/ Romansa / Revenge (Derita Tersembunyi) / Bab 3 Bertemu Preman

공유

Bab 3 Bertemu Preman

작가: Jiriana
last update 게시일: 2026-05-08 19:57:14

WARNING ....!!!!!

Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.

===================================

"Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di hadapannya.

Ternyata, orang yang sudah menunggu Kiran di depan kamar adalah pemilik kontrakannya.

"Kamar ini udah ada yang nyewa, jadi kamu harus segera pindah."

"Tapi saya sudah bayar selama sebulan, Pak."

Bapak pemilik kontrakan itu merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan uang dari sana. "Ini saya kembalikan uang sewa kamu. Masih utuh, saya minta kamu harus pindah malam ini juga."

Kiran menatap uang yang disodorkan padanya sebentar, kemudian menatap kembali sang pemilik kontrakan. "Apa boleh saya tinggal semalam lagi di sini, Pak? Saya janji akan pindah besok pagi."

"Tidak bisa. Saya harus membersihkan tempat ini sekarang, besok pagi-pagi sekali orang yang menyewa kamar ini mau datang."

"Tapi ini udah malam, Pak. Saya harus tidur di mana?"

Tidak mungkin juga dia mencari kontrakan malam-malam begini, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

"Itu urusan kamu," jawab pemilik kontrakan itu dengan ketus. "Cepat kemasi barang kamu dan pergi dari sini," usirnya dengan tega.

Dengan raut wajah bingung dan sedih, Kiran akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar. Karena pakaian dan barangnya hanya sedikit, jadi Kiran tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengemasi semua barang miliknya.

Dengan kaki yang pincang, Kiran menyeret langkahnya sambil membawa tas sedang yang berisi pakain dan barang miliknya. Di tengah malam yang sepi dan sedikit gelap, Kiran menyusuri jalanan gang menuju jalan raya.

Sesekali, dia menghentikan langkahnya ketika merasakan sakit pada pergelangan kaki kanannya. Setelah berjalan cukup jauh, Kiran akhirnya tiba di jalan raya. Karena kakinya terasa semakin sakit, Kiran memutuskan untuk beristirahat sebentar di pinggir jalan seraya memijat pergelangan kakinya, setalah itu kembali berjalan.

Sepanjang perjalanan, dia melihat banyak yang tidur di pinggir jalan dan di depan ruko. Karena tidak tahu harus ke mana, Kiran memutuskan untuk tidur di depan salah satu ruko. Malam ini, tak apa dia tidur di pinggir jalan, besok dia bisa mencari kontrakan baru lagi.

Setelah membersihkan tempat yang akan dia tiduri, Kiran duduk bersandar sambil memangku tasnya. Dia termenung sesaat, sebelum akhirnya membuka tas dan mengambil uang dari dalam sana. Di saat sedang menghitung uang miliknya, tiba saja datang seorang pria berpenampilan urakan.

Dengan segera Kiran memasukkan uang itu ke dalam dompet, dan berniat menyembunyikan ke dalam tas. Namun, belum sempat melakukan itu, dompetnya sudah ditarik oleh pria itu.

"Jangan ambil. Itu uangku." Kiran berusaha menahan dompetnya sekuar tenaga agar tidak dibawa pergi oleh pria itu.

"Lepas, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau berbuat kasar padamu," ancam pria itu.

"Nggak. Itu uangku."

Itu adalah satu-satunya uang yang tersisa, apa pun yang terjadi, tidak akan membiarkan uang itu diambil oleh preman itu.

"Cepat lepas!"

Ketika dompet itu akan terlepas dari tangannya, Kiran dengan cepat membungkuk, kemudian menggigit tangan pria itu, hingga dompet terlepas.

"Kurang ajar!"

Pria itu maju mendekati Kiran, lalu menarik rambutnya dengan kasar. Dia mencoba mengambil paksa dompet itu, tapi ditahan sekuat tenaga oleh Kiran.

Tidak jauh dari sana, tampak ada mobil yang terparkir di pinggir jalan. Di dalamnya, ada dua orang pria yang sedang menatap ke arah Kiran yang sedang dipukuli oleh preman tersebut. Salah satu pria itu adalah Raka.

"Kau tidak mau menolongnya?" tanya pria bernama Gery yang sedang duduk di samping Raka.

"Tidak. Biarkan saja," jawab Raka santai sambil menatap lurus ke depan.

"Kalau kau tidak mau menolongnya, biar aku saja," ujar Gery.

Ketika Gery akan membuka pintu mobil, Raka segera memberikan ultimatum padanya, "Jangan ikut campur."

Gery menarik kembali tangannya, kemudian memutar tubuhnya ke arah Raka. "Apa kau tidak kasihan padanya?" tanya Gery. "Kau tidak lihat pria itu bersikap kasar padanya?"

