LOGIN"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah.
"Masuk ke dalam." "Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?" "Menurutmu?" tanya Raka dengan malas. "Jangan membuat keributan di rumah sakit. Meski keluargamu berpengaruh, tapi kau tidak bisa bertindak sesukamu." Dengan raut wajah tidak sabar, Raka berkata, "Diam dan lihat saja apa yang akan kulakukan." Setelah itu Raka melangkah masuk. Namun, suara ponsel di sakunya seketika menghentikan langkahnya. Dia memutar arah dan mengangkat panggilan itu. Sementara itu di dalam ruangan IGD, Kiran kembali duduk di brankar setelah sempat hampir terjatuh akibat tidak bisa menjejakkan kaki dengan baik di lantai. "Sebaiknya kamu dirawat semalam di sini. Kamu tidak bisa pulang dalam kondisi kaki yang cidera," saran Alfan. "Aku tidak apa-apa. Dokter sudah meresepkan obat, aku hanya perlu meminumnya dan setelah itu akan sembuh." "Cidera di kakimu tidak akan hilang hanya dengan minum obat. Perlu dilakukan terapi untuk menyembuhkannya." Karena sejak awal cidera di kaki Kiran tidak pernah diobati, ditambah mendapatkan pukulan kembali oleh preman tadi, jadi itu memperparah peradangan di kakinya. "Aku akan melakukan terapi besok." Itu hanya alasan Kiran agar Alfan tidak menahannya lagi. Meski dia memang merasakan nyeri yang luar biasa pada kakinya, tapi dia tidak punya pilihan selain menahannya. "Baiklah, tapi pastikan kamu datang ke sini lagi besok." Kiran hanya mengangguk sebagai jawaban. "Di mana bagian administrasinya?" "Sebelum aku menjawab, ada hal yang ingin aku tanyakan dulu padamu." "Apa?" "Dokter yang menanganimu bilang di tubuhmu terdapat memar yang sudah lama. Pergelangan kakimu juga meradang karena sudah lama mengalami cidera," ucap Alfan, "kalau aku boleh tau, dari mana kamu mendapatkan memar dan cidera itu?" Memar dan cidera di kakinya, Kiran dapat saat dalam penjara. Beberapa hari sebelum bebas, Kiran dikeroyok oleh beberapa orang karena membela tahan lain yang sedang ditindas. "Apa kamu korban KDRT?" tanya Alfan hati-hati. Belakangan ini, banyak sekali kasus tindakan kekerasan yang terjadi pada perempuan. Bisa jadi, Kiran adalah salah satu dari perempuan itu. Jika dilihat dari tas yang dibawa oleh Kiran, kemungkinan dia sedang kabur dari rumah, dan alasan yang paling masuk akal yang ada di pikiran Alfan adalah Kiran kabur karena mengalami kekerasan oleh orang terdekatnya. Alfan berniat membantu Kiran untuk melapor pada polisi jika memang dugaannya benar. "Bukan," jawab Kiran sambil menatap ke bawah—menghindari tatapan menyelidik dari Alfan. "Lalu, dari mana kamu mendapatkan memar dan cidera itu?" tanya Alfan lagi. "Maaf, aku tidak bisa memberitahumu." "Baiklah, tidak masalah kalau kamu tidak mau memberitahuku." Alfan merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. "Ini kartu namaku. Aku bekerja di rumah sakit ini, kapan pun kamu membutuhkan bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungiku." Kiran menatap sejenak kartu nama yang disodorkan padanya, kemudian mengambilnya. "Terima kasih." Kiran sengaja mengambil kartu itu bukan karena berharap bantuan dari Alfan, melainkan untuk dia simpan agar suatu saat nanti dia bisa membalas kebaikan Alfan yang sudah menolongnya. "Aku harus pulang, tolong beritahu aku, di mana bagian administrasinya." "Biayanya sudah dimasukkan ketagihanku, kamu tidak perlu membayar." "Kalau begitu, aku akan membayar padamu." Ketika Kiran akan mengambil dompet miliknya, Alfan segera bersuara, "Simpan saja uangmu, sepertinya kamu lebih membutuhkannya daripada aku." "Aku tidak mau berhutang