LOGINPintu perpustakaan berderit, Lily segera menutup pintu di belakangnya, membiarkan kegelapan menyelimuti. Hanya ada cahaya bulan yang menelusup lewat celah jendela.
Lily bergerak perlahan. Memindai. Ruangan ini cukup luas, dengan meja dan kursi yang tersedia di setiap sudut ruangan. "Andrez," panggil Lily lirih. "Gambar masuk, Lily. Jernih. Gerakkan kepalamu ke kanan. Jangan bergerak, aku sedang memindai sinar infra-merah di sana." Suara Andrez terdengar di earpiece. Lily diam, dia tidak bergerak hingga Andrez memberi aba-aba. "Oke, aman. Tapi, jangan mendekat ke meja pustakawan," lanjut Andrez Lily bergerak menuju area gudang di belakang rak buku klasik. Debu halus menari di udara. Lily sampai di depan pintu kayu tua yang tidak memiliki papan nama. Di atas kertas, ini hanyalah sebuah gudang peralatan, tapi di peta Andrez, ini adalah mulut labirin. "Gudang ditemukan, aku masuk." Lily mendorong pintu, cukup berat. Begitu masuk ke dalam, gelap menyergap, dia menyalakan senter yang tadi dibawanya mengikuti jejak pak Nathan. Tidak ada debu, atau bau menusuk selayaknya gudang. Seperti tempat ini setiap waktu dibersihkan. Lily meraba-raba, mencari pintu yang menghubungkannya dengan labirin. Hingga matanya menangkap rak buku tua, Lily mendorong bagian ujungnya, rak yang tampak berat ini rupanya langsung tergeser begitu Lily mendorong seolah diberi pelumas. Di dalamnya, sebuah lorong sempit dengan dinding beton membentang ke bawah. "Kau benar, ada lorong di sini. Sempit dan pengap. Dan, baunya ... menyengat." "Sepertinya ada laboraturium di bawah sana, kemungkinan jalan yang kau tempuh adalah jalur pembuangan udara. Tetap fokus, Lily. Sepuluh meter ke depan, kau akan menemukan persimpangan." Instruksi Samuel dengan nada rendah penuh tekanan. Lily melangkah masuk, gema suara dari langkah kakinya semakin membuatnya berhati-hati. Baru beberapa langkah, Lily mendengar suara langkah kaki dari arah perpustakaan. Bukan suara kaki Pak Nathan yang berat, melainkan langkah ringan hampir tidak bersuara. "Lily, ada pergerakan di belakangmu!" Seru Andrez panik. "Seseorang baru saja masuk ke perpustakaan, kau harus cepat sembunyi!" Lily segera merapatkan tubuh ke dinding lorong yang gelap. Menahan napas. Di balik rak buku yang tidak tertutup sempurna, Lily melihat bayangan tinggi bergerak cepat. Orang itu mengenakan pakaian serba hitam, dia berdiri tepat di depan pintu yang terbuka. Melangkah masuk dengan suara langkah kaki yang hampir tidak terdengar. Orang itu menatap rak buku yang tergeser. Dia tidak menutupnya, tidak menyerang, tidak juga masuk, hanya berdiri diam. "Siapa dia? Adrian?" Bisik Samuel. Pria itu berbalik, tubuhnya yang tinggi dan badan yang bongsor hampir menutup seluruh celah. Lily membelalak, ketika tubuh itu diterangi cahaya bulan, Lily mengenali perawakannya. "Bukan ...," suara Lily bergetar. "Punggung itu ..., aku mengenalnya," bisiknya lirih. Sebelum pria itu benar-benar pergi, dia menoleh ke arah kegelapan lorong, meski pun wajahnya tertutup masker, matanya yang tajam sempat menangkap pantulan lensa kacamata Lily. Dia menempelkan jari telunjuk di bibirnya, isyarat untuk diam. Sebelum pergi secepat kilat. Dia sempat meletakkan sesuatu di lantai. Sebuah origami angsa hitam. ----------------------- Lily menghela napas, dia keluar dengan tergesa, namun langkahnya tertahan di ambang pintu. Kakinya seperti dipaku. Matanya menatap sebuah kertas di atas lantai. Origami angsa hitam. Dia mengambilnya dengan tangan gemetar, memejamkan mata sejenak, menepis segala prasangka yang ada. "Lily, kau harus segera ke luar dari sana, sebelum Adrian curiga." Suara Samuel memperingati. Lily berdeham, segera keluar dari perpustakaan meski dengan tangan hampa. Dia bahkan belum sempat masuk ke dalam