LOGINWARNING ....!!!!!
Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih. =================================== "Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di hadapannya. Ternyata, orang yang sudah menunggu Kiran di depan kamar adalah pemilik kontrakannya. "Kamar ini udah ada yang nyewa, jadi kamu harus segera pindah." "Tapi saya sudah bayar selama sebulan, Pak." Bapak pemilik kontrakan itu merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan uang dari sana. "Ini saya kembalikan uang sewa kamu. Masih utuh, saya minta kamu harus pindah malam ini juga." Kiran menatap uang yang disodorkan padanya sebentar, kemudian menatap kembali sang pemilik kontrakan. "Apa boleh saya tinggal semalam lagi di sini, Pak? Saya janji akan pindah besok pagi." "Tidak bisa. Saya harus membersihkan tempat ini sekarang, besok pagi-pagi sekali orang yang menyewa kamar ini mau datang." "Tapi ini udah malam, Pak. Saya harus tidur di mana?" Tidak mungkin juga dia mencari kontrakan malam-malam begini, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. "Itu urusan kamu," jawab pemilik kontrakan itu dengan ketus. "Cepat kemasi barang kamu dan pergi dari sini," usirnya dengan tega. Dengan raut wajah bingung dan sedih, Kiran akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar. Karena pakaian dan barangnya hanya sedikit, jadi Kiran tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengemasi semua barang miliknya. Dengan kaki yang pincang, Kiran menyeret langkahnya sambil membawa tas sedang yang berisi pakain dan barang miliknya. Di tengah malam yang sepi dan sedikit gelap, Kiran menyusuri jalanan gang menuju jalan raya. Sesekali, dia menghentikan langkahnya ketika merasakan sakit pada pergelangan kaki kanannya. Setelah berjalan cukup jauh, Kiran akhirnya tiba di jalan raya. Karena kakinya terasa semakin sakit, Kiran memutuskan untuk beristirahat sebentar di pinggir jalan seraya memijat pergelangan kakinya, setalah itu kembali berjalan. Sepanjang perjalanan, dia melihat banyak yang tidur di pinggir jalan dan di depan ruko. Karena tidak tahu harus ke mana, Kiran memutuskan untuk tidur di depan salah satu ruko. Malam ini, tak apa dia tidur di pinggir jalan, besok dia bisa mencari kontrakan baru lagi. Setelah membersihkan tempat yang akan dia tiduri, Kiran duduk bersandar sambil memangku tasnya. Dia termenung sesaat, sebelum akhirnya membuka tas dan mengambil uang dari dalam sana. Di saat sedang menghitung uang miliknya, tiba saja datang seorang pria berpenampilan urakan. Dengan segera Kiran memasukkan uang itu ke dalam dompet, dan berniat menyembunyikan ke dalam tas. Namun, belum sempat melakukan itu, dompetnya sudah ditarik oleh pria itu. "Jangan ambil. Itu uangku." Kiran berusaha menahan dompetnya sekuar tenaga agar tidak dibawa pergi oleh pria itu. "Lepas, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau berbuat kasar padamu," ancam pria itu. "Nggak. Itu uangku." Itu adalah satu-satunya uang yang tersisa, apa pun yang terjadi, tidak akan membiarkan uang itu diambil oleh preman itu. "Cepat lepas!" Ketika dompet itu akan terlepas dari tangannya, Kiran dengan cepat membungkuk, kemudian menggigit tangan pria itu, hingga dompet terlepas. "Kurang ajar!" Pria itu maju mendekati Kiran, lalu menarik rambutnya dengan kasar. Dia mencoba mengambil paksa dompet itu, tapi ditahan sekuat tenaga oleh Kiran. Tidak jauh dari sana, tampak ada mobil yang terparkir di pinggir jalan. Di dalamnya, ada dua orang pria yang sedang menatap ke arah Kiran yang sedang dipukuli oleh preman tersebut. Salah satu pria itu adalah Raka. "Kau tidak mau menolongnya?" tanya pria bernama Gery yang sedang duduk di samping