Share

Bab 4 Mengalami Cidera

Penulis: Jiriana
last update Tanggal publikasi: 2026-05-08 19:57:39

"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.

Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya.

"Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menolongnya?"

"Tidak bisa," jawab Raka datar. "Biarkan orang lain yang menolongnya."

Gery menggeleng lemah, kemudian berkata, "Raka, kau sudah membuatnya kehilangan pekerjaan, kau juga sudah membuatnya diusir dari kontrakannya, apa itu belum cukup untuk memuaskan hatimu?"

"Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku kehilangan orang yang aku cintai. Dia menghancurkan kebahagianku."

Gery menghela napas panjang dengan wajah frustrasi. "Dia memang salah, tapi dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, memangnya itu belum cukup?"

"Empat tahun adalah hukuman yang sangat ringan baginya. Ini tidak adil bagi Mia."

"Iya, aku tahu, tapi dia juga sudah kehilangan semuanya. Maafkanlah dia."

Sorot mata Raka berubah menjadi dingin. "Aku tidak akan memaafkannya sebelum membuat hidupnya menderita."

Gery berdecak sambil menggeleng, tidak tahu lagi bagaimana harus menasehati teman kecilnya itu. "Kalau kau belum bisa memaafkannya, setidaknya tolonglah dia. Bagaimana kalau tidak ada seorang pun yang menolongnya dan pria itu berbuat nekat? Jangan sampai karena dendam, kau menjadi pria tidak berperasaan terhadap perempuan."

Raka terdiam dengan sorot mata dingin. Tangan mencengkram kuat stir, hingga buku-buku tangannya memutih. Detik selanjutnya, tanpa aba-aba, Raka langsung membanting stir ke kanan dan memutar dengan tajam ke arah berlawan arah, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Ketika melihat itu, Gery akhirnya tersenyum. "Aku tahu, kau tidak mungkin tega membiarkan terjadi sesuatu dengannya."

Raka melirik tajam pada Gery, lalu berkata dengan ketus, "Jangan banyak bicara, kalau tidak, aku akan menurunkanmu di pinggir jalan."

Belum sampai di lokasi yang dituju, Raka sudah menghentikan mobilnya saat melihat Kiran sedang dibantu berdiri oleh seorang pria.

"Sia-sia saja aku kembali ke sini," ucap Raka sambil memandang ke arah Kiran dan pria itu.

"Kenapa? Tidak rela dia ditolong orang lain?"

Raka menoleh pada Gery dengan sorot mata tajam. "Gara-gara menuruti ocehanmu, aku jadi membuang waktu berhargaku dengan datang ke sini."

Sementara itu, Kiran yang baru saja dibantu berdiri, langsung mengucapkan terima kasih pada pria yang tadi menolongnya.

"Kamu yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanya Alfan—pria tampan yang berdiri di hadapan Kiran.

"Aku baik-baik aja," jawab Kiran yakin. "Sekali lagi, terima kasih sudah menolongku."

Beruntung pria itu datang tepat waktu, jadi dia tidak sempat terkena pukulan preman itu. Mengenai prema itu, dia langsung kabur setelah mendapatkan beberapa pukulan dari Alfan.

"Baiklah. Di mana rumahmu? Biar aku antar pulang," tawar Alfan.

Kiran segera menggeleng. "Tidak perlu. Rumahku dekat sini."

Sengaja Kiran berbohong karena tidak mau merepotkan pria itu lagi. Lagi pula, dia juga belum tau akan ke mana setelah ini.

"Kalau begitu, aku permisi," pamit Kiran.

Ketika dia akan berjalan, tiba-tiba dia merasakan sakit luar biasa pada pergelangan kakinya, hingga kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika tubuhnya tidak segera ditangkap oleh Alfan.

"Hati-hati."

"Terima kasih." Kiran segera menjauhkan diri dengan wajah canggung.

"Sepertinya kamu terluka. Aku antar ke rumah sakit."

"Tidak per—"

"Kamu harus diperiksa." Tanpa mendengar penolakan Kiran Alfan segera mengangkat Kiran dan membawanya ke mobil.

Ketika melihat itu, Raka langsung berdecih dengan wajah mencemooh. "Ternyata, dia pintar merayu pria juga."

"Kenapa? Cemburu melihatnya pergi dengan pria lain?"

Tidak terima dituduh seperti itu, Raka langsung memberikan peringatan pada Gery. "Tutup mulutmu."

Melihat wajah kesal Raka, Gery seketika terkekeh pelan. "Raka, jujur saja, kau mulai tertarik dengannya, kan?"

Raka mendesis, kemudian berkata, "Mimpi!"