labirin itu. "Kapten," panggil Lily begitu menutup pintu perpustakaan. "Ada apa?" "Sepertinya, di sekolah ini banyak hantu." Benar saja, begitu Lily menyelesaikan kalimat, Adrian datang dengan langkah begitu berat. "Sedang apa Anda di sini, Ibu Lily?" Tanya Adrian, menatap Lily tajam, seolah pandangan itu bisa menusuk Lily hingga ke tulang. "Berpartroli, pak Adrian. Hari ini jadwal piket saya," Adrian melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Lily bisa mencium aroma kayu cendana yang kuat darinya. Pria itu tidak membawa senter, namun matanya seolah memiliki kemampuan untuk melihat menembus kegelapan, mengunci tepat pada manik mata Lily. "Patroli?" Adrian mengulang kata itu dengan nada meremehkan. "Jadwal piket Anda seharusnya ada di gedung sebelah, bersama Pak Nathan. Tapi detektor gerakan saya menangkap aktivitas di sini?" Lily meremas origami angsa di balik saku roknya, berusaha menjaga napas tetap teratur. "Saya tadi mendengar suara dari arah sini, Pak. Saya pikir ada siswa yang tertinggal." Adrian tertawa kecil, suara yang lebih terdengar seperti desisan peringatan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Lily, memaksa gadis itu mendongak. "Alasan yang sangat puitis, Ibu Lilyana. Namun, seorang guru sastra biasanya tidak memiliki telapak tangan yang kasar karena latihan fisik, dan mereka tidak akan berdiri di depan pintu perpustakaan dengan denyut nadi secepat ini." Tangan Adrian berpindah ke pergelangan tangan Lily, mencengkeramnya cukup kuat. "Siapa Anda sebenarnya?" "Lily, dia mulai curiga. Lakukan sesuatu!" Samuel berteriak di telinga Lily. Tepat saat Adrian hendak menarik Lily lebih dekat untuk melakukan intimidasi lebih jauh, sebuah benda melesat dari kegelapan di koridor belakang. Sretttt Sebuah pisau lipat kecil tertancap di dinding, hanya beberapa inci dari wajah Adrian. Adrian melepaskan cengkeramannya pada Lily dan berbalik secepat kilat, insting tempurnya mengambil alih. "Siapa di sana?!" bentak Adrian. Sesosok bayangan tinggi yang tadi dilihat Lily muncul dari balik pilar. Pria bermasker itu tidak bersuara, dia langsung menerjang Adrian dengan gerakan yang sangat efisien, gerakan seorang profesional yang sudah terlatih. "Tetap di belakangku!" Adrian berteriak pada Lily, insting protektif yang muncul begitu saja di tengah ancaman. Adrian menangkis pukulan pria misterius itu dengan lengannya. Pertarungan tidak terelakkan di lorong. Suara hantaman menggema. Adrian bukan lawan yang mudah, dia membalas dengan tendangan memutar yang hampir mengenai rahang si pria bermasker. Namun, pria misterius itu lebih lincah. Dia bergerak seperti bayangan, seolah tahu setiap titik lemah Adrian. Saat Adrian mencoba mengunci tangan lawan, pria itu melakukan teknik counter yang brutal, menyikut rusuk Adrian hingga terdengar bunyi retakan halus. Pria misterius itu menarik belati pendek dari balik pinggangnya. Dalam satu gerakan kilat yang sulit ditangkap mata, dia menyayat lengan atas Adrian yang sedang mencoba melindungi kepalanya. "Arggh!" Adrian menggeram kesakitan, terhuyung mundur. Darah segar mulai merembes, membasahi kemeja mahalnya. Pria misterius itu berhenti sejenak. Dia menatap Lily cukup lama melalui celah maskernya, tatapan yang penuh dengan kerinduan sekaligus luka, sebelum akhirnya melemparkan sebuah bom asap kecil ke lantai. TUKK Asap putih pekat memenuhi koridor. Lily terbatuk, berusaha melihat menembus kabut buatan itu. Ketika asap mulai menipis, pria misterius itu sudah menghilang, seolah ditelan bumi. Hening kembali mencekam. Satu-satunya suara yang terdengar adalah napas Adrian yang tersengal. Pria itu terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu kayu perpustakaan. Darah mengalir deras dari lengan bajunya, menetes ke lantai