"Itu bukan urusanku." Setelah mengatakan itu, Raka melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

Sementara Kiran berusaha untuk melarikan diri dari sana setelah menginjak kaki pria itu. Namun, sayangnya dia kembali tertangkap.

"Dasar jal4ng! Berikan dompet itu."

Pria itu menampar Kiran dengan kuat, hingga tubuhnya terhuyung dan dompet itu pun terlepas dari tangannya.

Tanpa menunggu lama, pria itu segera membungkuk dan mengambil dompet yang sudah terjatuh ke tanah. Tanpa memperdulikan teriakan Kiran yang meminta uangnya kembali, pria itu melangkah pergi dari sana.

Tidak ingin kehilangan dompetnya, Kiran pun segera bangkit dan menyeret kakinya yang pincang untuk menyusul pria itu. Ketika melihat ada balok kayu di tanah, Kiran segera mengambilnya dan memukul pria itu dari belakang dengan kuat, hingga pria itu tersungkur.

Buru-buru Kiran mengambil dompetnya dan bergegas pergi dari sana ketika melihat pria itu mengerang sambil memegang punggungnya.

Namun, baru saja berjalan 3 langkah, Kiran kembali ditangkap oleh pria itu. "Dasar jal4ng, berani sekali kau memukulku. Kau ingin m4ti rupanya."

Kiran berusaha melawan dan memberontak. Namun, sia-sia karena tangannya ditahan oleh pria itu. Tidak kehilangan akal, Kiran pun menggigit tangan pria itu, lalu menendangnya.

Terdengar pria itu mengumpat kasar setelah terjatuh. Dia tidak menyangka kalau tenaga Kiran cukup kuat sampai bisa membuatnya kewalahan. Yang pria itu tidak tahu, kalau Kiran sebenarnya sudah sering menghadapi situasi seperti itu di dalam sel. Bahkan, lawannya bukan cuma satu, tapi beberapa orang.

Tidak terima dikalahkan oleh Kiran, pria itu pun meraih balok kayu yang tidak jauh dari sana dan mengarahkan pada Kiran, hingga mengenai punggungnya. Hampir saja Kiran terjatuh karena pukulan itu.

"Rasakan itu, siapa suruh kau berani melawanku."

Karena tidak bisa melarikan diri dari sana, Kiran hanya bisa berteriak meminta tolong.

Suara teriakan Kiran yang terdengar sangat kencang membuat pria itu panik. Tanpa pikir panjang, dia kembali mengayunkan balok kayu ke arah Kiran.

Bersambung .....

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 119

    Raka mematikan rokok di tangannya, kemudian menegak minuman berwarna coklat di hadapannya. "Dia hanya salah paham padaku.""Itulah bodohnya kau. Seharusnya kau langsung menjelaskan pada Kiran setelah menelponnya agar dia tidak salah paham padamu.""Aku bermaksud menjelaskannya secara langsung setelah selesai mengurus semuanya, tapi ....""Tapi ternyata dia justru mengambil kesempatan itu untuk meninggalkanmu dan pergi dengan pria lain," potong Gery sambil tersenyum. "Kau terlalu percaya diri Raka. Kau pikir Kiran pasti tidak akan berani meninggalkanmu setelah kau bilang ingin memulai awal lagi dengannya."Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil memainkan gelas yang ada di tangan kanannya."Kiran pasti berpikir kau hanya mempermainkannya, makanya dia memilih pergi," ujar Gery. "Tapi, aku mendukung keputusan Kiran pergi meninggalkanmu. Lebih baik dia bersama dengan pria itu daripada dengan pria sepertimu."Raka meletakkan gelasnya dengan kasar di meja, lalu menatap Gery d

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 118

    "Bagaimana?" tanya Raka setelah melihat Doni memasuki ruangan kerjanya. "Sudah tahu ke negara mana istriku pergi?""Belum, Pak."Wajah Raka yang memang sudah lesu, semakin lesu setelah mendengar itu. Bagaimana tidak lesu, semenjak sang istri menghilang 5 hari yang lalu, Raka tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap hari dia hanya tidur selama kurang lebih 3 jam. Pikirannya terus tertuju pada sang istri.Selama 5 hari itu, Raka memang tetap bekerja setiap hari, tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dia kerjakan dengan benar sampai dimarahi oleh sang ayah. Pada akhirnya, karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, Raka meminta sekretarisnya untuk membantunya memeriksa pekerjaannya."Pak, sepertinya Bu Kiran sudah mengganti nomor ponselnya, makanya tidak bisa dilacak lagi."Raka terdiam dengan alis mengerut. Matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan seperti sedang mengintai mangsanya. "Mungkin dia tidak mau ditemukan olehku."Bukan mungkin lagi, tapi Kiran memang tid