"Hati-hati, antara cinta dan benci itu tipis bedanya. Bisa jadi sekarang kau sangat membencinya, tapi nanti sangat mencintainya hingga rela kehilangan nyawa."

"Mungkin saja kalau itu terjadi padamu, tapi tidak denganku."

Gery kembali terkekeh pelan ketika mendengar sanggahan Raka. "Aku akui, aku sedikit tertarik dengannya, dia wanita yang menarik. Terlepas dari masa lalunya, dia tipe wanita yang banyak disukai pria."

"Ternyata kau sudah tersihir juga olehnya," kata Raka dengan sinis.

"Raka, jujur saja, sebagai seorang pria, memangnya kau tidak memiliki sedikit ketertarikan dengannya?"

Jika dinilai dari fisik, bisa dibilang Kiran memiliki bentuk tubuh yang proporsional. Wajahnya juga cantik dan tidak membosankan.

"Tidak," jawab Raka dengan datar.

Setibanya di rumah sakit, Alfan segera membawa Kiran ke IGD dan segera ditangani dengan cepat.

"Dokter Alfan, pasien itu mengalami memar dan cidera di pergelangan kakinya."

Alfan yang baru saja mendengar penjelasan dari salah satu rekannya, seketika menoleh pada Kiran yang sedang duduk di atas brankar.

"Setelah aku periksa lagi, ada beberapa memar lama di tubuhnya yang belum sembuh. Cidera di pergelangan kakinya juga adalah cidera lama yang belum diobati. Apa sebelumnya dia korban KDRT?"

"Aku juga tidak tahu." Dia hanya kebetulan lewat dan mendengar teriakan minta tolong dari Kiran. Sejujurnya, dia juga penasaran dari mana asal memar di tubuh Kiran.

"Cidera lama di pergelangan kakinya kembali meradang akibat terkena pukulan. Aku sarankan untuk melakukan pengobatan lebih lanjut agar cideranya tidak semakin serius."

Dokter Alfan mengangguk, kemudian menghampiri Kiran setelah selesai berbincang dengan rekan seprofesinya.

Sementara di luar, di dekat pintu IGD tampak dua orang pria berdiri dengan pandangan mengarah ke dalam. Dua pria itu adalah Raka dan Gery. Keduanya memang sengaja mengikuti mobil yang membawa Kiran karena ingin tahu mereka akan ke mana.

"Dokter memintamu untuk dirawat dulu di sini, masih ada yang harus diperiksa dan diobati," ujar Alfan setelah berdiri di samping brankar Kiran.

"Tidak perlu. Aku ingin pulang saja."

Sebenarnya, dia bukannya tidak mau, tapi tidak bisa. Masalah utamanya adalah dia tidak memiliki uang untuk biaya rumah sakit itu. Untuk membayar biaya yang sekarang saja, dia ragu apakah uang yang dia memiliki cukup untuk membayar pengobatannya, apalagi jika dia sampai harus menginap. Bisa dipastikan dia tidak akan bisa membayar semua biayanya.

"Tapi, kakimu cidera. Jika tidak segera diobati, cideranya akan semakin serius."

"Aku tidak apa-apa. Kakiku hanya terkilir, nanti juga sembuh."

Setelah itu, Kiran bergerak turun dari brankar dan menjejakkan kakinya ke lantai. Rasa nyeri kembali menyerang pergelangan kakinya saat dia mencoba berdiri. Mengabaikan rasa sakitnya, Kiran pun melangkah. Namun ...

"Aaaww."

Ketika melihat Kiran akan jatuh, buru-buru Alfan menangkap tubuhnya.

Sorot mata Raka kembali memancarkan auran dingin saat melihat pemandangan itu.

"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah.

"Masuk ke dalam."

Bersambung .....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 8 Antara Hidup dan Mati

    “Raka, apa maksudmu membawa Kiran ke rumahmu?”Raka mengangkat kepala dengan malas begitu tahu kalau ibu dan adiknya yang masuk ke ruangannya. “Tidak bisakah Mama mengetuk pintu dulu?” Setelah mengatakan itu, dia kembali menatap dokumen di depannya, mengabaikan ibunya yang sedang berjalan mendekati meja kerjanya.“Raka, Mama sedang tidak ingin berbasa-basi. Kenapa kau membawa Kiran ke rumahmu?”“Benar, Kak. Untuk apa Kakak menampung si pembunuh itu. Dia—"Vania langsung mengatupkan bibirnya dengan rapat setelah mendapatkan tatapan tajam dari ibu dan kakaknya.“Mama baru pulang dari rumahmu dan bertemu Kiran di sana. Dia bilang, kau sengaja menahan dan menjadikannya pembantu di sana.”Raka akhirnya menutup dokumen di tangannya, kemudian menatap sang ibu dengan malas. “Aku hanya memberikan pekerjaan dan tempat tinggal padanya. Tidak ada yang salah dengan itu.”“Raka, jangan pikir Mama tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau tidak mungkin sebaik itu terhadap orang yang sudah menyebabka

