เข้าสู่ระบบ"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.
Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya. "Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menolongnya?" "Tidak bisa," jawab Raka datar. "Biarkan orang lain yang menolongnya." Gery menggeleng lemah, kemudian berkata, "Raka, kau sudah membuatnya kehilangan pekerjaan, kau juga sudah membuatnya diusir dari kontrakannya, apa itu belum cukup untuk memuaskan hatimu?" "Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku kehilangan orang yang aku cintai. Dia menghancurkan kebahagianku." Gery menghela napas panjang dengan wajah frustrasi. "Dia memang salah, tapi dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, memangnya itu belum cukup?" "Empat tahun adalah hukuman yang sangat ringan baginya. Ini tidak adil bagi Mia." "Iya, aku tahu, tapi dia juga sudah kehilangan semuanya. Maafkanlah dia." Sorot mata Raka berubah menjadi dingin. "Aku tidak akan memaafkannya sebelum membuat hidupnya menderita." Gery berdecak sambil menggeleng, tidak tahu lagi bagaimana harus menasehati teman kecilnya itu. "Kalau kau belum bisa memaafkannya, setidaknya tolonglah dia. Bagaimana kalau tidak ada seorang pun yang menolongnya dan pria itu berbuat nekat? Jangan sampai karena dendam, kau menjadi pria tidak berperasaan terhadap perempuan." Raka terdiam dengan sorot mata dingin. Tangan mencengkram kuat stir, hingga buku-buku tangannya memutih. Detik selanjutnya, tanpa aba-aba, Raka langsung membanting stir ke kanan dan memutar dengan tajam ke arah berlawan arah, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ketika melihat itu, Gery akhirnya tersenyum. "Aku tahu, kau tidak mungkin tega membiarkan terjadi sesuatu dengannya." Raka melirik tajam pada Gery, lalu berkata dengan ketus, "Jangan banyak bicara, kalau tidak, aku akan menurunkanmu di pinggir jalan." Belum sampai di lokasi yang dituju, Raka sudah menghentikan mobilnya saat melihat Kiran sedang dibantu berdiri oleh seorang pria. "Sia-sia saja aku kembali ke sini," ucap Raka sambil memandang ke arah Kiran dan pria itu. "Kenapa? Tidak rela dia ditolong orang lain?" Raka menoleh pada Gery dengan sorot mata tajam. "Gara-gara menuruti ocehanmu, aku jadi membuang waktu berhargaku dengan datang ke sini." Sementara itu, Kiran yang baru saja dibantu berdiri, langsung mengucapkan terima kasih pada pria yang tadi menolongnya. "Kamu yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanya Alfan—pria tampan yang berdiri di hadapan Kiran. "Aku baik-baik aja," jawab Kiran yakin. "Sekali lagi, terima kasih sudah menolongku." Beruntung pria itu datang tepat waktu, jadi dia tidak sempat terkena pukulan preman itu. Mengenai prema itu, dia langsung kabur setelah mendapatkan beberapa pukulan dari Alfan. "Baiklah. Di mana rumahmu? Biar aku antar pulang," tawar Alfan. Kiran segera menggeleng. "Tidak perlu. Rumahku dekat sini." Sengaja Kiran berbohong karena tidak mau merepotkan pria itu lagi. Lagi pula, dia juga belum tau akan ke mana setelah ini. "Kalau begitu, aku permisi," pamit Kiran. Ketika dia akan berjalan, tiba-tiba dia merasakan sakit luar biasa pada pergelangan kakinya, hingga kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika tubuhnya tidak segera ditangkap oleh Alfan. "Hati-hati." "Terima kasih." Kiran segera menjauhkan diri dengan wajah canggung. "Sepertinya kamu terluka. Aku antar ke rumah sakit." "Tidak per—" "Kamu harus diperiksa." Tanpa mendengar penolakan Kiran Alfan segera mengangkat Kiran dan membawanya ke mobil. Ketika melihat itu, Raka langsung berdecih dengan wajah mencemooh. "Ternyata, dia pintar merayu pria juga." "Kenapa? Cemburu melihatnya pergi dengan pria lain?" Tidak terima dituduh seperti itu, Raka langsung memberikan peringatan pada Gery. "Tutup mulutmu." Melihat wajah kesal Raka, Gery seketika terkekeh pelan. "Raka, jujur saja, kau mulai tertarik dengannya, kan?" Raka mendesis, kemudian berkata, "Mimpi!" "Hati-hati, antara cinta dan benci itu tipis bedanya. Bisa jadi sekarang kau sangat membencinya, tapi nanti sangat mencintainya hingga rela kehilangan nyawa." "Mungkin saja kalau itu terjadi padamu, tapi tidak denganku." Gery kembali terkekeh pelan ketika mendengar sanggahan Raka. "Aku akui, aku sedikit tertarik dengannya, dia wanita yang menarik. Terlepas dari masa lalunya, dia tipe wanita yang banyak disukai pria." "Ternyata kau sudah tersihir juga olehnya," kata Raka dengan sinis. "Raka, jujur saja, sebagai seorang pria, memangnya kau tidak memiliki sedikit ketertarikan