Masuk"Ini rumah siapa?"
Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka. "Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh. Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?" Raka menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Kiran. "Sudah waktunya kamu menebus kesalahanmu." Kiran mematung seketika. Menebus kesalahan? Pria itu ingin aku menebus kesalahan dengan cara apa? "Jangan diam saja. Ikut aku ke dalam." "Aku tidak mau." Kiran tidak mau mengikuti Raka masuk ke dalam rumah pria itu karena dia tidak tahu apa yang akan Raka lakukan padanya nanti. Bagaimana jika pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya. "Sebaiknya kamu masuk ke dalam selagi aku memintanya baik-baik." Kiran menelan salivanya ketika mendapatkan tatapan tajam dari Raka. Kakinya sampai gemetar karena merasa terintimidasi oleh tatapan pria itu. "Aku tidak memiliki kesabaran lebih padamu, jadi cepat ikuti aku," lanjut Raka lagi. Karena tidak punya pilihan lain, Kiran akhirnya melangkah masuk ke dalam. Raka langsung membawanya ke ruangan keluarga. Di sana, ada seorang wanita berumur sekitar 50 yang menyambut kedatangan Raka. "Bi, Rum. Tolong siapkan kamar belakang untuknya," tunjuk Raka pada Kiran yang sedang menenteng tas di tangannya. "Baik, Den Raka." Setelah itu, Bi Rum pergi dengan langkah terburu-buru. "Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini." Mata hitam Kiran seketika membesar. "Kenapa?" Raka yang semula memunggungi Kiran, akhirnya membalik tubuhnya dan mendekati Kiran dengan langkah tegap. "Kamu harus menebus kesalahanmu di masa lalu dengan tinggal di sini." "Kamu mau menjadikanku pelayan?" Dengan ekspresi malas, Raka menjawab, "Apa pun sebutannya, kamu harus melakukan apa pun yang aku perintahkan." "Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menatap Kiran sejenak, tidak lama setelah itu dia tersenyum miring. "Kalau kamu tidak mau, aku akan melampiaskan kemarahanku pada keluargamu, makanya turuti saja yang aku inginkan." Mendengar nama keluarganya disebut, Kiran jadi bersemangat. "Kamu tahu di mana keluargaku?" Selama empat tahun di penjara, tidak ada satu pun keluarganya yang datang menjenguknya. Setelah keluar dari penjara, Kiran dikejutkan dengan fakta bahwa keluarganya sudah pindah dari rumah lama mereka sejak 4 tahun lalu. Dia sudah pernah mencoba mencari keberadaan keluarganya melalui adik ayahnya, tapi sayangnya kedua bibinya justru mengusirnya dan mengatakan kalau mereka sudah memutuskan hubungan dengan keluarga Kiran sejak 4 tahun lalu. Sejak saat itu, Kiran kehilangan jejak keluarganya. Itulah alasan kenapa kini dia tinggal sebatang kara sekarang. "Tentu saja aku tahu di mana mereka berada," jawab Raka dengan santai. "Kalau begitu, tolong beritahu aku, di mana mereka sekarang?" "Jika kamu ingin tahu keberadaan mereka, maka turuti semua keinginanku. Setelah kamu selesai menebus kesalahanmu, baru aku akan memberitahumu." "Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu puas dan mau melepaskanku?" Melihat wajah tidak sabar Kiran, sudut bibir kiri Raka tertarik ke atas. "Setelah aku memastikan kamu hidup menderita, baru aku akan melepasmu. Jadi, jangan coba-coba melarikan diri dari sini. Jika tidak, keluargamu yang akan menanggung akibatnya." Kiran mengepalkan tangan kanannya, mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak meledak. "Raka, itu kesalahanku. Jangan melibatkan keluargaku." "Selama kamu patuh, aku hanya akan melampiaskan kemarahanku padamu." "Baik. Kamu bisa melakukan apa pun padaku selama itu membuatmu senang, tapi tolong tepati janjimu. Setelah kamu selesai melampiaskan kemarahanmu padaku, tolong lepaskan aku, dan biarkan aku bertemu dengan keluargaku." "Sepakat." Setelah itu, Raka berbalik dan berbicara pada Bi Rum. "Bi Rum, tolong antar dia ke kamarnya." Bi Rum mengangguk, kemudian berjalan lebih dulu setelah mengajak Kiran untuk mengikutinya. Sementara itu, Raka masih mematung di tempat sambil melihat kepergian Kiran dengan tatapan datar. Namun, ketika melihat wanita itu menyeret kakinya yang pincang dengan susah payah, mata