Share

4. Izin dan Restu Clara

Penulis: Ka Enov
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-17 20:55:47

"Kalimat apa itu tadi yang ibu dengar, Clara? Apa kau bermaksud menyumpahi Lara tak bisa memberikan Anton anak laki laki, begitu maumu?" tanya Desi sedikit emosi.

"Oh sama sekali tidak, Bu. Clara hanya.."

"Ibu akan mengusahakan apapun agar Lara bisa punya anak, apa lagi laki laki."

Clara hanya bisa diam, dia rasanya ingin menangis, hanya saja dia bertahan. Dia tak mau dianggap lemah oleh siapapun.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Pertemuan keluarga Lara dan Anton berjalan baik. Awalnya ibunya Lara nampak kaget saat mengetahui Anton ternyata masih punya istri. Tapi ibu mertua Clara nampak bisa meyakinkan sahabatnya itu, jika Anton akan berlaku adil pastinya, jika bisa memberikan anak laki laki, Anton dipastikan akan condong ke istri mudanya.

"Duh jeng Desi, sama aja, walau Lara bisa kasih anak laki laki, namanya istri muda ya ga akan dapet apa apa. Di tulis di kartu keluarga saja ndak, ya kan?" tutur Bu Lisda, calon mertua mas Anton.

"Tenang saja jeng Lisda, apa saja pernah ingkar janji? Yang penting nanti bayi Lara laki laki." Ibu nampak yakin bisa memberikan sesuatu untuk Lara dan keluarganya.

Clara hanya bisa berdiam diri, dia hadir disana. Diantara jamuan makan malam dua keluarga besar itu. Tapi dia tak bersama mereka dalam satu meja. Apalagi anak anaknya, ia sengaja tak membawa Nayla dan juga Kayla dalam jamuan itu.

Sepertinya, semua berjalan lancar. Hari pernikahan telah ditentukan. Bahkan Bu Lisda menginginkan semuanya dirayakan dengan mewah. Awalnya mas Anton nampak keberatan, tapi tidak dengan ibu. Ibu menyanggupi semua permintaan besannya itu.

"Sudah Anton, jangan memperdebatkan apapun, kamu tenang saja. Ibu yang urus semuanya!" tutur ibu ditelinga Anton.

Pesta itu digelar juga, sebuah akad nikah akan dilangsung pagi hari. Disusul kemudian resepsinya disiang serta malam hari. Awalnya acara akan diadakan dua hari. Satu hari khusus akad saja, lalu esok resepsi. Tapi Anton menolaknya, jadilah acara mereka padat merayap dalam satu hari.

"Clara, kau baik baik saja?" tanya Anton nampak menemui Clara sebelum prosesi akad nikah.

Sejujurnya Clara enggan datang. Tapi Anton memaksanya.

"Aku ingin Lara nanti meminta izin padamu secara langsung sebelum akad nikah, aku juga sama, aku ingin kau benar benar ridho dan ikhlas melepas aku menikah lagi Clara!" pinta Anton semalam.

"Aku sudah ikhlas mas, kenapa menyuruhku datang, lalu meminta Lara meminta izinku lagi? Kau mau aku dipermalukan di acaramu?"

"Tidak Clara, sungguh. Aku ingin semuanya tahu, aku memiliki kamu. Aku ingin mereka tahu jika kau merestui. Jalanku akan sulit jika kau keberatan Clara."

Atas permintaan itulah Clara hadir dan duduk didekat Lara dan Anton sebelum prosesi akad. Seperti keinginan Anton, Lara dan Anton minta izin dahulu padanya, sebelum rangkain akad berlangsung.

"Pak penghulu, saya mohon, bimbing saya dan Lara untuk minta izin pada istri pertamna saya dahulu!" pinta Anton. Hal itu tentu saja, membuat kanan kiri mereka langsung bisak bisik, dan kasak kusuk.

"Baiklah, silahkan pegang microfonnya masing masing!"

"Lara kau lebih dulu, katakan pada Clara jika kau minta restunya!"

"Bagaimana mengatakannya, Pak?" tanya Lara canggung.

"Katakan saja dalam bahasamu, tak apa!"

