Short
Tu traición fue mi mejor venganza

Tu traición fue mi mejor venganza

By:  AnónimoCompleted
Language: Spanish
goodnovel4goodnovel
10Chapters
4.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Llevábamos seis años de casados, pero en los últimos tres meses, mi esposo ni siquiera me había tocado. Decía que el trabajo lo tenía agotado, y yo, enamorada desde hace años, le creí sin dudar. Hasta que en el día de mi cumpleaños, escuché a sus amigos hablar en alemán a sus espaldas. —¿Ya terminaste con la otra? Antes ibas todos los días… no sé cómo aguantabas. —¿Y tu esposa? ¿No te dice nada? Mi esposo soltó el humo de su cigarro con indiferencia: —Hace meses que ni la toco. Claudia es buena en la cama y aún no me aburre… Lástima que salió embarazada. A mi esposa no le gustan los niños, así que le di dinero a Claudia para que se fuera al extranjero y lo tuviera allá. Apreté los puños con fuerza. Las lágrimas comenzaron a caer sin permiso. Él se acercó preocupado y preguntó qué me pasaba. Yo negué con la cabeza, sonriendo. —Este pastel que hiciste con tus propias manos… me emocionó mucho. Está delicioso. El pastel sabía dulce. Pero yo, que sí entendía alemán, solo sentía amargura en el alma.

View More

Chapter 1

Capítulo 1

Hannah menatapnya dengan syok, tidak percaya bahwa wanita yang telah menduduki posisi Nyonya Ferdinan selama enam tahun itu tiba-tiba rela menyerahkan tempatnya.

Fayola hanya menambahkan dengan nada datar, "Karena mereka semua lebih suka sama kamu, aku akan memenuhi keinginan kalian. Kamu cuma perlu buat Landon tanda tangani ini. Setelah masa tenang perceraian berakhir, aku akan pergi."

Kali ini, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dia tidak akan terus menjadi Nyonya Ferdinan yang diabaikan oleh semua orang.

Ujung jari Hannah tanpa sadar mengusap bibir cangkir. Alisnya berkerut rapat. "Fayola, sebenarnya permainan apa yang mau kamu mainkan?"

Fayola menatap perubahan ekspresi di wajah Hannah dengan tenang, lalu mengulangi, "Aku nggak main-main kok. Aku cuma sudah muak."

"Fayola, kamu tahu berapa banyak wanita di luar sana yang ingin berada di posisimu?"

"Tahu." Fayola menatap lurus ke matanya. "Karena itu aku kasih posisiku ke kamu."

Ekspresi Hannah akhirnya menunjukkan sedikit retakan. Dia menatap surat perjanjian itu lama sekali, lalu akhirnya mengambilnya. "Baiklah. Karena kamu begitu murah hati, aku nggak akan sungkan lagi. Tapi ingat, barang yang sudah jadi milikku nggak akan pernah kulepaskan lagi."

"Tenang saja." Fayola tersenyum tipis. "Aku nggak bakal nyesal."

Karena di kehidupan sebelumnya, dia sudah merasakan pahitnya menjalani hidup seorang diri sampai akhir hayat.

Hannah berdiri, lalu berpindah ke meja lain di kafe. Setelah itu, dia mengangkat ponselnya dengan anggun dan mengetuk layar beberapa kali dengan ujung jari.

Begitu telepon tersambung, suaranya langsung berubah lembut. "Landon, aku di Blue Cafe. Kamu bisa datang jemput aku?"

Fayola duduk di samping sambil tersenyum pahit. Entah sejak kapan, setiap kali dia menelepon Landon, sembilan dari sepuluh panggilan selalu dijawab oleh asistennya. Namun sekarang, bahkan belum sampai 20 menit, pria yang selalu berkata sedang rapat itu sudah muncul di depan pintu kafe.

Melalui jendela kaca, Fayola melihat Landon melangkah masuk ke kafe dengan kaki jenjangnya. Setelan jas hitam eksklusif yang dikenakannya membuat bahunya terlihat lebar dan pinggangnya ramping.