dengannya?" Jika dinilai dari fisik, bisa dibilang Kiran memiliki bentuk tubuh yang proporsional. Wajahnya juga cantik dan tidak membosankan. "Tidak," jawab Raka dengan datar. Setibanya di rumah sakit, Alfan segera membawa Kiran ke IGD dan segera ditangani dengan cepat. "Dokter Alfan, pasien itu mengalami memar dan cidera di pergelangan kakinya." Alfan yang baru saja mendengar penjelasan dari salah satu rekannya, seketika menoleh pada Kiran yang sedang duduk di atas brankar. "Setelah aku periksa lagi, ada beberapa memar lama di tubuhnya yang belum sembuh. Cidera di pergelangan kakinya juga adalah cidera lama yang belum diobati. Apa sebelumnya dia korban KDRT?" "Aku juga tidak tahu." Dia hanya kebetulan lewat dan mendengar teriakan minta tolong dari Kiran. Sejujurnya, dia juga penasaran dari mana asal memar di tubuh Kiran. "Cidera lama di pergelangan kakinya kembali meradang akibat terkena pukulan. Aku sarankan untuk melakukan pengobatan lebih lanjut agar cideranya tidak semakin serius." Dokter Alfan mengangguk, kemudian menghampiri Kiran setelah selesai berbincang dengan rekan seprofesinya. Sementara di luar, di dekat pintu IGD tampak dua orang pria berdiri dengan pandangan mengarah ke dalam. Dua pria itu adalah Raka dan Gery. Keduanya memang sengaja mengikuti mobil yang membawa Kiran karena ingin tahu mereka akan ke mana. "Dokter memintamu untuk dirawat dulu di sini, masih ada yang harus diperiksa dan diobati," ujar Alfan setelah berdiri di samping brankar Kiran. "Tidak perlu. Aku ingin pulang saja." Sebenarnya, dia bukannya tidak mau, tapi tidak bisa. Masalah utamanya adalah dia tidak memiliki uang untuk biaya rumah sakit itu. Untuk membayar biaya yang sekarang saja, dia ragu apakah uang yang dia memiliki cukup untuk membayar pengobatannya, apalagi jika dia sampai harus menginap. Bisa dipastikan dia tidak akan bisa membayar semua biayanya. "Tapi, kakimu cidera. Jika tidak segera diobati, cideranya akan semakin serius." "Aku tidak apa-apa. Kakiku hanya terkilir, nanti juga sembuh." Setelah itu, Kiran bergerak turun dari brankar dan menjejakkan kakinya ke lantai. Rasa nyeri kembali menyerang pergelangan kakinya saat dia mencoba berdiri. Mengabaikan rasa sakitnya, Kiran pun melangkah. Namun ... "Aaaww." Ketika melihat Kiran akan jatuh, buru-buru Alfan menangkap tubuhnya. Sorot mata Raka kembali memancarkan auran dingin saat melihat pemandangan itu. "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah. "Masuk ke dalam." Bersambung .....Raka mematikan rokok di tangannya, kemudian menegak minuman berwarna coklat di hadapannya. "Dia hanya salah paham padaku.""Itulah bodohnya kau. Seharusnya kau langsung menjelaskan pada Kiran setelah menelponnya agar dia tidak salah paham padamu.""Aku bermaksud menjelaskannya secara langsung setelah selesai mengurus semuanya, tapi ....""Tapi ternyata dia justru mengambil kesempatan itu untuk meninggalkanmu dan pergi dengan pria lain," potong Gery sambil tersenyum. "Kau terlalu percaya diri Raka. Kau pikir Kiran pasti tidak akan berani meninggalkanmu setelah kau bilang ingin memulai awal lagi dengannya."Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil memainkan gelas yang ada di tangan kanannya."Kiran pasti berpikir kau hanya mempermainkannya, makanya dia memilih pergi," ujar Gery. "Tapi, aku mendukung keputusan Kiran pergi meninggalkanmu. Lebih baik dia bersama dengan pria itu daripada dengan pria sepertimu."Raka meletakkan gelasnya dengan kasar di meja, lalu menatap Gery d
"Bagaimana?" tanya Raka setelah melihat Doni memasuki ruangan kerjanya. "Sudah tahu ke negara mana istriku pergi?""Belum, Pak."Wajah Raka yang memang sudah lesu, semakin lesu setelah mendengar itu. Bagaimana tidak lesu, semenjak sang istri menghilang 5 hari yang lalu, Raka tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap hari dia hanya tidur selama kurang lebih 3 jam. Pikirannya terus tertuju pada sang istri.Selama 5 hari itu, Raka memang tetap bekerja setiap hari, tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dia kerjakan dengan benar sampai dimarahi oleh sang ayah. Pada akhirnya, karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, Raka meminta sekretarisnya untuk membantunya memeriksa pekerjaannya."Pak, sepertinya Bu Kiran sudah mengganti nomor ponselnya, makanya tidak bisa dilacak lagi."Raka terdiam dengan alis mengerut. Matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan seperti sedang mengintai mangsanya. "Mungkin dia tidak mau ditemukan olehku."Bukan mungkin lagi, tapi Kiran memang tid