Raka. "Tidak. Biarkan saja," jawab Raka santai sambil menatap lurus ke depan. "Kalau kau tidak mau menolongnya, biar aku saja," ujar Gery. Ketika Gery akan membuka pintu mobil, Raka segera memberikan ultimatum padanya, "Jangan ikut campur." Gery menarik kembali tangannya, kemudian memutar tubuhnya ke arah Raka. "Apa kau tidak kasihan padanya?" tanya Gery. "Kau tidak lihat pria itu bersikap kasar padanya?" "Itu bukan urusanku." Setelah mengatakan itu, Raka melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Sementara Kiran berusaha untuk melarikan diri dari sana setelah menginjak kaki pria itu. Namun, sayangnya dia kembali tertangkap. "Dasar jal4ng! Berikan dompet itu." Pria itu menampar Kiran dengan kuat, hingga tubuhnya terhuyung dan dompet itu pun terlepas dari tangannya. Tanpa menunggu lama, pria itu segera membungkuk dan mengambil dompet yang sudah terjatuh ke tanah. Tanpa memperdulikan teriakan Kiran yang meminta uangnya kembali, pria itu melangkah pergi dari sana. Tidak ingin kehilangan dompetnya, Kiran pun segera bangkit dan menyeret kakinya yang pincang untuk menyusul pria itu. Ketika melihat ada balok kayu di tanah, Kiran segera mengambilnya dan memukul pria itu dari belakang dengan kuat, hingga pria itu tersungkur. Buru-buru Kiran mengambil dompetnya dan bergegas pergi dari sana ketika melihat pria itu mengerang sambil memegang punggungnya. Namun, baru saja berjalan 3 langkah, Kiran kembali ditangkap oleh pria itu. "Dasar jal4ng, berani sekali kau memukulku. Kau ingin m4ti rupanya." Kiran berusaha melawan dan memberontak. Namun, sia-sia karena tangannya ditahan oleh pria itu. Tidak kehilangan akal, Kiran pun menggigit tangan pria itu, lalu menendangnya. Terdengar pria itu mengumpat kasar setelah terjatuh. Dia tidak menyangka kalau tenaga Kiran cukup kuat sampai bisa membuatnya kewalahan. Yang pria itu tidak tahu, kalau Kiran sebenarnya sudah sering menghadapi situasi seperti itu di dalam sel. Bahkan, lawannya bukan cuma satu, tapi beberapa orang. Tidak terima dikalahkan oleh Kiran, pria itu pun meraih balok kayu yang tidak jauh dari sana dan mengarahkan pada Kiran, hingga mengenai punggungnya. Hampir saja Kiran terjatuh karena pukulan itu. "Rasakan itu, siapa suruh kau berani melawanku." Karena tidak bisa melarikan diri dari sana, Kiran hanya bisa berteriak meminta tolong. Suara teriakan Kiran yang terdengar sangat kencang membuat pria itu panik. Tanpa pikir panjang, dia kembali mengayunkan balok kayu ke arah Kiran. Bersambung .....“Raka, apa maksudmu membawa Kiran ke rumahmu?”Raka mengangkat kepala dengan malas begitu tahu kalau ibu dan adiknya yang masuk ke ruangannya. “Tidak bisakah Mama mengetuk pintu dulu?” Setelah mengatakan itu, dia kembali menatap dokumen di depannya, mengabaikan ibunya yang sedang berjalan mendekati meja kerjanya.“Raka, Mama sedang tidak ingin berbasa-basi. Kenapa kau membawa Kiran ke rumahmu?”“Benar, Kak. Untuk apa Kakak menampung si pembunuh itu. Dia—"Vania langsung mengatupkan bibirnya dengan rapat setelah mendapatkan tatapan tajam dari ibu dan kakaknya.“Mama baru pulang dari rumahmu dan bertemu Kiran di sana. Dia bilang, kau sengaja menahan dan menjadikannya pembantu di sana.”Raka akhirnya menutup dokumen di tangannya, kemudian menatap sang ibu dengan malas. “Aku hanya memberikan pekerjaan dan tempat tinggal padanya. Tidak ada yang salah dengan itu.”“Raka, jangan pikir Mama tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau tidak mungkin sebaik itu terhadap orang yang sudah menyebabka