Putra mereka yang berusia enam tahun, Kengo, dan putri mereka yang berusia empat tahun, Keisya, langsung berlari menghampiri Hannah begitu melihatnya. Mereka memeluk dan menciumnya tanpa henti.

"Tante Hannah!" Keisya memanggil dengan suara manis, wajah mungilnya terus menggesek-gesek dada Hannah.

Landon meletakkan kotak kue di atas meja dan mendorongnya perlahan ke depan. "Rasa matcha yang kamu suka. Aku sengaja minta kepala koki kurangi gulanya."

Mata Hannah langsung berbinar. "Kamu selalu ingat kesukaanku."

Fayola duduk di sudut ruangan, jemarinya tanpa sadar mencengkeram telapak tangannya sendiri.

Enam tahun menikah. Landon bahkan tidak tahu rasa makanan favoritnya. Di kehidupan sebelumnya, ketika dia dirawat di rumah sakit dan ingin makan kue stroberi, Landon hanya menyuruh asistennya membeli sembarang kue. Hasilnya, yang datang justru kue rasa mangga, buah yang membuatnya alergi.

"Malam ini mau makan apa?" Suara Landon rendah dan dalam. "Western food atau chinese food?"

Hannah tersenyum tipis, lalu mengeluarkan surat perjanjian cerai dari tasnya. "Sebelum itu, ada dokumen yang ingin aku minta kamu lihat."

Dia membuka halaman tanda tangan, lalu berkata, "Aku lagi tertarik pada sebuah vila, tapi danaku kurang. Kamu bisa ...."

Landon mengambil pena itu. Tanpa melihat isi dokumennya sama sekali, dia langsung menandatangani namanya. "Uangku juga uangmu."

"Tante mau beli rumah baru?" Kengo bertanya sambil mendongakkan wajah kecilnya. "Papa juga beli satu di sebelah ya! Kami ingin pindah ke sana dan tinggal sama Tante Hannah. Kami nggak mau sama Mama terus."

Alis Landon sedikit berkerut. Namun, melihat tatapan penuh harap kedua anak itu, dia akhirnya mengalah. "Ya sudah, Papa beli nanti."

"Nggak perlu seribet itu." Hannah buru-buru berkata, "Aku akan sisakan tiga kamar untuk Kengo, Keisya ... dan kamu. Kalau kalian kangen aku, kalian bisa datang nginap kapan saja."

Kedua anak itu langsung bersorak gembira. Keisya bahkan memeluk leher Hannah, lalu menciumnya. "Tante Hannah yang paling baik! Seribu kali lebih baik daripada Mama!"

Jantung Fayola terasa seperti diremas kuat oleh tangan tak kasatmata. Perasaan sesak dan masam itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas.

Dia melihat sudut bibir Landon sedikit terangkat. Itu adalah kelembutan yang tidak pernah sekali pun diberikan pria itu kepadanya.

Karena sudah tidak sanggup melihat lebih lama lagi, Fayola mengangkat tasnya, lalu berbalik dan pergi. Saat melangkah keluar dari pintu, kenangan kehidupan lampau menerjang seperti gelombang pasang.

Di kehidupan lalu, dia dan Landon menikah karena perjodohan bisnis. Mereka memiliki seorang putra dan seorang putri.

Dia hidup hingga usia 62 tahun, tetapi tidak pernah merasakan kebahagiaan. Karena di hati Landon selalu ada cinta pertamanya, Hannah.

Setelah mereka putus dulu, Hannah pergi ke luar negeri. Landon menenggak alkohol selama beberapa hari. Namun, setinggi apa pun harga dirinya, dia tetap tidak menundukkan kepala untuk mengejar wanita itu kembali. Sebaliknya, dia langsung menyetujui perjodohan keluarga.

Landon adalah impian masa muda Fayola. Dia begitu mulia dan tak tersentuh, seperti penguasa dunia. Di kalangan sosialita elite Kota Bershka, siapa yang tidak bermimpi menikahi penguasa Grup Ferdinan itu?

Karena itu, ketika mengetahui kedua keluarga akan berbesanan, Fayola begitu bahagia.

Setelah menikah, dia mencurahkan seluruh hatinya untuk mencintai pria itu. Sebagai balasannya, yang dia dapatkan hanyalah sikap dingin Landon yang tak pernah berubah.

