LOGINBegitu selesai mengajar, Lily melajukan mobilnya segera menuju markas. Namun sebelum itu, dia singgah ke rumah yang telah disediakan sebagai properti penyamaran. Mengganti baju, dan membawa motor dinasnya.
Sesampainya di markas, seluruh rekan timnya sudah menunggu, mereka menyambut Lily dengan senyum merekah. Lily hanya melirik mereka sekilas, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi.
Perempuan itu merebahkan punggungnya, menghela napas panjang. Dia melemparkan sebuah plastik ke atas meja. Bubuk kristal biru, sampel narkoba.
"Ruka, bawa ini ke forensik, sekarang!" Perintah Samuel, pria bernama Ruka itu segera berdiri dan mengambil sampel. Samuel mendekat pada Lily, gurat khawatir tercetak jelas di wajahnya. "Apa yang terjadi? Kau seperti orang yang baru saja melihat eksekusi mati."
Lily menatap Samuel lekat, dia memperbaiki posisi duduknya. Lily menunduk, menyatukan kedua tangan di atas meja. Lalu merogoh saku jaket yang dia kenakan.
Semua rekannya mendekat, menatap sebuah plastik transparan di tangan Lily. Itu pita perekat khusus. Mereka semua menatap Lily dengan pandangan bertanya-tanya.
"Besok, adalah jadwalku piket malam. Aku akan menyelinap ke ruang Kepala Yayasan," katanya, setengah berbisik. "Dan aku membutuhkan kalian. Ini sampel sidik jari milik Adrian, aku mengambilnya saat rapat hari ini di gelas kopi miliknya sebelum keluar dari ruangan rapat. Jadi, tolong siapkan beberapa peralatan yang dibutuhkan, dan aku butuh Andrez untuk ikut bersamaku."
Samuel tersentak. "Jangan terburu-buru, berbahaya," sambarnya cepat.
"Mau menunggu sampai kapan? Sampai ada korban lain seperti Rangga?"
"Kau baru saja sampai di sana, kau baru satu hari berada di sana. Jangan gegabah!"
"Kupikir sebaiknya kau menimbang ulang keputusan itu, benar kata Kapten, berbahaya. Mereka mungkin menempatkan banyak jebakan, mengantisipasi dari orang-orang yang menyelinap seperti kita." Andrez, alias Reptor menimpali.
"Ini bukan soal cepat atau lambat. Mereka berbahaya, kejahatan mereka terorganisir. Apalagi mereka memiliki akses pada para petinggi, jika salah langkah, bukan mereka yang hancur, tapi kita! Tim kita kita akan dihapus!"
Lily menghela napas. Dia kembali menyandarkan punggungnya di kursi, bertumpang kaki. Matanya terpejam. "Baiklah," jawabnya pasrah.
Mereka kembali ke meja masing-masing, mengerjakan pekerjaan yang tertunda, kecuali Samuel. Dia masih berdiri di hadapan Lily, menatap gadis itu lekat.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Lily. Apa yang terjadi? Apa yang kau ketahui hingga ingin membuka kembali kasus lima tahun lalu?"
Lily membuka mata, menatap sang Kapten. "Apa kau takut hantu?" Tanyanya.
Samuel mengernyit. "Hantu?"
"Aku melihat hantu di sana," jawabnya asal, kembali memejamkan, berpura-pura tidur.
Hantu yang menghantuiku lima tahun terakhir, Julian.
Sedangkan Samuel masih menatap Lily dengan pandangan sulit diartikan.
Lily memutuskan untuk tidak mengatakan pada siapa pun, termasuk pada Samuel. Perihal apa yang dia temukan di meja Kepala Sekolah, juga dari saku celana seragam Rangga. Dia akan menyelidiki ini sendiri.
Apa pun hasilnya nanti, biar dia yang menelan kepahitan itu sendirian, lagi.
BRAKKKK
Lily terperanjat, dia hampir terjatuh jika saja tangannya tidak berpegangan pada gagang kursi, begitu juga Samuel yang jatuh terduduk karena terkejut.
Andrez tiba-tiba menggebrak meja, dengan senyum lebar dan wajah tanpa dosa, dia menatap Lily. "Kau mungkin tidak bisa membobolnya sekarang, tapi masih bisa melakukan pengintaian," katanya.