Tubuh Raka mendadak lemas. Jantungnya yang semula berdebar kencang, seolah berhenti saat itu juga. Dia langsung berpegangan pada tempok ketika tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan. "Ma, Kiran mau pergi ke mana?" tanya Raka setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya "Maaf, Mama tidak bisa memberitahumu," jawab Yulia lirih. "Kiran bilang kamu tidak perlu mencarinya lagi untuk masalah perceraian. Semuanya dia serahkan padamu. Dia juga tidak akan datang saat persidangan nanti. Kamu bisa menghubungi Mama setelah akta cerainya keluar." Kedua tangan Raka mengepal kuat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol. "Ma, aku tidak pernah berniat menceraikan Kiran. Dia hanya salah paham. Aku akan menjelaskan langsung padanya, jadi tolong beritahu aku ke mana dia pergi." Yulia terdiam dengan wajah bingung. Dia meremas kedua tangannya sembari berpikir, apakah dia akan memberitahu Raka atau tidak. Di satu sisi, dia ingin memberitahu di mana keberadaan putrinya agar keduanya bisa m
Usai berbicara dengan sang ayah, Raka mengajak Doni untuk pergi ke kantor polisi untuk membuka kasus kecelakaan 4 tahun lalu. Pengacara Raka sendiri sudah tiba lebih dulu di sana. Setelah urusan di sana selesai, Raka mengajak Doni pergi ke mall. "Menurutmu, cincin mana yang cocok untuk istriku?" tanya Raka pada Doni setelah mereka berada di dalam toko perhiasan. "Saya kurang mengerti mengenai cincin yang disukai wanita, Pak," kata Doni dengan jujur. Karena merasa bingung, Raka pun meminta rekomendasi kepada pegawainya. "Ini model cincin yang tidak pasaran dan hanya ada satu di toko kami." Raka menatap cincin berlian di depannya sejenak, kemudian berkata, "Baik. Saya pilih yang ini." Kebetulan ukurannya cocok dengan jari Kiran, jadi Raka mengambil cincin itu. Kenapa Raka bisa tahu ukuran cincin wanita itu, karena sebelumnya dia pernah bertanya sebelum kembali ke Jakarta. Setelah selesai membeli cincin, Raka meminta diantar pulang oleh Doni, dia ingin berbicara dengan sang ibu men
"Kak, secepatnya kamu harus mencari pengacara terbaik untuk membebaskan ayahku." "Ya, kamu tenang saja, aku akan menghubungimu lagi nanti." Setelah berpamitan pada Stevi, Raka meninggalkan rumah wanita itu menuju kantornya. Dalam perjalanan, Raka memasukkan memory yang tadi diberikan Stevi ke laptop Doni, lalu memutar video yang tersimpan di dalamnya. Tampak kamera dashbor mobil yang dikendarai Stevi merekam saat Kiran menabrak mobil Mia dari arah kiri di perempatan jalan yang sepi. Mobil Mia bergeser beberapa meter usai ditabrak oleh Kiran. Detik selanjutnya, Kiran tampak keluar dari mobil dan berjalan menuju mobil Mia. Belum sempat mencapainya, mobil Mia sudah lebih dulu ditabrak dari arah belakang dengan kuat hingga terguling ke pinggir jalan. Dalam rekaman itu, Kiran langsung berlari mendekati mobil Mia dan membuka mobil wanita itu. Namun, saat melihat mobil yang menabrak Mia berjalan mundur dan membelokkan stir, Kiran bergegas menuju mobilnya, tapi sayang saat dia akan menja
"Kiran, kamu kenapa, Nak? Apa kamu sakit?" tanya Yulia saat melihat wajah putrinya sangat pucat. "Tidak, Ma. Aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit pusing." "Kalau begitu, istirahat saja di kamar," usul Yulia. Kiran mengangguk pelan, kemudian pergi ke kamarnya. Dia langsung menjatuhkan diri ke ranjang dengan posisi tengkurap. Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya tumpah juga. 'Seharusnya aku tidak percaya saat dia bilang mencintaiku. Akulah yang bodoh sampai bisa jatuh cinta padanya. Sudah jelas sejak awal dia menikahiku hanya ingin balas dendam.' Sebenarnya, waktu Raka bilang sudah memaafkannya dan ingin memulai dari awal lagi, Kiran belum sepenuhnya percaya dengan pria itu. Namun, setelah diyakinkan terus oleh Raka, Kiran mencoba untuk mempercayainya. Tapi sayangnya, dia harus menelan kekecewaan saat mendengar perkataan pria itu hari ini, ternyata Raka hanya mempermainkannya. "Untung saja dia tahu diri," sahut Stevi tiba-tiba setelah panggilan diputus oleh Kiran. Rak
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menantang Alfan dengan wajah arogan. "Maka, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawanya," jawab Alfan tak kalah arogan. Kiran menjadi panik sekaligus bingung ketika melihat ketegangan di antara keduanya. Dia ing
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,
"Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghe
"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.