padamu." Berhutang pada seseorang sangat tidak enak rasanya, apalagi jika hutang itu tidak bisa dibayar dengan apa pun di dunia ini. "Kalau begitu, kamu bisa membayarku besok saat kamu datang ke sini untuk melakukan terapi." Kiran tertunduk sebentar. Dia sedang berpikir, bagaimana caranya membayar biaya rumah sakit pada pria itu jika dia saja tidak berniat untuk datang ke rumah sakit besok. Setelah menemukan solusi, Kiran kembali mengangkat kepala. "Baiklah." Setelah itu, Kiran keluar dari ruangan IGD diantar oleh Alfan. "Sekali lagi, terima kasih sudah menolongku." Alfan mengangguk ringan dengan tangan kanan yang berada di dalam saku celana. "Aku akan mengantarmu." "Tidak perlu. Dia akan pulang bersamaku." Suara itu mengejutkan keduanya, Kiran dan Alfan seketika menoleh ke samping. Tampak seorang pria sedang berjalan ke arah keduanya. Ketika melihat Raka ada di sana, wajah Kiran seketika memucat. "Ikut aku." Saat Raka akan menarik Kiran dari sana, Alfan segera mencengkram tangan pria itu. "Tunggu dulu. Kau siapa?" Raka menoleh pada Alfan dengan malas, kemudian berkata dengan datar, "Aku keluarganya." "Aku harus memastikannya dulu, baru kau boleh membawanya." Alfan pun beralih pada Kiran yang tampak mematung sejak tadi. "Apa benar, dia keluargamu?" Melihat wajah pucat serta reaksi Kiran yang sangat terkejut dengan kedatangan Raka, Alfan tentu saja curiga. Itu sebabnya, dia harus bertanya pada Kiran dulu. "Dia kabur dari rumah setelah melakukan kesalahan. Sebagai orang luar, kau tidak berhak untuk ikut campur urusan keluarga kami," sahut Raka. Setelah menghempaskan tangan Alfan, Raka menarik tangan Kiran dengan cepat sampai Kiran kesulitan berjalan karena merasakan sakit pada pergelangan kakinya. Ketika Alfan akan menyusul, Gery segera menghadang. "Tidak baik mencampuri urusan orang lain." Setelah itu, Gery menyusul Kiran dan Raka menuju parkiran. "Masuk," perintah Raka pada Kiran setelah berada di samping mobilnya. "Beritahu aku dulu, kita mau ke mana?" "Menebus kesalahanmu." "Maksudmu?" tanya Kiran membelalak. "Jangan banyak tanya." Karena tidak sabar, Raka mendorong tubuh Kiran, hingga masuk ke dalam mobil, kemudian beralih pada Gery yang baru saja datang. "Kau pulang naik taksi." "Kau mau meninggalkanku di sini?" tanya Gery dengan kesal. "Aku akan mengganti uang taksinya." Setelah itu, Raka memutar ke arah pintu kemudi, lalu masuk ke dalam mobil. "Raka, kau memang brengs3k," umpat Gery setelah mobil Raka melaju meninggalkan area parkir rumah sakit. "Tega sekali meninggalkanku sendirian di sini." Bersambung ...."Aku ingin menanyakan tentang Kiran. Siapa tau, mereka sudah mendapatkan informasi keberadaannya." Hannah mendekati putranya, lalu berdiri di hadapannya. "Kamu sedang demam, wajahmu juga pucat sekali. Lebih baik hari ini istirahat di rumah, nanti saja setelah sehat baru ke sana." "Tidak bisa, Ma. Aku harus ke sana hari ini." "Raka, kamu ke sana pun, belum tentu mendapatkan informasi tentang Kiran. Lebih baik telpon saja daripada ke sana." "Aku ingin bertanya langsung pada mereka." Melihat sika keras kepala putranya, Hannah menjadi kesal. "Raka, apa kamu tidak sayang dengan badanmu sendiri? Setidaknya, pikirkan dirimu dulu sebelum memikirkan orang lain." Raka yang baru selesai mengancingkan bajunya, akhirnya menatap sang ibu. "Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya sedikit lelah saja." "Lelah katamu," seru Hannah marah. "Kamu pikir, Mama tidak tahu, setelah Kiran pergi, kamu sering minum-minum di bar dan selalu pulang dini hari sampai kamu pernah tidak sadarkan diri karena minuman."