Seluruh rekan mereka yang ikut terkejut hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan kembali aktivitas mereka.
Lily menaikkan sebelah alisnya, Andrez pergi ke ruang peralatan, lalu kembali membawa sebuah kacamata dengan gagang bingkai yang lebih tipis, namun modelnya tetap sama.
"Kau lihat lubang ini?" Andrez menunjuk lubang kecil di gagang kacamata dekat mata. "Ini adalah kamera, kamera ini terhubung dengan komputer di server utama kantor kita, aku juga menyusupkan mikrochip di dalamnya agar lebih mudah ketika memindahkan data," jelas Andrez.
"Kau ingin aku memakainya?"
Andrez mengangguk. "Jika menyusup sekarang terlalu berisiko, maka kita bisa mengawasinya."
"Kau tahu ruangan itu bahkan dijaga ketat oleh orang-orang terlatih," sahut Samuel.
Andrez menjentikkan jari. "Rute yang diambil Lily memang berbahaya." Andrez kembali beranjak, kali ini dia membawa gulungan cetak biru SMA Merpati putih. "Tapi, jika sekolah ini adalah sarang mafia. Mereka tidak mungkin tidak menyiapkan sesuatu yang bisa meloloskan mereka ketika polisi menyergap. Kalian tahu, para pengedar narkoba sulit ditangkap, mereka licin seperti belut."
Andrez menyingkap gulungan itu, dia menunjuk satu titik. "Aku baru ingat soal ini. Lihat? Perpustakaan sekolah tidak pernah memiliki gudang, tapi mereka punya. Dan, di gudang ini terdapat jalan rahasia yang terhubung langsung dengan ruangan kepala yayasan."
"Cetak biru ini berbeda dari yang kudapatkan," Lily mendapat cetak biru gedung itu sesaat sebelum misi, tapi berbeda dengan yang Andrez miliki.
"Ini salinan asli, yang kau dapatkan adalah salinan yang sudah dimanipulasi agar orang-orang tidak mengetahui soal gudang ini. Terlebih, kemungkinan jalan menuju ruangan kepala yayasan ini seperti labirin," jelas Andrez lagi.
"Maksudmu, seseorang memberikan cetakan palsu padaku?"
"Persis, tapi bisa jadi mereka sendiri yang memalsukan cetak birunya, untuk mengecoh polisi."
Lily bersidekap, penjelasan Andrez masuk akal, tapi bukan itu poin intinya.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Lily, menyipitkan mata.
"Ada catatan mereka mengganti cetak birunya 2 bulan setelah pembangunan dimulai."
Sial! Lily membatin.
"Jadi, aku harus mencari jalan menuju ruang kepala yayasan? Lewat labirin itu?"
Andrez kembali menggangguk.
"Jika tempat itu memang seperti labirin, bukankah akan sulit?" Samuel menatap Andrez.
"Nah, karena itu aku sudah menyiapkan ini." Andrez kembali menunjukkan sebuah gulungan kertas, dia membentangkannya di hadapan Lily dan Samuel. "Peta labirin. Aku membuatnya berdasarkan garis yang ada di cetak biru itu. Menimbang seberapa jauh mereka akan membuat jebakan. Semoga ini bisa membantumu untuk menemukan jalan yang benar!" Andrez tersenyum, merasa bangga atas apa yang dia lakukan.
Lily mengambil peta, mengamatinya perlahan. Semakin diperhatikan, garis-garis tipis itu seperti benang kusut yang siap menjerat lehernya. Lily ragu, dia bisa melakukannya dalam waktu singkat.
"Baiklah," putus Lily, "Aku akan melalukannya, tapi kau harus tetap menuntunku."
Andrez tersenyum. "Deal!"
••••••••••••••
Di hari kedua, Lily kembali dengan senyum yang masih tampak malu-malu. Dia kembali menggerai rambutnya. Jika kemarin dia menggunakan blus berwarna krem, kini dia memilih warna hitam.
Lily mengenakan kacamata yang diberikan Andrez. Berdehem untuk menutupi gerak bibirnya dari tangkapan CCTV. "Kau bisa melihatnya dengan jelas?" Bisiknya melalui earpiece.
"Ya, aku bisa melihatnya dengan jelas," sahut Andrez di sana, "Aku terkejut gedung itu terlalu megah untuk sebuah sekolah."
