ANMELDENLampu sen mobil mengedip dua kali saat Arman menekan tombol pada kuncinya. Ia merapatkan kerah jaket menutupi leher, berjalan cepat sambil menenteng seikat bunga peony di tangan. Arman menyusuri lantai berlapis paving berwarna terakota, mengantarkannya ke depan pintu gerbang TPU. Daun-daun pohon bunga kamboja di sisi gerbang mengayun bersama angin yang bertiup. Aroma udara selepas hujan terasa asam, mengeringkan tenggorokan.“Selamat siang, Bu. Gedung pengurus pemakamannya di mana, ya?” sapa Arman lembut pada seorang penjaja bunga kuburan di samping jalan setapak. Mengikuti petunjuk si ibu, Arman melanjutkan perjalanan. Setelah melewati gerbang, permukaan lantai memecah menjadi tiga. Ada jalan utama, sayap kanan, dan kiri. Arman terus melangkah, menuju bangunan sederhana dengan jendela besar menghadap jalan. Pintu ganda berbahan kayu menjadi satu-satunya jalan masuk.Di dekat pintu, sebuah meja menyambut, permukaannya kusam dengan beberapa titik bopeng di permukaan. Mesin komputer d
“Selamat pagi!” sapa Miri riang.Beberapa rekan kerjanya yang sudah tiba di dapur pagi itu menoleh, membalas sapaan yang sama. Senyum yang menghiasi wajah Miri membawa semangat baru yang membuat rekan kerjanya tercengang. Tak ada yang tahu bahwa ia menangis semalaman. Jika lembar kertas surat terakhir Nenek Aisha dapat bicara, ia akan bersaksi pada titik-titik air yang membekas dan mengerutkan permukannya. “Selamat pagi, Jihan!” seru Miri saat di ruang ganti.“Pagi, Mir. Semangat banget hari ini?” balas Jihan yang sedang mengancingkan kemeja kerjanya. Alisnya terangkat, menangkap sosok Miri yang lebih riang daripada biasanya. Dengan gesit, ia telah siap dengan seragamnya.“Iya, dong. Kita harus ceria setiap hari, biar semangat masaknya! Aku duluan, ya,” balasnya.Setelah mengganti pakaian dengan seragam kerja, Miri segera beranjak ke dapur. Ia membuka buku jurnal resep yang ia simpan pada salah satu laci dapur. Catatan dan sketsa yang terakhir kali ia torehkan pada lembaran kertas
“Selamat pagi, Pak. Silakan masuk,” sambut Miri di pintu depan.“Terima kasih,” balas pria tua di hadapannya dengan suara parau.Bila langit mendung kota Jakarta dapat menyerupai manusia, Malik Hanasta adalah perwujudannya. Pak Malik adalah laki-laki tua, mengenakan warna jas kelabu dengan kemeja putih dan dasi biru tua bermotif batik. Ia melangkah masuk, mengikuti Miri hingga ke ruang tamu rumah mendiang Nenek Aisha. Semakin jauh ia melangkah, keheningan di dalam rumah semakin suram.“Silakan duduk, Pak. Sebentar saya buatkan kopi–”“Teh saja, Kemirayu. Saya tidak minum kopi,” potong Pak Malik tegas.Pria itu duduk di tengah sofa, dengan tubuh membungkuk. Tas kerja berbahan kulit yang ia bawa bersandar di kaki sofa. Satu tangannya memegang selembar dokumen, dengan mata tua yang menyipit, mencoba mengenali barisan huruf yang tercetak di kertas.Sementara itu, Miri menghilang ke dapur. Ia mengisi dua cangkir dengan seduhan teh di dapur. Perpaduan aroma melati dan teh yang pekat memban
“Hei. Berhenti menyentuhku,” keluh Arman, menampik lengan wanita yang mencoba merayap masuk ke balik kemejanya.“Kamu kenapa, sih, Arman? Dingin banget hari ini. Harusnya kita kan bersenang-senang,” protes Siena, dengan bibir mengerut.Arman Arkani bergeming di sofa ketika Siena duduk di sampingnya. Ia bergelayut di lengan Arman, mengelus lengannya dengan sentuhan menggoda.Aroma parfum yang menyengat, belahan dada rendah dan bisikan mesra dari suara yang tak ia kenal.“Kita kan pernah ketemu. Masa kamu lupa?” goda Siena.Tentu saja Arman lupa. Siena bukan gadis pertama yang pernah jatuh ke pelukannya. Ada Zahra, Adisti, Rosalie, Anya–Arman tak ingat. Mereka pernah bercint
Saat mengintip dari jendela, derasnya hujan membuat jantung Miri berdebar. Malam itu, seharusnya Seno dan Sara sudah tiba di rumah Nenek Aisha. Setelah situasi kembali tenang, Miri mengajak mereka untuk makan malam di rumah, sekaligus menghidupkan suasana.Namun, sorot lampu mobil mereka masih belum terlihat. Pun tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Cuaca buruk seakan menghisap warna dari bumi, membuat nuansa kelabu meliputi setiap penjuru.‘Apa mereka terjebak macet, ya?’ pikir Miri.Miri meremas ujung sweternya kuat-kuat, menatap layar ponselnya yang masih hitam. Di ruang makan, peralatan makan telah lengkap menghiasi meja. Panci dan wajan di dapur pun siap memanaskan makanan sewaktu-waktu.Mbok Citra, mengelap tangan dengan celemek setelah tuntas
“Cie, ada yang serius banget, nih,” goda Jihan, duduk di samping Miri sambi membawa sepiring pasta.“Berisik, ah. Aku belum ada ide, nih,” gerutu Miri, memandang buku catatannya.Di jam makan siang, mereka duduk di meja yang kosong sambil menikmati hidangan pasta yang dibuat oleh Chef Dom. Spaghetti Bolognese dengan saus ragu yang aromatik, menu sederhana yang menggugah selera.Isi piring Miri masih sisa setengah, tapi ia kehilangan selera untuk lanjut makan. Di samping buku catatannya, ada buku resep milik Nenek Aisha yang terbuka. Miri berhenti di satu halaman tentang pie buah, tapi ia kehabisan ide bagaimana mengolahnya menjadi cita rasa Italia.“Nggak usah terlalu dipikirin serius, lah, Mir. Buat aja yang estetik dengan bahan-bahan yang
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