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 7

    Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya."Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan."Setelah Raka pergi, Bi Rum menghampiri Kiran dengan wajah iba. Ketika melihat wajah pucatnya, Bi Rum langsung bertanya dengan lembut, "Non Kiran, sakit?"Kiran menggeleng. "Tidak, Bi."Merasa ragu dengan jawaban Kiran, Bi Rum menempelkan tangan di dahinya. Matanya membelalak ketika merasakan suhu di tubuh Kiran sangat panas. "Non Kiran, demam. Biar Bibi bilang sama Den Raka dulu."Ketika Bi Rum akan pergi, Kiran menahan lengannya. "Jangan, Bi. Kiran cuma demam biasa. Nanti juga sembuh habis minum obat."Dengan hati-hati, Kiran turun dari ranjang dibantu oleh Bi Rum. "Kiran mandi dulu, Bi."Setelah selesai mandi, Kiran pergi ke ruangan makan, di mana Raka sedang berada."Bi Rum, hari ini biar Kiran yang mengerjaka

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 6 Tinggal Serumah

    "Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Kiran. "Sudah waktunya kamu menebus kesalahanmu."Kiran mematung seketika.Menebus kesalahan? Pria itu ingin aku menebus kesalahan dengan cara apa?"Jangan diam saja. Ikut aku ke dalam.""Aku tidak mau."Kiran tidak mau mengikuti Raka masuk ke dalam rumah pria itu karena dia tidak tahu apa yang akan Raka lakukan padanya nanti. Bagaimana jika pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya."Sebaiknya kamu masuk ke dalam selagi aku memintanya baik-baik."Kiran menelan salivanya ketika mendapatkan tatapan tajam dari Raka. Kakinya sampai gemetar karena merasa terintimidasi oleh tatapan pria itu."Aku tidak memiliki kesabaran lebih padamu, jadi cepat ikuti aku," la

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 5 Dibawa Pergi

    "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit. Meski keluargamu berpengaruh, tapi kau tidak bisa bertindak sesukamu."Dengan raut wajah tidak sabar, Raka berkata, "Diam dan lihat saja apa yang akan kulakukan." Setelah itu Raka melangkah masuk. Namun, suara ponsel di sakunya seketika menghentikan langkahnya. Dia memutar arah dan mengangkat panggilan itu.Sementara itu di dalam ruangan IGD, Kiran kembali duduk di brankar setelah sempat hampir terjatuh akibat tidak bisa menjejakkan kaki dengan baik di lantai."Sebaiknya kamu dirawat semalam di sini. Kamu tidak bisa pulang dalam kondisi kaki yang cidera," saran Alfan."Aku tidak apa-apa. Dokter sudah meresepkan obat, aku hanya perlu meminumnya dan setelah itu akan sembuh.""Cidera di kakimu

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 4 Mengalami Cidera

    "Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menolongnya?""Tidak bisa," jawab Raka datar. "Biarkan orang lain yang menolongnya."Gery menggeleng lemah, kemudian berkata, "Raka, kau sudah membuatnya kehilangan pekerjaan, kau juga sudah membuatnya diusir dari kontrakannya, apa itu belum cukup untuk memuaskan hatimu?""Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku kehilangan orang yang aku cintai. Dia menghancurkan kebahagianku."Gery menghela napas panjang dengan wajah frustrasi. "Dia memang salah, tapi dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, memangnya itu belum cukup?""Empat tahun adalah hukuman yang sangat ringan baginya. Ini tidak adil bagi Mia.""Iya, aku tahu, tapi dia juga sudah kehilangan

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 3 Bertemu Preman

    WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di hadapannya.Ternyata, orang yang sudah menunggu Kiran di depan kamar adalah pemilik kontrakannya."Kamar ini udah ada yang nyewa, jadi kamu harus segera pindah.""Tapi saya sudah bayar selama sebulan, Pak."Bapak pemilik kontrakan itu merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan uang dari sana. "Ini saya kembalikan uang sewa kamu. Masih utuh, saya minta kamu harus pindah malam ini juga."Kiran menatap uang yang disodorkan padanya sebentar, kemudian menatap kembali sang pemilik kontrakan. "Apa boleh saya tinggal semalam lagi di sini, Pak? Saya janji akan pindah besok pagi.""Tidak bisa. Saya harus membersihkan tempat ini sekarang, besok pagi-pagi sekali orang yang menyewa kamar ini mau datang.""Tap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status