hitamnya menimbulkan riakan kecil. "Ini kamarmu." Kiran menatap ruangan kecil di depannya sebentar, kemudian mengucapkan terima kasih pada Bi Rum. "Kamar mandi ada di belakang, sebelah kiri di dekat ruangan cuci," jelas Bi Rum. "Baik, Bi Rum. Terima kasih." Setelah Bi Rum pergi, Kiran masuk ke dalam kamar, meletakkan tasnya di atas nakas kecil, kemudian duduk di atas kasur kecil sambil menatap setiap sudut kamar itu. Meski dia ditempatkan di kamar kecil, tapi Kiran tetap merasa bersyukur. Setidaknya, dia tidak harus tidur di jalanan lagi. Setelah termenung selama beberapa detik, Kiran akhirnya naik ke ranjang, lalu menatap pergelangan kakinya yang bengkak. Rasa sakit langsung menyebar dari pergelangan kaki hingga terasa sampai ke kepala ketika jemarinya menyentuh pergelangan kakinya. "Aku harus minum obat." Di saat yang bersamaan, dia baru ingat kalau dia belum makan sejak sore. Karena dia tidak memiliki makanan, jadi terpaksa dia tidak minum obat malam ini. Dia berencana untuk minum obat besok pagi setelah sarapan pagi. Karena merasa lelah, Kiran memutuskan untuk tidur, tapi sebelum itu dia mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Pukul 3 pagi, Kiran tiba-tiba merasa kedinginan. Dia meringkuk di sudut tempat tidur dengan tubuh menggigil. Dalam tidurnya, dia mengigau mengucapkan sesuatu, tapi tidak begitu jelas yang dia ucapkan. ======== "Dia belum bangun juga?" tanya Raka pada Bi Rum yang sedang menata sarapan di atas meja makan. "Belum, Den." Raka yang baru saja duduk di kursi, seketika berdiri dan berjalan menuju belakang, diikuti oleh Bi Rum. "Buka pintunya, Bi." Bi Rum maju, lalu membuka pintu. Tidak lama setelah itu, Raka masuk dan melihat Kiran masih tidur dengan posisi meringkuk. "Ambil air." Bi Rum segera pergi dari sana, dan kembali tidak lama setelahnya dengan membawa air di baskom. Setelah menerima baskom itu, Raka berjalan mendekati ranjang, lalu menyiram wajah Kiran dengan air. Bersambung ....."Bagaimana jika aku menolak?" "Maka, aku akan membawamu kembali ke Indonesia secara paksa." Kiran terdiam sambil berpikir keras. Setelah menimang selama beberapa saat, Kiran akhirnya setuju. "Baiklah. Sekarang, kembalikan ponselku." "Sebelum kukembalikan ponselmu, aku mau kamu makan dulu." "Aku tidak—" "Jika kamu tidak mau makan, maka kata-kataku yang tadi akan kutarik lagi." "Baiklah. Aku akan makan." "Makan yang banyak," ucap Raka. "Badanmu kurus sekali sekarang." Kiran mengabaikan ucapa Raka dan mulai menyendokkan makanan ke piringnya. Selesai makan, Raka mengembalikan ponsel wanita itu. Kiran langsung memeriksa ponselnya, dan ternyata banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab yang masuk ke ponselnya. Salah satunya dari sang ibunya dan juga Glen. Kiran langsung pergi ke kamar dan menghubungi ke kedua orang tersebut. Namun, hanya Glen yang mengangkat. Nomor sang ibu tidak bisa dihuhungi. Kiran pun memutuskan untuk menghubungi Fabby agar wanita itu tidak cemas
"Bagaimana?" tanya Raka ketika melihat Doni menghampirinya di balkon hotel. "Nyonya Kiran tetap tidak mau makan. Makanannya sama sekali tidak disentuh." Raka yang sedang berdiri di balkon dengan posisi menghadap ke jalan seketika menghela napas pelan. Sejak perdebatannya dengan sang istri kemarin malam, Kiran belum pernah keluar dari kamar hingga kini. Makanan yang diletakkan di depan kamarnya tidak ada yang dia ambil. Hanya minuman saja yang dia ambil. Dia hanya berdiam diri di dalam kamar, membuat Raka merasa khawatir dengan kondisi sang istri. "Besok pagi kamu kembali dulu ke Indonesia. Ada tugas khusus untukmu." "Baik, Pak." Setelah Doni pergi, Raka menghubungi ibu Kiran. "Ma, ini Raka." "Ya. Ada apa Raka?" tanya Ibu Kiran diseberang telpon. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Papa. Bisa Mama berikan telponnya pada Papa?" "Ya. Tunggu sebentar." Raka berbicara dengan ayah Kiran kurang lebih 15 menit. Selesai menelpon, Raka menemui Doni yang sedang dudu