marmer yang dingin. Lily segera menghampiri, namun langkahnya tertahan saat melihat Adrian menatapnya dengan tatapan yang kini lebih daripada sekadar curiga. "Dia..." Adrian berbicara dengan suara serak, menahan perih. "Pria itu ..., kau mengenalnya?" Lily membeku. Di tangannya, origami angsa hitam itu masih tergenggam erat. Ia menatap Adrian yang terluka, lalu menatap koridor kosong tempat 'hantu' itu menghilang. "Pak Adrian, saya..." "Diamlah, Lilyana," potong Adrian pelan, ia memejamkan mata sambil menekan lukanya. "Jika kau ingin tetap menjadi guru di sini, bantu aku ke ruang kesehatan. Dan jangan pernah katakan pada siapa pun soal malam ini." Lily menyadari sesuatu. Adrian terluka bukan hanya karena serangan fisik tadi, tapi karena dia sadar bahwa Lily memiliki rahasia yang jauh lebih gelap daripada yang dia duga.Lily tidak kembali ke apartmen nya, dia juga tidak melaporkan posisi nya pada Samuel. Lily tahu protokol timnya, setiap jengkal rumahnya pasti telah dipasangi alat penyadap atau sensor panas untuk memastikan keselamatannya. Dia memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran kota, mematikan mesin di sebuah gedung parkir apartmen tua yang jarang terjamah. Sunyi. Hanya suara detak jam di dashboard yang menemaninya. Dia membuka laptop cadangan miliknya yang tidak terhubung pada server utama di markas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasukkan flashdisk perak pemberian Adrian. Begitu folder terbuka, terdapat deretan file dengan kode 'Blue-Red' terpampang di sana, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah Lily.Isi flashdisk itu menyingkap tabir yang selama ini tertutup rapat. Seluruh skema operasi yang selama ini dijejalkan milik timnya hanyalah informasi palsu. Entah mereka memang mendapatkan informasi palsu, atau informasi itu sendiri telah dipalsukan. Sindik
Pagi itu, langit di atas Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Lily yang pekat. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang bertuliskan 'Ketua Yayasan'. Di balik seragam gurunya yang rapi, tiga microchip tertempel di jam tangannya dan satu kamera mikro menyamar sebagai bros perak di dadanya. "Masuklah, Ibu Lilyana. Beliau sudah menunggu." Suara penjaga di depan pintu menyentak lamunan Lily. Dia merapikan baju sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu itu. Aroma mawar langsung menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Di balik meja kaca yang elegan, Elena duduk dengan anggun. Setelan blezer kremnya memancarkan otoritas sekaligus kemewahan yang tenang. "Ah, Ibu Lilyana. Silahkan duduk." Elena tersenyum. Senyum itu sempurna. Namun, di mata Lily itu adalah senyum predator yang sedang memamerkan wilayahnya."Terima kasih, Bu Elena. Suatu kehormatan bagi saya." Lily duduk, memastikan bros nya menghadap tepat pada meja kerja
Tiga hari setelah malam di mana dunianya hancur berkeping-keping, Lily kembali ke SMA Merpati Putih. Dia mengenakan turtleneck hitam ketat yang menutupi lehernya hingga batas rahang. Juga riasan yang lebih tebal untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat dan sembab. Sebelum benar-benar kembali, Lily harus ke markas lebih dulu atas perintah Samuel. Di koridor markas yang sepi, sang Kapten mencegatnya. "Lily," panggil Samuel lirih, suaranya terdengar ragu, kontras dengan seragam yang dia gunakan hari ini. "Laporan sudah diunggah di server, Kapten. Tidak ada anomali pada subjek Julian pagi ini," Lily berhenti, namun tidak menoleh. Samuel maju selangkah, tangannya setengah terangkat ingin menyentuh bahu Lily, namun dia menariknya kembali. Suasana di antara mereka begitu kaku, seolah-olah udara berubah menjadi kaca yang siap pecah. "Soal Elena ...," Samuel menjeda ucapannya, ada ragu di sana. Lily menoleh. "Kenapa dengan wanita itu?" Tanya nya dengan suara dingin. Samuel menyerahkan