"Mbak Clara, aku minta izin untuk menikah dengan suamimu." Lara lalu berhenti.

"Yang bernama, Anton Bin Waliyuddin Abdullah, sudikah engkau, relakah engkau terhadapnya, Clara?" Pak Penghulu menyambung kalimat Lara dan menyuruh Lara mengulangnya.

"Yang bernama Anton Bin Waliyuddin Abdullah, sudikah engkau, relakah engkau mbak Clara untuk aku menikah dengan Mas Anton?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Merry Diana
sad... ......semudah itu Clara ? ya ampun
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   12. Tahun Bahagia

    Clara tidak bisa mengubah perasaannya begitu saja. Dia sangat cemburu terhadap Anton dan juga Lara. Tetapi dia tidak berani untuk mengungkapkan apapun. Melihat sang istri, yang nampaknya tidak baik-baik saja, Anton pun mendekatinya. "Ada apa sayangku? Aku sudah kembali. Tapi, kenapa wajahmu masih di tekuk begitu?" tanya Anton. Clara masih enggan bicara. "Sayang!" Anton kembali memanggil Clara. Kali ini dengan pelukan. "Apakah salah jika aku cemburu, Mas? Kenapa kalian seolah mengejek aku?" Clara menangis. "Clara, Sayangku, sudah mas katakan, bukan? Ini tidak akan mudah. Sudahlah. Mas juga tidak menyentuh Lara. Lara saat itu tengah datang bulan. Jadi kami hanya berlibur saja. Tidak ada hal apapun yang terjadi!" Mendengar ucapan dari sang suami, Clara kemudian menghapus air matanya. Tetapi tentu saja ini hanya sesuatu yang hanya diundur saja. Besok atau lusa ketika datang bulan Lara sudah selesai, pastinya Anton akan menyentuhnya. Itu adalah haknya, haknya yang ditunda. "Apak

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   11. Cemburu yang Menyiksa

    Clara sangat tak tahan, berada didapur malah membuatnya makin penasaran. "Apa yang dikatakan Lara ya? Aku dulu sebulan menikah, sudah hamil si kembar. Apakah Lara juga?" batin Clara tak tenang. Teh yang akan disuguhkan pada tamunya, malah terlalu lama diaduk Clara yang melamun. "Clara, kok lama banget sih? kamu melamun? atau kamu campur sesuatu ke minuman itu ya?" tanya Desi. "Astagfirullah, memasukkan apa maksud, Ibu?" "Kok kaget gitu? Ya masukkin gula sama teh, memang apa lagi?" ucap Desi polos. Ia langsung mengambil alih nampan berisi teh, lalu membawanya ke depan. "Kok ibu jadi gitu ya? Berasa kayak nuduh aku?" batin Clara sensitif. Walaupun sebenarnya Clara kesal, tapi rasa penasarannya lebih besar. Jadi langkah kakinya mengikuti langkah kaki Desi untuk menuju kembali ke ruang depan. Wajah merona dari Lara masih nampak terlihat dengan jelas. Dia menunduk malu-malu sambil terus dimintai keterangan oleh kedua orang ibu yang duduk di sampingnya. "Jadi bagaimana Lara?

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   10. Pipinya yang merona

    Sudah 3 hari Lara dan Anton tidak juga pulang. Itu membuat perasaan Clara jadi tak menentu. Dia tidak menghubungi suaminya. Tetapi suaminya rajin menelponnya, terutama di pagi hari ketika anak-anak lagi sarapan. Anak-anak lebih mendominasi pembicaraan daripada dirinya. Clara hanya bisa menatap wajah tampan itu yang nampak selalu tersenyum dihadapan anak-anak. "Ayah akan pulang besok, mau di bawain apa?" tanya Anton. Kayla dan Nayla langsung antusias menyebutkan barang yang mereka inginkan. "Lalu bunda, apa?" tanya Anton. Anak anak menoleh pada Clara. Tapi Clara hanya menggelengkan kepalanya. "Kok nggak ada? Yakin?" tanya Anton tersenyum. Anak anak hanya tertawa melihat ayah menggoda bunda mereka. "Sudah sudah, ayo habiskan makanan kalian. Kita sudah hampir terlambat. Maaf ya mas, nanti kita sambung lagi!" ucap Clara. "Aku tidak minta apapun, Mas. Aku hanya ingin kau baik-baik saja dan terus mengingatku walau kau bersama Lara. Lalu kembali dengan selamat ke rumah," batin