"Kiran masih di kamar?" tanya Raka pada Doni setelah memasuki ruang tamu."Iya, Pak. Nyonya Kiran tidak keluar sejak pagi. Dia juga tidak mau makan dan mengunci kamar dari dalam."Ketika Raka akan melangkah ke dalam, Doni segera menghentikannya. "Pak, ibu Anda baru saja menelpon saya," kata Doni sambil mendekati Raka yang sejak tadi masih duduk di meja makan. "Dia minta Bapak menghubunginya sekarang juga."Seketika itu juga Raka baru teringat oleh sang ibu. Sudah 2 hari ini ibunya terus menghubunginya, tapi tidak pernah diangkat olehnya. Dia hanya mengirimkan pesan kalau dirinya sedang ada urusan penting."Apa saja yang dikatakan ibuku?""Nyonya Hannah marah besar saat tahu Anda masuk rumah sakit lagi karena luka Anda terbuka lagi.""Kamu memberitahu ibuku?"Doni mengangguk lemah. "Saya tidak berani berbohong, Pak."Karena cepat atau lambat ibu Raka pasti akan tahu hal itu, jadi lebih baik dia berkata jujur.Raka menghela napas pelan, kemudian mengambil ponselnya di saku. "Baiklah. Ak
Setelah selesai, Raka keluar kamar mandi. Dia sedikit terkejut ketika melihat Kiran sudah berdiri di depannya dengan raut wajah dingin."Ada apa?" tanya Raka lembut."Mana ponselku?""Masalah ponsel, kita bicarakan nanti. Kita sarapan dulu.""Aku mau sekarang.""Aku janji akan mengembalikannya nanti, Sayang," ujar Raka, masih dengan nada bicara yang lembut. Raka terulur mengusap lembut kepala Kiran. Namun, segera ditepis oleh wanita itu, membuat iris mata Raka seketika mengecil. "Tunggu aku di meja makan, aku mau ganti baju dulu."Kiran tidak menjawab, dan segera berlalu dari sana dengan wajah kesal. Raka yang melihat itu, tampak menatap sang istri dengan sendu, kemudian berjalan menuju kamarnya. Pukul 7 pagi, mereka bertiga sarapan bersama dengan suasana hening. Tidak ada yang membuka suara sampai mereka selesai sarapan."Aku juga sudah selesai sarapan," kata Kiran setengah meneguk air minum. "Sekarang, kembalikan ponselku.""Ikut aku pulang ke Indonesia dulu, baru aku kembalikan pon
"Mau ke mana?" tanya Raka sambil menahan pergelangan tangan Kiran."Bukan urusanmu!" seru Kiran sambil menoleh. "Lepas!""Kamu tidak boleh pergi." Usai mengatakan itu, Raka mengangkat tubuh Kiran, lalu membopongnya menuju kamar. Dia mengernyit ketika merasakan perutnya kembali terasa sakit."Raka, lepaskan aku!" pinta Kiran sambil memukul-mukul punggung Raka. "Aku tidak mau menginap di sini.""Maaf, Sayang. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi."Meski nyeri hebat kembali menyerang bagian perutnya yang terluka, Raka tetap membawa Kiran kembali ke kamar. Doni yang sejak tadi berdiri di dekat sofa hanya bisa mematung di tempat ketika melihat adegan itu.Setibanya di kamar, Raka langsung menurunkan Kiran di dekat ranjang. "Lepaskan tanganku.""Kamu tidak boleh ke mana-mana. Benci aku sesukamu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi.""Raka, apa sebenarnya maumu?" tanya Kiran dengan suara tinggi."Aku tidak mau bercerai. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita. Aku tahu, ak
"Raka, buka!" Kiran berteriak sambil menggedor pintu kamarnya berkali-kali. "Aku mau keluar. Cepat buka pintunya!" Setelah menunggu beberapa menit tidak dibuka juga, Kiran akhirnya menghentikan gerakan tangannya, lalu bersandar di pintu. Sudah lebih dari setengah jam dia berteriak dan menggedor pintu, tapi tidak dibuka juga oleh Raka. "Raka, buka!" Merasa kesal karena teriakannya tidak digubris, Kiran akhirnya berseru, "Raka, jika kamu tidak membuka pintunya sekarang, aku akan menghancurkan semua barang-barang di kamar ini," ancam Kiran. Tidak lama berselang, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Tampak Doni berdiri tegak si depan pintu. "Di mana Raka?" "Pak Raka sedang pergi." "Ke mana?" "Saya tidak tahu, Nyonya. Pak Raka hanya bilang ada urusan penting." Urusan penting? Urusan penting yang dilakukan Raka pada pukul 11 malam? "Kapan dia kembali?" "Mungkin malam ini tidak bisa kembali." 'Tidak bisa kembali? Memangnya, apa yang sedang dia lakukan sampai tidak bisa kemba
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,
"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.
"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol
WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h







