas ardientes.—Prometo pasarme la vida compensándote… Si quieres mi muerte, tómala ahora.La sangre formaba un charco bajo ese rostro que tanto añoré alguna vez. El cansancio me tentó a perdonarlo…hasta que vi a Isabella en la puerta, con el vientr
Apenas tres días después, la familia González aflojó una fortuna y Diego obtuvo libertad bajo fianza.Aquella tarde, yo leía en el balcón del pent house de Santiago cuando sonó el timbre.Miré el monitor y allí estaba Diego, impecable en traje y corbata, sosteniendo un enorme ramo de rosas. Sonreía con la misma ternura de siempre, como si sus berridos en el tribunal jamás hubieran ocurrido.Solté una risita sarcástica y oprimí el botón del interfón:—Lárgate.Su sonrisa se tensó, pero enseguida recobró el gesto suplicante.—Clara, sé que me odias, pero dame cinco minutos. Solo cinco, ¿sí? Necesito hablarte cara a cara.Estuve a punto de colgar; luego pensé: ¿por qué facilitarle las cosas?Fui a la puerta y abrí, sin quitar la cadena de seguridad.Los ojos de Diego se iluminaron. Dio un paso, pero la cadena lo frenó.—Clara… —murmuró.Su mirada cayó en el collar con diamante que pendía de mi cuello: el regalo de compromiso del señor López. Las pupilas de Diego se contrajeron, aunque se
Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.