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   9. Bulan madu

    Lara langsung menunduk malu mendengar pertanyaan dari Clara tersebut. Pasalnya dia tidak berani untuk menyusun rencana seperti itu. Dia sadar meskipun dia bersama Anton di masa lalu, tetapi di masa sekarang, dia harus lebih banyak mengalah dan membiarkan istri tertua mengatur. Biar bagaimanapun juga, mengajak suami untuk bepergian, itu artinya dia butuh persetujuan dari keduanya. Dia tidak bisa memutuskan ini sendiri. "Mas tidak terpikir untuk itu, Clara!" ucap Anton juga bersikap malu. Anton sendiri bahkan belum menyentuh Lara. Mereka terlalu lelah untuk merencanakan itu. Mereka hanya tidur bersama dan hanya itu. "Maafkan mas Anton atas sikapnya itu, Lara. Kau berhak menikmati bulan madumu bersama suamimu. Kalian adalah sepasang pengantin yang baru saja menikah. Seharusnya malam ini juga malam kalian. Ya sudah kalau begitu aku serahkan hari-hari ini untuk kalian berdua. Anggap saja ini bulan madu. Karena Mas Anton juga sudah libur kemarin untuk resepsi, Bagaimana jika kita m

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   8. Pembagian yang adil

    Clara terdiam mendengar ucapan dari anak sulungnya itu. Dia sedikitpun tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat hal yang tidak baik. Lalu, sekarang dia bingung dengan rasa sakitnya sendiri, haruskah membiarkan anak-anaknya dekat dengan madunya? Tak ingin mengajarkan hal yang tidak pantas pada anak-anaknya, Clara kemudian mengizinkan anaknya untuk pergi menuju rumah madunya. Dengan riang, kembar kemudian melangkah pergi bersama menuju rumah Lara. Nampak dari balik tirai jendela, Clara menyaksikan jika mereka berempat tampak sangat akrab sekali. Lara, dua anak kembar Clara dan juga Anton. Mereka nampak tengah tertawa bersorak bersama, seolah tengah menertawakan Clara. Entah kenapa dada Clara merasa sangat sesak menyaksikannya kedekatan mereka. "Apa yang mereka tertawakan? Apa kalian menertawakan aku?" tanya Clara. "Bodoh! Kenapa aku izinkan? Ah Tuhan, biarkan hatiku ikhlas!" bisik Clara menutup wajahnya dengan dua tangannya. Lagi, air mata itu jatuh lagi. "Kenapa sul

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   7. Didepan rumah

    Clara langsung tak suka, jika Lara tinggal dirumahnya. Anton tentu saja kaget bukan kepalang, dia langsung berpikir jika Clara marah, apalagi saat pesta kemarin, Clara langsung pulang tanpa berpamitan padanya. "Clara, kenapa tak boleh? Lantas Lara akan tinggal dimana jika bukan disini?" tanya Anton. "Terserah dimana saja, Mas. Asalkan jangan campurkan kami dalam satu atap." "Kenapa? Apa kau jadi berubah pikiran?" "Tidak Mas. Mengikhlaskan kalian saja, itu adalah hal yang sulit. Apakah menurutmu, akan baik jika kami bersama? Dari hari senin sampai dengan rabu, Lara akan melihat kau masuk ke kamarku, bermesraan denganku, lalu dihari berikutnya giliran aku yang melihat mas bersama Lara. Apakah menurut mas, itu tak menyakitkan? Bagaimana jika suara kemesraan kalian sampai ke kamarku? Atau ke kamar Lara?" tanya Clara sedikit emosional. Anton terdiam. "Kalau gitu, biar Lara nyari kontrakan saja Mas." Lara tiba-tiba bersuara. "Tidak, jangan, kau harus memiliki istana yang mirip de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status