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," ucap Raka sambil memeluk Sofia. "Aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi." "Raka, aku bukan Kiran, kamu salah orang," seru Sofia sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Raka. "Cepat lepaskan aku." "Aku tidak mau," tolak Raka. "Kamu pasti akan pergi lagi jika aku lepaskan," katanya sambil memeluk sofia erat. Merasa kesulitan untuk bernapas, Sofia akhirnya tidak bergerak lagi. "Raka, tolong lepaskan aku." Raka mengabaikan ucapan Sofia dan tetap memeluknya erat. "Kamu cuma salah paham, Sayang. Aku tidak pernah berniat menceraikanmu. Tolong maafkan aku." "Raka, kamu mabuk." Merasa semakin sesak, Sofia akhirnya memberontak. Raka yang takut Kiran pergi lagi, secara tiba-tiba mengubah posisi keduanya hingga dia berada di atas Sofia. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi," kata Raka dengan mata memerah sambil menahan kedua tangan Sofia di sisi kanan dan kiri. "Aku akan membuatmu mengandung anakku agar kau tidak bisa meninggalkanku." Melihat Rak
Raka mematikan rokok di tangannya, kemudian menegak minuman berwarna coklat di hadapannya. "Dia hanya salah paham padaku.""Itulah bodohnya kau. Seharusnya kau langsung menjelaskan pada Kiran setelah menelponnya agar dia tidak salah paham padamu.""Aku bermaksud menjelaskannya secara langsung setelah selesai mengurus semuanya, tapi ....""Tapi ternyata dia justru mengambil kesempatan itu untuk meninggalkanmu dan pergi dengan pria lain," potong Gery sambil tersenyum. "Kau terlalu percaya diri Raka. Kau pikir Kiran pasti tidak akan berani meninggalkanmu setelah kau bilang ingin memulai awal lagi dengannya."Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil memainkan gelas yang ada di tangan kanannya."Kiran pasti berpikir kau hanya mempermainkannya, makanya dia memilih pergi," ujar Gery. "Tapi, aku mendukung keputusan Kiran pergi meninggalkanmu. Lebih baik dia bersama dengan pria itu daripada dengan pria sepertimu."Raka meletakkan gelasnya dengan kasar di meja, lalu menatap Gery d
"Bagaimana?" tanya Raka setelah melihat Doni memasuki ruangan kerjanya. "Sudah tahu ke negara mana istriku pergi?""Belum, Pak."Wajah Raka yang memang sudah lesu, semakin lesu setelah mendengar itu. Bagaimana tidak lesu, semenjak sang istri menghilang 5 hari yang lalu, Raka tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap hari dia hanya tidur selama kurang lebih 3 jam. Pikirannya terus tertuju pada sang istri.Selama 5 hari itu, Raka memang tetap bekerja setiap hari, tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dia kerjakan dengan benar sampai dimarahi oleh sang ayah. Pada akhirnya, karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, Raka meminta sekretarisnya untuk membantunya memeriksa pekerjaannya."Pak, sepertinya Bu Kiran sudah mengganti nomor ponselnya, makanya tidak bisa dilacak lagi."Raka terdiam dengan alis mengerut. Matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan seperti sedang mengintai mangsanya. "Mungkin dia tidak mau ditemukan olehku."Bukan mungkin lagi, tapi Kiran memang tid
Tubuh Raka mendadak lemas. Jantungnya yang semula berdebar kencang, seolah berhenti saat itu juga. Dia langsung berpegangan pada tempok ketika tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan. "Ma, Kiran mau pergi ke mana?" tanya Raka setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya "Maaf, Mama tidak bisa memberitahumu," jawab Yulia lirih. "Kiran bilang kamu tidak perlu mencarinya lagi untuk masalah perceraian. Semuanya dia serahkan padamu. Dia juga tidak akan datang saat persidangan nanti. Kamu bisa menghubungi Mama setelah akta cerainya keluar." Kedua tangan Raka mengepal kuat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol. "Ma, aku tidak pernah berniat menceraikan Kiran. Dia hanya salah paham. Aku akan menjelaskan langsung padanya, jadi tolong beritahu aku ke mana dia pergi." Yulia terdiam dengan wajah bingung. Dia meremas kedua tangannya sembari berpikir, apakah dia akan memberitahu Raka atau tidak. Di satu sisi, dia ingin memberitahu di mana keberadaan putrinya agar keduanya bisa m
Usai berbicara dengan sang ayah, Raka mengajak Doni untuk pergi ke kantor polisi untuk membuka kasus kecelakaan 4 tahun lalu. Pengacara Raka sendiri sudah tiba lebih dulu di sana. Setelah urusan di sana selesai, Raka mengajak Doni pergi ke mall. "Menurutmu, cincin mana yang cocok untuk istriku?" tanya Raka pada Doni setelah mereka berada di dalam toko perhiasan. "Saya kurang mengerti mengenai cincin yang disukai wanita, Pak," kata Doni dengan jujur. Karena merasa bingung, Raka pun meminta rekomendasi kepada pegawainya. "Ini model cincin yang tidak pasaran dan hanya ada satu di toko kami." Raka menatap cincin berlian di depannya sejenak, kemudian berkata, "Baik. Saya pilih yang ini." Kebetulan ukurannya cocok dengan jari Kiran, jadi Raka mengambil cincin itu. Kenapa Raka bisa tahu ukuran cincin wanita itu, karena sebelumnya dia pernah bertanya sebelum kembali ke Jakarta. Setelah selesai membeli cincin, Raka meminta diantar pulang oleh Doni, dia ingin berbicara dengan sang ibu men
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,
"Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghe
"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol
WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h