Lily masuk dengan langkah diseret ke apartmen nya yang gelap. Dia tidak menyalakan lampu, dia menutup pintu, mengunci rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di sana.Hening. Sunyi yang memekakkan. Tiba-tiba, bayangan Elena menggandeng mesra tangan Julian, dan suara tawa anak laki-laki itu, berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Perasaan yang dia tekan selama lima tahun, rasa dikhianati, rasa tidak berdaya, rasa kehilangan, dan rasa bersalah meledak seketika.PRANG! Lily menghantamkan vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "ARRGHHH!!" Teriakan itu pecah, tubuh Lily merosot, tanpa diminta, air mata jatuh membasahi pipinya. Lily meraung, raungan dari dasar jiwanya yang telah terlalu lama hancur. Lily menerjang meja rias, menyapu semua botol parfume dan alat rias hingga pecah dan berserakan di lantai. Dia mencengkram pinggiran meja, napasnya sesak, dia melihat bayangin dirinya yang rapuh di dalam cermin. Dia membenci sosok itu. BRAKKSatu hantaman tinjunya membu
Satu Minggu Kemudian Aula utama SMA Merpati putih dihias dengan begitu megah. Ribuan bunga lily putih menghias setiap sudutnya, menebarkan aroma harum. Lily putih adalah bunga kesukaan Lily, sama seperti namanya. Karpet merah membentang di sepanjang aula. Para petinggi, politikus, pengusaha berkumpul. Lily berdiri di sudut ruang, menggunakan kebaya hitam anggun yang begitu pas di tubuhnya. Menyembunyikan pistol kecil dibalik keanggunannya. Matanya terus memindai kerumunan. Tiba-tiba seseorang menepuk pingganya. Begitu menoleh, Adrian sudah berdiri tegak di samping Lily. Tangannya masih dibebat perban, yang dia sembunyikan dibalik jas mewah yang dia kenakan. Tiba-tiba hening, ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan aula. Seolah seluruh perhatian tersedot keluar. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun. Penampilannya begitu bersih dan beriwibawa. Adrian yang berada tak jauh di samping Lily mematung. Dia menatap wanita itu, seolah ingin menariknya keluar dari sana. Lal
Suara wiper mobil taktis yang menerobos air hujan menjadi satu-satunya ritme di tengah keheningan yang menyesakkan. Lily duduk di kursi belakang, tubuhnya masih terasa kaku. Di sampingnya, Adrian sedang berusaha membalut luka di lengannya dengan satu tangan. Kain kasa itu berkali-kali merosot, membiarkan warna merah pekat kembali menodai kemejanya yang sudah compang-camping. Lily hanya memperhatikannya dari sudut mata. Ada keinginan untuk membantu, namun egonya yang baru saja dihantam kenyataan pahit menahan tangannya untuk bergerak membantu pria itu."Kau akan terus menonton sampai aku kehabisan darah, atau kau mau melakukan sesuatu?" suara Adrian memecah kesunyian. Dingin dan tanpa basa-basi.Lily menghela napas panjang, lalu merampas perban dari tangan Adrian. Jemarinya yang masih dingin menyentuh kulit lengan Adrian. Kontak fisik itu terasa canggung, terlalu intim untuk dua orang yang baru saja saling melontarkan ancaman, dan menatap tajam beberapa menit lalu, namun terlalu boh
Samuel mondar-mandir di ruangan kendali. Suaranya sepatunya yang beradu dengan lantai menciptakan irama yang tidak stabil. Sesekali dia menggigit kuku, sebuah kebiasaan lama yang dia lakukan saat merasa terdesak. Ibu jarinya mulai memerah, darah mulai merembes dari sana. Tapi, Samuel tidak peduli.
Lily menelan ludah, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya. Dia segera merunduk, membiarkan tangan Adrian bertumpu pada bahunya. Tubuh pria itu terasa berat dan panas, kontras dengan lantai marmer yang dingin. Aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas Adrian kini bercampur dengan baubesi yang amis