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 117

    Tubuh Raka mendadak lemas. Jantungnya yang semula berdebar kencang, seolah berhenti saat itu juga. Dia langsung berpegangan pada tempok ketika tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan. "Ma, Kiran mau pergi ke mana?" tanya Raka setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya "Maaf, Mama tidak bisa memberitahumu," jawab Yulia lirih. "Kiran bilang kamu tidak perlu mencarinya lagi untuk masalah perceraian. Semuanya dia serahkan padamu. Dia juga tidak akan datang saat persidangan nanti. Kamu bisa menghubungi Mama setelah akta cerainya keluar." Kedua tangan Raka mengepal kuat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol. "Ma, aku tidak pernah berniat menceraikan Kiran. Dia hanya salah paham. Aku akan menjelaskan langsung padanya, jadi tolong beritahu aku ke mana dia pergi." Yulia terdiam dengan wajah bingung. Dia meremas kedua tangannya sembari berpikir, apakah dia akan memberitahu Raka atau tidak. Di satu sisi, dia ingin memberitahu di mana keberadaan putrinya agar keduanya bisa m

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 116

    Usai berbicara dengan sang ayah, Raka mengajak Doni untuk pergi ke kantor polisi untuk membuka kasus kecelakaan 4 tahun lalu. Pengacara Raka sendiri sudah tiba lebih dulu di sana. Setelah urusan di sana selesai, Raka mengajak Doni pergi ke mall. "Menurutmu, cincin mana yang cocok untuk istriku?" tanya Raka pada Doni setelah mereka berada di dalam toko perhiasan. "Saya kurang mengerti mengenai cincin yang disukai wanita, Pak," kata Doni dengan jujur. Karena merasa bingung, Raka pun meminta rekomendasi kepada pegawainya. "Ini model cincin yang tidak pasaran dan hanya ada satu di toko kami." Raka menatap cincin berlian di depannya sejenak, kemudian berkata, "Baik. Saya pilih yang ini." Kebetulan ukurannya cocok dengan jari Kiran, jadi Raka mengambil cincin itu. Kenapa Raka bisa tahu ukuran cincin wanita itu, karena sebelumnya dia pernah bertanya sebelum kembali ke Jakarta. Setelah selesai membeli cincin, Raka meminta diantar pulang oleh Doni, dia ingin berbicara dengan sang ibu men

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 115

    "Kak, secepatnya kamu harus mencari pengacara terbaik untuk membebaskan ayahku." "Ya, kamu tenang saja, aku akan menghubungimu lagi nanti." Setelah berpamitan pada Stevi, Raka meninggalkan rumah wanita itu menuju kantornya. Dalam perjalanan, Raka memasukkan memory yang tadi diberikan Stevi ke laptop Doni, lalu memutar video yang tersimpan di dalamnya. Tampak kamera dashbor mobil yang dikendarai Stevi merekam saat Kiran menabrak mobil Mia dari arah kiri di perempatan jalan yang sepi. Mobil Mia bergeser beberapa meter usai ditabrak oleh Kiran. Detik selanjutnya, Kiran tampak keluar dari mobil dan berjalan menuju mobil Mia. Belum sempat mencapainya, mobil Mia sudah lebih dulu ditabrak dari arah belakang dengan kuat hingga terguling ke pinggir jalan. Dalam rekaman itu, Kiran langsung berlari mendekati mobil Mia dan membuka mobil wanita itu. Namun, saat melihat mobil yang menabrak Mia berjalan mundur dan membelokkan stir, Kiran bergegas menuju mobilnya, tapi sayang saat dia akan menja

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 114

    "Kiran, kamu kenapa, Nak? Apa kamu sakit?" tanya Yulia saat melihat wajah putrinya sangat pucat. "Tidak, Ma. Aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit pusing." "Kalau begitu, istirahat saja di kamar," usul Yulia. Kiran mengangguk pelan, kemudian pergi ke kamarnya. Dia langsung menjatuhkan diri ke ranjang dengan posisi tengkurap. Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya tumpah juga. 'Seharusnya aku tidak percaya saat dia bilang mencintaiku. Akulah yang bodoh sampai bisa jatuh cinta padanya. Sudah jelas sejak awal dia menikahiku hanya ingin balas dendam.' Sebenarnya, waktu Raka bilang sudah memaafkannya dan ingin memulai dari awal lagi, Kiran belum sepenuhnya percaya dengan pria itu. Namun, setelah diyakinkan terus oleh Raka, Kiran mencoba untuk mempercayainya. Tapi sayangnya, dia harus menelan kekecewaan saat mendengar perkataan pria itu hari ini, ternyata Raka hanya mempermainkannya. "Untung saja dia tahu diri," sahut Stevi tiba-tiba setelah panggilan diputus oleh Kiran. Rak

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 7 Demam

    Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 6 Tinggal Serumah

    "Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghe

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 5 Dibawa Pergi

    "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 4 Mengalami Cidera

    "Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status