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya."Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan."Setelah Raka pergi, Bi Rum menghampiri Kiran dengan wajah iba. Ketika melihat wajah pucatnya, Bi Rum langsung bertanya dengan lembut, "Non Kiran, sakit?"Kiran menggeleng. "Tidak, Bi."Merasa ragu dengan jawaban Kiran, Bi Rum menempelkan tangan di dahinya. Matanya membelalak ketika merasakan suhu di tubuh Kiran sangat panas. "Non Kiran, demam. Biar Bibi bilang sama Den Raka dulu."Ketika Bi Rum akan pergi, Kiran menahan lengannya. "Jangan, Bi. Kiran cuma demam biasa. Nanti juga sembuh habis minum obat."Dengan hati-hati, Kiran turun dari ranjang dibantu oleh Bi Rum. "Kiran mandi dulu, Bi."Setelah selesai mandi, Kiran pergi ke ruangan makan, di mana Raka sedang berada."Bi Rum, hari ini biar Kiran yang mengerjaka
"Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Kiran. "Sudah waktunya kamu menebus kesalahanmu."Kiran mematung seketika.Menebus kesalahan? Pria itu ingin aku menebus kesalahan dengan cara apa?"Jangan diam saja. Ikut aku ke dalam.""Aku tidak mau."Kiran tidak mau mengikuti Raka masuk ke dalam rumah pria itu karena dia tidak tahu apa yang akan Raka lakukan padanya nanti. Bagaimana jika pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya."Sebaiknya kamu masuk ke dalam selagi aku memintanya baik-baik."Kiran menelan salivanya ketika mendapatkan tatapan tajam dari Raka. Kakinya sampai gemetar karena merasa terintimidasi oleh tatapan pria itu."Aku tidak memiliki kesabaran lebih padamu, jadi cepat ikuti aku," la
"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit. Meski keluargamu berpengaruh, tapi kau tidak bisa bertindak sesukamu."Dengan raut wajah tidak sabar, Raka berkata, "Diam dan lihat saja apa yang akan kulakukan." Setelah itu Raka melangkah masuk. Namun, suara ponsel di sakunya seketika menghentikan langkahnya. Dia memutar arah dan mengangkat panggilan itu.Sementara itu di dalam ruangan IGD, Kiran kembali duduk di brankar setelah sempat hampir terjatuh akibat tidak bisa menjejakkan kaki dengan baik di lantai."Sebaiknya kamu dirawat semalam di sini. Kamu tidak bisa pulang dalam kondisi kaki yang cidera," saran Alfan."Aku tidak apa-apa. Dokter sudah meresepkan obat, aku hanya perlu meminumnya dan setelah itu akan sembuh.""Cidera di kakimu
"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menolongnya?""Tidak bisa," jawab Raka datar. "Biarkan orang lain yang menolongnya."Gery menggeleng lemah, kemudian berkata, "Raka, kau sudah membuatnya kehilangan pekerjaan, kau juga sudah membuatnya diusir dari kontrakannya, apa itu belum cukup untuk memuaskan hatimu?""Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku kehilangan orang yang aku cintai. Dia menghancurkan kebahagianku."Gery menghela napas panjang dengan wajah frustrasi. "Dia memang salah, tapi dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, memangnya itu belum cukup?""Empat tahun adalah hukuman yang sangat ringan baginya. Ini tidak adil bagi Mia.""Iya, aku tahu, tapi dia juga sudah kehilangan
WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di hadapannya.Ternyata, orang yang sudah menunggu Kiran di depan kamar adalah pemilik kontrakannya."Kamar ini udah ada yang nyewa, jadi kamu harus segera pindah.""Tapi saya sudah bayar selama sebulan, Pak."Bapak pemilik kontrakan itu merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan uang dari sana. "Ini saya kembalikan uang sewa kamu. Masih utuh, saya minta kamu harus pindah malam ini juga."Kiran menatap uang yang disodorkan padanya sebentar, kemudian menatap kembali sang pemilik kontrakan. "Apa boleh saya tinggal semalam lagi di sini, Pak? Saya janji akan pindah besok pagi.""Tidak bisa. Saya harus membersihkan tempat ini sekarang, besok pagi-pagi sekali orang yang menyewa kamar ini mau datang.""Tap