Hari Lily berjalan seperti biasa. Dia mengajar dan berinteraksi dengan para guru dan murid-murid. Hingga jam pulang sekolah berbunyi.
Lily menatap jam dinding waktu menunjukkan pukul 17.00, sekolah sudah sepi, di ruang guru hanya ada dirinya dan satu guru laki-laki, Pak Nathan kalau tidak salah.
"Ibu Lilyana," sapa beliau.
Lily berjengit, sedikit terkejut karena panggilan tiba-tiba. "Ya?"
"Saya akan berkeliling di gedung ini, apakah Anda bersedia berkeliling di gedung sebelah? Supaya lebih efisien, sebaiknya kita berpencar."
"Baik, Pak. Saya bersedia," jawab Lily.
Pak Nathan beranjak dari kursi mengambil sebuah senter di laci peralatan. Lalu pergi tanpa menoleh lagi pada Lily.
Lily memperhatikan, memastikan bahwa Pak Nathan sudah pergi. Ini kesempatannya. Dia beranjak melangkah dengan agar tidak menimbulkan curiga.
Sesampainya di depan perpustakaan, langkah Lily melambat, dia menarik napas panjang, gugup menyergap.
"Mulai masuk area perpustakaan. Status misi, aktif," ucapnya, seraya menarik pintu perpustakaan.
Lily tidak kembali ke apartmen nya, dia juga tidak melaporkan posisi nya pada Samuel. Lily tahu protokol timnya, setiap jengkal rumahnya pasti telah dipasangi alat penyadap atau sensor panas untuk memastikan keselamatannya. Dia memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran kota, mematikan mesin di sebuah gedung parkir apartmen tua yang jarang terjamah. Sunyi. Hanya suara detak jam di dashboard yang menemaninya. Dia membuka laptop cadangan miliknya yang tidak terhubung pada server utama di markas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasukkan flashdisk perak pemberian Adrian. Begitu folder terbuka, terdapat deretan file dengan kode 'Blue-Red' terpampang di sana, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah Lily.Isi flashdisk itu menyingkap tabir yang selama ini tertutup rapat. Seluruh skema operasi yang selama ini dijejalkan milik timnya hanyalah informasi palsu. Entah mereka memang mendapatkan informasi palsu, atau informasi itu sendiri telah dipalsukan. Sindik
Pagi itu, langit di atas Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Lily yang pekat. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang bertuliskan 'Ketua Yayasan'. Di balik seragam gurunya yang rapi, tiga microchip tertempel di jam tangannya dan satu kamera mikro menyamar sebagai bros perak di dadanya. "Masuklah, Ibu Lilyana. Beliau sudah menunggu." Suara penjaga di depan pintu menyentak lamunan Lily. Dia merapikan baju sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu itu. Aroma mawar langsung menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Di balik meja kaca yang elegan, Elena duduk dengan anggun. Setelan blezer kremnya memancarkan otoritas sekaligus kemewahan yang tenang. "Ah, Ibu Lilyana. Silahkan duduk." Elena tersenyum. Senyum itu sempurna. Namun, di mata Lily itu adalah senyum predator yang sedang memamerkan wilayahnya."Terima kasih, Bu Elena. Suatu kehormatan bagi saya." Lily duduk, memastikan bros nya menghadap tepat pada meja kerja
Tiga hari setelah malam di mana dunianya hancur berkeping-keping, Lily kembali ke SMA Merpati Putih. Dia mengenakan turtleneck hitam ketat yang menutupi lehernya hingga batas rahang. Juga riasan yang lebih tebal untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat dan sembab. Sebelum benar-benar kembali, Lily harus ke markas lebih dulu atas perintah Samuel. Di koridor markas yang sepi, sang Kapten mencegatnya. "Lily," panggil Samuel lirih, suaranya terdengar ragu, kontras dengan seragam yang dia gunakan hari ini. "Laporan sudah diunggah di server, Kapten. Tidak ada anomali pada subjek Julian pagi ini," Lily berhenti, namun tidak menoleh. Samuel maju selangkah, tangannya setengah terangkat ingin menyentuh bahu Lily, namun dia menariknya kembali. Suasana di antara mereka begitu kaku, seolah-olah udara berubah menjadi kaca yang siap pecah. "Soal Elena ...," Samuel menjeda ucapannya, ada ragu di sana. Lily menoleh. "Kenapa dengan wanita itu?" Tanya nya dengan suara dingin. Samuel menyerahkan