Sampai Hannah kembali ke tanah air, Landon tidak pernah mengajukan perceraian kepada Fayola. Namun, pandangannya juga tidak pernah lepas dari Hannah. Yang lebih mengerikan lagi, kedua anak mereka juga menyukai Hannah dan perlahan menjauh darinya.

Di masa tuanya, Fayola didiagnosis mengidap Alzheimer. Dengan alasan agar dia bisa beristirahat dengan tenang, Landon meninggalkannya sendirian di rumah tua keluarga.

Pada hari ulang tahunnya, dengan tangan gemetar, Fayola menelepon suami dan kedua anaknya. Namun, yang dia dengar adalah mereka sedang menemani Hannah berlibur di Maladewa.

Dia ingin memasak semangkuk mi panjang umur untuk dirinya sendiri. Namun, karena ingatannya sudah kacau, dia lupa mematikan kompor ....

Saat kobaran api melahap tubuhnya, hal terakhir yang diingat Fayola adalah tatapan dingin Landon ketika memasangkan cincin pernikahan ke jarinya.

Dengan penuh penderitaan, dia akhirnya memejamkan mata. Satu-satunya harapan di dalam hatinya adalah ... jika ada kehidupan berikutnya, dia tidak akan lagi mengorbankan seluruh hidupnya demi pria itu.

....

Saat Fayola kembali ke vila, hari sudah malam. Namun, dia tidak beristirahat. Dia langsung mulai membereskan barang-barangnya.

Jas dan kemeja Landon, mainan anak-anak, foto keluarga .... Satu per satu dilempar ke dalam kardus.

"Kamu ngapain?" Suara Landon tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Fayola menoleh. Dia melihat pria itu berdiri di ambang pintu sambil menggandeng kedua anak mereka dengan alis berkerut rapat.

"Kenapa Mama buang barang-barang kami?" Keisya berlari mendekat. Saat melihat boneka beruangnya berada di dalam kardus, wajah kecilnya memerah karena marah.

Kengo juga menatapnya dengan penuh amarah. "Kami cuma pergi main sebentar sama Tante Hannah. Apa perlu sampai marah seperti ini?"

Landon memandangnya dengan tatapan dingin yang tidak pernah berubah. "Anak-anak suka sama Hannah. Apa perlu buat ulah cuma karena masalah sekecil ini?"

"Aku nggak marah kok," jawab Fayola dengan tenang.

"Bohong!" Keisya berteriak, "Mama iri sama Tante Hannah! Makanya Mama buang boneka beruangku! Dasar jahat!"

"Nanti kalau aku sudah besar, aku akan pindah dan tinggal sama Tante Hannah." Kengo menggenggam tangan adiknya dan berkata dengan galak, "Aku nggak akan pernah kembali menemuimu!"

Landon tidak menghentikan keributan kedua anak itu. Dia hanya sedikit mengernyit, lalu menatap Fayola dengan mata yang dalam dan dingin. Tatapan itu seperti sedang melihat orang asing yang tidak masuk akal.

"Cukup." Bibir tipisnya terbuka perlahan. Suara rendahnya membawa wibawa yang seolah sudah menyatu dengan dirinya sejak lahir.

Jari-jarinya yang panjang merapikan manset dengan santai. "Aku masih ada rapat video dengan dewan direksi. Mau buang apa pun terserah kamu, asal jangan buat keributan."

Saat pintu tertutup, air mata Fayola akhirnya jatuh. Jantungnya terasa seperti tercabik menjadi serpihan. Setiap tarikan napas terasa dipenuhi darah. Dia menghapus air matanya, menatap kekacauan di lantai, lalu tiba-tiba tersenyum.

Tenang saja. Dia tidak akan mengganggu. Untuk sisa hidupnya nanti, dia tidak akan pernah mengganggu pria itu lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.


reviews

Brenda Estrada
Brenda Estrada
Una buena historia, solo que me gustaría que invirtieran los roles de ves en cuando, hoy en día no solo los hombres son infieles.
2025-08-08 12:24:47
0
0
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status