Lily masuk dengan langkah diseret ke apartmen nya yang gelap. Dia tidak menyalakan lampu, dia menutup pintu, mengunci rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di sana.Hening. Sunyi yang memekakkan. Tiba-tiba, bayangan Elena menggandeng mesra tangan Julian, dan suara tawa anak laki-laki itu, berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Perasaan yang dia tekan selama lima tahun, rasa dikhianati, rasa tidak berdaya, rasa kehilangan, dan rasa bersalah meledak seketika.PRANG! Lily menghantamkan vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "ARRGHHH!!" Teriakan itu pecah, tubuh Lily merosot, tanpa diminta, air mata jatuh membasahi pipinya. Lily meraung, raungan dari dasar jiwanya yang telah terlalu lama hancur. Lily menerjang meja rias, menyapu semua botol parfume dan alat rias hingga pecah dan berserakan di lantai. Dia mencengkram pinggiran meja, napasnya sesak, dia melihat bayangin dirinya yang rapuh di dalam cermin. Dia membenci sosok itu. BRAKKSatu hantaman tinjunya membu
Satu Minggu Kemudian Aula utama SMA Merpati putih dihias dengan begitu megah. Ribuan bunga lily putih menghias setiap sudutnya, menebarkan aroma harum. Lily putih adalah bunga kesukaan Lily, sama seperti namanya. Karpet merah membentang di sepanjang aula. Para petinggi, politikus, pengusaha berkumpul. Lily berdiri di sudut ruang, menggunakan kebaya hitam anggun yang begitu pas di tubuhnya. Menyembunyikan pistol kecil dibalik keanggunannya. Matanya terus memindai kerumunan. Tiba-tiba seseorang menepuk pingganya. Begitu menoleh, Adrian sudah berdiri tegak di samping Lily. Tangannya masih dibebat perban, yang dia sembunyikan dibalik jas mewah yang dia kenakan. Tiba-tiba hening, ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan aula. Seolah seluruh perhatian tersedot keluar. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun. Penampilannya begitu bersih dan beriwibawa. Adrian yang berada tak jauh di samping Lily mematung. Dia menatap wanita itu, seolah ingin menariknya keluar dari sana. Lal
Suara wiper mobil taktis yang menerobos air hujan menjadi satu-satunya ritme di tengah keheningan yang menyesakkan. Lily duduk di kursi belakang, tubuhnya masih terasa kaku. Di sampingnya, Adrian sedang berusaha membalut luka di lengannya dengan satu tangan. Kain kasa itu berkali-kali merosot, membiarkan warna merah pekat kembali menodai kemejanya yang sudah compang-camping. Lily hanya memperhatikannya dari sudut mata. Ada keinginan untuk membantu, namun egonya yang baru saja dihantam kenyataan pahit menahan tangannya untuk bergerak membantu pria itu."Kau akan terus menonton sampai aku kehabisan darah, atau kau mau melakukan sesuatu?" suara Adrian memecah kesunyian. Dingin dan tanpa basa-basi.Lily menghela napas panjang, lalu merampas perban dari tangan Adrian. Jemarinya yang masih dingin menyentuh kulit lengan Adrian. Kontak fisik itu terasa canggung, terlalu intim untuk dua orang yang baru saja saling melontarkan ancaman, dan menatap tajam beberapa menit lalu, namun terlalu boh
Samuel mondar-mandir di ruangan kendali. Suaranya sepatunya yang beradu dengan lantai menciptakan irama yang tidak stabil. Sesekali dia menggigit kuku, sebuah kebiasaan lama yang dia lakukan saat merasa terdesak. Ibu jarinya mulai memerah, darah mulai merembes dari sana. Tapi, Samuel tidak peduli.
Lily menelan ludah, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya. Dia segera merunduk, membiarkan tangan Adrian bertumpu pada bahunya. Tubuh pria itu terasa berat dan panas, kontras dengan lantai marmer yang dingin. Aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas Adrian kini bercampur dengan baubesi yang amis







